Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."
Sinopsis Cerita:
Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Sumsum Bintang Jatuh dan Kesepakatan Sang Ketua Sekte
Waktu satu jam perlahan berlalu diiringi oleh jeritan, darah, dan kilatan Qi Dewa yang saling berbenturan.
Di dasar Kawah Meteorit, sembilan ratus kultivator telah tumbang atau menyerah, menyisakan seratus orang yang berhasil berdiri di atas pilar-pilar batu hitam. Pertarungan di pilar-pilar bawah sangatlah brutal, namun di puncak tertinggi, suasananya sangat hening.
Ye Chen duduk bersila di atas Pilar Nomor 1, menutup matanya dengan tenang. Tidak ada satu pun peserta yang berani mendekati pilar itu setelah melihat nasib Xing Ming. Bahkan Hu Lei yang sombong telah dibelah menjadi dua sebelumnya. Ye Chen bagaikan dewa kematian yang menjaga singgasananya; kehadirannya saja sudah menjadi benteng yang tak tertembus.
Di Pilar Nomor 80 dan 81, Yin Yue dan Yin Xue berdiri dengan napas terengah-engah, jubah mereka dipenuhi noda darah musuh. Mereka saling berpegangan tangan, menatap ke arah Ye Chen dengan rasa syukur yang mendalam. Jika bukan karena Ye Chen yang mengalihkan sebagian besar perhatian para elit, mereka tidak mungkin bisa mempertahankan posisi ini.
TENG!
Suara gong raksasa bergema, menggetarkan kawah.
"Waktu habis!" suara Tetua Xing Kuang menggelegar dari langit.
Seketika, formasi kawah aktif. Sembilan ratus peserta yang gagal langsung diteleportasi keluar dari arena, menyisakan seratus pemenang yang berdiri tegak di atas pilar masing-masing.
"Babak Kedua selesai! Seratus orang ini adalah elit sejati wilayah utara!" Tetua Xing Kuang melayang turun, matanya yang tajam menatap satu per satu peserta, lalu berhenti pada Ye Chen. Wajah tetua itu terlihat rumit—campuran antara kemarahan karena murid utamanya dilumpuhkan, dan kekaguman atas kekuatan mutlak pemuda itu.
"Sesuai janji," lanjut Tetua Xing Kuang, mengangkat tangannya. "Sepuluh pilar teratas akan menerima hadiah khusus mereka."
Dari langit, sepuluh sinar cahaya turun dan mendarat di atas sepuluh pilar tertinggi.
Di depan Ye Chen, sinar cahaya itu memudar, memperlihatkan sebuah botol kristal transparan. Di dalamnya, mengalir cairan kental berwarna perak kebiruan yang memancarkan cahaya seperti galaksi mini.
Sumsum Bintang Jatuh (Fallen Star Marrow).
"Harta karun peninggalan meteorit purba," gumam Ye Chen. Matanya berbinar. Dia bisa merasakan energi kosmik yang sangat padat di dalam cairan itu. Ini adalah bahan yang sempurna untuk menyempurnakan Tulang Emas Gelap-nya.
Selain botol itu, ada sebuah token giok kecil dengan ukiran formasi teleportasi. Tiket langsung menuju Domain Pusat!
Ye Chen mengambil botol itu dan membuka penutupnya. Aroma energi yang sangat kuat langsung menyerbak, membuat para peserta di pilar lain menelan ludah karena iri.
Tanpa ragu sedikit pun, Ye Chen langsung menenggak isi botol itu di depan ratusan ribu penonton.
"Dia meminumnya mentah-mentah?!" seru seorang Tetua di tribun. "Itu Sumsum Bintang! Energi liarnya bisa meledakkan tubuh seorang Dewa Fana Tingkat 7 jika tidak diproses menjadi pil!"
Namun Ye Chen bukanlah kultivator biasa.
Begitu cairan perak itu masuk ke perutnya, Mutiara Penelan Surga langsung berputar gila-gilaan, menyedot dan memurnikan energi kosmik tersebut.
Suhu tubuh Ye Chen melonjak. Kulitnya memancarkan cahaya perak kebiruan. Di bawah kulitnya, Tulang Emas Gelap-nya mulai menyerap esensi bintang itu, menambahkan lapisan kepadatan baru yang membuatnya seringan bulu namun sekeras berlian.
Krak! Krak!
Suara tulang yang bergeser dan memadat terdengar samar.
Dewa Fana Tingkat 4 Puncak... Tembus!
Dewa Fana Tingkat 5 (Awal)!
Ye Chen membuka matanya. Sebuah kilatan cahaya bintang melesat dari pupil naganya. Auranya tidak lagi hanya berat, tapi kini mengandung tekanan kosmik yang misterius.
"Luar biasa," batin Ye Chen. "Kekuatan fisikku kini bisa menandingi Dewa Fana Tingkat 8 tanpa masalah."
Ye Chen mengantongi token teleportasi dan bersiap turun dari pilar.
Namun, sebelum dia bisa bergerak, sebuah tekanan spiritual yang maha dahsyat menekan seluruh kawah.
Tekanan ini ribuan kali lipat lebih berat dari gravitasi meteorit. Ratusan peserta di pilar-pilar bawah langsung jatuh berlutut, tak mampu menahan beban aura tersebut.
Bahkan Tetua Xing Kuang yang merupakan Dewa Sejati langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Hamba memberi hormat pada Ketua Sekte!" seru Tetua Xing Kuang.
Langit di atas kawah terbelah. Seorang pria paruh baya dengan jubah hitam bertabur rasi bintang turun perlahan. Wajahnya agung bak dewa, matanya seperti dua lubang hitam yang menghisap cahaya.
Xing Tian (Langit Bintang). Ketua Sekte Bintang Jatuh.
Tingkat Kultivasi: Dewa Sejati Tingkat 5 (Puncak)!
Xing Tian mendarat di udara, tepat sejajar dengan puncak Pilar Nomor 1 tempat Ye Chen berdiri.
Dia menatap Ye Chen dalam diam. Tekanan spiritualnya dikonsentrasikan sepenuhnya kepada Ye Chen.
Lantai pilar di bawah kaki Ye Chen mulai retak-retak. Angin di sekitarnya berhenti bertiup. Rasanya seperti sebuah gunung tak kasat mata diletakkan di bahu Ye Chen.
"Tulang yang bagus," suara Xing Tian datar namun bergema di dalam jiwa. "Kau menghancurkan Dantian Xing Ming, putraku dan murid utamaku. Menurut hukum Sekte, aku seharusnya memusnahkan jiwamu dan menyiksamu di Api Bintang selama seratus tahun."
Penonton di tribun menahan napas. Klan Pedang Perak, terutama Yin Yue, wajahnya menjadi pucat pasi. Jika Ketua Sekte turun tangan, tidak ada yang bisa menyelamatkan Ye Chen.
Ye Chen, meskipun kakinya sedikit tenggelam ke dalam batu pilar karena tekanan itu, tidak menundukkan kepalanya. Dia menegakkan punggungnya, menahan tekanan Dewa Sejati dengan tekad Asura-nya.
"Dia menantangku. Di arena ini, yang lemah akan jatuh," jawab Ye Chen, suaranya tenang, menolak untuk menunjukkan kelemahan. "Jika kau ingin membalas dendam untuk putramu, turunlah. Tapi bersiaplah kehilangan pewarismu yang lain."
Mendengar tantangan terbuka itu, para Tetua Sekte Bintang Jatuh hampir meledak dalam amarah.
"Bocah lancang! Mati!"
Namun, Xing Tian mengangkat tangannya, menghentikan para tetuanya.
Mata hitamnya menatap Ye Chen lekat-lekat, menilai setiap inci dari pemuda di depannya. Tiba-tiba, Xing Tian menarik kembali tekanannya.
"Kau berani," kata Xing Tian, nada suaranya berubah menjadi penuh perhitungan. "Dan kau kuat. Alam Dewa Kuno tidak peduli pada darah atau dendam, kami hanya peduli pada Kekuatan dan Manfaat."
Xing Tian menunjuk ke arah token teleportasi di tangan Ye Chen.
"Kau memenangkan hak untuk menggunakan Formasi Teleportasi Antar-Domain menuju Domain Pusat. Tapi ada satu hal yang tidak disebutkan dalam aturan."
"Apa itu?" tanya Ye Chen waspada.
"Formasi itu... sudah tidak berfungsi selama seratus tahun," ungkap Xing Tian, membuat seluruh peserta terkejut. "Energi yang dibutuhkan untuk menembus Jurang Kehampaan (Abyssal Rift) terlalu besar. Sumber energi utama formasi kami telah habis."
"Lalu untuk apa kau memberikan token ini sebagai hadiah?" Ye Chen menyipitkan mata.
"Karena kami sedang mencari seseorang yang cukup kuat untuk mengambil sumber energi baru," jawab Xing Tian. "Kau ingin ke Domain Pusat? Kau harus menghidupkan sendiri formasinya."
"Apa yang kau butuhkan?"
"Di ujung paling utara dari Benua ini, terdapat Lautan Gletser Utara. Di dasar lautan itu, tertidur seekor monster purba: Leviathan Es Kuno. Di dalam tubuhnya, terdapat Inti Roh Bulan (Moon Spirit Core)—sumber energi yang cukup untuk menyalakan formasi teleportasi itu."
Ye Chen tertegun di dalam hatinya.
Inti Roh Bulan? Itu adalah Kunci Bulan yang dia butuhkan untuk membuka sisa-sisa Tanah Suci Kunlun di Domain Pusat! Ini adalah kebetulan yang sangat menguntungkan.
"Aku bisa mengutus para Tetua Dewa Sejati ke sana," lanjut Xing Tian. "Tapi wilayah Lautan Gletser memiliki hukum alam yang menolak kultivator di atas ranah Dewa Fana. Jika Dewa Sejati memasukinya, Leviathan itu akan terbangun dan menciptakan tsunami yang bisa menenggelamkan separuh wilayah utara."
"Jadi kau butuh Dewa Fana yang memiliki kekuatan tempur setara Dewa Sejati untuk membunuhnya atau mencuri intinya," Ye Chen menyimpulkan.
"Tepat," Xing Tian mengangguk. "Dan setelah melihatmu menghancurkan Xing Ming, aku yakin kaulah orangnya. Bawa Inti Roh Bulan kepadaku, dan aku akan mengaktifkan formasi itu untuk mengirimmu ke Domain Pusat. Sebagai bonus, aku akan memaafkan tindakanmu pada putraku."
Xing Tian melemparkan sebuah gulungan peta kulit naga es ke arah Ye Chen.
"Ini peta menuju Lautan Gletser Utara. Kau memiliki waktu satu bulan sebelum badai abadi di sana menutup jalan selamanya."
Ye Chen menangkap peta itu. Dia menatap Xing Tian. Orang tua ini cerdik; dia memanfaatkan kekuatan Ye Chen untuk menyelesaikan masalah sekte, sambil menyingkirkan Ye Chen dari wilayahnya secara diplomatis.
Tapi bagi Ye Chen, ini adalah rute yang sempurna.
"Satu bulan?" Ye Chen tersenyum tipis, menyimpan peta dan token itu ke dalam cincinnya. "Itu terlalu lama. Aku akan kembali sebelum salju pertama turun."
Ye Chen melompat turun dari Pilar Nomor 1, mendarat di samping Yin Yue dan Yin Xue.
"Ayo kembali. Kita punya perjalanan baru," kata Ye Chen pada kedua gadis itu.
Xing Tian menatap kepergian Ye Chen dari udara. Salah satu Tetua mendekatinya dan berbisik, "Ketua Sekte... apakah Anda benar-benar akan melepaskan bocah itu? Jika dia mendapatkan Inti Roh Bulan, dia mungkin akan mengambilnya untuk dirinya sendiri!"
"Jika dia mati di perut Leviathan, dendam Xing Ming terbayar," kata Xing Tian dingin. "Tapi jika dia berhasil kembali membawa Inti itu... kita akan menyergapnya di depan Formasi Teleportasi. Dia mungkin sekuat monster, tapi dia tidak akan bisa melawan seluruh kekuatan Sekte Bintang Jatuh di kandang kita sendiri."
Di balik bayang-bayang, konspirasi baru mulai dirajut. Namun, bagi sang Asura, perjalanan ke Lautan Gletser Utara bukan hanya soal menyelesaikan misi... melainkan menemukan kembali potongan takdirnya yang hilang.
(Akhir Bab 32)