"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.
"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"
"Kecuali apa, hm?"
Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.
✧✧✧
Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.
Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.
Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?
*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
♦♦
'Masya Allah, besar banget rumahnya. Ini rumah apa istana?' batin Khaira.
Dia terkesima melihat keindahan rumah itu, padahal dia baru melihat luarnya saja, dan belum melihat bagaimana keindahan di dalamnya.
"Masuk," ajak Galvin kepada Khaira, setelah dia menyerahkan kunci mobilnya kepada penjaga rumah yang selalu siaga di sana.
"Barang-barangnya?"
Khaira menatap Galvin dengan heran, karena barang-barangnya masih ada di dalam bagasi mobil. Sementara Galvin malah langsung mengajaknya masuk.
"Biar mereka yang bawa," jawab Galvin, dengan gerakan matanya yang menunjuk ke beberapa pelayan yang selalu siap menyambutnya.
"Ga papa?" tanya Khaira, tidak yakin. Dia merasa tidak enak hati kepada pelayan-pelayan itu.
Hal itu dikarenakan sejak kecil Khaira tidak pernah dilayani seperti itu. Kehidupannya bersama almarhumah ibunya sangatlah sederhana.
"Itu tugas mereka, Khaira!" jelas Galvin.
Khaira mengangguk pelan. Walaupun masih merasa tidak enak, dia memilih untuk mengikuti Galvin.
"Assalamu'alaikum."
Khaira berucap salam, begitu dia memasuki rumah itu.
Sesuai dugaan nya, isi dari ruang itu terlihat jauh lebih indah dibanding penampilan luarnya. Khaira kembali terkesima untuk yang kesekian kalinya.
"Wa'alaikumsalam, selamat datang, Non Khaira."
Khaira sedikit tersontak, karena sambutan dari beberapa pelayan yang sudah bersiap menyambutnya di dalam rumah.
'Berapa banyak orang yang bekerja di rumah ini?' batin Khaira, yang tidak habis pikir saking banyaknya pelayan di sana.
"Mari bibi antar ke kamar, Non!" ucap salah satu pelayan, yang diketahui sebagai ketua pelayan di rumah itu.
Khaira melirik ke arah Galvin. Galvin paham dengan tatapan Khaira, dan dia langsung memberikan anggukkan.
Setelah mendapat persetujuan dari Galvin, Khaira kembali menatap pelayan perempuan itu.
"Makasih, Bi." Khaira berbicara begitu sopan dan santun.
Khaira dan pelayan itu yang diketahui bernama Bi Narti, berjalan lebih dulu menaiki anak tangga, sementara Galvin berjalan di belakang mereka.
"Ini kamar milik Non, dan yang sebelah merupakan kamar milik den Galvin." Bi Narti memberitahu.
Khaira hanya merespon dengan sebuah anggukkan dan senyuman.
"Ini kuncinya."
Khaira langsung menerima kunci itu.
"Selain kunci ini Non Khaira bisa juga menggunakan pin yang ada di pintu itu," jelas Bi Narti kembali, sambil menunjuk ke arah pintu yang sudah dilengkapi oleh pin, karena pintu itu tergolong pintu canggih.
Khaira kembali memberikan sebuah anggukkan.
"Apa Non Khaira suka dengan kamar ini?" tanya Bi Narti kembali, sekadar untuk memastikan.
Jika Khaira tidak menyukai konsep kamar itu, makan konsepnya akan diganti segera sesuai dengan keinginan Khaira.
"Suka, Bi. Ini sangat indah dan nyaman," jawab Khaira jujur.
Bi Narti tampak senang mendengarnya.
Namun, saat mereka tengah asik mengobrol, tiba-tiba muncul Galvin yang kini sudah berdiri di ambang pintu.
"Bibi tinggal dulu, ya."
Bi Narti mengerti, sehingga memilih untuk pergi dari sana, dengan meninggalkan tuan dan nyonya mudanya.
Khaira tentu saja mengizinkan Bi Narti pergi. Mana mungkin dia melarangnya.
"Gimana?" tanya Galvin, dengan kedua tangannya yang dia masukkan ke dalam saku celana.
Galvin masuk begitu saja ke kamar Khaira, tanpa meminta izin dari pemilik baru kamarnya.
Namun, sah-sah saja dia langsung masuk seperti itu, karena secara tidak langsung, itu juga merupakan kamarnya.
"Kamarnya luas banget. Aku rasa ini terlalu berlebihan," ucap Khaira.
Hanya kepada Galvin dia bisa mengungkapkan adanya sedikit rasa tidak nyaman di hatinya. Dia merasa tidak pantas mendapat semua fasilitas yang ada di sana.
Kedua bola mata indahnya tidak henti mengamati setiap penjuru dari kamar itu.
"Ga ada yang berlebihan. Memang harusnya kaya gini," sahut Galvin.
Dia membiarkan Khaira yang masih mengamati sambil melangkah mengelilingi kamar itu. Sementara dirinya melangkah ke arah tempat tidur, kemudian menjatuhkan diri di atasnya.
Dia duduk di tepi ranjang itu, dengan kedua tangannya yang dia letakkan ke belakang, sebagai tumpuan.
"Oh, ya. Apa ini sebelumnya kamar kakak kamu?" tanya Khaira, yang entah kenapa dia tiba-tiba mengingat hal itu.
"Bukan. Ini kamar gue," jawab Galvin dingin.
"Kamu punya dua kamar?" tanya Khaira, mendadak penasaran.
"Hm," gumam Galvin pelan.
Khaira yang sudah puas mengamati seisi kamar itu, memilih untuk ikut duduk di tepi ranjang. Dengan jarak mereka bisa dibilang masih saling berjauhan.
"Terus kamar kakak kamu di mana?" tanya Khaira kembali, setelah dia duduk di sana.
"Kenapa? Mau tidur di kamar dia?" tanya Galvin, dingin dan datar.
"Astaghfirullah, bukan gitu Galvin. Aku cuma mau tau," jelas Khaira, membenarkan.
Khaira dapat merasakan bahwa Galvin tidak suka jika Khaira berbicara perihal kakaknya.
"Kamar dia di lantai atas." Galvin tetap menjawab rasa penasaran Khaira, walaupun tampak seperti tidak ikhlas saat mengatakannya.
"Ada lantai lagi di atas?" tanya Khaira, dengan kedua bola matanya yang terbuka sedikit lebih lebar dari sebelumnya.
Dari awal masuk hingga sekarang, Khaira tidak hentinya dibuat terkejut oleh hal-hal yang baru dia ketahui.
"Ada berapa lantai rumah ini?"
"Empat." Galvin selalu menjawab tanpa ekspresi.
Hal itu membuat Khaira kembali dibuat terkejut oleh fakta.
Dirasa sudah cukup pembicaraan di antara mereka, Galvin memilih untuk bangkit dari tepi ranjang itu.
"Langsung tidur. Barang-barang lo biar bibi yang beresin besok," perintah Galvin, sebelum dia benar-benar keluar dari kamar Khaira.
"Kalian mau berangkat sekarang?" tanya Diana, yang tengah asik menyantap sarapan paginya.
"Iya, Bunda. Takut kejebak macet, jadi lebih baik berangkat awal," jawab Khaira, yang baru saja selesai menyantap sarapan paginya.
Khaira dan Galvin langsung berpamitan kepada Diana dan Hadi untuk berangkat ke sekolah.
Hingga saat ini mereka berdua sudah ada di garasi rumah mereka.
Galvin yang biasanya berangkat ke sekolah menggunakan motor besarnya, kini harus berubah menjadi menggunakan mobil, karena ada Khaira yang diharuskan berangkat bersamanya oleh kedua orang tuanya.
"Pelan-pelan bawa mobilnya. Jaga mantu ayah dengan baik," ucap Hadi, memberikan peringatan kepada Galvin.
Galvin langsung mengangguk patuh, tanpa bersuara.
Mereka berdua meninggalkan ruangan meja makan setelah sebelumnya berpamitan.
"Gue bukan supir," ucap Galvin, saat Khaira hendak membuka pintu mobil bagian belakang.
Khaira segera menjauhkan tangannya dari pintu mobil itu, kemudian berganti membuka pintu depan.
"Turunin aku di halte bus depan aja," ucap Khaira, sambil memasang sabuk pengaman.
"Kenapa?" tanya Galvin, tanpa melirik ke arah Khaira.
"Kita sepakat untuk merahasiakan pernikahan ini, kan?" tanya Khaira, mengingatkan.
Tidak ada respon apa pun lagi dari Galvin. Dia langsung saja membawa mobilnya keluar dari garasi.
…
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai di dekat halte bis. Sesuai dengan permintaan Khaira, Galvin menurunkan Khaira di sana.
Sebelum turun, Khaira mengulurkan tangannya kepada Galvin.
Galvin diam sejenak, kemudian dia meraih dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu dari dalam sana.
"Kenapa ngasih ini?" Khaira menaikkan kedua alisnya, saat Galvin memberinya sebuah kartu.
"Pakai itu buat keperluan lo," jawab Galvin, dingin.
"Makasih, tapi ini ga perlu. Aku juga punya uang sendiri." Khaira tidak menerima kartu itu.
Bukannya dia tidak menghargai Galvin, tetapi dia tidak ingin membuat Galvin merasa terbebani oleh kehadirannya.
"Katanya ga perlu," cibir Galvin, melihat telapak tangan Khaira yang kembali terulur kepadanya.
"H-hah?" tanya Khaira, kembali mengerutkan keningnya.
Dia sama sekali tidak paham dengan apa yang Galvin maksud.
"Tangan lo," ucap Galvin, sambil menunjuk telapak tangan Khaira menggunakan sorot matanya.
Khaira tersenyum di balik cadar. "Ini bukan mau minta uang, tapi mau pamitan," ucap Khaira, sambil berusaha menahan tawa.
Galvin langsung berdeham pelan, sambil memalingkan wajah. Dia merasa malu karena telah salah paham akan hal itu.
Khaira langsung meraih telap tangan Galvin, kemudian mencium punggung tangan itu di balik cadarnya.
"Assalamu'alaikum," ucap Khaira, dengan lembut.
"Wa'alaikumsalam."
Galvin yang hendak menyentuh kepala Khaira, kembali menarik tangannya, karena Khaira lebih dulu mengangkat kepalanya.
"Hati-hati," gumam Galvin dengan pelan, tetapi Khaira masih bisa mendengar.
"Kamu juga," balas Khaira.
Setelah itu, dia keluar dari mobil dan menyisakan Galvin yang menatap kepergiannya.
"Assalamu'alaikum, Kak Khaira!" salam dari beberapa anggota Osis yang sudah tiba lebih dulu karena memiliki jadwal berjaga di hari ini.
"Wa'alaikumsalam," jawab Khaira, dengan ramah.
Sepanjang gerbang pemeriksaan, Khaira selalu mendapatkan salam atau menyapanya, walaupun ada juga beberapa murid yang tidak melakukan itu.
"Semangat banget anak-anak," ucap Khaira, kepada Jenna yang merupakan Bendahara Umum Osis Glory High School.
"Biasa, awal-awal semangatnya masih berkobar. Beda lagi kalau nanti," ucap Jenna sambil tertawa pelan.
Mereka bertemu di gerbang depan dan berjalan bersama memasuki ruang kelas.
"Jangan gitu. Doa'in aja semangat mereka tetap seperti itu sampai nanti," ucap Khaira.
"Gue doa'in, tapi ga yakin," sahut Jenna.
"Laporannya udah siap?" tanya Jenna, yang baru saja masuk ke ruang Osis.
"Sebentar lagi selesai." Khaira menjawab, dengan pandangannya yang fokus kepada layar laptopnya.
"Mau gue bantu?" tanya Jenna kembali.
Dia menarik sembarang kursi yang ada di sana, kemudian duduk di samping Khaira, sambil melihat laporan yang sedang Khaira buat.
…
Khaira mengamati sebuah mobil yang baru saja melintas dan berhenti tepat di hadapannya.
Saat ini, dia sedang berdiri di halte bis itu bersama orang-orang yang sedang menunggu bis juga.
"Masuk!" pinta Galvin, begitu kaca mobil itu terbuka.
"Kamu duluan aja. Aku biasa naik bis," balas Khaira.
"Masuk, Khaira!" ucap Galvin dengan tegas.
Jika sudah seperti itu, Khaira tidak bisa menolak. Dia juga merasa tidak enak berdebat di hadapan orang-orang yang ada di sana.
"Udah makan?" tanya Galvin, tanpa melirik Khaira dan hanya fokus menyetir saja.
"Udah. Tadi dibeli'in Jenna."
"Kamu udah makan?" Khaira berbalik tanya.
Galvin tidak menjawab. Seolah tidak mendengar apa yang Khaira tanyakan.
"Kamu belum makan?" tebak Khaira.
"Gue ga laper."
Khaira langsung menggeleng pelan mendengar jawaban Galvin.
"Kita cari tempat makan dulu, ya."
"Nanti aja di rumah," tolak Galvin.
"Kelamaan. Apalagi kalau di rumah, aku harus masak dulu."
Khaira tahu bahwa menyiapkan makanan untuk Galvin adalah kewajibannya saat ini.
"Buat apa? Di rumah ada pelayan yang udah siapin makanan."
"Fokus aja belajar. Ga perlu mikirin hal lain," sambung Galvin, seolah mengerti apa yang sedang Khaira pikirkan saat ini.
"Galvin," sahut Khaira, pelan.
Seperti biasa, Galvin menjawab dengan gumaman.
"Nanti turunin aku di pertigaan aja. Aku mau ke perpustakaan dulu."
"Kerja?"
"Hm."
"Ga cape?"
Khaira tersenyum, sebelum akhirnya menjawab.
"Alhamdulillah, ngga. Udah biasa."
Galvin hanya mengangguk, kemudian fokus kembali menyetir mobil.
"Kenapa ga berhenti?"
Khaira langsung menatap Galvin, saat Galvin terus melajukan mobilnya melewati pertigaan yang sebelumnya dia katakan.
"Kalau kamu nganterin aku sampai perpustakaan, kamu makin lama nahan laparnya." Khaira panik sendiri.
"Gue ga laper," ucap Galvin, dengan santainya.
Khaira menggeleng pelan, sambil menghembuskan napasnya dengan pelan.
…
"Pulang jam berapa?" tanya Galvin, sambil bersandar di samping pintu mobilnya.
"Jam 9. Kamu ga perlu jemput aku. Aku bisa naik bis," ucap Khaira, tidak ingin merepotkan Galvin lagi.
Galvin tidak merespon apa pun. Dia menjauhkan kembali punggungnya dari pintu mobil itu, kemudian membuka pintu itu untuk masuk kembali ke dalam sana.
"Hati-hati. Jangan ngebut kaya tadi," pesan Khaira.
"Iya, Khaira."
"Galvin, tunggu!" Khaira menghentikan Galvin yang hendak menutup kaca pintu mobil.
Galvin mengangkat salah satu alisnya.
Tanpa berbicara, Khaira meraih tangan Galvin kemudian mencium punggung tangan itu di balik cadar.
Tanpa sadar, Galvin menarik salah satu sudut bibirnya. Dia tersenyum samar melihat tingkah Khaira.