NovelToon NovelToon
Pura-Pura Jadi Supir

Pura-Pura Jadi Supir

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas / Perjodohan
Popularitas:182.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: SunRise510k

Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Di dalam kamarnya yang bernuansa pastel dan tertata rapi, Kirana Adytama menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal. Meski tubuhnya sudah di rumah, pikirannya masih tertinggal di lorong-lorong dingin rumah sakit. Ia menatap botol suplemen kaca gelap yang kini berada di atas nakasnya—benda misterius yang menjadi teka-teki terbesar dalam kepalanya saat ini.

Keheningan kamar itu pecah ketika ponsel di sampingnya bergetar. Nama Rika, asisten kepercayaannya di KiraPharma, muncul di layar.

"Halo, Rika? Bagaimana?" tanya Kirana cepat, suaranya masih sedikit serak namun penuh ketegasan seorang pimpinan.

"Mbak Kirana, saya sudah mendapatkan hasil penelusuran dari tim riset dan divisi pengadaan," suara Rika di seberang sana terdengar agak ragu, seolah ia sendiri hampir tidak percaya dengan apa yang akan ia sampaikan.

"Suplemen Regen-X Gold itu... benar-benar barang langka. Di Indonesia hanya ada satu jalur masuk resmi minggu ini melalui distributor eksklusif Jerman."

"Lalu, siapa yang membayarnya? Apa kamu bisa melacak faktur atau nomor akunnya?"

"Itu dia masalahnya, Mbak. Suplemen itu tidak dibeli secara personal. Pembayarannya menggunakan akun korporat atas nama Mahardika Group. Akun itu biasanya hanya digunakan untuk keperluan medis darurat jajaran direksi atau tamu kenegaraan yang bekerja sama dengan mereka."

Kirana terhenyak. Jantungnya berdegup kencang, seolah baru saja dipacu secara paksa.

"Mahardika Group? Kamu yakin, Rik?"

"Seratus persen yakin, Mbak. Kode otorisasi pembayarannya sangat spesifik. Tapi saat saya mencoba menggali lebih dalam siapa individu yang menandatangani pesanan itu, akses saya diblokir oleh sistem keamanan mereka. Itu area high-security."

Kirana terdiam, jemarinya meremas sprei tempat tidurnya. Bagaimana mungkin? batinnya berteriak. Bagaimana bisa dia, seorang pemilik perusahaan farmasi menengah dan pengelola kafe, terhubung dengan gurita bisnis raksasa milik Raditya Mahardika? Apakah ini semua hanya kebetulan karena Raditya yang menolongnya di hotel, atau ada sesuatu yang lebih besar di balik ini?

"Baiklah, Rika. Terima kasih. Jangan ceritakan ini pada siapa pun di kantor. Jika aku sudah benar-benar pulih, aku akan mendatangi Mahardika Tower sendiri. Selain ingin berterima kasih karena sudah menolongku, aku ingin tahu kenapa perusahaan mereka sampai mengirimkan suplemen semahal ini untukku."

"Baik, Mbak. Saya harap Mbak segera sehat kembali," tutup Rika.

Kirana meletakkan ponselnya, namun matanya tetap tertuju pada botol itu. Tuan Raditya Mahardika... siapa sebenarnya Anda? Kenapa anda melakukan ini?

Mencoba mengusir rasa penat, Kirana berniat turun dari tempat tidur untuk sekadar meregangkan otot. Saat ia menggeser kakinya ke tepi ranjang, matanya menangkap sesuatu yang berkilau di atas kursi kayu kecil tempat Rio duduk menemaninya.

Kirana membungkuk dan mengambil benda itu. Sebuah kancing manset (cufflink) terbuat dari platinum dengan ukiran huruf 'R' yang sangat halus di tengahnya. Benda itu terasa berat dan dingin di telapak tangannya. Sebagai wanita yang sering bergaul di kalangan pengusaha, Kirana tahu betul nilai benda ini. Ini bukan barang pajangan toko perhiasan biasa; ini adalah barang pesanan khusus yang harganya mungkin setara dengan gaji supir selama setahun penuh.

"Mas Rio meninggalkan ini?" gumam Kirana heran.

Pikirannya mulai merayap ke arah yang liar. Ingatan tentang bagaimana Rio bicara, bagaimana sikapnya yang tidak pernah membungkuk rendah seperti supir kebanyakan, hingga ketenangan pria itu saat menghadapi situasi darurat.

Kirana segera mengambil ponselnya dan mendial nomor Rio.

Tut... Tut... Tut...

Panggilan itu tersambung, namun tidak ada jawaban. Kirana mencoba sekali lagi, namun hasilnya nihil. Perasaan curiga yang selama ini ia tepis perlahan mulai mengakar. Rio yang katanya hanya seorang supir dan sekarang kancing manset platinum ini. Semua titik itu mulai terhubung membentuk sebuah pola yang membingungkan.

"Mas Rio... siapa kamu sebenarnya?" bisiknya pada kamar yang sunyi.

**

Sementara itu, di lantai paling atas Mahardika Tower, suasana sangat kontras. Ruang kerja Raditya yang luas memancarkan aura dingin dan dominan. Raditya berdiri membelakangi meja kerjanya, menatap pemandangan kota Surabaya dari balik dinding kaca.

Bram masuk dengan langkah teratur, membawa tablet di tangannya.

"Pak," sapa Bram pelan.

Raditya menoleh sedikit, rahangnya tampak mengeras. "Bagaimana laporan dari tim keamanan cyber kita?"

"Sesuai dugaan Bapak, ada upaya pelacakan dari pihak KiraPharma terhadap nomor seri suplemen Jerman tersebut. Nona Kirana sepertinya meminta asistennya untuk menyelidiki asal-usul barang itu."

Raditya mengembuskan napas panjang. "Sejauh mana mereka tahu?"

"Mereka hanya berhasil sampai di titik penggunaan akun korporat Mahardika Group, Pak. Mereka tahu perusahaan kita yang membayar, tapi mereka tidak tahu siapa individu di baliknya. Tim IT kita sudah menutup akses tersebut tepat waktu."

Raditya berbalik sepenuhnya, wajahnya tampak kesal. Ia memijat pangkal hidungnya. "Kita kurang hati-hati, Bram. Harusnya kamu gunakan akun pihak ketiga atau bayar tunai melalui perantara."

"Maafkan saya, Pak. Saya pikir menggunakan akun korporat akan mempercepat proses pengadaan di bea cukai," jelas Bram dengan nada penuh penyesalan.

Raditya terdiam sejenak. Kemarahan di wajahnya perlahan luntur, berganti dengan rasa khawatir yang dalam.

"Lalu, apa langkah Kirana selanjutnya?"

"Dari penyadapan sinyal yang kita lakukan secara singkat, Nona Kirana berencana mendatangi kantor ini secara langsung setelah dia sehat untuk mencari tahu dan berterima kasih kepada Anda."

Raditya tersenyum pahit. "Dia terlalu cerdas untuk bisa dibohongi terus-menerus. Jika dia datang ke sini dan melihatku sebagai CEO, penyamaranku sebagai supir di rumah ayahnya akan berakhir saat itu juga."

"Lalu apa rencana Anda, Pak? Apakah kita harus membatalkan pertemuan tersebut?"

Raditya berjalan menuju kursinya, duduk dengan gaya elegan namun penuh beban. "Tidak. Biarkan dia datang. Tapi pastikan saat dia datang, aku tidak sedang berada di kantor. Gunakan alasan meeting di luar kota atau apapun. Dan Bram... pastikan Rio selalu ada saat dia membutuhkan supir."

Raditya kemudian meraba pergelangan kemejanya, dan wajahnya mendadak berubah pucat.

"Kancing mansetku... yang platinum. Dimana?"

Bram memeriksa sekeliling meja. "Tidak ada di sini, Pak."

Raditya memejamkan mata, memaki dalam hati. Ia ingat sekarang. Ia melepas kancing itu semalam di kamar Kirana karena merasa gatal di lengannya saat sedang duduk berjaga, dan kemungkinan besar benda itu tertinggal di sana saat ia terburu-buru pergi menjemput Bianca.

"Sial," umpat Raditya lirih. "Dia sudah menemukan kancing itu. Curiganya sudah di level maksimal sekarang."

Raditya menatap ponselnya yang terus bergetar menunjukkan panggilan dari Kirana yang ia abaikan. Ada gejolak hebat di dadanya. Ia ingin sekali mengangkat telepon itu dan bicara sebagai Rio, namun ia takut suaranya akan bergetar dan membongkar segalanya.

"Kita harus lebih rapi, Bram," ucap Raditya dengan suara yang kembali dingin. "Karena jika dia tahu aku berbohong padanya sejak awal, aku tidak hanya akan kehilangan penyamaranku... aku akan kehilangan kepercayaannya selamanya."

Di Mahardika Tower, sang CEO menyadari bahwa menaklukkan pasar properti jauh lebih mudah daripada menutupi rahasia dari wanita yang mulai mencuri hatinya.

***

1
Reni Anjarwani
makin seru thor doubel up thor
stela aza
udh mau 100 bab tapi belum menikah ,, kelamaan trs kasus keluarga Kirana ngusut nya juga lama kenapa g langsung j s ,,, terlalu panjang membosankan 👶
Mundri Astuti
kirain DDI gedung thor acara pertunangannya, kan jadi tau tuh org bnyk
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Lucy
lanjut Thor double up👍👍👍seru nih papi Rivaldo setuju dgn ide Raditya dlm pesta pertunangan itu buat kejutan biar Reva dan Bianca kejut batin🤣🤣
Desi Santiani
ya ampun thor, kaget siang2 dh dpt up yg manis2 dr mereka, semangat trus thor dtunggu selalu update kisah merekaa 😍😍😍
Mundri Astuti
tetep stay nih thor ❤️
dapurAFIK
ga sabar nunggu moment Ituuuuu
semaput ga tuh mama Reva & Bianca 😆😆
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Mundri Astuti
ngga sabar momen itu tiba, semua kebusukkan Reva dan ayahnya Kirana kebongkar, dan mereka tahu siapa Kirana sebenarnya
Ma Em
Kirana cepat bongkar semua kebusukan mama Reva dan identitas Kirana yg seorang CEO kirafarma segera diketahui oleh pak Haris , agar pak Haris dan mama Reva tau siapa Kirana Adytama yg sebenarnya .
Lucy
seru seru cepatlah kebongkar kejahatan reva🤣
Arix Zhufa
spill wajah Radtya saat menjadi Rio
kok orang tidak bs mengenali
Lucy
lanjut Thor double up
Reni Anggraeni
up lg torr
Desi Santiani
anggap saja takjil untuk buka puasa 😄
Ma Em
Pak Haris kalau tau bahwa Kirana seorang CEO ternama pasti akan sock karena tdk disangka Putri yg selalu dia abaikan adalah orang yg sdh sukses jadi pengusaha , begitu juga dgn mama Reva juga Bianca mungkin akan kena serangan jantung karena orang yg selalu dia rendahkan adalah seorang pengusaha kirafarma .
Mundri Astuti
itu belum seberapa ayah Haris, putri yg kamu abaikan ini ....beuh jauh diatas kamu kemampuan memimpinnya
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Lucy
lanjut Thor double up lagi🤭😄gak sabar nunggu pesta pertunangan Raditya dan Kirana biar Reva dan Bianca hancur🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!