Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.
Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.
Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.
Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter Muda
Setelah beberapa saat terdiam, Tiffany akhirnya mengambil keputusan.
"Tiffany, kamu harus bela adikmu! Jangan biarkan bajingan itu lolos begitu saja!" kata Sarrah penuh kebencian.
"Tenang, aku tahu apa yang harus kulakukan."
Tiffany mengangguk, lalu memberi isyarat pada dua petugas keamanan untuk mengantar Sarrah dan Rorry ke rumah sakit.
"Menurutmu bagaimana, Rachel?"
Tiffany memijat pelipisnya. Kepalanya mulai terasa berdenyut.
"Sudah jelas, kan? Hans yang menyerang duluan. Petugas keamanan jadi saksi, masa iya mereka bohong," kata Rachel.
"Tapi Mamaku bukan orang yang benar-benar jujur ...." Tiffany bergumam. Ia mengenal sifat ibu dan adiknya dengan baik. Keduanya mudah marah dan sering bertindak semaunya.
"Bagaimanapun juga, tetap salah kalau dia yang memukul lebih dulu!" ujar Rachel tegas. "Kalau memang ada salah paham, kenapa gak dibicarakan baik-baik? Lagi pula yang dia pukul itu Rorry. Adik kamu sendiri. Dia gak mikir perasaan kamu waktu nyerang keluarga kamu? Itu aja udah cukup bukti kalau dia bukan orang baik!"
Kerutan di kening Tiffany makin dalam, seiring keraguannya. Rachel ada benarnya. Sekalipun ibu dan adiknya bersikap kasar dan tidak masuk akal, tidak seharusnya Hans menggunakan kekerasan, apalagi sampai melukai Rorry separah itu. Mungkin keputusannya untuk bercerai memang tidak salah.
"Kamu gak bisa biarin ini berlalu begitu aja, Tiffany. Kamu harus kasih dia pelajaran!" desak Rachel.
Ucapan itu membuat Tiffany tersulut emosi. Ia mengeluarkan HP dan menelepon Hans.
Saat itu Hans sedang duduk di dalam Bentley perak. Ia mengernyit saat melihat nama yang muncul di layar. Meski enggan, ia tetap mengangkatnya.
"Hans, aku butuh penjelasan!" tuntut Tiffany.
"Penjelasan apa?"
"Kamu habis mukul adikku?"
"Iya. Tapi—"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Tiffany memotong.
"Jadi benar kamu! Aku gak nyangka kamu jadi orang kayak gini! Kamu balas dendam ke keluargaku cuma karena aku ceraiin kamu?"
Hans terdiam sesaat. Ia tidak menyangka Tiffany akan bersikap seagresif ini. Ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan. Setelah tiga tahun menikah, wanita itu memperlakukannya seperti orang asing, bahkan lebih buruk dari itu.
"Tiffany Rasheed, segitu rendahnya kamu nilai aku? Kamu tahu aku mukul adik kamu, tapi kamu pernah mikir kenapa aku lakuin itu?" tanya Hans.
"Apapun alasannya, kamu tetap gak berhak mukul dia!" sahut Tiffany keras.
Mendengar itu, Hans tertawa pahit. Ia merasa kecewa. Pada titik ini, siapa yang benar atau salah seolah tidak lagi penting. Jelas sekali Tiffany memihak adiknya.
"Hans, aku kasih kamu satu kesempatan lagi. Datang ke rumah sakit sekarang dan minta maaf sama Rorry. Aku anggap semuanya gak pernah terjadi. Kalau gak —"
"Kalau gak kenapa?" potong Hans. "Kamu mau laporin aku ke polisi? Atau nyewa orang buat beresin aku?"
"Hans! Kamu beneran mau buang itikad baik aku gitu aja?" bentak Tiffany.
"Itikad baik? Kamu yakin itu itikad baik? Terserah kamu mau gimana. Aku memang mukul adik kamu. Lakuin aja apa yang menurut kamu perlu."
"Kamu—"
Ucapan Tiffany terputus karena Hans lebih dulu menutup telepon.
Ia hampir melempar HPnya karena marah. Selama ini Tiffany selalu pandai menyembunyikan emosinya. Itu salah satu alasan ia bisa mencapai posisinya sekarang. Namun kali ini, ia kesulitan mengendalikan dirinya sendiri.
"Kurang ajar sekali dia. Nona Rasheed, perlu saya atur seseorang untuk memberinya pelajaran?" tanya Rachel.
"Gak perlu. Urusan kami sudah selesai." Tiffany menarik napas panjang untuk meredam amarahnya.
"Tapi .…"
Rachel hendak melanjutkan, namun Tiffany menghentikannya.
"Sudah cukup. Aku harus fokus pada hal yang lebih penting, seperti acara charity ball bersama keluarga Wiraningrat."
"Charity ball? Ada hubungannya dengan kerja sama bisnis kita?"
"Benar. Aku baru menerima kabar bahwa keluarga Wiraningrat memasukkan Emerald Group dalam daftar kandidat. Jika kita tampil baik di acara itu, kita bisa menjadi mitra berikutnya bagi keluarga Wiraningrat!"
"Itu kabar bagus! Aku akan segera menyiapkan semuanya!"
***
Setelah menutup telepon, Hans tiba di Jakarta Primary Hospital. Maureen membawanya ke ruang VIP, tempat seorang pria tua terbaring di ranjang. Wajahnya pucat, bibirnya kering dan pecah-pecah. Napasnya lemah, seolah berada di ambang kematian. Beberapa dokter mengelilinginya, namun tak satu pun tampak optimistis.
"Maureen! Akhirnya kamu datang. Dokter-dokter ini gak berguna!"
Tiba-tiba seorang wanita muda berambut ekor kuda berlari menghampiri mereka. Ia adalah putri kedua keluarga Wiraningrat, Renatta Wiraningrat, sementara pria tua di ranjang itu adalah Soedjoyo Wiraningrat, kakeknya.
"Nona Wiraningrat, kami sudah melakukan segala yang kami bisa. Tidak ada lagi yang dapat kami lakukan," kata seorang dokter dengan putus asa.
"Kalau kalian tidak bisa berbuat apa-apa, biarkan orang lain mengambil alih," kata Maureen dingin.
"Pak Rinaldi akan menanganinya."
"Pak Rinaldi?"
Para dokter di sekeliling mereka menunjukkan ekspresi aneh. Hans tampak terlalu muda untuk dianggap dokter yang andal.
"Kamu bercanda, Maureen? Ini Pak Rinaldi?" Renatta tampak terkejut. "Dia kelihatan seumuran denganku. Dia benar-benar dokter?"
"Jangan menilai seseorang dari penampilannya. Pak Palumbo yang memperkenalkannya kepadaku. Aku percaya padanya," kata Maureen.
Sejujurnya, Maureen sendiri tidak sepenuhnya yakin pada Hans. Namun jika Andy merekomendasikannya, pasti ada alasan yang kuat.
"Jangan-jangan Pak Palumbo juga tertipu?" Renatta masih tampak ragu. "Hei, kamu benar-benar dokter?"
"Aku tahu sedikit tentang pengobatan," jawab Hans.
"Sedikit?" Renatta mengerucutkan bibir. "Kamu harus tahu, hanya dokter terbaik yang diizinkan masuk ke ruangan ini. Semua orang di sini ahli di bidangnya, dan tak satu pun bisa mengatasi penyakit ini. Dari mana kamu yakin bisa?"
"Renatta! Jaga sikapmu!" tegur Maureen.
"Dia gak terlihat meyakinkan, Maureen! Aku hanya khawatir dia memperburuk kondisi Kakek!" kata Renatta.
"Jaga ucapanmu." Maureen mengernyit.
"Aku gak peduli. Aku gak akan percaya padanya kecuali dia bisa membuktikannya kepadaku," kata Renatta dengan dagu terangkat.
"Bagaimana aku harus membuktikannya?" tanya Hans santai.
"Coba sebutkan penyakit apa yang aku derita. Jika kamu benar, aku akan percaya!"
"Benarkah?"
"Kenapa? Kamu takut? Kalau gak bisa, silakan pergi. Jangan buang waktu kami!" Renatta mendengus.
"Julurkan lidahmu," kata Hans.
Renatta menuruti perkataannya.
Setelah melihat sekilas, Hans langsung berkata tanpa ragu, "Hormon kamu gak seimbang, jadi siklus haid kamu pasti berantakan dan kamu sering migrain. Kamu juga menunjukkan gejala keracunan makanan yang ngaruh ke sistem pencernaan. Kamu akhir-akhir ini diare, kan? Oh ya, satu lagi, kamu juga punya wasir .…"
Semakin Hans berbicara, wajah Renatta makin tegang.