Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan yang Sama
Hujan turun lagi di kampus Universitas Gadjah Mada. Bukan gerimis biasa, tapi hujan deras dengan butir-butir air yang menghantam aspal seperti jutaan batu kecil. Langit kelabu menggantung rendah, menciptakan suasana muram yang membuat siapa pun ingin berlindung di dalam ruangan.
Tapi Kay justru berdiri di selasar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, tempat yang sama seperti dua minggu lalu. Rambutnya yang panjang tergerai bebas hari ini, sedikit lembap karena udara basah.
Ia mengenakan sweater rajut warna krem yang lembut, celana jeans hitam, dan sepatu boots karet hitam—sengaja memakai sepatu tahan air karena ia sudah punya rencana. Di tangannya, sebuah payung besar warna hitam tergenggam erat.
Payung itu bukan payung sembarangan. Ini payung yang sengaja ia beli dua hari lalu setelah memeriksa ramalan cuaca dan melihat prediksi hujan untuk hari ini. Payung besar, cukup untuk dua orang, dengan gagang kayu yang kokoh.
Mika bilang dia gila. Mungkin benar.
"Kay, lo yakin mau nunggu dia?" tanya Mika dalam pesan WhatsApp sepuluh menit lalu. "Ini hujan deras. Mungkin dia nggak lewat."
Tapi Kay yakin. Ia punya firasat.
Dan firasat itu terbukti benar.
Dari kejauhan, di tengah derasnya hujan, muncul sesosok laki-laki yang berjalan santai. Sama seperti dua minggu lalu, tanpa payung, tanpa jas hujan, tanpa tergesa. Kemeja kotak-kotak biru putih itu basah kuyup, menempel di tubuh kurusnya. Rambut ikalnya basah total, jatuh menutupi dahi. Ia berjalan dengan kepala tegak, seolah hujan deras ini adalah teman lama yang tidak perlu dihindari.
Bima.
Kay menarik napas dalam-dalam, menguatkan diri. Lalu tanpa menunggu lebih lama, ia membuka payungnya dan berlari ke arah Bima.
"Bima!"
Langkah Bima terhenti. Ia menoleh, mencari sumber suara. Melihat Kay berlari ke arahnya dengan payung besar, alisnya mengerut sedikit—mungkin bingung, mungkin curiga.
"Kay?"
Kay tiba di hadapannya, sedikit terengah-engah. Ia menaungi mereka berdua dengan payungnya, meskipun beberapa bagian bajunya sudah basah karena percikan air saat berlari. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat butir-butir air di bulu mata Bima, di ujung hidungnya, di bibir tipisnya.
"Lo kehujanan lagi. Sini," kata Kay, berusaha terdengar tenang meskipun jantungnya berdebar kencang.
Bima menatap payung itu, lalu ke Kay, lalu ke payung lagi. Ekspresinya datar, tidak berubah. Tapi matanya—matanya yang dalam itu—menyipit sedikit, seperti sedang menganalisis situasi.
"Lo nunggu gue?" tanyanya.
Pertanyaan langsung yang tidak bisa dihindari. Kay merasakan wajahnya memanas. "Enggak! Gue... kebetulan lewat."
Bima menatapnya dengan pandangan yang mengatakan ia tidak percaya. Payung itu jelas baru dibuka, dan Kay terlihat sedikit basah di bagian bahu karena berlari. Selain itu, selasar fakultasnya ada di belakang mereka—arah yang berlawanan dengan tempat Kay "kebetulan lewat".
"Oke," kata Bima akhirnya.
Itu saja. Tidak ada tanya lebih lanjut, tidak ada protes, tidak ada basa-basi. Ia hanya menerima situasi itu dengan sikap datarnya yang khas.
Mereka berjalan bersama di bawah payung. Kay membayangkan ini akan jadi momen romantis—drama Korea, hujan, dua orang berbagi payung. Tapi Bima berjalan dengan kecepatan tetap, tidak berusaha mendekat, bahkan menjaga jarak sehingga bahunya yang lain basah terkena hujan.
"Lo masuk angin nanti," kata Kay, mencoba memecah keheningan.
"Udah biasa," jawab Bima.
"Biasa masuk angin?"
"Biasa kehujanan."
Kay menghela napas. "Bima, lo tahu gak sih kalo lo tuh..."
"Apa?"
"Gak tahu. Bikin kesel."
Bima menoleh, menatapnya. Untuk pertama kalinya, sudut bibirnya naik sedikit—bukan senyum, tapi lebih ke ekspresi geli. "Makasih udah bawain payung."
"Gak usah sungkan."
"Siapa bilang gue sungkan?"
Kay mengerjapkan mata. "Lho?"
"Gue cuma bilang makasih."
"Oh."
Mereka berjalan lagi dalam diam. Suara hujan mengguyur payung menciptakan irama yang anehnya menenangkan. Kay mencuri pandang ke arah Bima.
Laki-laki itu menatap lurus ke depan, sesekali mengedipkan mata untuk membersihkan air hujan yang masih menempel di bulu matanya.
"Bima, lo dari mana aja?" tanya Kay, berusaha membuat percakapan.
"Kelas."
"Kelas sampe sore?"
"Iya. Ada praktikum tambahan."
"Oh."
Diam lagi. Kay merasakan frustrasi mulai merayap. Bagaimana cara membuat laki-laki ini berbicara lebih dari dua kata?
"Lo suka hujan?" tanya Kay lagi, mencoba topik lain.
Bima mengangkat bahu. "Biasa."
"Tapi lo selalu kehujanan. Tanpa payung."
"Iya."
"Kenapa?"
Bima terdiam beberapa saat, lalu menjawab, "Payung gue rusak. Belum beli baru."
Jawaban sederhana yang membuat Kay tersentak. Ia tidak menyangka akan ada alasan serumit itu di balik kebiasaan Bima kehujanan. Bukan karena cuek, bukan karena sok keren—tapi karena payungnya rusak dan mungkin tidak punya uang untuk beli baru.
Kay merasakan dadanya sesak. "Kenapa nggak bilang dari kemarin? Gue bisa—"
"Gue nggak butuh apa-apa," potong Bima, nadanya datar tapi tegas.
"Tapi—"
"Nggak butuh."
Kay menutup mulut. Ia mengerti. Bima bukan tipe orang yang suka dikasihani. Mungkin itu sebabnya ia selalu menjaga jarak, selalu menjawab singkat, selalu tidak peduli—agar orang tidak tahu betapa sulit hidupnya.
Mereka berhenti di depan gerbang kos Bima. Sebuah rumah kos tua dengan cat kusam, pagar besi berkarat, dan halaman sempit yang penuh dengan pot-pot tanaman seadanya. Di teras, terlihat beberapa pasang sepatu dan sandal berjejer tidak rapi.
Bima melangkah keluar dari bawah payung. Seketika hujan mengguyurnya lagi.
"Bima."
Bima menoleh.
Kay mengambil napas. "Lo boleh minta apa aja ke gue. Sebagai ucapan terima kasih."
Bima menatapnya lama. Matanya menyelidik, mencari sesuatu. Kay merasa seperti sedang dibaca dengan seksama—bukan sebagai objek, tapi sebagai manusia. Ia tidak bisa menghindar dari tatapan itu.
"Gue nggak butuh apa-apa," kata Bima akhirnya.
"Pasti ada sesuatu."
"Kamu."
Kay membeku. Jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat. Kata itu menggantung di udara, di antara rintik hujan yang masih deras.
"Maksud lo?" suara Kay hampir tidak terdengar.
Bima menghela napas. Ekspresinya masih datar, tapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang rumit. "Lo penasaran sama gue. Dan gue nggak tahu kenapa. Itu udah cukup aneh buat gue."
"Aneh?"
"Iya. Orang kayak lo—cantik, kaya, populer—ngapain peduli sama orang kayak gue?"
Kay ingin menjawab, tapi Bima sudah melanjutkan.
"Gue bukan siapa-siapa. Gue cuma mahasiswa biasa yang nggak punya apa-apa. Hidup gue sederhana, bahkan mungkin terlalu sederhana buat standar lo. Tapi lo terus muncul—di perpus, di kantin teknik, sekarang di sini dengan payung. Lo mau apa, Kay?"
Pertanyaan jujur yang menusuk. Kay membuka mulut, menutupnya, lalu membuka lagi. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak tahu harus berkata apa.
"Gue... nggak tahu," akuinya jujur. "Gue cuma... penasaran."
"Penasaran apa?"
"Penasaran kenapa lo beda. Kenapa lo nggak liat gue kayak orang lain liat gue. Kenapa lo bisa secuek itu. Kenapa lo bisa liat kesedihan di mata gue padahal gue udah berusaha nutupin."
Kata-kata itu keluar begitu saja, tanpa filter. Kay sendiri kaget dengan kejujurannya.
Bima diam beberapa saat. Hujan semakin deras, membasahi rambut dan bajunya, tapi ia tidak bergerak untuk berlindung.
"Lo kira gue cuek?" tanyanya pelan.
"Iya."
Bima menggeleng pelan. "Gue nggak cuek. Gue cuma... nggak tahu cara ngeliat orang dengan cara yang mereka mau."
"Maksud lo?"
Bima menatap langit kelabu, lalu kembali ke Kay. "Gue tumbuh di lingkungan yang keras. Bokap gue ninggalin gue dan nyokap pas gue SD. Nyokap gue kerja jadi buruh cuci buat biayain gue sekolah. Dari kecil gue belajar satu hal: jangan berharap apa-apa dari orang lain. Karena kecewa itu sakit."
Kay tertegun. Ini pertama kalinya Bima berbicara lebih dari dua kalimat. Ini pertama kalinya ia membuka diri.
"Jadi pas gue liat lo—Kayana Ardhanareswari yang sempurna—gue nggak tahu harus ngapain. Lo terlalu... berbeda. Gue nggak punya apa-apa yang bisa gue tawarin ke lo. Jadi lebih baik gue diem, gue nggak peduli, biar lo nggak deket."
"Tapi lo gambar gue," bisik Kay.
Bima tersenyum tipis—senyum pertama yang benar-benar sampai ke matanya. "Iya. Karena gue nggak bisa berhenti ngeliat lo."
Jantung Kay berdebar kencang. "Bima..."
"Tapi itu nggak berarti apa-apa, Kay." Bima memotong, nadanya kembali datar. "Gue masih orang yang sama. Masih nggak punya apa-apa. Masih hidup pas-pasan. Masih bukan siapa-siapa. Kalo lo cari sesuatu yang romantis, lo salah orang."
Kay menatap Bima dengan mata berkaca-baca. Bukan karena sedih, tapi karena ia akhirnya mengerti. Bima bukan cuek. Bima hanya takut. Takut tidak cukup baik. Takut mengecewakan. Takut pada akhirnya, semua orang akan pergi seperti ayahnya dulu.
"Gue nggak minta lo jadi orang lain," kata Kay mantap. "Gue cuma... pengen kenal lo. Sebagai Bima. Bukan sebagai orang miskin atau anak beasiswa. Tapi sebagai Bima yang suka gambar, yang bisa dapet IPK 4.0, yang jalan di hujan tanpa payung karena payungnya rusak."
Bima menatapnya dengan pandangan rumit.
"Gue tahu lo nggak percaya sama orang," lanjut Kay. "Gue juga. Keluarga gue broken home, Bima. Bokap nyokap gue cerai. Gue tinggal sendirian di rumah gede dengan pembantu. Setiap hari gue pura-pura bahagia di depan orang, padahal dalam hati gue hancur. Jadi kalau ada yang ngerti soal takut, gue juga ngerti."
Bima terdiam. Ekspresinya tidak berubah, tapi Kay bisa melihat ada sesuatu yang melunak di matanya.
"Lo boleh nggak percaya sama gue sekarang," kata Kay. "Tapi gue akan terus ada. Bukan karena gue kasian. Bukan karena gue mau sesuatu. Tapi karena... karena gue suka ngeliat lo gambar. Gue suka cara lo mikir. Gue suka... suka lo."
Pengakuan itu meluncur begitu saja, tanpa direncanakan. Kay sendiri kaget dengan keberaniannya.
Bima menatapnya lama. Sangat lama. Hujan terus mengguyur, tapi mereka berdua seperti tidak merasakannya.
"Lo aneh," kata Bima akhirnya.
"Makasih."
"Bukan pujian."
"Gue anggap pujian."
Bima menghela napas. Rambutnya sekarang benar-benar basah, menempel di dahi dan pipi. Tapi ia tidak bergerak untuk merapikannya. "Masuk sini."
"Apa?"
Bima menunjuk ke kosnya. "Masuk. Gue pinjemin handuk. Lo bakal masuk angin."
Kay tersenyum lebar. "Janji nggak bakal cuek-cuek amat di dalem?"
Bima menatapnya dengan ekspresi datar. "Janji."
Lalu ia berbalik dan masuk ke gerbang kos, meninggalkan Kay yang masih berdiri dengan payung. Kay menatap punggungnya, lalu tertawa kecil.
"Dia bilang masuk, tapi jalan duluan," gumamnya, lalu mengikuti Bima masuk.
Di teras kos, Bima mengambil handuk dari jemuran dan melemparkannya ke Kay tanpa berkata apa-apa. Ia lalu masuk ke dalam kamarnya—kamar sempit dengan satu dipan, satu meja belajar penuh buku, dan laptop usang yang menyala.
Kay mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil melihat sekeliling. Sederhana. Sangat sederhana. Tapi ada puluhan gambar sketsa ditempel di dinding—pemandangan, orang, benda-benda sehari-hari. Semuanya indah.
"Lo gambar semua ini?" tanya Kay.
Bima mengangguk, duduk di kursi belajarnya. "Iseng."
"Ini bukan iseng, Bima. Ini seni."
Bima mengangkat bahu. "Terserah."
Kay tersenyum. Tetap cuek meskipun sudah mengajaknya masuk. Tapi kali ini, Kay tidak merasa terganggu. Ia justru merasa... hangat.
"Bima."
"Apa?"
"Makasih udah ngajak gue masuk."
Bima menatapnya sebentar, lalu kembali ke laptopnya. "Iya."
"Masa depan lo cerah, Bima. Lo pinter, lo bisa gambar, lo baik hati meskipun cuek. Lo pantas dapet yang terbaik."
Bima berhenti mengetik. Ia menoleh, menatap Kay dengan pandangan sulit diartikan.
"Lo juga, Kay," katanya pelan. "Lo juga pantas dapet yang terbaik."
Untuk pertama kalinya, Kay merasa bahwa semua usahanya tidak sia-sia. Mungkin butuh waktu. Mungkin butuh kesabaran. Tapi ia sudah melihat celah di balik tembok dingin Bima.
Dan ia akan terus berusaha.
---
Malam harinya, Bima duduk di kamarnya, menatap sketsa Kay yang setengah jadi. Ia mengambil pensil, mulai menambahkan detail—senyum Kay saat ia bilang "makasih udah ngajak gue masuk", sorot matanya saat mengakui perasaannya, cara ia mengeringkan rambut dengan handuk di teras kos.
Bima tersenyum tipis.
"Masa depan cerah," ulangnya, mengingat kata-kata Kay. "Lo pantas dapet yang terbaik."
Ia menatap sketsa itu lama.
"Mungkin lo pantas dapet yang terbaik juga, Kay. Tapi apa gue cukup baik buat lo?"
Tidak ada jawaban. Hanya hujan yang masih setia menemani malamnya.