Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur
Brisbane yang biasanya terasa hangat dan ramah, kini terasa seperti labirin yang menyesakkan bagi Jake. Aroma pohon eucalyptus yang dulu menenangkannya saat kecil, kini justru membawa sisa-sisa kenangan pahit tentang Takara yang tak kunjung ia temukan.
Jake berdiri di depan rumah masa kecilnya, namun matanya tidak lepas dari rumah di sebelah. Rumah Takara. Tanpa memedulikan statusnya sebagai bintang global yang bisa saja tertangkap kamera pengawas atau tetangga, Jake nekat memanjat pagar putih kayu yang sudah sangat akrab baginya.
Bruk!
Ia mendarat di halaman rumput yang sedikit tinggi, pertanda sudah beberapa hari tidak dipangkas. Jake berlari ke jendela samping, mencoba mengintip ke dalam.
"Ra? Takara!" teriaknya sambil menggedor kaca.
Hening. Ruang tamu itu gelap gulita. Furnitur di dalamnya ditutupi kain putih, seolah penghuninya sudah bersiap untuk pergi dalam waktu yang sangat lama. Jake terduduk di teras belakang, menjambak rambutnya sendiri. Frustrasi itu membakar dadanya hingga sesak. Ia merasa seperti pecundang yang kehilangan kompas di tengah samudra.
Tidak menyerah di sana, Jake kembali memakai masker hitam dan topinya serendah mungkin. Ia memacu mobil sewaan menuju pusat kota, tepatnya ke kantor firma arsitek tempat Takara bernaung di Brisbane.
Dengan jantung berdegup kencang, ia masuk ke lobi dan meminta bertemu dengan atasan Takara.
"Maaf, Tuan... Anda siapa?" tanya resepsionis dengan curiga melihat penampilan Jake yang sangat tertutup.
"Saya... teman lamanya. Ada urusan mendesak," jawab Jake dengan suara yang diubah sedikit lebih rendah.
Setelah menunggu beberapa saat, atasan Takara, seorang pria paruh baya bernama Mr. Henderson, keluar menemuinya. Pria itu menatap Jake dari balik kacamatanya.
"Takara sedang tidak ada. Dia sudah mengambil jatah cuti darurat selama seminggu sejak dua hari lalu. Dia bilang butuh waktu tenang untuk urusan keluarga di luar kota," ucap Mr. Henderson tegas. "Dan dia berpesan agar tidak memberikan lokasinya pada siapa pun."
Jake mengepalkan tangan. "Di luar kota? Di mana?"
"Saya tidak berhak memberitahu Anda. Permisi."
Harapan Jake mulai menipis. Langkah kakinya membawa ia ke sebuah kedai donat tua di sudut jalan, kedai milik Aunty Mey. Ini adalah tempat 'keramat' bagi mereka. Dulu, setiap kali Takara sedih atau Jake kelelahan setelah latihan vokal di masa trainee, mereka akan duduk di pojok kedai ini sambil berbagi donat gula.
"Aunty..." panggil Jake saat masuk.
Wanita tua berkacamata itu menoleh. Meski Jake memakai masker, Aunty Mey mengenali sorot mata bocah laki-laki yang dulu sering mencuri donat di dapurnya itu.
"Jake? Kamu pulang?" tanya Aunty Mey terkejut.
"Aunty, apa Takara ke sini? Sekali saja?" tanya Jake penuh harap.
Aunty Mey menghela napas sedih, ia menggeleng pelan sambil mengusap meja kayu yang bersih. "Nihil, Jake. Dia tidak pernah ke sini lagi sejak dia kembali dari Korea. Biasanya dia akan meneleponku jika ingin mampir, tapi kali ini... ponselnya pun mati."
Jake mematung di ambang pintu. Semua pintu seolah tertutup rapat. Takara benar-benar menghapus jejaknya dengan sangat rapi, seolah ingin memastikan bahwa Jake tidak akan pernah bisa menemukannya lagi.
———
Harapan Jake luruh bersama debu di jalanan Brisbane. Ponsel di sakunya bergetar tanpa henti, nama manajernya berkedip di layar, sebuah pengingat kasar bahwa ia bukan lagi sekadar anak laki-laki tetangga Takara. Ia adalah komoditas global, aset bernilai miliaran won yang tidak boleh menghilang begitu saja.
"Jake! Kamu di mana?! Pesawat ke Seoul berangkat tiga jam lagi! Kalau kamu telat, agensi akan menuntut pembatalan kontrak!" suara manajer di seberang telepon terdengar sangat panik saat Jake akhirnya mengangkat panggilan itu.
Jake menatap langit Brisbane yang biru cerah, namun hatinya terasa sepi dan abu-abu. Ia memandangi gerbang rumah Takara untuk terakhir kalinya. Kosong. Hening. Takara telah menang dalam permainan petak umpet ini. Gadis itu benar-benar menghapus dirinya dari radar Jake.
"Gue balik," gumam Jake lirih, suaranya nyaris hilang ditelan angin.
Ia melangkah masuk ke mobil sewaan dengan bahu yang merosot. Inilah realitanya. Ia harus kembali ke lampu panggung yang menyilaukan, ke teriakan ribuan penggemar, dan ke jadwal yang mencekik, semuanya harus ia jalani tanpa "rumah" yang selama ini menjadi tempatnya berpulang.
Di saat yang sama, di terminal keberangkatan internasional Bandara Brisbane, Takara duduk di ruang tunggu dengan paspor di tangannya. Matanya sembab, namun ada binar ketegasan yang baru di sana.
Saran ibunya telah ia renungkan dalam-dalam. Ia tidak bisa menetap di Brisbane jika bayang-bayang Jake masih menghantuinya di setiap sudut kota. Ia juga tidak bisa terus bersama Arlo jika hatinya masih menjadi medan perang.
"Keputusan yang bagus, Takara," ucap Mr. Henderson, atasannya, yang datang mengantar dokumen mutasinya. "Kantor cabang di Toronto, Canada, butuh arsitek dengan dedikasi tinggi sepertimu. Di sana tidak ada yang mengenalmu. Kamu bisa mulai dari nol."
Ketika Jake duduk di kursi first class menuju Seoul, ia memejamkan mata dan mencoba mengingat aroma parfum Takara. Ia bersumpah akan menjadi idola yang paling bersinar, berharap suatu saat cahayanya bisa memandu Takara kembali padanya.
Sementara itu, Takara melangkah masuk ke dalam pesawat menuju Toronto. Ia mematikan ponselnya, mengeluarkan kartu SIM lamanya, dan mematahkannya menjadi dua. Ia tidak akan lagi menjadi "ruang tunggu" bagi siapa pun.
———
Penerbangan belasan jam itu berakhir di sebuah tanah yang asing, jauh dari hangatnya Brisbane dan hiruk-pikuk Seoul. Saat Takara melangkah keluar dari bandara Pearson, Toronto, embusan angin musim dingin langsung menusuk tulang, kontras dengan gejolak panas yang masih tersisa di dadanya.
Takara menaiki taksi menuju alamat yang diberikan kantor pusat. Sepanjang perjalanan, ia menatap deretan gedung pencakar langit yang mulai memutih diselimuti salju tebal. Toronto tampak tenang, dingin, dan acuh tak acuh, persis seperti apa yang ia butuhkan saat ini untuk menghilang.
Apartemen kecil itu terletak di sebuah bangunan bata merah klasik di kawasan Distillery District. Saat Takara memutar kunci dan mendorong pintu, aroma kayu kering dan penghangat ruangan menyambutnya. Unit itu tidak besar, namun desainnya minimalis dan fungsional, dengan jendela besar yang menghadap langsung ke jalanan kota yang kini tertutup salju.
Takara meletakkan kopernya di samping sofa beludru berwarna abu-abu. Ia berjalan menuju jendela, menyentuh kaca dingin itu dengan ujung jarinya. Di bawah sana, orang-orang berjalan terburu-buru dengan jaket tebal, tidak ada yang mengenalinya, tidak ada yang akan bertanya tentang Jake, dan tidak ada yang akan menatapnya dengan rasa kasihan seperti Arlo.
"Satu langkah lagi, Ra," bisiknya pada bayangan dirinya di kaca.
Malam pertamanya di Toronto dihabiskan dengan membongkar koper. Ia sengaja tidak mengeluarkan satu pun barang pemberian Jake. Semua itu tetap terkunci di dasar koper, biarlah terkubur bersama kenangan yang menyakitkan.
Ia membuat secangkir cokelat panas dan duduk di tepi tempat tidur. Hatinya memang masih berdenyut nyeri tiap kali ingatan tentang perkelahian di rooftop atau pelarian di Brisbane melintas. Namun, ada rasa damai yang aneh saat menyadari bahwa ia tidak lagi harus menunggu notifikasi ponsel yang jarang muncul.
Takara tahu, proses penyembuhan ini tidak akan instan. Akan ada malam-malam di mana ia merindukan tawa Jake, dan akan ada pagi di mana ia merasa bersalah pada Arlo. Tapi ia yakin, seiring salju yang turun dan mencair berganti musim, luka itu akan mengering dengan sendirinya.