NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Persahabatan / Perjodohan / Gadis nakal
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sogokan Gagal

Noah yang biasanya punya seribu satu kata buat ngeledek Viona, mendadak kehilangan fungsi lidahnya. Dia menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit ruang makan dengan tatapan kosong.

"Bibi, emang iyakah aku sama Vio mau dinikahin? Gak kebayang sih, Bi, gimana masa depan aku nanti," gumam Noah. Dia meratapi nasibnya seolah-olah baru aja dapet surat panggilan wajib militer ke planet lain. Bayangan hidup satu atap sama Viona, si pembuat onar yang hobi party, bikin bulu kuduknya merinding.

Rose meletakkan serbetnya di atas meja dengan gerakan elegan, lalu menatap Noah dengan senyum kecil yang nggak bisa dibantah.

"Bibi sama bunda kamu udah sempat ngobrol panjang lebar tempo hari," Rose memulai, suaranya tenang tapi berwibawa. "Bunda kamu itu khawatir, Noah. Kamu nggak pernah sekalipun bawa pacar ke rumah. Dia takut kamu terlalu asyik sendiri sampai lupa cari pendamping."

Rose kemudian melirik Viona yang masih mematung kayak manekin. "Sementara Bibi? Bibi khawatir sama tingkah laku liar anak perempuan Bibi ini. Skylar nggak bisa dipimpin sama orang yang tiap malam kerjaannya cuma mabuk di club."

"Tapi nggak harus sama Noah juga, Ma!" potong Viona, suaranya naik satu oktav.

"Daripada kamu liar sama orang lain yang nggak jelas bibit bebet bobotnya, mending kamu liar sama Noah," Rose membalas telak. "Noah udah kami kenal dari orok. Bahkan sejak kalian berdua masih ada di dalam kandungan, kalian itu sudah berbagi ruang yang sama di setiap acara keluarga. Noah tahu cara 'nanganin' kamu, Viona."

Noah memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Bi, tapi Vio itu... dia itu kan spesies yang beda sama aku."

"Nggak ada tapi-tapian," sela Rose, kali ini berdiri dari kursinya. "Keputusannya sudah final. Noah, kalau kamu mau tetap dapet restu Bunda buat proyek baru kamu di Singapura, kamu ambil penawaran ini. Dan Viona, kalau kamu masih mau liat kartu kredit kamu aktif nanti siang, kamu tahu harus pilih apa."

Rose berlalu pergi meninggalkan ruang makan yang mendadak kerasa lebih sempit dari biasanya.

Hening.

Viona pelan-pelan menoleh ke arah Noah. Mereka berdua tatap-tatapan.

"Gue nggak mau nikah sama lo, Noah!" bisik Viona penuh penekanan.

Noah mendengus, akhirnya rasa kesalnya balik lagi. "Lo pikir gue mau? Mending gue nikah sama manekin di lobby hotel lo daripada sama cewek yang bau tequila jam tujuh pagi kayak lo!"

———

Setelah pagi yang darderdor di kediaman Skylar, Noah berusaha kembali ke dunianya yang waras. Sekarang, dia berdiri di depan kelas, menatap deretan mahasiswa yang lagi sibuk nyatet teorinya. Tapi jujur, fokus Noah lagi nggak di sana. Pikirannya melayang jauh ke arah dokumen proyek mall di Singapura yang udah dia susun berbulan-bulan.

Kesempatan emas itu sekarang ada di depan mata, tapi kuncinya cuma satu: Viona.

"Kesempatan emas gue harus lewat Viona?" gumamnya pelan sambil pura-pura merapikan tumpukan kertas di meja dosen.

Noah menghela napas panjang, melirik jam di pergelangan tangannya. Menikahi Viona Jessamine Skylar? Itu ide buruk atau lebih parah lagi?

Noah menarik kursi, duduk sejenak sambil memijat pelipisnya. Secara, Viona itu definisi manja yang nggak tertolong. Memorinya mendadak berputar ke belasan tahun yang lalu.

"Dih! Inget banget dulu gue harus gendong dia dari gerbang sekolah sampai depan rumah cuma gara-gara kakinya lecet dikit doang," gumamnya seorang diri, hampir mendengus kalau nggak ingat lagi ada di ruang kelas.

"Lecet seujung kuku, drama seisi komplek rumah.”

Membayangkan hidup satu atap sama cewek yang bakal nuntut perhatian 24/7 itu bikin Noah pengen resign dari kehidupan. Tapi di sisi lain, bayangan gedung mall megah di Singapura, pencapaian tertinggi dalam karier bisnisnya, terus menghantui.

"Tapi... kalau nggak nikahin dia, proyek itu bakal melayang ke tangan orang lain," gumamnya lagi, kali ini dengan nada yang lebih pasrah.

Noah menatap layar laptopnya yang menampilkan draf kontrak kerja sama. Di satu sisi ada karier impian, di sisi lain ada Viona dengan segala keribetannya. Antara jadi arsitek bisnis sukses atau jadi pengasuh princess Skylar seumur hidup.

"Oke, Noah. Pilih: Singapura atau kewarasan lo?" tanyanya pada diri sendiri. Sialnya, Noah tahu betul kalau ambisinya selalu sedikit lebih tinggi daripada rasa takutnya pada Viona.

Berbeda jauh dengan Noah yang lagi kena krisis eksistensi di kampus, Viona justru sudah duduk manis di kursi kebesarannya di kantor pusat Hotel Skylar. Jemarinya yang lentik dengan kuku yang dipoles sempurna mengetuk-ngetuk permukaan meja kerja dari kayu jati itu secara ritmis.

Alih-alih panik, Viona justru menyunggingkan senyuman licik. Kalau Mama pikir dia bisa dijinakkan lewat pernikahan, Mama salah besar. Viona selalu punya cara untuk memutarbalikkan keadaan.

Ia segera mencari nama Noah di ponselnya, lalu menekan tombol panggil.

"Halo," ucapnya singkat begitu sambungan terhubung.

"Kenapa sih, Vio? Apa? Kenapa telepon?" tanya Noah di seberang sana. Suaranya kedengaran agak berisik, mungkin dia baru saja keluar dari kelas atau sedang di koridor kampus.

Viona memutar bola matanya, menyandarkan punggung ke kursi empuknya. "Dih... kenapa sensi banget sih sama calon istri? Nanti malam ketemuan yuk," ajaknya dengan nada yang dibuat semanis mungkin, tapi tetap ada nada memerintah di sana.

"Mau ngomongin apa? Rumah kita cuma sebelahan, kenapa musti ketemuan di luar?" tanya Noah, terdengar benar-benar tidak habis pikir dengan logika Viona.

"Nggak enak ngomongin ini di rumah, banyak mata-mata Mama. Pokoknya gue share location, lo datang. Titik."

Bip.

Viona memutus panggilan begitu saja, seolah pendapat atau jadwal Noah adalah hal terakhir yang penting di dunia ini. Dia melempar ponselnya ke meja dengan puas.

Di sisi lain kota, Noah menatap layar ponselnya yang sudah gelap dengan perasaan campur aduk. "Tuh kan... emang seenaknya dia," gerutu Noah. Dia menghela napas panjang, mengabaikan tatapan heran beberapa mahasiswa yang lewat di depannya.

___

Viona sudah duduk manis di pojok coffee shop favorit mereka, tempat yang cukup remang buat ngerencanain konspirasi tingkat tinggi. Di depannya, sudah tersedia satu iced americano tanpa gula, pesanan Noah yang paling membosankan sepanjang sejarah perkopian. Ini adalah upaya sogokan pertama yang dia siapkan.

Begitu Noah datang dengan kemeja dosennya yang masih rapi, Viona langsung memasang senyum paling manis yang dia punya.

"Hm... Noah... lo ganteng banget deh hari ini," puji Viona. Nada suaranya dibuat selembut sutra, tapi efeknya malah bikin bulu kuduk Noah berdiri seketika.

"Nggak usah sok imut deh lo. Buruan bilang ada apa?" tanya Noah tanpa basa-basi. Dia duduk, tapi nggak menyentuh kopinya sama sekali. Matanya menatap Viona curiga, seolah Viona adalah virus komputer yang siap merusak sistem kerjanya.

Viona berdeham, mencoba mengatur ekspresi. "Jadi gini, soal pernikahan itu..."

"Ah, apaan sih! Lo serius mau nanggepin itu?" tanya Noah, memotong pembicaraan Viona bahkan sebelum satu kalimat selesai.

"Iiih, dengerin dulu!" Viona memukul meja pelan, kesal karena otoritasnya diabaikan. "Daripada kita berujung menua tanpa menikah, lebih baik menjalani pernikahan formalitas nggak, sih? Status doang yang nikah dan di depan orang tua aja. Selebihnya? Kita tetap jadi diri sendiri. Lo dengan urusan lo, gue dengan dunia gue."

Noah menyandarkan punggung, menatap Viona dengan tatapan 'lo-ngomong-apa-sih'.

"Enggak ya, Vio... itu artinya kita harus tinggal bareng, kan?" gerutu Noah. "Lo tahu sendiri orang tua kita gilanya kayak apa. Mereka pasti bakal beliin rumah yang dekat sama rumah mereka juga supaya gampang dipantau. Kalau udah gitu, mau sandiwara kayak apa lagi? Lo mau gue mati muda karena pura-pura bahagia tiap hari?"

Viona bungkam sebentar. Dia belum kepikiran soal detail rumah itu.

"Enggak ada ya bahas ini lagi, Vio. Kita akhiri aja di sini obrolan soal ini," ucap Noah telak. Dia berdiri, bahkan sebelum es di kopinya sempat mencair. "Lebih baik lo pulang sekarang. Sebelum Bibi Rose benar-benar seret lo keluar dari kartu keluarga."

Noah berbalik dan meninggalkan coffee shop itu tanpa menoleh lagi. Meninggalkan Viona yang cuma bisa melongo menatap punggung tegap itu dengan perasaan campur aduk antara malu, marah, dan... sedikit panik.

"Sialan," umpat Viona pelan. "Awas lo ya, Noah. Lihat aja nanti."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!