NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Penguasa Langit

Reinkarnasi Penguasa Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.

Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Pegunungan Larangan dan Masalah Perut Sang Dewa

Setelah keributan di istana mereda, Ranu memutuskan untuk segera berangkat menuju Pegunungan Larangan. Namun, perjalanan kali ini tidak semudah yang ia bayangkan. Raja Prabu Dirja yang merasa berhutang budi memaksa Ranu untuk membawa perbekalan mewah dan dikawal oleh Ki Sastro.

Kini, di tengah jalan setapak yang menanjak, Ranu berjalan dengan wajah datar, sementara di belakangnya, Ki Sastro megap-megap membawa tas besar berisi pakaian dan makanan.

"Tuan Muda Ranu, bisakah kita istirahat sejenak? Kakang Sastro sudah tidak kuat lagi," keluh Ki Sastro sambil menyeka keringat.

Ranu berhenti dan berbalik. Ia menatap Ki Sastro dengan mata peraknya yang tajam. "Anak muda, kau ini baru hidup beberapa puluh tahun tapi staminamu lebih buruk dari kura-kura purba di kolam langit. Bagaimana kau mau mencapai Ranah Jiwa Rimba kalau berjalan menanjak saja sudah seperti mau mati?"

Ki Sastro melongo. "Anak muda? Tuan Muda, umurku lima puluh tahun lebih! Dan Anda baru tujuh tahun!"

Ranu menghela napas panjang, sebuah kebiasaan yang sering ia lakukan saat menghadapi "kebodohan" manusia fana. "Umur itu hanya angka bagi jiwa yang sudah melihat penciptaan bintang-bintang, Sastro. Secara teknis, kau itu masih bayi di mataku."

Kruyuuuk...

Tiba-tiba, suara nyaring terdengar dari arah perut Ranu. Suasana yang tadinya serius mendadak menjadi canggung. Ranu terdiam, wajahnya yang biasanya pucat kini sedikit memerah.

"Suara apa itu, Tuan Muda? Apakah ada hewan buas di semak-semak?" tanya Ki Sastro sambil waspada.

Ranu berdehem pelan, mencoba menjaga martabatnya. "Itu... itu adalah getaran energi bumi yang sedang bereaksi dengan pusat kekuatanku. Jangan banyak tanya."

Kruyuuuk... kruyuuuk!

Kali ini suaranya lebih keras. Ki Sastro menahan tawa hingga bahunya berguncang. "Oalah, Tuan Muda. Bilang saja kalau lapar. Dewa juga butuh makan nasi timbel rupanya."

Ranu membuang muka. "Tubuh fana ini sungguh merepotkan. Di kehidupan dulu, aku bisa kenyang hanya dengan menghirup esensi rembulan selama seribu tahun. Sekarang? Baru tidak makan nasi jagung sehari saja, rasanya seperti ada perang saudara di dalam perutku."

Akhirnya, mereka memutuskan untuk duduk di bawah pohon rindang. Ki Sastro mengeluarkan bungkusan nasi dengan ayam goreng bumbu kuning pemberian Diajeng Sekar Arum. Bau harumnya langsung menusuk hidung Ranu. Tanpa menunggu perintah kedua, Ranu menyambar paha ayam itu dengan kecepatan yang lebih cepat dari teknik Goncangan Langit-nya.

"Pelan-pelan, Tuan Muda. Nanti tersedak," kata Ki Sastro sambil memberikan kendi air.

"Diamlah, Sastro. Aku sedang melakukan... pemurnian elemen protein ke dalam sel-sel tubuhku," sahut Ranu dengan mulut penuh nasi.

Setelah urusan perut selesai, mereka sampai di kaki Pegunungan Larangan. Tempat ini dikenal angker karena kabutnya yang bisa menyesatkan pikiran. Konon, di puncaknya terdapat sebuah kuil kuno yang dijaga oleh mahluk halus.

Saat mereka mulai memasuki area kabut, tiba-tiba terdengar suara tawa melengking dari atas pohon.

"Hihihi! Lihat apa yang datang ke sini! Seorang kakek tua dan seorang bocah mungil yang matanya seperti kelereng perak! Enak sekali untuk dijadikan santapan malam!"

Sesosok makhluk berbulu lebat dengan taring panjang melompat turun. Itu adalah Genderuwo Hutan, mahluk tingkat rendah namun cukup kuat untuk menakuti pendekar biasa.

Ki Sastro langsung memasang kuda-kuda. "Waspada, Ranu! Ini mahluk halus!"

Ranu melihat mahluk itu dengan tatapan malas. Ia baru saja kenyang dan ingin tidur siang, tapi pengganggu ini malah muncul. "Hoi, monyet besar berbau ketiak. Minggirlah. Aku sedang tidak selera bertarung dengan mahluk yang bahkan tidak tahu caranya mandi."

Genderuwo itu geram. "Berani sekali kau, bocah tengik! Aku akan meremukkan tulangmu!"

Mahluk itu menerjang dengan kuku-kukunya yang tajam. Ranu tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tangannya dan... Pletak!

Bukan jurus dewa yang ia gunakan, melainkan sebuah sentilan jari tepat di dahi lebar si Genderuwo. Kekuatan sentilan itu mengandung sedikit energi bintang kedua. Hasilnya, Genderuwo itu terpental ke belakang, menabrak pohon jati hingga tumbang, lalu jatuh pingsan dengan mata juling.

"Sastro, lihat itu. Itulah pentingnya menjaga kebersihan. Kalau dia mandi, mungkin dahinya tidak akan selicin itu sehingga sentilanku tidak akan terlalu menyakitkan," ucap Ranu sambil berjalan santai melewati mahluk yang pingsan itu.

Ki Sastro hanya bisa geleng-geleng kepala. "Tuan Muda, Anda baru saja mengalahkan penguasa hutan ini dengan sentilan jari?"

"Dia bukan penguasa, dia hanya pengangguran yang kurang kerjaan," jawab Ranu pendek.

Semakin tinggi mereka mendaki, udara semakin dingin. Di puncak sebuah tebing, Ranu berhenti. Matanya menatap sebuah gua yang tertutup oleh air terjun yang mengalir ke atas—sebuah fenomena alam yang melanggar logika.

"Itu dia. Gua Pemutus Sukma," bisik Ranu. Ekspresi komedinya hilang, digantikan oleh keseriusan yang dingin.

Di dalam gua itu, Ranu merasakan keberadaan sebuah pusaka yang dulunya adalah bagian dari mahkotanya di Alam Dewa. Namun, ia juga merasakan kehadiran seseorang di dalam sana. Bukan mahluk halus, melainkan seorang manusia dengan kekuatan yang sangat besar.

"Sastro, tetap di sini. Jika kau masuk, jiwamu akan hancur oleh tekanan di dalam," perintah Ranu.

"Tapi Tuan Muda—"

"Ini perintah dari seseorang yang sudah hidup jauh sebelum kakek buyutmu lahir. Tunggu di sini dan jaga nasi sisanya, aku mungkin akan lapar lagi nanti," potong Ranu.

Ranu melangkah menembus air terjun yang mengalir ke atas tersebut. Di dalam gua, suasananya sangat terang, diterangi oleh kristal-kristal yang tumbuh di dinding. Di tengah gua, seorang pria tua berpakaian putih sedang duduk bermeditasi di depan sebuah fragmen permata yang melayang.

Pria itu membuka matanya. Tekanan energinya meledak, membuat seluruh gua bergetar. Dia adalah seorang pendekar Ranah Setengah Dewa, kasta tertinggi yang bisa dicapai manusia di bumi.

"Seorang bocah? Bagaimana kau bisa menembus segel air terjun terbalikku?" tanya pria tua itu dengan suara yang menggetarkan tulang.

Ranu berdiri dengan tangan di belakang punggung, mencoba terlihat berwibawa meski tingginya hanya sepinggang pria itu. "Segelmu itu penuh lubang seperti jaring ikan yang sudah usang, Pak Tua. Dan permata yang kau tatap itu bukan milikmu. Itu adalah pecahan dari Matahari Sembilan Langit milikku."

Pria tua itu tertawa hingga gua bergetar. "Milikmu? Bocah, aku sudah menjaga permata ini selama seratus tahun! Aku adalah Ki Ageng Jagat, pendekar terkuat di tanah ini. Kau pikir kau siapa?"

Ranu menghela napas, ia sedikit jengkel karena harus terus-menerus menjelaskan siapa dirinya. "Namaku Ranu Wara. Dan jika kau tidak segera menyingkir, aku akan terpaksa memukul pantatmu seperti ayahku memukulku saat aku lupa menyiram ladang."

Ki Ageng Jagat tertegun. Belum pernah ada yang berani menghinanya seperti itu. "Kau... kau mau memukul pantatku?!"

"Ya. Dan percayalah, itu akan sangat memalukan bagi seseorang di ranahmu," sahut Ranu dengan wajah sangat serius.

......................

1
JUNG KARYA
bantu supportnya kak 🙏
JUNG KARYA
Komentarnya dong kak, juga satu like kalian sangat berarti untuk semangat author ini lho, apalagi kalau mau beri rating di novel ini 😁...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!