NovelToon NovelToon
Aku Anak Yang Kau Jual

Aku Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat / Aliansi Pernikahan / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.

×××××××

"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"

"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.

"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."

Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Kolektor Sunyi

Perjalanan dari rumah keluarga Bramantyo menuju pusat kota terasa seperti perpindahan antar dimensi.

Di luar jendela mobil Rolls-Royce yang kedap suara, Jakarta tampak seperti hutan beton yang tak berperasaan. Aira menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kulit yang dingin.

Ia memperhatikan sopir dan asisten di depan yang sama sekali tidak mengajaknya bicara. Mereka tampak seperti robot yang diprogram hanya untuk mengeksekusi perintah sang majikan.

Mobil itu akhirnya berbelok masuk ke sebuah kawasan elit yang dijaga ketat. Bukan rumah bergaya klasik dengan pilar-pilar besar yang mereka tuju, melainkan sebuah mahakarya arsitektur modern yang menjulang tinggi—sebuah hunian yang didominasi oleh kaca gelap dan baja tahan karat.

Rumah itu berdiri di atas bukit kecil, memberikan pemandangan seluruh kota yang seolah berada di bawah kaki pemiliknya.

"Kita sudah sampai, Nona," ujar sang asisten sambil membukakan pintu.

Aira melangkah keluar. Angin kencang menerpa wajahnya, membawa aroma hujan yang belum usai. Ia menatap bangunan di depannya. Tempat ini tidak memiliki kehangatan sama sekali. Tidak ada tanaman bunga yang dirawat, tidak ada hiasan dinding yang ramah. Semuanya simetris, fungsional, dan sangat mengintimidasi.

Ia dibimbing masuk melewati lorong-lorong luas dengan lantai marmer hitam yang sangat mengkilap hingga Aira bisa melihat pantulan wajahnya yang pucat di sana. Di dinding, tergantung lukisan-lukisan abstrak yang tampak suram.

Aira, yang memiliki jiwa seni, tahu bahwa setiap lukisan di sini berharga jutaan dolar, namun semuanya terasa seperti teriakan dalam kesunyian.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu jati setinggi tiga meter. Sang asisten mengetuk perlahan, lalu membukanya tanpa menunggu jawaban. "Tuan, Nona Aira sudah tiba."

Aira masuk ke dalam ruangan yang ternyata adalah perpustakaan pribadi sekaligus ruang kerja. Rak buku menjulang hingga ke langit-langit, penuh dengan ribuan jilid yang tertata rapi berdasarkan warna. Di tengah ruangan, di balik meja kerja yang sangat besar, duduklah pria itu.

Aristhide Malik.

Pria itu tidak mengenakan jas formal seperti yang Aira bayangkan. Ia hanya memakai kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan urat-urat di tangannya yang sedang memegang sebuah pena emas. Saat ia mendongak, Aira merasa seolah-olah seluruh tubuhnya dipindai oleh sinar laser.

Mata Aristhide berwarna gelap, tajam, dan memiliki kedalaman yang mengerikan. Ia tidak tampan dengan cara yang manis; ia tampan dengan cara yang membuat orang lain merasa terancam.

"Letakkan tasmu di sana, Aira," suara Aristhide rendah dan berat, bergema di ruangan yang luas itu. Ia menunjuk ke sebuah kursi kulit di depannya.

"Duduklah."

Aira melakukan apa yang diperintahkan, namun ia duduk dengan punggung tegak, menolak untuk terlihat lemah.

"Jadi, Anda adalah orang yang membayar lima puluh miliar untuk memindahkan 'beban' dari rumah Bramantyo ke sini."

Aristhide meletakkan penanya. Ia menyandarkan punggungnya, menatap Aira dengan intensitas yang tak tergoyahkan.

"Lima puluh miliar adalah angka yang kecil untuk sebuah ketenangan, Nona Kirana. Dan jangan salah sangka, aku tidak menganggapmu sebagai beban. Aku menganggapmu sebagai investasi."

"Investasi dalam hal apa? Sebagai pemuas ego? Atau sebagai piala yang bisa Anda pamerkan?" Aira membalas dengan nada yang sama dinginnya.

Aristhide tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tampak asing di wajahnya yang kaku.

"Kau jauh lebih berani daripada yang dilaporkan asistenku. Aina, saudarimu, mungkin akan langsung menangis jika berada di posisimu. Tapi kau... kau menatapku seolah ingin membunuhku."

"Aina lebih pintar dalam bersandiwara," sahut Aira sinis. "Jadi, apa aturan main di sini? Apakah ada jadwal kapan saya harus menemani Anda makan? Atau Anda ingin saya melakukan hal lain yang biasanya dilakukan oleh barang dagangan?"

Aristhide berdiri. Ternyata pria itu jauh lebih tinggi dari yang dibayangkan Aira. Ia berjalan perlahan mengitari meja, mendekati Aira hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa inci. Aira bisa menghirup aroma kayu cendana dan sedikit wangi alkohol mahal dari tubuh pria itu.

"Aturan pertamaku: Jangan pernah menganggap dirimu barang dagangan di depanku. Itu merendahkan seleraku," bisik Aristhide.

Ia membungkuk, menatap langsung ke dalam mata Aira.

"Kedua, kau bebas melakukan apa pun di rumah ini, kecuali memasuki lantai paling atas. Ketiga, kau akan ikut denganku ke setiap acara yang kuperintahkan. Aku ingin dunia melihat 'Aira Kirana' yang baru."

Aira mengerutkan kening.

"Kenapa saya? Kenapa bukan Aina? Dia jauh lebih cantik, lebih populer, dan orang tua saya akan dengan senang hati memberikannya kepada Anda jika Anda meminta."

Aristhide berjalan menuju jendela, menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala.

"Karena Aina adalah replika dari orang tuamu. Dia palsu. Dia bisa dibeli dengan perhiasan dan pujian. Tapi kau... kau memiliki sesuatu yang mereka tidak punya. Kau memiliki kebencian yang murni terhadap mereka. Dan kebencian itu, Aira, adalah bahan bakar yang paling kuat untuk menghancurkan seseorang."

Aira tertegun. Pria ini tidak menginginkannya karena nafsu atau status sosial. Ia menginginkan Aira karena ia melihat kegelapan yang sama di dalam diri mereka.

"Anda ingin menghancurkan ayah saya?" tanya Aira pelan.

Aristhide menoleh, kilatan dendam terpancar jelas di matanya.

"Aku ingin menghapus nama Bramantyo dari peta bisnis negeri ini. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya, termasuk martabatnya. Dan aku butuh kau untuk menjadi saksi kunci di dalam rumahnya—saksi yang selama ini ia abaikan, ia sakiti, dan akhirnya ia jual."

Aira merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Ini bukan sekadar transaksi utang-piutang. Ini adalah sebuah konspirasi.

"Jadi, saya di sini untuk membantu Anda menghancurkan keluarga saya sendiri?"

"Bukankah mereka yang memulai lebih dulu dengan menghancurkanmu?" Aristhide berjalan kembali ke arahnya, menyodorkan sebuah gelas berisi cairan amber.

"Minumlah. Ini akan membantu sarafmu tenang. Mulai malam ini, kau adalah bagian dari Malik Group. Kau bukan lagi anak yang dibuang. Kau adalah senjata yang sedang kupersiapkan."

Aira menerima gelas itu, namun ia tidak meminumnya. Ia menatap pantulan dirinya di cairan tersebut. Ia menyadari bahwa ia telah keluar dari satu lubang buaya untuk masuk ke sarang singa. Namun, singa ini menawarkan sesuatu yang tidak pernah ditawarkan orang tuanya: Keadilan. Walaupun keadilan itu dibungkus dalam bentuk dendam.

"Jika saya membantu Anda," kata Aira tegas,

"saya ingin jaminan bahwa setelah semua ini selesai, saya bisa pergi ke mana pun yang saya mau. Tanpa ikatan, tanpa hutang, dan tanpa nama Malik atau Bramantyo."

Aristhide menatapnya lama, seolah sedang menimbang-nimbang harga dari permintaan itu.

"Kesepakatan yang adil. Jika kau bisa memberiku apa yang kuinginkan, aku akan memberimu dunia."

Malam itu, Aira diantar ke kamarnya. Kamar itu lebih besar dari seluruh lantai dasar rumah lamanya. Namun, saat ia berbaring di atas tempat tidur yang sangat empuk, ia merasa lebih waspada dari sebelumnya. Ia tahu, Aristhide Malik adalah pria yang berbahaya. Pria itu tidak menyelamatkannya; ia hanya merekrutnya untuk perang yang lebih besar.

Di ruang kerjanya, Aristhide masih berdiri menatap jendela. Di tangannya, ia memegang sebuah foto usang yang pinggirannya sudah terbakar. Foto seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Aira. Ia meremas foto itu perlahan.

"Waktunya hampir tiba, Bramantyo," gumamnya pada kegelapan.

"Kau pikir kau bisa menjualnya untuk menyelamatkan dirimu? Kau justru baru saja memberikan kunci kehancuranmu kepadaku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!