Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Rangga mencengkeram kemudi dengan amarah yang memuncak.
Pikirannya dikuasai oleh rasa kesal; ia merasa Linggar sengaja menghindar dan bermain-main dengan tanggung jawabnya setelah kejadian tumpahan wine tadi.
Dengan kecepatan tinggi, ia memacu mobilnya membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang, langsung menuju ke rumah kecil yang ia datangi tempo hari.
Begitu sampai, Rangga turun dan menggedor pintu rumah itu dengan kasar.
Brak! Brak! Brak!
Pintu terbuka, menampakkan wajah Nadya yang terlihat sangat cemas dan lelah.
"Mana kakakmu yang penuh drama itu?!" bentak Rangga tanpa basa-basi.
Nadya terperanjat, matanya yang sudah sembab menatap Rangga dengan bingung.
"M-mas Rangga? Mbak Linggar belum pulang, Mas. Bukannya, Mbak pergi sama Mas?"
"Jangan bohong!" Rangga menunjuk wajah Nadya dengan nada menuduh.
"Pelayan hotel tadi mengatakan kalau kakakmu sudah pulang duluan karena tidak enak badan. Jangan coba-coba menyembunyikannya lagi setelah semua kebohongan yang kalian buat!"
Tanpa izin, Rangga mendorong pintu dan merangsek masuk ke dalam rumah.
Ia melangkah lebar menuju satu-satunya kamar yang ada di sana
"Rangga! Kamu nggak boleh masuk sembarangan!" teriak Nadya mencoba menghalangi.
Rangga tidak memperdulikan teriakkan Nadya. Ia membuka pintu kamar itu dengan keras, berharap menemukan Linggar yang sedang bersembunyi. Namun, pemandangan di depannya membuatnya tertegun sejenak.
Kamar itu rapi, dingin, dan kosong. Bau aroma lavender yang biasa ia hirup dari tubuh Linggar tercium samar, namun pemiliknya tidak ada di sana.
"Aku tidak bohong, Mas! Mbak Linggar benar-benar belum pulang!" Nadya berteriak dengan suara pecah, air mata mulai mengalir di pipinya.
"Dari tadi aku menunggu di ruang tamu, aku menelepon ponselnya tapi tidak aktif!"
Mendengar nada bicara Nadya yang penuh keputusasaan, kemarahan Rangga perlahan luruh, berganti dengan firasat buruk yang sangat kuat.
Ia teringat tas Linggar yang tadi ia temukan di dekat toilet.
Jika Linggar pulang, tidak mungkin dia meninggalkan tasnya.
Rangga berbalik dan berlari keluar menuju mobilnya.
"Sial!" umpatnya.
"Aku ikut!" seru Nadya.
Tanpa menunggu persetujuan, ia langsung masuk ke kursi penumpang di samping Rangga.
"Mas, tolong. Firasatku nggak enak. Mbak Linggar mungkin dalam bahaya!"
Rangga langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, memutar balik mobilnya menuju hotel dengan kecepatan penuh.
Jantungnya kini berdegup liar karena rasa takut kehilangan Linggar.
Jika sesuatu terjadi pada Linggar setelah ia memperlakukannya dengan begitu kasar malam ini, ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
Ban mobil Rangga berdecit keras saat ia mengerem mendadak di depan lobi hotel.
Tanpa mematikan mesin dengan benar, ia dan Nadya melompat keluar dan berlari kencang menuju koridor toilet.
Firasat buruk itu kini menjelma menjadi pemandangan yang menghancurkan jiwanya.
Kerumunan orang sudah memadati area depan kamar mandi.
Beberapa petugas keamanan hotel tampak panik, dan garis pembatas mulai dipasang.
Nadya menerobos kerumunan itu dengan jeritan histeris.
"MBAK!!"
Di depan pintu kamar mandi yang tadinya bertanda "RUSAK", tubuh Linggar sudah tergeletak di atas lantai marmer yang dingin.
Wajahnya yang pucat pasi tertutup darah kering yang berasal dari dahi dan sudut bibirnya.
Gaun hitamnya yang indah kini robek dan kotor, menampakkan luka-luka memar yang membiru di sekujur kulitnya.
Nadya jatuh berlutut, mengguncang tubuh kakaknya yang sudah kaku dan dingin.
Ia menyentuh pergelangan tangan Linggar, lalu beralih ke hidungnya.
Tangis Nadya pecah menjadi raungan yang memilukan.
"Mas, Mbak Linggar sudah nggak bernafas, Mas!! Mas Rangga, tolong!"
Rangga mematung saat mendengar perkataan Nadya.
Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sosok wanita yang tadi ia hina sebagai "bukan siapa-siapa" kini terbaring tak berdaya seperti raga tanpa nyawa.
Ia berlutut di sisi lain tubuh Linggar, tangannya yang gemetar menyentuh pipi Linggar yang dingin.
"Linggar bangun!! Linggar, buka matamu! Ini perintah, Linggar!" teriak Rangga dengan suara serak yang penuh penyesalan.
"Maafkan aku, tolong bangun!"
Tak lama kemudian, petugas medis dengan tandu ambulans menerobos kerumunan.
Mereka bergerak dengan kecepatan kilat, mengangkat tubuh mungil Linggar dan membawanya menuju mobil ambulans yang sudah menunggu dengan sirene yang meraung membelah malam.
Di dalam ambulans yang melaju kencang, suasana terasa begitu mencekam.
Rangga duduk di pojokan, matanya tak lepas dari wajah Linggar yang kini dipasangi masker oksigen.
Perawat dengan sigap menusukkan jarum infus ke tangan Linggar yang pucat, mencoba memasukkan cairan untuk mengembalikan tekanan darahnya yang hilang.
Rangga memperhatikan monitor jantung yang terpasang. Garis hijau di sana tampak sangat lemah dan tidak beraturan, hingga tiba-tiba...
Tiiiitttttttttttt...
Suara denging panjang yang memekakkan telinga itu memenuhi ruang ambulans. Garis di monitor berubah menjadi lurus.
"Henti jantung! Lakukan CPR!" seru perawat kepada rekannya.
Rangga menggelengkan kepalanya kuat-kuat, air matanya jatuh tak terbendung.
"Nggak!! Nggak mungkin. Linggar, jangan sekarang! Kamu belum mendengar maaf ku! JANGAN SEKARANG!"
Ia menatap kosong ke arah petugas medis yang mulai menekan dada Linggar dengan ritme yang cepat, mencoba memompa kembali kehidupan ke dalam jantung wanita yang baru saja ia sadari adalah seluruh dunianya.
Ambulans berhenti tepat di depan pintu IGD dengan deru mesin yang masih meninggi.
Para perawat dan dokter jaga langsung bergerak sigap, menurunkan tandu Linggar dan membawanya lari melintasi lorong rumah sakit yang dingin.
"Pasien wanita, henti jantung di ambulans, cedera kepala berat, luka robek di wajah!" teriak salah satu perawat.
Rangga mencoba ikut masuk, namun langkahnya tertahan oleh pintu ruang operasi yang tertutup rapat.
Lampu merah di atas pintu menyala, tanda dimana bahwa perjuangan antara hidup dan mati sedang berlangsung di dalam sana.
Rangga jatuh terduduk di kursi tunggu yang dingin, menyembunyikan wajah di kedua tangannya.
Setiap tetes darah Linggar yang menempel di kemejanya terasa seperti racun yang membakar kulitnya sendiri.
Sementara itu, Nadya tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam tangisa.
Dengan tangan yang masih gemetar, ia memegang kemudi mobil Rangga yang tadi ia bawa.
Ia tahu, jika sesuatu yang buruk terjadi pada kakaknya, kebenaran harus terungkap sepenuhnya.
Rangga tidak boleh hanya tahu tentang kebohongan 'Nadya'.
Pria itu harus tahu betapa besar pengorbanan dan penderitaan Linggar selama ini.
Nadya melajukan mobil itu kembali ke rumah mereka.
Ia berlari masuk ke kamarnya dan langsung menuju tumpukan pakaian di dalam lemari.
Ia menarik sebuah buku harian berwarna cokelat kusam dimana buku yang selama ini menjadi saksi bisu tetesan air mata Linggar.
Buku itu berisi segalanya. Tentang ejekan "babi" yang membuatnya trauma, tentang rasa tidak percaya dirinya, hingga alasan mengapa ia menciptakan sosok 'Nadya' di aplikasi itu.
"Mas Rangga harus baca ini," bisik Nadya.
Ia kembali masuk ke mobil dan memacu kendaraan itu menuju rumah sakit.
Di kepalanya hanya ada satu tujuan yaitu menyelamatkan harga diri kakaknya di mata pria yang sedang menunggu di depan ruang operasi.