Queenza Celeste tidak pernah menyangka suami yang selama ini dia cintai, tega menduakan cintanya. Di detik terakhir hidupnya dia baru sadar jika selama ini Xavier hanya memanfaatkan dirinya saja untuk menghancurkan keluarganya. Saat Queenza terbangun kembali, dia memutuskan untuk membalas semuanya.
Bagaimana kisah selengkapnya? Simak kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Aldrich
"Tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil."
"Apa pria ba*ingan itu yang melakukannya padamu?"
"Aku datang kemari bukan untuk curhat denganmu. Ada yang harus aku bicarakan denganmu. Ini penting."
Queen duduk di sofa diikuti oleh Aldrich. Dia menyuruh asistennya untuk menyajikan minuman untuk Queen.
Setelah minuman Queen tiba, Aldrich langsung mengusir asistennya. Dia duduk dan memasang wajah serius.
Queen menarik wajahnya ke belakang saat Aldrich duduk terlalu condong ke arahnya. Dia akui Aldrich adalah salah satu teman kakaknya dengan wajah yang lumayan tampan. Hanya saja Queen tidak tahan dengan gayanya yang terlalu flamboyan.
Queen mendengus saat wajah Aldrich begitu dekat dengan wajahnya. Wanita itu mendorong wajah pria itu dengan kejam.
"Jangan terlalu dekat."
Aldrich mengulas senyumnya dan terkekeh. "Sayang kamu kasar sekali."
"Cobalah untuk serius, Aldrich. Apa yang ingin aku katakan ini benar-benar penting."
Aldrich lantas mengubah ekspresi wajahnya menjadi mode serius. Queen tidak bisa tidak tertawa melihat tingkah pria ini.
Dulu ia dan Blake tetanggaan dengan Aldrich. Kakaknya dan Aldrich satu sekolah, Setiap pulang sekolah Aldrich akan pergi ke rumahnya dan baru pulang saat malam. Setiap datang ke rumahnya, Aldrich selalu menggoda Queen, karena dia anak tunggal dan tidak memiliki saudara dekat. Jadi hubungan Aldrich dan Queen lumayan cukup dekat.
"Giliran aku serius, kamu malah tertawa."
"Baiklah-baiklah, maafkan aku. Begini, soal perhiasanku. Kamu jangan sampai cerita ke luar jika ini koleksi pribadi milikku. Kamu bisa mengatakan jika mendapatkan ini dari lelang."
"Kamu tenang saja. Aku bisa mengurus masalah ini dengan mudah, Putri kecilku. Lalu kemana aku harus mengirim uangnya?"
Queen lantas mengetik nomor rekening barunya dan mengirimkannya pada Aldrich. "Kelak jika mau mengirim uang, ke nomor yang ini saja."
Aldrich teringat sesuatu. Dia lantas bangkit dan berjalan ke meja kerjanya. Pria itu mengambil sesuatu dari laci mejanya.
"Ini, hadiah kecil untuk putrimu. Aku harap kamu menyukainya." Aldrich menyerahkan kotak kecil berwarna biru dengan pita di atasnya. Tanpa ragu Queen membuka kotak itu. Dia melihat hadiah di dalamnya.
"Aldrich, ini bagus sekali." Queen menatap gelang kecil di tangannya dengan mata penuh kekaguman. Bahannya terbuat dari emas putih, tampak sederhana, tetapi ukiran di sekeliling namanya terlihat sangat berkelas.
"Tentu saja, ini edisi spesial. Khusus untuk putrimu."
"Apakah kamu bisa membuatkan satu lagi yang seperti ini? Ellara juga pasti akan cocok memakai gelang seperti ini."
"Ellara? Siapa itu?"
"Dia bayi susuku."
"Oh, kamu juga mendonorkan asi untuk bayi lain?" tanya Aldrich penasaran.
"Ya, dia bayi yang sangat malang. Dia memiliki kondisi langka dan mungkin baru kali ini terjadi. Ellara tidak bisa minum asi dari ibu susu yang golongan darahnya berbeda dari bayi itu."
"Apakah itu artinya bayi itu memiliki golongan RH-null seperti milikmu?"
"Ya, Begitulah."
"Luar biasa. Aku akan membuatkan satu untuknya nanti. Beri aku waktu tiga hari. Aku akan antar gelang itu untukmu."
Queen lantas memeluk Aldrich. "Terima kasih banyak, Aldrich."
"Sama-sama, Putri kecilku." Aldrich tersenyum senang dipeluk begitu hangat oleh Queen.
Setelah dari toko perhiasan milik Aldrich. Queen memeriksa ponselnya, barangkali ada pesan dari Bryan.
Melihat kotak pesannya sunyi, Queen mengirim pesan pada Bryan untuk menanyakan soal Ellara. Akan tetapi, sampai sepuluh menit pesannya tidak mendapatkan balasan. Akhirnya Queen memutuskan untuk datang ke kediaman Lewis. Dia merasa tidak tenang meninggalkan Ellara. ia seperti telah memiliki ikatan batin dengan gadis kecil itu.
Setibanya di depan gerbang kediaman Lewis. Queen disambut dengan baik oleh petugas keamanan. Memasuki halaman, Dia langsung turun dari mobilnya dan membunyikan bell pintu.
Saat pintu terbuka, Queen langsung bertemu muka dengan sepupu Bryan.
"Kamu di sini?" Adam sepupu Bryan mengerutkan alisnya.
"Ya, memang ada apa?"
"Kedatanganmu begitu tepat. Ellara sejak tadi menangis. Entah apa yang terjadi padanya. Kakek sampai pusing mendengar tangisannya. Bryan sedang mengurus masalah di perusahaan. Jadi dia juga susah dihubungi. Pengasuh sampai kewalahan menenangkan Ella."
"Kalau begitu biar aku melihat dia dulu. Sudah sejak kapan dia menangis?"
"Setengah jam yang lalu. Pengasuh sudah memanaskan susu sesuai dengan biasanya, tetapi bayi itu tidak mau diam."
Merasa khawatir, Queen akhirnya naik ke atas dengan cepat. Adam bisa melihat Queen begitu perhatian pada keponakannya. Adam merasakan ketulusan perempuan itu pada Ella. Menurut Adam, Queen patut menjadi ibu untuk Ellara.
Dari tengah tangga naik, Queen sudah bisa mendengar suara Ellara yang menangis dan suara kakek Lewis yang terdengar menggerutu memarahi pengasuh Ellara.
"Kamu dibayar mahal untuk pekerjaan ini, tetapi hampir setengah jam lebih cucuku masih saja menangis. Kamu benar-benar tidak becus bekerja!"
"Kakek Lewis."
Suara Queen yang lembut memanggil, Kakek Lewis menoleh. Dia menghela napas lega, tetapi meski begitu, dia tetap bertanya pada Queen "Kamu, kenapa bisa ada di sini? Mana Sofia?"
"Tadi aku dari kantor polisi. Entah mengapa aku merasa kepikiran soal Illara. Sofia ada di rumah, Kek." Queen menjawab sembari masuk ke dalam kamar Ella.
Queen segera mengambil bayi kecil itu. "Nora, sebaiknya kamu makan siang dulu. Biarkan aku yang menenangkan Ella."
"Terima kasih, Nyonya." Nora akhirnya keluar dengan kepala tertunduk. Dia tidak berani menatap kakek Lewis. Dia merasa kakek Lewis sedang menatap tajam ke arahnya.
Setelah Nora pergi, Kakek Lewis langsung meninggalkan kamar Ellara. Dia tahu apa yang akan Queen lakukan, jadi dia segera memberi ruang.
Tak lama tangisan kencang Ellara tadi berubah menjadi rengekan manja. Wajahnya yang putih tampak merah karena terlalu banyak menangis. Queen mengusap wajah lembut bayi kecil itu. Dengan penuh kasih, Queen mulai meny*usui Ellara.
Saat Ellara menyusu, matanya yang bulat dan jernih menatap wajah Queen. Queen tersenyum dan dengan lirih mulai menyenandungkan lagu untuk menidurkan Ellara.
Ellara mulai terpejam, kekuatannya dalam menghisap p*yudara Queen perlahan melemah dan akhirnya bayi itu terlelap.
Queen segera merapikan pakaiannya dan menidurkan Ellara di boxnya. Queen menatap Ellara dengan lembut. Melihatnya tertidur seperti ini, dia jadi tidak tega meninggalkan gadis mungil itu.
"Huh, sepertinya aku sudah mulai tidak bisa jauh dari kamu, Sayang. Bagaimana ini?" Queen seperti mengeluh, tetapi sebenarnya dia merasa senang karena Ellara begitu melekat padanya. Dia merasa keberadaannya lebih berarti.
Setelah meyakinkan diri, Ellara benar-benar tidur nyenyak, Queen lantas turun dan berpamitan pulang pada kakek Lewis. Sebenarnya kakek Lewis ingin melarang Queen pulang, tetapi dia khawatir Queen mungkin berpikir dia egois. Akhirnya kakek Lewis melepaskan ide itu.
Setelah Queen pergi, pria tua itu menghela napas panjang. "Belum ada satu bulan, Ellara begitu bergantung pada kehadirannya. Bagaimana jika bayi itu sudah bisa mengenali wajah? Mungkin Queen tidak akan bisa lepas dari Ellara.