NovelToon NovelToon
Ingat Aku Meski Kau Lupa

Ingat Aku Meski Kau Lupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Rebirth For Love / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:898
Nilai: 5
Nama Author: jaaparr.

Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏

Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!

Donasi ke aku:
Saweria: parleti

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22. Kerja Kelompok

Seminggu telah berlalu sejak pertemuan pertama mereka untuk mengerjakan tugas kelompok. Hari ini, mereka berencana untuk bertemu lagi di rumah Cinta untuk melanjutkan pekerjaan mereka.

Asha datang lebih awal dari yang lain. Ia membantu Cinta menyiapkan ruang tamu dan camilan.

"Sha, lo yakin gapapa hari ini?" tanya Cinta sembari menyiapkan minuman.

Asha mengangguk. "Gapapa kok, Cin. Gw udah biasa."

"Gw cuma gak mau lo maksa diri lo aja" ucap Cinta dengan nada khawatir.

"Tenang aja. Gw baik-baik aja" ucap Asha dengan senyuman yang berusaha meyakinkan.

Tidak lama kemudian, bel rumah berbunyi. Cinta membukakan pintu dan tampaklah Arsa berdiri di sana dengan tas punggungnya.

"Pagi" sapa Arsa dengan senyuman tipis.

"Pagi, Arsa. Yuk masuk" ajak Cinta.

Arsa masuk dan langsung melihat Asha yang duduk di sofa. Mata mereka bertemu sejenak sebelum keduanya cepat-cepat mengalihkan pandangan.

"Pagi" sapa Arsa canggung.

"Pagi" balas Asha singkat.

Suasana menjadi sedikit canggung. Untungnya, tidak lama kemudian Raya datang dengan senyuman lebar yang langsung mencairkan suasana.

"Hmm, pagi semuanya! Maaf telat dikit. Tadi macet di jalan" ucap Raya sembari duduk di samping Asha.

"Gapapa kok. Kita juga baru aja mau mulai" ucap Cinta.

Mereka berempat lalu mulai mengerjakan tugas. Arsa dan Raya fokus menyelesaikan konten presentasi, sementara Asha dan Cinta mengerjakan video dan desain.

🌷🌷🌷🌷

Beberapa jam kemudian, mereka memutuskan untuk istirahat sejenak. Cinta menyiapkan snack dan minuman untuk mereka semua.

"Capek juga ya. Tapi lumayan, udah setengah jalan nih" ucap Cinta sembari minum.

"Hmm, iya. Tinggal finalisasi aja. Kayaknya minggu depan udah bisa kita presentasiin" ucap Raya dengan optimis.

Saat mereka sedang istirahat, Arsa tidak sengaja menumpahkan minumannya ke laptopnya sendiri.

"Waduh!" seru Arsa panik.

Asha yang melihat itu langsung reflek mengambil tissue dan membantu mengeringkan laptop Arsa.

"Cepet cabut chargernya!" perintah Asha dengan cepat.

Arsa mengikuti instruksi Asha. Mereka berdua bekerja sama membersihkan laptop dengan cepat.

"Makasih, Asha" ucap Arsa dengan tulus setelah semuanya beres.

Asha tersenyum tipis. "Sama-sama."

Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Dan di saat itu, ada sesuatu yang mengalir di antara mereka. Sesuatu yang hangat dan familiar.

Tapi moment itu cepat berlalu ketika Raya ikut mendekat.

"Hmm, laptopnya gapapa kan?" tanya Raya dengan nada khawatir.

"Gapapa kok. Untung cepet dibersiin" jawab Arsa sembari tersenyum ke arah Raya.

Asha yang melihat itu langsung mengalihkan pandangan. Di dalam hatinya, ada perasaan aneh yang muncul.

'Kenapa gw masih peduli ya...' batin Asha dengan perasaan yang campur aduk.

🌷🌷🌷🌷

Sore harinya, saat mereka hampir selesai dengan pekerjaan hari itu, tiba-tiba Arsa mengusulkan sesuatu.

"Eh, gimana kalau kita ambil video di taman kota? Buat bagian penutup presentasi. Kita bisa bikin video di tengah alam gitu" usul Arsa.

"Hmm, ide bagus! Kapan kita kesana?" tanya Raya dengan antusias.

"Gimana kalau besok sore? Cuacanya lagi bagus-bagusnya" usul Cinta.

Mereka semua setuju. Kecuali Asha yang terdiam dengan wajah yang sedikit pucat.

Taman kota. Tempat di mana Arsa dulu menembaknya. Tempat yang penuh kenangan indah.

"Sha, lo setuju kan?" tanya Cinta memastikan.

Asha tersadar dari lamunannya. "Eh, iya. Gw setuju."

Meskipun di dalam hatinya, ia merasa tidak nyaman dengan ide itu.

🌷🌷🌷🌷

Keesokan harinya, mereka berempat bertemu di taman kota dengan membawa kamera dan perlengkapan lainnya.

Asha berjalan dengan langkah yang berat. Setiap sudut taman ini mengingatkannya pada kenangan manis bersama Arsa.

Di sana ada bangku di mana Arsa dulu menembaknya. Di sana ada pohon tempat mereka berfoto bersama. Di sana ada jalan setapak tempat mereka sering berjalan sambil bergandengan tangan.

Semuanya... Semuanya masih sama. Yang berbeda hanya perasaan Arsa yang sudah tidak sama lagi.

"Sha, lo gapapa? Mukanya pucat" tanya Cinta dengan nada khawatir.

"Gapapa kok. Gw cuma... Cuma sedikit lelah aja" bohong Asha.

Mereka lalu mulai mengambil video. Arsa dan Raya yang bertugas di depan kamera, sementara Asha dan Cinta yang mengoperasikan kamera.

"Hmm, Arsa! Berdiri di sebelah pohon itu. Iya, di situ bagus" instruksi Raya sembari mengatur posisi Arsa.

Asha yang melihat itu hanya bisa terdiam. Pohon itu... Pohon itu adalah pohon tempat mereka berfoto pertama kali sebagai sepasang kekasih.

'Kenapa harus di pohon itu...' batin Asha dengan hati yang sesak.

Saat sedang mengambil video, tiba-tiba Raya berdiri di samping Arsa. Mereka berdua tersenyum ke arah kamera dengan pose yang natural.

"Hmm, Arsa ingat gak? Dulu kita sering main di taman ini waktu SD" ucap Raya dengan senyuman.

"Iya! Kita sering main petak umpet di sini" jawab Arsa sembari tertawa.

Mereka berdua lalu tertawa bersama, mengingat kenangan masa kecil mereka.

Asha yang memegang kamera merasakan tangannya bergetar. Air matanya mulai berkumpul di pelupuk mata.

'Gw... Gw gak sanggup...' batin Asha dengan perasaan yang begitu sakit.

"Cut! Oke, bagian ini udah oke!" seru Cinta menghentikan recording.

Asha cepat-cepat menyerahkan kamera ke Cinta. "Cin, gw mau ke toilet bentar."

Sebelum Cinta sempat menjawab, Asha sudah berlari menuju toilet umum yang ada di taman.

🌷🌷🌷🌷

Di toilet, Asha berdiri di depan wastafel sembari menahan tangisannya. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, berusaha menenangkan diri.

'Gw harus kuat. Gw gak boleh nangis di sini' ucap Asha pada dirinya sendiri.

Tapi air matanya tetap jatuh. Ia tidak bisa menahannya lagi.

"Kenapa... Kenapa harus di tempat ini..." isak Asha dengan suara yang tercekat.

"Tempat ini penuh kenangan gw sama Arsa. Tapi sekarang... Sekarang dia di sini sama Raya..."

Asha jatuh berlutut di lantai toilet. Menangis dalam diam, berusaha agar tidak ada yang mendengar.

Sementara itu, di luar, Cinta yang menyadari kepergian Asha langsung merasa khawatir.

"Gw ke toilet dulu ya. Kalian lanjutin aja dulu" ucap Cinta kepada Arsa dan Raya.

Cinta lalu berjalan cepat menuju toilet. Saat ia masuk, ia melihat Asha yang duduk di lantai sembari menangis.

"Sha..." panggil Cinta dengan nada lembut.

Asha mengangkat kepalanya. Wajahnya basah oleh air mata.

"Cin... Gw gak kuat. Gw pikir gw udah bisa, tapi ternyata gw masih... Gw masih sakit banget..." isak Asha.

Cinta langsung memeluk Asha dengan erat. "Gw tau, Sha. Gw tau ini berat banget buat lu."

"Tempat ini... Tempat ini penuh kenangan gw sama Arsa. Tapi sekarang dia di sini sama Raya. Dia... Dia tertawa dengan Raya di tempat yang dulu penuh kenangan kami berdua..." ucap Asha dengan suara yang putus-putus.

"Sha, dengerin gw. Lu gak harus maksa diri lu buat kuat. Kalau lu mau pulang, gw bakal bilang ke mereka" ucap Cinta.

Asha menggeleng cepat. "Enggak. Gw gak mau bikin mereka khawatir. Gw... Gw harus kuat."

Asha berdiri dan membasuh wajahnya lagi. Ia mengatur nafasnya, berusaha menenangkan diri.

"Gw baik-baik aja. Ayo kita balik" ucap Asha dengan senyuman yang dipaksakan.

Cinta menatap Asha dengan tatapan khawatir, tapi ia tidak memaksa.

🌷🌷🌷🌷

Mereka kembali ke tempat Arsa dan Raya. Arsa yang melihat Asha langsung merasa ada yang aneh.

"Asha, kamu gapapa? Matamu merah" tanya Arsa dengan nada khawatir.

Asha cepat-cepat menggeleng. "Gapapa kok. Cuma kena debu aja."

Arsa tidak terlihat yakin, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

Mereka lalu melanjutkan pengambilan video. Kali ini, Cinta yang memegang kamera, sementara Asha hanya duduk di bangku taman sembari mengawasi.

Dari kejauhan, ia melihat Arsa dan Raya yang sedang berpose bersama. Mereka terlihat begitu cocok. Begitu bahagia.

'Mungkin... Mungkin memang mereka yang ditakdirkan bersama' batin Asha dengan senyuman pahit.

Tiba-tiba, angin berhembus kencang. Topi Raya yang ia pakai terbang terbawa angin.

"Hmm, ya ampun! Topiku!" seru Raya.

Arsa langsung berlari mengejar topi itu. Ia berhasil menangkapnya dan kembali ke Raya dengan senyuman lebar.

"Nih, topinyas" ucap Arsa sembari menyerahkan topi itu.

"Hmm, makasih Arsa! Kamu baik banget deh" ucap Raya dengan pipi yang merona.

Arsa lalu membantu Raya memakai topinya. Tangannya menyentuh rambut Raya dengan lembut, memastikan topi itu terpasang dengan baik.

Moment itu terekam oleh kamera Cinta.

Asha yang melihat itu merasakan dadanya seperti ditusuk. Tangannya mengepal begitu kencang hingga kukunya menancap ke telapak tangan.

'Arsa dulu juga sering lakuin itu ke gw...' batin Asha dengan air mata yang mulai jatuh lagi.

'Tapi sekarang... Sekarang dia lakuin itu ke Raya...'

Asha tidak sanggup lagi melihat. Ia berdiri dari bangku dan berjalan menjauh dari mereka.

"Sha, mau kemana?" tanya Cinta.

"Gw... Gw mau jalan-jalan bentar. Lo terusin aja dulu" ucap Asha dengan suara yang bergetar.

Sebelum Cinta sempat menghentikan, Asha sudah berjalan cepat menjauh.

🌷🌷🌷🌷

Asha berjalan tanpa arah yang jelas. Kakinya membawanya ke sudut taman yang sepi.

Di sana, ia melihat bangku di mana Arsa dulu menembaknya. Bangku yang menjadi saksi bisu dimulainya kisah cinta mereka.

Asha duduk di bangku itu sembari memeluk lututnya. Air matanya jatuh begitu deras.

"Arsa... Kenapa kita harus berakhir seperti ini?" bisik Asha dengan suara yang tercekat.

"Dulu kita bahagia di tempat ini. Tapi sekarang... Sekarang lo bahagia di tempat yang sama, tapi bukan sama gw..."

Asha menangis sejadi-jadinya di bangku itu. Membiarkan semua rasa sakit yang ia pendam keluar.

Sementara itu, Arsa yang menyadari kepergian Asha mulai merasa khawatir.

"Asha ke mana ya?" tanya Arsa kepada Cinta.

"Dia bilang mau jalan-jalan bentar" jawab Cinta dengan nada yang sedikit dingin.

Arsa merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Ia lalu berjalan mencari Asha, meninggalkan Raya dan Cinta.

Tidak butuh waktu lama bagi Arsa untuk menemukan Asha. Ia melihat gadis itu duduk sendirian di bangku yang... Bangku yang familiar di matanya.

'Bangku ini... Kenapa rasanya familiar ya?' batin Arsa dengan perasaan aneh.

Arsa berjalan mendekat. Saat ia semakin dekat, ia bisa mendengar isakan tangis Asha.

"Asha..." panggil Arsa dengan lembut.

Asha tersentak. Ia cepat-cepat menghapus air matanya dan berdiri.

"Arsa... Lo... Lo ngapain di sini?" tanya Asha dengan suara yang serak.

"Aku khawatir sama kamu. Kamu... Kamu nangis?" tanya Arsa meskipun jawabannya sudah jelas.

Asha menggeleng cepat. "Enggak kok. Gw cuma... Cuma kena angin aja."

Arsa tidak percaya. Ia berjalan lebih dekat ke Asha.

"Asha, aku tau kamu nangis. Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Arsa dengan nada khawatir.

Asha tertawa pahit. "Sakit? Iya, Arsa. Gw sakit. Tapi bukan sakit fisik."

Arsa terdiam mendengar ucapan Asha.

"Gw sakit hati, Arsa. Gw sakit hati harus liat lo bahagia sama Raya di tempat yang dulu penuh kenangan kita berdua" ucap Asha dengan air mata yang kembali jatuh.

"Asha—"

"Lo tau gak, Arsa? Bangku ini... Bangku ini adalah tempat lo nembak gw dulu. Tempat di mana lo bilang lo sayang sama gw. Tempat di mana semua dimulai..." potong Asha dengan suara yang bergetar.

Arsa merasakan dadanya sesak mendengar ucapan Asha. Ia menatap bangku itu dengan tatapan yang penuh dengan sesuatu... Sesuatu yang ia tidak bisa jelaskan.

"Tapi sekarang... Sekarang lo ada di sini sama Raya. Lo tertawa sama dia. Lo bahagia sama dia. Sementara gw..." Asha tidak sanggup melanjutkan.

"Maafkan aku, Asha. Aku... Aku gak tau..." ucap Arsa dengan suara yang penuh penyesalan.

"Gak tau? Atau emang udah gak peduli?" tanya Asha dengan tatapan yang tajam.

Arsa tidak bisa menjawab. Karena ia sendiri tidak tau jawabannya.

Asha tersenyum pahit. "Udah, Arsa. Gw capek. Gw capek ngeliat lo sama Raya. Gw capek berusaha buat gapapa padahal gw masih sakit."

"Gw mau pulang duluan. Bilang ke Cinta sama Raya kalau gw lagi gak enak badan" ucap Asha lalu berjalan melewati Arsa.

Arsa ingin menghentikan Asha, tapi kakinya seolah terpaku di tempat. Ia hanya bisa menatap punggung Asha yang menjauh dengan perasaan yang campur aduk.

'Asha... Maafkan aku...'

TO BE CONTINUED

🌷🌷🌷🌷🌷

Waduhh sedih banget nih! Asha harus mengerjakan tugas di tempat yang penuh kenangan sama Arsa, tapi sekarang Arsa di sana bareng Raya 😭💔

Kasian banget Asha, dia udah berusaha kuat tapi tetep aja gak sanggup liat moment manis Arsa dan Raya...

Kira-kira Asha masih bisa bertahan? Atau dia beneran bakal nyerah?

Penasaran kan kelanjutannya? Yuk stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!

@jaaparr

1
Maya Lara Faderik
sangat penasay..
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku
jaaparr: Siapp kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!