Elysia Sylphy, seorang siswi SMA biasa dari Bumi yang mahir kendo, tiba-tiba terlempar ke dunia fantasi ketika ia pulang dari kegiatan ekskul kendo nya, di dunia fantasi itu, ia harus selalu waspada dengan yg ada di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raphiel-Viel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2.10 Pulang dengan Janji
Sungai kecil itu akhirnya membawa kami ke desa kecil yang tersembunyi di balik pepohonan tinggi. Desa itu tidak besar. Hanya sekitar dua puluh rumah kayu dengan atap jerami yang sudah agak lapuk. Lampu-lampu minyak di teras beberapa rumah masih menyala samar, meskipun jam sudah larut malam. Bau kayu bakar dan sup sayur samar-samar tercium dari salah satu rumah. Aku menarik napas pelan. Bau itu membuat perutku berbunyi lagi, meskipun aku sudah berusaha mengabaikannya sejak tadi.
Nyx berjalan di sampingku. Langkahnya lebih ringan sekarang. Tubuhnya yang baru terasa lebih pas dengan ritme perjalanan panjang. Ekornya melengkung pelan, tidak lagi kaku seperti saat kami berlari tadi. Telinganya bergerak kecil setiap kali mendengar suara baru: derit pintu kayu, suara anak kecil yang menangis samar dari salah satu rumah, hembusan angin yang membawa daun kering bergesekan.
Aku berhenti di pinggir desa. Tidak ada gerbang atau pagar. Hanya jalan tanah yang melebar menjadi halaman kecil di depan rumah-rumah. Aku menatap Nyx.
“Kita cari tempat menginap,” kataku pelan. “Desa ini terlihat aman. Tidak ada tanda-tanda mereka mengikuti lagi.”
Nyx mengangguk. Ia menatap rumah-rumah itu satu per satu. Matanya yang sekarang memiliki cahaya perak samar memindai kegelapan dengan cepat.
“Aku bisa mendengar,” katanya. “Tidak ada suara langkah kaki asing. Hanya orang-orang desa yang sedang tidur atau menjaga anak kecil. Kita bisa minta tolong di rumah yang masih menyala lampu itu.”
Aku mengikuti arah pandangannya. Rumah kecil di ujung desa. Lampu minyak di teras masih menyala redup. Pintu kayunya sedikit terbuka, seolah menunggu seseorang pulang. Aku mengangguk.
“Kita coba ke sana.”
Kami berjalan pelan menuju rumah itu. Kaki aku terasa berat. Bukan karena lelah lari saja. Lebih karena malam ini terasa terlalu panjang. Terlalu banyak yang terjadi dalam waktu singkat. Nyx berjalan di sampingku. Langkahnya lebih mantap. Ia tidak lagi terlihat seperti anak kecil yang mudah tersandung akar pohon. Tubuhnya yang bertambah tinggi membuat ia bisa menjaga keseimbangan dengan lebih baik.
Kami sampai di teras rumah itu. Aku mengetuk pintu kayu pelan. Tiga ketukan ringan. Tidak ingin membangunkan seluruh desa. Beberapa detik berlalu. Lalu suara langkah kaki pelan dari dalam. Pintu terbuka sedikit. Seorang wanita paruh baya muncul di balik pintu. Rambutnya diikat sederhana. Matanya mengantuk, tapi waspada.
“Siapa?” tanyanya pelan.
Aku melangkah maju sedikit. Aku menunduk sopan.
“Maaf mengganggu malam-malam begini. Kami dua petualang. Kami baru saja dari hutan utara. Kami kelelahan dan membutuhkan tempat berteduh sampai pagi. Kami bisa membayar.”
Wanita itu menatap kami bergantian. Matanya berhenti lebih lama pada Nyx. Pada telinga kucing hitam dan ekor yang melengkung pelan. Aku merasakan ketegangan di dada. Aku tahu stigma terhadap beastkin kucing hitam masih ada di banyak tempat. Tapi wanita itu tidak menutup pintu. Ia hanya menghela napas pelan.
“Masuklah. Malam ini dingin sekali. Aku tidak punya kamar tamu, tapi ada tikar di ruang belakang. Sup masih hangat di dapur. Makan dulu. Bayarannya nanti saja kalau kalian sudah istirahat.”
Aku menunduk lagi. “Terima kasih banyak.”
Kami masuk. Rumah itu kecil tapi hangat. Bau kayu bakar dan sup sayur langsung menyambut. Ada perapian kecil di sudut ruangan. Api di dalamnya menyala pelan. Cahayanya oranye lembut menerangi ruangan. Aku merasa bahu yang tadi tegang mulai rileks sedikit.
Wanita itu membawa dua mangkuk sup dari dapur. Sup sayur sederhana dengan potongan wortel, kentang, dan sedikit daging kering. Aroma itu membuat perutku berbunyi lebih keras. Aku tersenyum kecil sendiri. Malu, tapi lapar.
“Terima kasih,” kataku sambil menerima mangkuk. “Nama saya Ely. Ini Nyx.”
Wanita itu mengangguk. “Panggil saja Ibu Mira. Makanlah. Kalian terlihat lelah sekali.”
Nyx duduk di tikar di dekat perapian. Ia memegang mangkuk dengan kedua tangan. Ia meniup sup pelan sebelum menyeruput kecil. Aku duduk di sampingnya. Aku menyeruput sup juga. Rasanya hangat di tenggorokan. Rasa garam dan sayur membuat tubuh terasa lebih hidup. Aku menatap Nyx. Ia makan pelan, tapi matanya sesekali menatap ke pintu, seperti masih waspada.
Ibu Mira duduk di kursi kayu di seberang kami. Ia menatap Nyx dengan mata yang penuh perhatian.
“Kau beastkin kucing hitam,” katanya pelan. Bukan pertanyaan. Hanya pernyataan.
Nyx mengangguk kecil. Ia menurunkan mangkuk. Matanya menatap lantai.
“Iya. Maaf jika membuat Ibu tidak nyaman.”
Ibu Mira menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Di desa ini kami tidak terlalu memedulikan itu. Kami pernah punya tetangga beastkin. Mereka baik. Tapi mereka pergi setelah kejadian di Nocturne. Sejak itu banyak rumor. Tapi aku tidak percaya rumor.”
Aku menatap Ibu Mira. Aku merasa lega. Tidak semua orang membenci beastkin kucing hitam. Ada yang masih ingat bahwa mereka hanya orang biasa.
“Kami baru saja dari Nocturne,” kataku pelan. “Kami… mencari jawaban.”
Ibu Mira mengangguk pelan. “Aku tahu. Desa itu sudah lama hancur. Tapi orang-orang bilang ada sesuatu yang tersisa di sana. Sesuatu yang belum selesai.”
Nyx menatap Ibu Mira. Matanya penuh pertanyaan.
“Ibu tahu apa yang terjadi di Nocturne?”
Ibu Mira diam sejenak. Ia menatap api di perapian. Cahaya oranye memantul di matanya.
“Aku tidak tahu detailnya. Tapi aku tahu orang-orang jubah hitam datang malam itu. Mereka mencari ‘Guardian terakhir’. Mereka bilang darah kucing hitam adalah kunci. Mereka tidak peduli siapa yang mati. Mereka hanya ingin darah itu.”
Nyx menunduk. Tangan memegang mangkuk lebih erat. Aku menyentuh bahunya pelan. Ia mengangguk kecil, tanda bahwa dia baik-baik saja.
Ibu Mira melanjutkan. “Sejak itu, desa ini jadi lebih sepi. Banyak yang takut. Tapi aku tetap di sini. Ini rumahku. Dan aku percaya… ada alasan mengapa tidak semua beastkin dibenci. Ada alasan mengapa beberapa dari mereka masih hidup.”
Aku mengangguk pelan. “Terima kasih, Ibu. Kami akan pergi pagi-pagi sekali. Kami tidak ingin membawa masalah ke sini.”
Ibu Mira tersenyum kecil. “Istirahat dulu. Pagi masih jauh.”
Ia berdiri. Memberi kami tikar tambahan dan selimut wol tebal. Lalu ia masuk ke kamar dalam. Pintu kamar ditutup pelan.
Aku dan Nyx duduk di tikar dekat perapian. Api masih menyala pelan. Cahayanya oranye lembut menerangi wajah kami. Aku menatap Nyx. Ia menatap api. Matanya penuh pikiran.
“Kau baik-baik saja?” tanyaku pelan.
Nyx mengangguk. Ia menoleh ke arahku.
“Aku baik-baik saja. Hanya… merasa banyak sekali yang berubah. Tubuh ini. Kekuatan ini. Dan masa lalu yang masih mengikuti.”
Aku mengangguk pelan. Aku mengerti. Aku juga merasa begitu. Semuanya terasa terlalu cepat. Tapi aku tahu kami tidak bisa berhenti.
“Kita akan hadapi bersama,” kataku. “Kau tidak sendirian lagi.”
Nyx tersenyum kecil. Ia menggeser posisi lebih dekat. Bahunya menyentuh bahuku. Aku merasakan kehangatan tubuhnya. Tubuh yang sekarang lebih tinggi. Lebih kuat. Tapi tetap Nyx.
“Aku tahu,” bisiknya. “Dan aku senang ada Kak Ely di sampingku.”
Aku tersenyum kecil. Aku mengusap rambutnya pelan. Rambut hitam pendek yang sekarang terasa lebih halus.
“Kita tidur sebentar. Pagi kita lanjut ke Eldoria. Lyre pasti khawatir.”
Nyx mengangguk. Ia merebahkan diri di tikar. Aku merebahkan diri di sampingnya. Selimut wol tebal menutupi kami berdua. Api di perapian masih menyala pelan. Cahayanya oranye lembut menerangi ruangan.
Aku menatap langit-langit kayu. Pikiranku melayang. Ke Lyre. Ke Cae. Ke masa depan yang masih gelap. Tapi aku tahu satu hal.
Kami sudah pulang.
Dengan janji baru.
Janji untuk tetap bersama.
Apa pun yang terjadi.
Aku menoleh ke Nyx. Matanya sudah tertutup. Napasnya teratur. Wajahnya tenang. Aku tersenyum kecil.
“Selamat tidur, Nyx.”
Aku menutup mata.
Malam masih panjang.
Tapi kali ini, aku tidak takut.
Karena kami sudah pulang.
Dengan janji baru.