NovelToon NovelToon
Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Cintapertama / Idola sekolah / Cinta Murni
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.

Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.

Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: SISA SUPERNOVA

Bunyi *gedebuk* tumpul saat kantong plastik hitam itu mendarat di dasar tong sampah beton depan kompleks perumahan terdengar seperti vonis mati. Pukul 06.00 pagi, langit Surabaya masih malu-malu menampakkan semburat oranye, tapi bagi Keyla Aluna, hari ini matahari seolah enggan terbit sama sekali.

Di dalam plastik itu terkubur semuanya. Pena gel 0.38 mm favoritnya, tumpukan kertas *conqueror* biru tua sisa stok, buku catatan kecil berisi draf puisi tentang rasi bintang, dan tentu saja, harapan bodoh yang sempat ia pupuk selama dua tahun terakhir. Keyla menatap tong sampah itu selama beberapa detik, menarik napas panjang yang terasa bergetar di paru-paru, lalu berbalik badan.

"Selamat tinggal, Cassiopeia," bisiknya lirih, nyaris tak terdengar ditelan deru motor tetangga yang sedang dipanaskan.

Langkah kakinya menuju halte bus terasa berat, seolah gravitasi bumi mendadak naik dua kali lipat khusus di titik koordinat ia berdiri. Di dalam bus kota yang membawanya membelah kemacetan Jalan Raya Darmo, Keyla hanya menempelkan keningnya ke kaca jendela yang dingin. Ia melihat bayangannya sendiri—mata bengkak yang disamarkan bedak tipis, rambut yang dikuncir asal, dan aura suram yang membuatnya tampak seperti hantu di pagi buta.

Sesampainya di gerbang SMA Cakrawala Terpadu, atmosfer terasa berbeda. Udara pagi yang biasanya hanya berisi aroma soto ayam dari kantin dan parfum mahal siswa-siswi *The Royals*, kini bercampur dengan bisik-bisik yang menyengat.

Keyla berjalan menunduk, mencoba mengaktifkan mode *stealth*-nya. Namun, telinganya tak bisa ditutup.

"Eh, sumpah? Jadi gosipnya bener?"

"Iya, Cuk! Lihat story-nya Vanya. Gilak, *couple goals* banget!"

"Akhirnya Bintang luluh juga sama Vanya. Emang sih, kasta nggak bisa bohong. Kapten basket sama Ketua Cheerleader, udah kayak rumus pasti."

Jantung Keyla mencelos. Ia mempercepat langkahnya menuju koridor kelas XI IPA 2, tapi nasib buruk sepertinya belum puas bermain-main dengannya. Di persimpangan koridor utama, tepat di depan mading sekolah yang dulu menjadi saksi bisu surat 'Escape Velocity'-nya, sebuah pemandangan memuakkan tersaji.

Bintang Rigel sedang berdiri di sana. Tas ransel tersampir di satu bahu, rambutnya tertata rapi meski sedikit berantakan tertiup angin—gaya khas yang selalu membuat Keyla sesak napas. Tapi kali ini, sesak itu bukan karena kagum. Di sebelahnya, Vanya Clarissa berdiri dengan senyum kemenangan yang memamerkan deretan gigi putih sempurna. Tangan Vanya melingkar posesif di lengan Bintang.

Mereka terlihat bersinar. Silau. Menyakitkan.

Keyla mematung. Ia ingin lari, tapi kakinya dipaku ke lantai marmer koridor. Saat itulah, mata Bintang tak sengaja menangkap sosok Keyla di kejauhan.

Ada jeda sepersekian detik. Bintang menatapnya. Tatapan itu... rumit. Bukan tatapan berbinar seperti saat ia membaca surat biru, melainkan tatapan canggung bercampur rasa bersalah yang samar. Namun sebelum Keyla bisa memprosesnya, Vanya mengikuti arah pandang Bintang, melihat Keyla, dan mengeratkan pelukannya di lengan Bintang sambil membisikkan sesuatu yang membuat Bintang kembali menoleh padanya.

Keyla menunduk dalam-dalam dan memaksakan kakinya bergerak, berbelok tajam menuju toilet putri terdekat. Ia butuh air. Ia butuh oksigen.

***

"HEH! KON IKU LAPO?!"

Teriakan Dinda Pertiwi menggelegar di sudut kelas XI IPA 2, membuat beberapa siswa yang sedang menyalin PR Matematika menoleh kaget. Dinda baru saja datang, melempar tasnya ke meja, dan langsung mencengkeram bahu Keyla yang sedang melamun menatap buku Fisika.

"Din, pelan-pelan..." Keyla memohon, suaranya parau.

"Gak iso pelan-pelan!" Dinda menggunakan logat Suroboyoan-nya yang kental, tanda ia sedang dalam mode tempur level siaga satu. "Aku wis ndelok grup angkatan. *CakrawalaFess* isine foto Vanya karo Bintang kabeh! Janc*k, kok iso ngene ceritane, Key? Bukannya semalem kowe mau ngaku?"

Keyla memijat pelipisnya. "Aku telat, Din. Vanya duluan. Dia... dia ngaku kalau dia Cassiopeia."

Dinda melotot sampai matanya nyaris keluar. "HAH? SIK, SIK. Waras ta arek iku? Kok iso ngaku? Dia tahu dari mana?"

"Dia tahu semuanya," suara Keyla bergetar. "Dia tahu soal 'Bintang Biner', dia pakai *dress* biru dongker persis kayak kode warna suratku. Bintang... Bintang percaya, Din. Karena faktanya cocok."

"Terus Bintang goblok ngono ae percaya?!" Dinda menggebrak meja, membuat botol minum Keyla loncat sedikit. "Bintang itu pinter lho, Key! Masak dia gak bisa bedain tulisan tangan puitis ala Kahlil Gibran-mu sama tulisan cakar ayam si Vanya yang isinya cuma *shopping* sama *skincare*?!"

"Vanya pinter ngomong, Din. Kamu tahu sendiri," Keyla menahan air mata yang mendesak keluar. "Lagipula... mungkin Bintang emang nunggu alesan buat nerima Vanya. Siapa yang nggak mau sama Vanya? Cantik, populer, kaya. Cocok, kan? Aku ini siapa? Cuma remahan rengginang di kaleng Khong Guan."

"Lambemu!" Dinda menyentil dahi Keyla keras-keras. "Kowe iku berlian sing ketutupan bledug! Gak iso dibiarin. Aku harus labrak Vanya sekarang. Gatel tanganku pengen njambak rambut *extension*-nya itu."

Dinda sudah bersiap melangkah keluar kelas, menyingsingkan lengan seragam batiknya, tapi Keyla menahan tangan sahabatnya itu dengan putus asa. Cengkeramannya kuat.

"JANGAN!" pekik Keyla, lalu merendahkan suaranya saat sadar mereka jadi pusat perhatian. "Jangan, Din. *Please*. Aku mohon banget."

"Kenapa?! Dia maling, Key! Maling identitas, maling perasaan!"

"Kalau kamu labrak dia, terus Bintang tahu... Bintang bakal ilfil sama kita. Dia bakal mikir aku *desperate* banget sampai nyuruh temen buat ngancurin hubungan barunya," Keyla menatap Dinda dengan mata basah. "Biari aja, Din. Aku udah buang semua alat tulisku. Cassiopeia udah mati. Biarin Bintang bahagia sama khayalannya."

Dinda menatap sahabatnya dengan campur aduk antara marah, kasihan, dan frustrasi. Akhirnya, gadis tomboy itu menghela napas kasar, membanting pantatnya ke kursi di sebelah Keyla. "Asu tenan," umpatnya pelan. "Awas ae lek Bintang sampe nyakitin atimu maneh. Tak santet *online* arek iku."

***

Di kelas XI IPA 1, Bintang Rigel duduk di kursinya. Rutinitas paginya terasa aneh. Biasanya, hal pertama yang ia lakukan adalah meraba bagian bawah laci mejanya, mencari sensasi kertas bertekstur atau *sticky note* yang tersembunyi. Jantungnya akan berdegup kencang menanti teka-teki astronomi baru.

Hari ini, ia refleks merogoh laci. Kosong. Hampa.

Ia menarik tangannya kembali, lalu tersenyum kecut pada dirinya sendiri. *Tentu saja kosong, Bintang. Cassiopeia sudah ada di sini. Di dunia nyata.*

"Hai, *Babe*!"

Suara Vanya yang melengking ceria membuyarkan lamunannya. Gadis itu masuk ke kelas XI IPA 1 seolah ia memiliki tempat itu—yang secara teknis sosial, memang benar. Vanya meletakkan sebotol minuman isotonik dingin di meja Bintang, lalu duduk di tepi meja teman sebangku Bintang, roknya sedikit terangkat.

"Nih, buat latihan basket nanti sore. Biar kaptenku nggak dehidrasi," ucap Vanya sambil mengedipkan sebelah mata.

"Thanks, Van," jawab Bintang sopan. Ia mencoba memanggil perasaan hangat yang biasanya muncul saat membaca surat Cassiopeia, tapi yang muncul hanya rasa canggung. "Eh, Van... soal surat kemarin. Yang Bintang Biner."

Vanya sedikit irrigitasi, tapi dengan cepat menutupinya dengan tawa renyah. "Ah, itu. Kenapa? Romantis kan?"

"Iya," Bintang mengangguk, matanya menatap lekat-lekat manik mata Vanya, mencoba mencari kedalaman yang ia temukan dalam tinta biru. "Aku suka bagian analogi gravitasinya. Bahwa dua bintang itu saling mengorbit pada pusat massa yang sama, bukan salah satu mendominasi. Itu... dalem banget. Kamu dapet inspirasi dari mana?"

Vanya terdiam sejenak. Matanya berkedip dua kali, sebuah *glitch* kecil dalam sandiwaranya. Ia tidak ingat detail surat itu karena ia tidak benar-benar membacanya sampai habis—ia hanya mengambil poin utamanya dari draf curian.

"Oh, itu..." Vanya mengibaskan rambutnya, gestur defensif yang ia samarkan sebagai gaya. "Ya, terlintas gitu aja, Bin. Kan aku nulisnya pas lagi liatin kamu latihan. Pokoknya intinya kita harus selalu bareng, kan? Nggak usah dibahas terlalu teknis lah, pusing aku. Fisika di kelas Pak Suryo aja udah bikin migrain, masa pacaran bahas Fisika juga?"

Vanya tertawa, lalu mencubit pipi Bintang gemas. "Yang penting kan sekarang aku udah nggak sembunyi lagi. *Focus on the real star, okay?*"

Bintang tersenyum, tapi senyum itu tidak mencapai matanya. "Oke."

Ada sesuatu yang hilang. Dalam surat-surat Cassiopeia, ada kecintaan yang tulus pada sains, pada misteri semesta. Cassiopeia yang ia kenal lewat tulisan adalah gadis yang akan dengan antusias menjelaskan kenapa langit berwarna biru, bukan gadis yang mengeluh migrain karena Fisika.

*Tapi dia tahu soal Bintang Biner. Dia pakai baju biru dongker. Semua buktinya cocok,* batin Bintang berargumen, mencoba membungkam intuisi kecil di kepalanya yang berteriak bahwa ada yang salah.

***

Jam istirahat kedua. Panas Surabaya sedang ganas-ganasnya, mencapai 34 derajat Celcius. Keyla terpaksa keluar dari persembunyiannya di perpustakaan karena Dinda memaksanya makan.

"Kowe kudu mangan, Key. Lek kowe sakit, Vanya malah seneng. Dikira kowe lemah," omel Dinda sambil menyeret Keyla menuju kantin.

Kantin SMA Cakrawala riuh rendah. Suara denting sendok beradu dengan mangkuk bakso dan teriakan pesanan es teh. Saat mereka sedang mengantre batagor, kerumunan di meja tengah—meja sakral *The Royals*—terbelah.

Bintang dan Vanya berjalan beriringan keluar dari area meja VIP itu. Vanya tertawa lepas, memegang lengan Bintang erat-erat, seolah takut kapten basket itu akan menguap jika dilepas sedetik saja. Bintang terlihat mendengarkan, sesekali mengangguk, tapi wajahnya datar.

Nasib memang gemar bercanda. Jalur keluar mereka berpapasan tepat dengan antrean batagor tempat Keyla berdiri.

Jarak mereka hanya satu meter.

Keyla menahan napas. Ia ingin menjadi *Dark Matter*—materi gelap yang ada tapi tak terlihat, tak berinteraksi dengan cahaya. Ia menunduk, membiarkan rambut panjangnya menutupi wajah.

Vanya menyadari keberadaan Keyla. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang hanya bisa dilihat oleh Keyla. Tatapan Vanya tajam, mengirimkan pesan telepati yang jelas: *Mundur. Dia punyaku. Kamu kalah.*

Bintang, di sisi lain, tampak terkejut melihat Keyla yang begitu pucat. Instingnya bergerak. Ia hampir saja membuka mulut untuk menyapa, atau mungkin bertanya "Kamu sakit?" seperti yang dulu ia lakukan di halte bus.

Namun, Vanya dengan sigap menarik lengan Bintang lebih keras. "Ayo, Bin! Keburu bel masuk, aku mau ke toilet dulu benerin *lip tint*."

Bintang tersentak, pandangannya terputus dari Keyla. Ia menurut ditarik Vanya, meninggalkan Keyla yang masih mematung di samping gerobak batagor.

"Ancen ula (memang ular)," desis Dinda di samping Keyla, matanya menatap punggung Vanya dengan nyalang. "Ayo, Key. Gak usah makan di sini. Eneg aku."

Keyla mengangguk lemah. Saat ia berbalik, ia menyadari satu hal yang menyakitkan. Supernova adalah ledakan bintang yang mengakhiri riwayatnya. Setelah ledakan dahsyat itu, yang tersisa hanyalah *remnant*—sisa-sisa debu dan gas yang melayang hampa di angkasa.

Keyla adalah *remnant* itu sekarang. Hancur, berserakan, dan perlahan memudar dari orbit Bintang Rigel.

Namun, di saku seragamnya, tanpa sadar tangannya meremas struk belanjaan dari saku rok yang belum sempat ia buang. Di baliknya, ada coretan rumus pudar tentang *Event Horizon*. Batas di mana tidak ada yang bisa kembali. Keyla sadar, ia baru saja melewati batas itu.

1
Mymy Zizan
bagussssssssss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!