NovelToon NovelToon
Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Romansa
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ottoy Lembayung

SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Bantuan Dari Paman Faizal

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Emaak Susi...maak!!!

Rom...Romiii!!!", suara Paman Faizal terdengar jelas memanggil di depan kontrakan sederhana yang ditempati oleh Emaak Susi dan Romi. Ia berjalan bolak-balik dengan wajah cemas, tangan sering kali menyentuh dagunya. "Kemana mereka berdua sampai jam segini belum ada di rumah?", gumamnya dalam hati. Sudah menjelang sore ketika ia tiba di kontrakan, dan suasana di sekitar terasa sangat sepi tanpa ada satu orang pun yang terlihat beraktivitas.

Tak berapa lama kemudian, seorang wanita tetangga dari kontrakan sebelah mendekatinya dengan wajah ramah namun sedikit penasaran.

"Bapak mau cari siapa ya?" tanya tetangga tersebut dengan nada sopan.

"Maaf ibu, perkenalkan saya Faizal, pamannya Romi. Saya ingin bertemu dengan Emaak Susi atau Romi sendiri," jawab Paman Faizal sambil mengangguk sebagai tanda hormat.

"Ooh, mereka kan biasanya berjualan sayuran di pasar. Sepertinya sudah pulang tadi, tapi saya dengar mereka mampir dulu ke Puskesmas dekat kecamatan lho pak," jelas tetangga itu sambil mengerutkan alis seolah mengingat sesuatu.

"Mampir ke Puskesmas? Apakah ibu tahu ada apa mereka kesana?" tanya Paman Faizal dengan nada yang semakin khawatir.

"Aku sendiri tidak tahu pasti pak, hanya dengar kabar dari mulut ke mulut bahwa ada kejadian di Pasar Sewon. Katanya adalah... sebuah tragedi," jawab tetangga itu dengan suara yang sedikit menurun.

"Tragedi kebakaran, atau apa ya Bu? Atau mungkin kecelakaan?" Paman Faizal semakin tertekan, matanya terpaku pada wajah tetangga sambil menunggu jawaban selanjutnya.

"Denger-denger sih, bukan kebakaran atau kecelakaan, tapi perkelahian antara kelompok pedagang sayur dengan beberapa orang yang dikenal sebagai preman pasar. Suaranya sangat keras dan banyak orang yang berkumpul melihatnya," jelas tetangga itu dengan nada yang penuh rasa prihatin.

"Astaghfirullah... Apakah ada yang terluka dalam kejadian itu Bu?" tanya Paman Faizal dengan suara yang sedikit bergetar.

"Saya tidak tahu secara pasti pak, apakah yang terluka berasal dari kubu pedagang atau dari pihak preman. Baiknya bapak tanyakan langsung kepada Emaak Susi atau Romi saja, karena mereka berada di lokasi saat peristiwa itu terjadi," sarankan tetangga tersebut sebelum kemudian kembali ke kontrakan dirinya.

"Baiklah Ibu, terima kasih banyak atas informasi yang diberikan. Semoga mereka tidak mengalami masalah apa-apa," ucap Paman Faizal sambil mengucapkan terima kasih kembali. Saat ia hendak berjalan meninggalkan kontrakan untuk menyusul ke Puskesmas, tiba-tiba sebuah becak berhenti tepat di depan pintu kontrakan dengan suara lonceng yang khas. Dari dalam becak muncul Emaak Susi dengan wajah sedikit lelah dan Romi yang sedang membantu ibunya turun.

"Romiiii!!! Emaak Susi!!! Kalian berdua baik-baik saja kan?" teriak Paman Faizal dengan cepat mendekati mereka, wajahnya langsung rileks ketika melihat bahwa kedua orang itu tidak menunjukkan tanda-tanda terluka.

"Alhamdulillah pak, kami baik-baik saja kok. Cuma sedikit capek karena kejadian di pasar tadi," jawab Emaak Susi dengan senyum lembut sambil mengusap peluh di dahinya.

"Syukurlah benar... Saya benar-benar khawatir mendengar kabar tentang kejadian di pasar," ucap Paman Faizal dengan nafas lega.

"Ayoo bang Faizal, mari masuk saja ke dalam ya. Sudah lama kan tidak mampir kesini," ajak Emaak Susi sambil membuka pintu kayu kontrakan mereka.

"Mari juga Paman, saya akan sediakan air putih hangat," tambah Romi dengan wajah ramah, meskipun masih terlihat sedikit lesu.

Setelah duduk di kursi kayu yang cukup empuk, Emaak Susi langsung menanyakan alasan kedatangan Paman Faizal tanpa basa-basi.

"Ada apa ya bang Faizal mampir kesini? Bukan mungkin hanya sekadar untuk mengunjungi kami kan?" tanyanya dengan tatapan yang penuh perhatian.

Paman Faizal menghela nafas sebelum mulai berbicara, tangannya mengambil amplop putih yang ada di dalam kantong jasnya.

"Sebetulnya emaak Susi, saya datang membawa kabar dari pihak sekolah Romi. Di dalam amplop ini ada surat resmi yang menyatakan bahwa Romi sementara waktu harus belajar di rumah hingga ada pemberitahuan resmi untuk kembali ke sekolah," jelasnya dengan nada yang hati-hati, sambil menyerahkan surat tersebut kepada Emaak Susi.

Emaak Susi membaca surat tersebut dengan pandangan yang semakin serius, kemudian memandang anaknya dengan tatapan yang lembut namun penuh kekhawatiran.

"Apakah kamu terlibat perkelahian di sekolah ya Romi?" tanyanya dengan suara yang lembut namun jelas terdengar.

"Tidak pernah emaak, saya tidak pernah berkelahi dengan siapapun di sekolah," jawab Romi dengan nada tegas dan mata yang menatap langsung ke arah ibunya. Namun, ketika Emaak Susi menanyakan lagi dengan nada yang sedikit lebih tinggi, "Kalau begitu apa kesalahanmu hingga pihak sekolah memberikan larangan masuk seperti ini?", wajah Romi langsung menjadi pucat dan suara hatinya sedikit bergetar.

"A...ak...aku tidak tahu emaak. Saya sendiri juga bingung kenapa harus mengalami hal seperti ini. Cuma dibilang harus menunggu panggilan kembali tanpa ada tanggal yang pasti," ucapnya dengan suara sedih, matanya mulai berkaca-kaca karena merasa tidak adil.

Paman Faizal mengeluarkan tangannya untuk menepuk bahu Romi dengan lembut.

"Maaf ya Romi, sebagai pengganti ayahmu almarhum Bayu, saya merasa harus bertanggung jawab terhadap kehidupanku dan pendidikanmu. Kalau ada sesuatu yang kamu alami di sekolah – baik itu masalah atau hal lain yang membuatmu tidak nyaman – jangan sungkan untuk cerita kepada saya ya. Saya akan selalu membantu kamu," ujarnya dengan nada yang penuh perhatian, berusaha memberikan rasa aman pada Romi.

"Baik Paman Faizal, saya mengerti. Nanti kalau ada apa-apa saya pasti akan bilang," jawab Romi dengan mata yang sudah mulai tenang kembali.

"Baiklah, kamu dan Emaak Susi harus belajar bersabar dalam menghadapi ujian yang diberikan Allah SWT. Percayalah, setiap kesulitan pasti akan ada jalan keluarnya, dan Allah akan menggantikan segala sesuatu dengan yang lebih baik dari sebelumnya. Aamiin," ucap Paman Faizal sambil mengangkat tangan untuk berdoa bersama mereka.

Setelah itu, Paman Faizal mulai membicarakan hal lain yang sebenarnya sudah menjadi niatnya sejak lama, bahkan sebelum adiknya almarhum Bayu Buana meninggal dunia. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang sangat serius namun penuh kebaikan hati.

"Sebenarnya emaak Susi, selain membawa kabar dari sekolah, saya juga datang dengan tujuan yang lain. Saya ingin memberikan bantuan modal untuk membantu kalian membuka usaha kios sembako yang lengkap – bahkan bisa dibilang super lengkap dengan segala jenis kebutuhan pokok masyarakat," jelasnya dengan tegas.

"Sembako paman? Maksudnya sembilan bahan pokok ya?" tanya Romi dengan mata yang sedikit bersinar karena rasa penasaran.

"Bukan hanya itu Rom. Saya maksudkan kios yang menjual segala jenis kebutuhan sehari-hari, mulai dari beras, gula, minyak, hingga keperluan rumah tangga lainnya yang sering dibutuhkan masyarakat sekitar. Jadi bukan hanya sembilan bahan pokok, tapi jauh lebih komplit dari itu," jelas Paman Faizal dengan senyum.

Sebagai seorang Walikota yang telah lama berkarir dan memiliki penghasilan yang cukup, Paman Faizal selalu merasa perlu untuk membantu keluarga kerabatnya yang sedang mengalami kesulitan. Ia melihat Romi dan Emaak Susi sebagai bagian dari keluarganya sendiri yang harus diberi dukungan.

"Aku sangat bersyukur dan berterima kasih atas bantuan yang diberikan bang Faizal. Aku siap menerima modal untuk usaha sembako tersebut, tapi saya rasa keputusan akhir sebaiknya ada di tangan Romi juga, karena ia yang akan terlibat langsung dalam usaha itu," ucap Emaak Susi dengan suara yang penuh rasa syukur, sambil melihat anaknya dengan cinta.

"Tidak perlu terburu-buru emaak Susi. Saya akan beri waktu bagi kalian untuk berpikir matang. Kalau sudah ada keputusan pasti, silakan segera memberitahu saya. Sebab saya sudah merencanakan untuk menyewa jasa seorang insinyur teknik sipil untuk mendesain kiosnya, serta melakukan survei lokasi yang paling cocok untuk berjualan," jelas Paman Faizal dengan penuh perencanaan.

"Maaf Paman, kalau boleh saya mau menyampaikan pendapat. Saya ingin kalau kiosnya berada di Pasar Sewon saja, tepatnya di bagian depan pasar. Ada beberapa kios baru yang baru saja selesai dibangun dan sedang ditawarkan untuk dibeli atau disewakan," ucap Romi dengan nada yang penuh keyakinan, seolah ia sudah mengamati lokasi tersebut selama beberapa waktu.

1
ceuceu
masih bertele" ceritanya,blm sesuai judul
Kang Ottoy: Terima kasih masukannya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!