Di bawah bayang-bayang aturan feodal-kultivasi, di mana jenius dari kalangan bawah pada akhirnya akan terkubur, Chen Yuan memilih mengamati.
Mengetahui bahwa sang ibu angkat telah dimanipulasi dan bahkan menganggapnya, pecahan kesadaran anak kandungnya sendiri, ia memilih untuk membayar hutang budi itu—bukan dengan darah, tetapi dengan memainkan peran untuk melindungi dan memperbaiki kehidupan saudaranya.
Di dunia yang kejam dan penuh kepentingan, ia memilih mencoba lagi untuk merasakan arti ketulusan, bukan pertukaran.
Demi membuatnya bahagia dan mampu berdiri di dunia ini, ia bahkan mencoba berbagai cara untuk meningkatkan eksistensinya.
Namun semua itu hanyalah awal.
Di balik semua itu, misteri tentang dirinya sendiri sangat rumit, apalagi segala sesuatu di sekitarnya.
Ini adalah kisah tentang seorang pemuda yang ingin mencoba lagi–bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk menemukan arti kehidupan yang tak sempat ia miliki.
Kelanjutan World of Cultivation: Aimless Journey
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Slycle024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu target, tiga pemburu
Hutan Sungai Hitam.
Lima belas kilometer dari posisi Chen Yuan.
Xia Ying’er duduk dengan wajah muram di atas sebuah batu pipih. Tatapannya tertuju pada kapal terbang kesayangannya yang kini rusak parah setelah dikejar oleh binatang iblis kelas empat.
Aura suram menyelimuti dirinya.
Langkah kaki perlahan terdengar mendekat. Seorang pria muncul dari balik pepohonan—Xia Weilong.
“Saudari Ying, bukankah itu hanya sebuah kapal terbang?” ujarnya santai. “Mengapa wajahmu segelap ini? Aku sudah mendengar semuanya. Dalam kondisi seperti itu, bajingan itu pasti mati.”
Mata Xia Ying’er berkilat dingin. Tidak mungkin! Jenis bajingan seperti itu tidak mungkin mati semudah itu, kan?
Tangannya mengepal erat ketika teringat penghinaan yang dialaminya di benteng pertama.
“Kirim orangmu. Cari dia—hidup atau mati. Ini kesempatan.”
Alis Xia Weilong berkerut. Sekarang ia paham kenapa tidak boleh menyinggung perasaan wanita. Ia melirik Xia Ying’er lagi. “Saudari! Kau terlalu memikirkannya. Bukankah dia hanya—”
“DIAM!” potong Xia Ying’er dengan suara dingin.
“Apa kau tahu apa yang dia lakukan? Dia melukai Xia Hui dan berani mempermalukanku di depan umum. Jika bukan karena Lei Lian, aku pasti sudah menggantung kepala bajingan cabul itu.”
Xia Weilong hanya menghela napas pelan, lalu mengangkat tangannya. Dalam sekejap, tiga sosok dengan jubah hitam muncul seperti hantu. Aura mereka tajam, dan yang terkuat berada di Alam Jiwa tahap puncak.
Ketiganya berlutut bersamaan.
“Nomor 10. Nomor 11. Nomor 12. Kami menunggu perintah.”
Xia Weilong melirik mereka dengan tenang.
“Temukan dia. Bawa kembali… utuh atau tidak, aku tidak peduli. Bawa apa pun sebagai bukti.”
Tiga bayangan mengangguk dan langsung menghilang ke dalam hutan, lenyap seperti bayangan yang ditelan kegelapan.
Xia Weilong teringat sesuatu.
Sial! Aku lupa memberitahu mereka agar tidak menggunakan serangan mental… hmm…lupakan saja, mereka cukup berguna.
Di sisi lain Hutan Sungai Hitam, Chen Yuan sudah menyerap ratusan energi kehidupan binatang iblis dan memanen alkimia batin mereka.
Duduk di atas mayat serigala, ia mendesah pelan. “Benar-benar sampah! Dengan energi Yin sepadat ini, seharusnya alkimia batin mereka memiliki atribut istimewa, kan?”
“Kau sangat tidak sabaran,” Suara Lingxue’er terdengar, kemudian siluet spiritualnya, yang seukuran ibu jari muncul dan duduk di bahu Chen Yuan. “Daripada kecewa, masukan saja ke dalam manik kehidupan. Aku bisa memisahkan energi spiritual dan esensi kehidupan dalam alkimia batin tersebut… intinya, kau anggap saja menara spiritual berjalan. Tapi… hanya berlaku untuk kelas tiga ke bawah.”
Alkimia batin atau inti energi yang terbentuk di dalam tubuh binatang iblis dianggap sebagai kristalisasi seluruh kekuatan spiritual mereka dan paling sedikit berisi energi spiritual dan esensi kehidupan.
Bagi binatang iblis, kelas dua adalah transisi membangunkan elemen pribadi, garis keturunan, dan aspek lainnya.
Chen Yuan memahami sebagian besar alasan. Ia menghela nafas panjang dan segera memasukan alkimia batin ke dalam manik kehidupan.
Melihat itu, senyum tipis muncul di sudut bibir Lingxue’er, dia segera kembali ke dalam manik kehidupan sambil berkata, “Serahkan masalah luka kecil padaku. Kau tidak perlu menahan diri lagi.”
Chen Yuan mendesah pelan. Pandangannya sekilas melirik ke arah timur, senyum samar penuh makna terukir di sudut bibirnya.
Setelah beberapa perhitungan singkat di benaknya, sosoknya tiba-tiba melesat ke arah selatan, menghilang menuju hutan yang tampak semakin suram dan sunyi.
Lima menit kemudian.
Tiga sosok melintas di langit, berdiri tegak di atas pedang terbang mereka sebelum akhirnya berhenti di udara.
Mereka adalah bawahan Xia Weilong.
Tatapan mereka jatuh ke tanah di bawah… dan ketiganya langsung terdiam. Pemandangan itu terlalu mengerikan.
Tubuh-tubuh binatang iblis berserakan di tanah, kurus kering seperti ranting mati. Kulit mereka menempel pada tulang, seolah seluruh energi kehidupan di dalamnya telah disedot hingga tak bersisa.
“Sialan… teknik jahat apa ini?” gumam Nomor 12 dengan wajah masam.
Nomor 11 mengangguk perlahan, matanya menyapu sekitar.
“Serangan sebelumnya pasti membuatnya terluka parah,” katanya pelan. “Mungkin ini metode putus asa yang digunakan untuk memulihkan diri.”
Nomor 12 berjongkok, meneliti. Beberapa saat kemudian ia menunjuk ke satu arah. “Jejak terakhirnya menuju selatan. Kita kejar?”
“Hmph.” Nomor 10, pemimpin mereka, mendengus dingin sebelum turun dari pedang terbangnya dan mendarat di tanah, merasakan aliran energi di sekitarnya. “Aku masih bisa merasakan sisa Qi spiritual yang kasar dan arahnya jelas… ke selatan. Tapi ingat! Aku tidak tahu metode apa yang dia gunakan. Meski hanya berada di Alam Tempering Fisik, Qi spiritualnya setara dengan puncak Alam Laut Spiritual…. dan menangkapnya seharusnya tidak sulit.”
Nomor 11 dan Nomor 12 juga turun dari pedang mereka.
Namun Nomor 12 tiba-tiba mengernyit, menatap ke arah hutan di depan mereka. “Ta-tapi…di sana terlalu gelap… dan terlalu dingin.”
“DIAMLAH!” Bentak Nomor 10 memotong. “Disini aku yang berpangkat paling tinggi. Nomor 11, kau maju lurus. Aku dan Nomor 12 akan memutar dari kiri dan kanan untuk menutup jalur pelariannya.”
Nomor 11 dan Nomor 12 saling pandang sejenak sebelum mengangguk. Tanpa berkata lagi, mereka mulai bergerak maju dengan hati-hati, mengikuti instruksi.
Namun mereka tidak menyadari… Itu adalah kesalahan fatal.
Dari balik cahaya remang-remang di antara pepohonan, sebuah bayangan tiba-tiba melesat keluar, cepat seperti anak panah kematian.
Nomor 11 yang baru beberapa meter memasuki area itu tiba-tiba membelalakkan matanya. Tanpa berpikir panjang, ia melancarkan tinju lurus ke depan.
Namun sebelum kedua tinju itu sempat beradu, ia merasakan hembusan angin ganas menyayat kulit dan pakaiannya.
BANG!
Benturan keras menggema di antara pepohonan.
KRETAK!
Lengan Nomor 11 langsung remuk akibat benturan itu. Tulangnya retak dan terpelintir pada sudut yang mengerikan. Belum sempat ia menjerit, sebuah tendangan brutal menghantam perutnya.
BANG!
Tubuhnya terpental beberapa meter, menghantam tanah dengan keras. Darah muncrat dari mulutnya.
“ARGHHHH! DIA DI SINI! CEPAT KEMARI!!”
Nomor 11 berteriak histeris begitu tubuhnya berhenti berguling.
“Kau mengekspos dirimu sendiri,” bisik Lingxue’er dengan nada terkejut.
Alis Chen Yuan berkerut.
Bukankah terlambat, kenapa baru sekarang? Kau pemer?
Ia mengunci arah suara, lalu menggunakan ‘Langkah Awan’
Tubuhnya menghilang di tempat, mirip teleportasi, sebelum muncul kembali tepat di atas Nomor 11 yang masih menggeliat kesakitan di tanah.
Tinju turun lagi, seperti palu raksasa yang hendak menghancurkan batu.
Kali ini Nomor 11 sudah siap.
Dengan satu-satunya tangan yang masih bisa digerakkan, ia buru-buru mengangkat pertahanan untuk menangkis serangan itu. Sayangnya, pertahanannya langsung runtuh.
BANG!
Tinju Chen Yuan meleset beberapa sentimeter dari kepala Nomor 11, menghantam tanah di sampingnya. Tanah langsung retak, membentuk celah besar yang menyebar seperti jaring laba-laba.
Chen Yuan menyeringai.
Cermin Elemental: Besi digunakan tanpa ragu.
Seketika, sebuah kubah logam dengan diameter sekitar lima meter terbentuk dari tanah, menutup rapat seperti sangkar besi.
Mereka terkurung dan suara mereka langsung teredam, seolah dunia luar terputus sepenuhnya.
Beberapa detik kemudian...
BANG!
BANG!
Serangan keras menghantam kubah besi dari luar, menghasilkan suara nyaring yang menusuk telinga.
Nomor 10 dan Nomor 12 akhirnya tiba dan mereka terus menghantam kubah besi itu tanpa henti.
Di dalam kubah besi yang gelap, suasana menjadi sunyi mencekam.
Nomor 11 terengah-engah di tanah. Dadanya naik turun tak beraturan, darah masih menetes dari sudut mulutnya.
Tiba-tiba ia merasakan hawa dingin di tengkuknya. Ia baru hendak berbalik ketika sebuah tangan kasar mencengkram lehernya.
Tubuh Nomor 11 langsung terangkat dari tanah.
“K-kau…!”
Kedua kakinya menendang liar di udara.
Namun Chen Yuan tidak bergeming.
Energi kehidupan Nomor 11 mulai tersedot, mengalir deras ke manik kehidupan melalui dirinya. Namun pada saat yang sama, sesuatu yang lain ikut mengalir.
Fragmen memori. Emosi. Ketakutan. Kebencian. Keserakahan.
Semuanya membanjiri pikiran Chen Yuan seperti gelombang liar.
Untuk sesaat, alis Chen Yuan mengernyit. Ia segera melempar tubuh itu ke tanah lalu menginjak dadanya hingga terdengar bunyi retakan tulang.
“ARGHH!”
Chen Yuan menggertakkan giginya, memaksa pikirannya tetap jernih.
Nomor 11 mulai melemah. Tubuhnya kini seperti mayat kering. Matanya dipenuhi ketakutan mutlak saat menatap Chen Yuan.
“T-tolong… bunuh aku…”
Namun Chen Yuan tidak menanggapi. Ia memadatkan tombak api di tangannya, lalu memasukkannya.
JLEB.
Dalam sekejap, hidup Nomor 11 berakhir.
Chen Yuan perlahan duduk, menutup mata sejenak untuk menjernihkan pikirannya.
Di luar kubah besi, dentuman keras terus menggema tanpa henti.
Namun kubah itu tetap berdiri.
Lima menit berlalu.
Napas Nomor 10 dan 12 mulai terasa berat. Mata keduanya saling bertemu, lalu tanpa sepatah kata pun mereka mengangguk.
Energi tak kasat mata berkumpul di udara, perlahan membentuk tombak panjang yang berdenyut dengan kekuatan penghancur.
Di kejauhan, seseorang baru saja tiba. Matanya langsung melebar saat melihat tombak mental itu terbentuk.
“HENTIKAN, BODOH!!”
Teriakannya menggema, tetapi sudah terlambat.
Seketika, tombak mental itu melesat, langsung menembus kubah besi.
Namun tidak ada ledakan ataupun kehancuran.
Kubah itu… tetap utuh.
Kurang dari satu detik, mata mereka tiba-tiba melebar. Kesadaran mereka hancur seketika. Tubuh mereka jatuh ke tanah seperti boneka yang talinya diputus.
Di kejauhan, wajah sosok itu, Nomor 8 mengeras.
“Sialan… terlambat.”
“Kalian sangat bodoh! Meski tidak bisa menggunakan serangan mental, jiwanya masih berada di Alam Kelahiran Jiwa. Dalam kondisi puncaknya, satu pikiran, kalian mati! Hah… Ini juga kesempatan, tapi kalian malah mati karena serangan balik. Sungguh bodoh.”
Ia perlahan mengangkat tangan, dan energi dahsyat berkumpul di langit di atas kubah besi.
“Kalau begitu… hancurkan sekalian.”
Sebuah tombak api raksasa terbentuk, besar dan mengerikan. Energi yang dipancarkannya membuat tanah di bawahnya hangus.
Tombak itu jatuh.
DUAAARRRR!!
Ledakan dahsyat mengguncang bumi.
Tombak itu menghantam dan menembus kubah besi, meledakkan gelombang energi yang menyapu ke segala arah seperti badai. Kubah logam tebal yang selama ini tak tergoyahkan akhirnya memudar.
Di tengah kehancuran itu, sebuah sosok berdiri.
Tubuhnya hangus hitam seperti arang. Asap tipis masih mengepul dari kulitnya. Sebagian lengan kanannya telah meleleh, seperti besi cair.
Itu Chen Yuan.
Ia melirik ke arah Nomor 8, lalu menghilang.