Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.
Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.
Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.
"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"
Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.
Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"
Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.
"Kamu bangun..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Dia akan terkuras habis
Setelah beberapa saat beristirahat saling berpelukan, Bai Xuning perlahan mengangkat tubuhnya dan dengan lembut menggendong Hu Lian yang masih lemah ke kamar mandi.
Dia membersihkan tubuh kekasihnya dengan sangat hati-hati menggunakan air hangat, menggosoknya dengan lembut dan memastikan setiap bagian tubuhnya bersih dan nyaman.
Setelah Hu Lian selesai mandi dan dibalut dengan handuk hangat, Bai Xuning membawanya ke ruangan lain sementara dia membersihkan ranjang yang sudah basah kuyup akibat keringat dan jejak cinta mereka.
Dia dengan cepat mengganti sprei lama dengan yang baru dari lemari, menyusun bantal dan selimut dengan rapi agar terlihat nyaman dan hangat.
Kemudian dia kembali mengambil Hu Lian yang sudah mengenakan piyama baru dan membawanya ke ranjang yang telah siap.
Dia dengan lembut meletakkan tubuhnya di atas kasur yang lembut, menutupinya dengan selimut hangat sebelum memberikan ciuman lembut pada dahinya.
"Tunggu aku ya sayang, aku akan segera kembali," bisiknya dengan suara yang lembut.Bai Xuning kemudian pergi mandi sendiri untuk membersihkan tubuhnya yang berkeringat.
Setelah selesai, dia segera mengenakan piyama tidur dan bergegas naik ke atas ranjang.
Dia dengan lembut masuk ke bawah selimut dan menarik Hu Lian agar tubuhnya menyandar erat pada dirinya, memeluknya erat dari belakang dengan tangan yang melilit pinggangnya.
Mereka segera terlelap bersama dalam pelukan hangat, hati dan tubuh mereka sudah benar-benar menyatu sebagai satu.
Keesokan harinya, matahari kembali bersinar cerah menyinari kamar tidur mereka.
Hu Lian perlahan membuka matanya, namun segera mengerutkan dahi dan mendengus pelan saat mencoba untuk bergerak.
Tubuhnya terasa sangat pegal dan sakit di berbagai bagian, bahkan hampir tidak bisa merasakan beberapa bagian tubuhnya dengan normal.
"......" Dia menghela nafas panjang dengan ekspresi sedikit kesal, kemudian menggerutu pelan sambil menatap Bai Xuning yang masih tertidur nyenyak di sisinya.
"Pria bajingan... sudah bilang terlalu banyak kali tapi tetap saja tidak mendengarkan..."bisiknya dengan suara yang sedikit menggeram namun tidak benar-benar marah.
Saat dia mencoba untuk mengangkat badan sedikit, rasa sakitnya membuatnya sedikit menggigil dan kembali berbaring dengan terpaksa.
Dia melihat tubuhnya yang masih penuh bekas cinta dari malam sebelumnya, bahkan beberapa bagian masih sedikit memerah.
Bai Xuning yang sedang dalam tidur nyenyak sepertinya merasakan gerakan Hu Lian, dia sedikit bergerak dan secara tidak sadar menariknya lebih dekat ke dalam pelukannya, menyandarkan wajahnya di lehernya dengan hembusan napas yang hangat.
Hu Lian menatap Bai Xuning yang masih tertidur dengan wajah yang terlihat sangat puas.
Bahkan dalam tidurnya, pria itu melakukan kebiasaan lama yaitu menggosok wajahnya ke bagian dadanya, seperti sedang mencari tempat yang nyaman untuk bersandar.
Hal itu membuat Hu Lian mengerutkan alisnya—ingatan tentang malam sebelumnya langsung muncul di benaknya.
Bai Xuning memang telah menghabiskan banyak waktu untuk memainkan dadanya dengan penuh hasrat, hingga sekarang bagian itu masih terasa sedikit sakit setiap kali bergesekan dengan kain pakaiannya.
Dengan rasa kesal yang sedikit menggemaskan, Hu Lian perlahan mendorong kepala Bai Xuning agar menjauh dari tubuhnya.
Tindakan itu membuat Bai Xuning sedikit terkejut dan perlahan membuka matanya.Wajahnya yang masih bengkak karena tidur segera menunjukkan ekspresi khawatir saat melihat wajah kesal Hu Lian dan melihat bagaimana dia menepuk-nepuk perlahan bagian dadanya yang terasa sakit.
"Sayang, apa kamu sakit?" tanya Bai Xuning dengan suara yang masih sedikit serak karena baru bangun tidur.
Dia segera duduk di ranjang dan mencoba mendekatinya dengan hati-hati, tangannya ingin menjemput tubuhnya namun segera terhenti karena takut menyakitinya.
"......." Hu Lian hanya bisa menatapnya dengan mata yang menggerutu, tangannya sudah mulai menggenggam kepalan kecil seolah benar-benar ingin memukul wajah pria itu yang masih tampak bingung itu!
Sudah membuat badan pegal keseluruhannya, bahkan bagian yang tidak boleh sakit juga sakit—dan dia malah masih bertanya begitu saja! pikirnya dengan sedikit marah.
wajahnya kemerahan bukan hanya karena rasa sakit tapi juga karena rasa malu yang muncul kembali saat mengingat kejadian malam sebelumnya.
Dia mengangkat tangan seperti akan menampar, namun akhirnya hanya menepuk bahu Bai Xuning dengan lembut namun cukup keras untuk membuat pria itu sedikit terkejut.
"Kamu benar-benar terlalu banyak menggangguku tadi malam! Sekarang aku tidak bisa bergerak dengan normal dan bahkan bagian ini sakit juga!" ucapnya dengan suara yang sedikit naik nada, namun matanya tidak bisa menyembunyikan warna merah yang semakin dalam.
Bai Xuning segera menyadari kesalahannya dan menurunkan kepala dengan wajah yang penuh rasa bersalah.
"Maafkan aku sayang... aku benar-benar tidak sengaja membuatmu sakit... aku hanya terlalu terbawa emosi dan tidak bisa mengontrol diriku......" jawabnya dengan suara yang penuh permintaan maaf, tangannya dengan hati-hati ingin menyentuh tangan Hu Lian namun masih ragu.
Dia bahkan mulai melihat ke sekeliling kamar seolah mencari cara untuk memperbaiki kesalahannya...
Hu Lian menghela nafas panjang, mengendurkan tubuhnya yang masih pegal.
Meskipun masih merasa kesal, dia akhirnya meminta bantuan pada kekasihnya.
"Baiklah... kamu bisa memijat bagian yang sakit dan pegal saja... tapi jangan berbuat hal lain ya!" perintahnya dengan nada tegas namun sedikit lunak di akhir kalimat.
Bai Xuning segera mengangguk dengan senyum penuh rasa bersalah dan mulai melakukan pijatan dengan sangat hati-hati.
Tangannya yang kuat namun lembut bekerja dengan baik, mengurut bagian tubuh Hu Lian yang terasa pegal—dari pundak, punggung, hingga paha yang juga merasa sakit.
Namun di pagi hari seperti ini, energi pria itu memang sulit untuk dibendung. Tidak lama kemudian, Hu Lian bisa melihat dengan jelas tonjolan bengkak yang muncul di antara kedua kaki Bai Xuning, menunjukkan bahwa hasratnya mulai kembali muncul.
"......" Hu Lian hanya bisa terdiam dengan wajah yang kembali memerah hingga ke telinga. Dia mengerutkan alis dan menatapnya dengan tatapan yang campuran antara kesal dan sedikit terkejut.
"Bai Xuning... apa kamu tidak merasa lelah sama sekali?!" ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar, tidak tahu harus marah atau hanya tak berdaya.
Bai Xuning sendiri sedikit malu dan segera berusaha untuk fokus pada pijatannya, meskipun tubuhnya sudah memberikan sinyal yang jelas.
"Maafkan aku sayang... pagi hari biasanya aku seperti ini... tapi aku akan tetap fokus memijat kamu dulu ya," bisiknya dengan suara yang sedikit terengah-engah, mencoba untuk mengendalikan dirinya.
Pada akhirnya, Hu Lian hanya bisa menghela nafas dan mengangkat tangan untuk mengusirnya dengan nada yang tidak bisa ditolak.
"Cepat pergi ke kamar mandi untuk menyelesaikan masalahmu sendiri! Jangan sampai kamu menggangguku lagi sebelum aku merasa baik-baik saja!" ucapnya dengan sedikit menggeram namun wajahnya tetap merah memerah.
Bai Xuning segera berdiri dengan tubuh yang sedikit kaku, wajahnya juga penuh rasa malu dan bersalah.
"Baik sayang... maafkan aku.." jawabnya dengan suara yang rendah sebelum berjalan perlahan ke arah kamar mandi.
Setiap langkahnya terasa berat karena kondisi yang sedang dia alami, dan dia benar-benar tidak mengira bahwa dirinya bisa menjadi begitu mudah tergoda dan terlihat "cabul" seperti ini sejak malam kemarin.
Saat memasuki kamar mandi dan menutup pintunya, dia bersandar pada pintu dengan hembusan napas yang berat.
Apa yang terjadi dengan diriku? pikirnya dengan sedikit kebingungan.
Dia selalu bisa mengendalikan diri dengan baik sebelumnya, namun semenjak bersama Hu Lian—khususnya setelah malam kemarin—rasa hasratnya seolah tidak bisa lagi terkendali dengan mudah.
Dia kemudian membuka keran air dingin untuk membantu dirinya menenangkan energi yang berlebih, berharap setelah ini dia bisa kembali normal dan fokus untuk merawat Hu Lian dengan benar.