Oskar Biru Arkais sorang pemuda yang berusaha mencari arti cinta Sejati,
Dan Si Mahira Elona Luis si Gadis Tomboy yang Tak Pernah Percaya akan Adanya cinta Sejati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Diam bukan kebisuan yang kosong ia adalah jerit yang dipatahkan keadaan amarah yang terlalu lelah untuk melawan hingga memilih mengendap sebagai luka"
PENOLAKAN YANG JELAS
Setelah jam pelajaran berakhir, gedung OSIS yang terletak di belakang kantin terlihat sunyi. Biru sudah menunggukannya di ruang kerja kecil yang penuh dengan berkas-berkas dan perlengkapan acara sekolah. Tak lama kemudian, Luna masuk dengan wajah yang tampak sedikit gugup tapi tetap mempertahankan sikapnya yang tegas.
“Kamu menelepon saya, Pak Ketua?” tanya Luna dengan nada yang lebih rendah dari biasanya.
Biru berdiri dari kursinya dan mengangguk. “Ya, Luna. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan denganmu. Silakan duduk saja.”
Luna duduk di kursi di depan mejanya, tangan-tangannya saling menjepit di pangkuannya. Suasana yang tadinya biasa menjadi sedikit tegang. Biru mengambil napas dalam sebelum mulai berbicara dengan suara yang jelas dan tegas.
“Luna, selama kita bekerja bersama sebagai ketua dan wakil ketua OSIS, saya sangat menghargai kerja keras dan dedikasi yang kamu berikan untuk sekolah,” ujar Biru dengan pandangan yang langsung ke mata Luna. “Kamu adalah rekan kerja yang sangat baik dan saya bersyukur memiliki mu di sisi saya.”
Luna mengangguk dengan senyum tipis. “Terima kasih, Pak Ketua. Saya juga senang bisa bekerja bersama kamu. Kamu adalah pemimpin yang sangat baik dan selalu memberikan contoh yang baik bagi kita semua.”
Namun ekspresi senyumnya segera hilang ketika Biru melanjutkan pembicaraan. “Tapi saya merasa perlu untuk mengatakan hal yang jelas agar tidak ada kesalahpahaman di antara kita. Saya melihatmu hanya sebagai rekan kerja dan teman sekelas yang saya hargai. Tidak ada perasaan lebih dari itu, Luna.”
Wajah Luna tiba-tiba menjadi pucat dan kemudian berubah menjadi merah karena marah. Dia berdiri dengan cepat dari kursinya, membuat kursinya bergoyang dan hampir terjatuh.
“Jadi semua perhatianmu selama ini hanya karena saya adalah rekan kerja mu saja?” tanya Luna dengan suara yang mulai bergetar karena emosi. “Padahal saya sudah melakukan banyak hal untukmu dan untuk OSIS! Aku bahkan rela mengorbankan waktu luangku hanya untuk membantu kamu menyelesaikan pekerjaan!”
“Luna, tenang saja,” ujar Biru dengan tenang, mencoba untuk menenangkannya. “Saya sangat menghargai semua yang kamu lakukan, tapi itu tidak berarti saya bisa membalas perasaanmu dengan cara yang kamu harapkan. Saya tidak ingin menyakiti perasaanmu, tapi saya juga tidak bisa berpura-pura memiliki perasaan yang tidak saya miliki.”
“Tidak peduli!” seru Luna dengan suara yang semakin tinggi. “Aku tidak akan menyerah begitu saja! Aku tahu kamu pasti akan berubah pikiran nanti! Kamu hanya perlu waktu untuk melihat bahwa aku adalah yang paling cocok untukmu!”
Tanpa menunggu jawaban dari Biru, Luna berbalik dan berlari keluar dari ruangan dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. Biru hanya menghela napas dan duduk kembali di kursinya, merasa sedikit lelah tapi juga merasa lega karena akhirnya bisa mengatakan yang sebenarnya.
Sementara itu, di halaman sekolah yang mulai ramai dengan siswa-siswi yang sedang pulang, Rekai sedang mencari Elona yang baru saja selesai mengumpulkan perlengkapan pramuka.
“Elona! Tunggu dulu!” panggil Rekai dengan cepat saat melihat sosok sepupunya yang sedang berjalan menuju gerbang sekolah.
Elona berhenti dan menoleh dengan senyum. “Waduh, Rekai. Kamu lagi cari aku ya? Ada apa nih?”
Rekai mendekat dengan senyum lebar. “Ibu Sherly bilang kamu sudah lama tidak datang ke rumah kita lho. Dia sudah rindu banget sama kamu dan sudah memasak makanan kesukaan kamu – ayam bakar dengan sambal matah yang super pedas!”
Elona langsung mengangkat kedua tangan dengan senyum gembira. “Benarkah? Aku juga sudah rindu sama masakan Ibu Sherly lho! Tapi apakah tidak mengganggu ya? Kalau Ibu Sherly sedang sibuk dengan pekerjaannya—”
“Tidak ada yang mengganggu kok!” putus Rekai dengan cepat. “Malah dia yang menyuruh aku cari kamu pulang bersama. Selain itu, kita juga bisa bercanda-canda sama Kalash nanti kalau dia datang ke rumah kita.”
Elona mengangguk dengan senang hati. “Baiklah!. Nanti aku hanya perlu mengirim pesan ke nenek saja biar dia tidak khawatir.”
Keduanya kemudian berjalan bersama menuju gerbang sekolah, dimana mobil keluarga Rekai sudah menunggu di sana. Saat mereka naik ke dalam mobil, Elona tidak bisa tidak bertanya tentang apa yang terjadi dengan Biru dan Luna.
“Kau tahu tidak apa yang terjadi dengan Pak Ketua dan Kak Luna tadi sore? Aku melihat Kak Luna keluar dari gedung OSIS dengan wajah yang marah banget.”
Rekai menghela napas dan menjelaskan secara singkat tentang pembicaraan antara Biru dan Luna tadi. Elona mendengarkan dengan serius, wajahnya menunjukkan ekspresi khawatir.
“Waduh, jadi karena aku ya masalah ini terjadi?” tanya Elona dengan sedikit bersalah.
“Jangan salahkan dirimu sendiri dong!” ujar Rekai dengan tegas. “Ini masalah antara mereka berdua sendiri. Biru hanya mau mengatakan yang sebenarnya saja. Kamu tidak ada salahnya sama sekali.”
Setelah itu, mereka sampai di rumah Rekai yang cukup luas dengan taman yang indah. Ibu Sherly sudah menunggu di depan pintu dengan senyum lebar. Saat melihat Elona, dia langsung membungkusnya dengan pelukan hangat.
“Darlingku sudah datang juga ya! Cepat masuk saja, makanan sudah siap di meja!”
Elona merespons pelukan dengan senyum hangat. Di saat yang sama, di rumahnya sendiri, Biru sedang duduk di balkon rumahnya melihat langit yang mulai gelap, berpikir tentang bagaimana harus menghadapi situasi di sekolah besok harinya. Namun dia juga merasa sedikit lega karena akhirnya bisa memberikan jawaban yang jelas kepada Luna.