NovelToon NovelToon
The Librarian'S Midnight Guest

The Librarian'S Midnight Guest

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Fantasi Wanita / Harem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Kebebasan yang Singgah

Satu minggu berlalu tanpa bayangan jubah hitam di sudut mata. Tidak ada aroma dingin yang mencekam di hari ini, tidak ada mawar misterius di atas meja, dan yang terpenting, tidak ada tatapan mata merah yang menghujam jantungnya. Valerius benar-benar menghilang.

Genevieve menarik napas dalam-dalam saat ia melangkah keluar dari perpustakaan sore itu. Udara terasa lebih ringan, seolah-olah beban mistis yang selama ini menekan pundaknya telah menguap bersama hilangnya sang vampir.

Tamparan itu rupanya cukup untuk menyadarkan monster itu bahwa Genevieve bukanlah miliknya.

"Miss Genevieve!" sebuah suara riang memanggilnya dari seberang jalan.

Itu Julian. Pria berkacamata itu melambaikan tangan dengan semangat, mengenakan jaket cokelat yang sedikit kebesaran namun membuatnya terlihat sangat membumi dan hangat.

"Tuan Julian? Anda masih di kota ini?" tanya Genevieve sambil menghampirinya, sebuah senyum tulus akhirnya terukir di wajahnya tanpa rasa takut akan ada yang cemburu.

"Saya harus menyelesaikan laporan akhir saya, dan sejujurnya..." Julian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersipu. "Saya berharap bisa bertemu dengan Anda lagi. Bagaimana kalau kita berbincang sebentar di kafe seberang? Saya dengar mereka punya pai apel terbaik."

Genevieve sempat ragu sejenak, melirik ke arah bayang-bayang pohon di pinggir jalan. Namun, ia segera menepis pikiran itu. Dia sudah pergi, Genevieve. Jangan biarkan dia menghantui pikiranmu lagi.

"Tentu, saya rasa secangkir cokelat panas dan pai apel terdengar sangat menyenangkan," jawab Genevieve.

Di dalam kafe yang hangat dan diterangi lampu-lampu kekuningan, suasana terasa sangat normal. Julian adalah pendengar yang baik. Ia bercerita tentang ambisinya di universitas, tentang keluarganya yang sederhana, dan tentang hal-hal kecil yang membuat Genevieve tertawa lepas.

"Anda memiliki tawa yang sangat indah, Genevieve," ucap Julian lembut, menatap gadis itu dari balik kacamatanya. "Sayang sekali jika hari-hari Anda hanya dihabiskan di antara buku-buku tua yang berdebu."

Julian mengulurkan tangan, hendak menyingkirkan sehelai rambut yang menutupi mata Genevieve.

Untuk sesaat, Genevieve merasa tenang. Inilah hidup yang ia inginkan—kedamaian, percakapan manusiawi, dan seseorang yang menatapnya dengan kekaguman, bukan obsesi.

Namun, di tengah kehangatan kafe itu, Genevieve tiba-tiba merasakan firasat buruk. Bulu kuduknya berdiri. Meskipun ia tidak melihat sosok Valerius, ia merasa seolah-olah suhu di sekitarnya perlahan-lahan menurun.

Gelas cokelat panas di tangannya tiba-tiba terasa tidak lagi mengepulkan asap.

Ia melirik ke arah jendela besar kafe yang menghadap ke jalanan yang mulai gelap.

Di sana, di balik kaca yang mulai berembun, ia tidak melihat siapa pun. Tapi di permukaan embun kaca itu, sebuah tulisan muncul perlahan seolah digores oleh tangan tak kasatmata:

"Hanya sejenak, Genevieve."

Genevieve mengerjapkan matanya, lalu dengan sengaja mengalihkan pandangan dari jendela itu. Itu hanya embun yang membentuk pola aneh, pikirnya dalam hati, mencoba menyangkal segala kemungkinan mistTiga jam berlalu dengan sangat cepat.

Di dalam kafe tadi, Julian benar-benar membuat Genevieve lupa akan statusnya sebagai "milik" seorang monster. Mereka tertawa, berdebat kecil tentang teori sejarah, dan menikmati kopi yang mengepul. Julian adalah pelarian yang sempurna dari kegelapan yang selama ini menghimpitnya.

"Astaga, sudah jam tujuh malam!" Julian berseru sambil melihat jam sakunya. Wajahnya tampak panik sekaligus menyesal.

"Maafkan aku, Genevieve. Aku benar-benar harus kembali ke penginapan. Ada berkas penelitian yang harus kukirim ke universitas pusat malam ini juga melalui kurir terakhir."

"Oh, jangan khawatir, Julian. Pekerjaanmu lebih penting," jawab Genevieve tulus.

Julian berdiri, merapikan kacamata dan tas kulitnya. "Terima kasih untuk waktu yang luar biasa ini. Kau membuat kota kecil yang dingin ini terasa sangat hangat. Aku akan mampir lagi besok pagi sebelum aku pergi, janji."

Genevieve mengantarnya sampai ke pintu depan kafe. Setelah Julian menghilang di kegelapan gang menuju penginapannya, Genevieve berjalan pulang sendirian menuju perpustakaan. Jalanan sudah sangat sepi, dan kabut tipis mulai turun menyelimuti aspal.

Sesampainya di depan pintu perpustakaan, Genevieve merasa suasana hatinya sangat baik. Ia merasa kuat. Ia merasa bahwa ia telah memenangkan pertempuran mental melawan Valerius dengan cara mengabaikannya sepenuhnya.

Namun, begitu ia memasukkan kunci ke lubang pintu dan memutarnya, pintu itu terbuka dengan sendirinya sebelum ia sempat mendorongnya.

Di dalam perpustakaan yang gelap gulita, aroma mawar dan anggur merah tercium sangat tajam—jauh lebih kuat daripada biasanya. Genevieve membeku di ambang pintu. Ia meraba dinding, mencari pemantik untuk menyalakan lampu minyak di dekat pintu masuk.

Begitu api kecil menyala, jantung Genevieve hampir copot.

Di tengah ruangan, di atas meja baca utama yang biasanya kosong, kini tersaji sebuah jamuan makan malam mewah.

Lilin-lilin perak menyala dengan api biru yang tenang. Ada daging panggang yang masih berasap, buah-buahan segar, dan sebotol anggur merah yang sudah terbuka.is. Atau mungkin ada anak kecil yang iseng mencoret kaca dari luar.

Tiga jam berlalu dengan sangat cepat. Di dalam kafe tadi, Julian benar-benar membuat Genevieve lupa akan statusnya sebagai "milik" seorang monster.

Mereka tertawa, berdebat kecil tentang teori sejarah, dan menikmati kopi yang mengepul. Julian adalah pelarian yang sempurna dari kegelapan yang selama ini menghimpitnya.

"Astaga, sudah jam tujuh malam!" Julian berseru sambil melihat jam sakunya. Wajahnya tampak panik sekaligus menyesal. "Maafkan aku, Genevieve. Aku benar-benar harus kembali ke penginapan.

Ada berkas penelitian yang harus kukirim ke universitas pusat malam ini juga melalui kurir terakhir."

"Oh, jangan khawatir, Julian. Pekerjaanmu lebih penting," jawab Genevieve tulus.

Julian berdiri, merapikan kacamata dan tas kulitnya. "Terima kasih untuk waktu yang luar biasa ini. Kau membuat kota kecil yang dingin ini terasa sangat hangat. Aku akan mampir lagi besok pagi sebelum aku pergi, janji."

Genevieve mengantarnya sampai ke pintu depan kafe. Setelah Julian menghilang di kegelapan gang menuju penginapannya, Genevieve berjalan pulang sendirian menuju perpustakaan. Jalanan sudah sangat sepi, dan kabut tipis mulai turun menyelimuti aspal.

Sesampainya di depan pintu perpustakaan, Genevieve merasa suasana hatinya sangat baik.

Ia merasa kuat. Ia merasa bahwa ia telah memenangkan pertempuran mental melawan Valerius dengan cara mengabaikannya sepenuhnya.

Namun, begitu ia memasukkan kunci ke lubang pintu dan memutarnya, pintu itu terbuka dengan sendirinya sebelum ia sempat mendorongnya.

Di dalam perpustakaan yang gelap gulita, aroma mawar dan anggur merah tercium sangat tajam—jauh lebih kuat daripada biasanya. Genevieve membeku di ambang pintu. Ia meraba dinding, mencari pemantik untuk menyalakan lampu minyak di dekat pintu masuk.

Begitu api kecil menyala, jantung Genevieve hampir copot.

Di tengah ruangan, di atas meja baca utama yang biasanya kosong, kini tersaji sebuah jamuan makan malam mewah. Lilin-lilin perak menyala dengan api biru yang tenang. Ada daging panggang yang masih berasap, buah-buahan segar, dan sebotol anggur merah yang sudah terbuka.

Genevieve bahkan tidak melirik ke arah meja makan mewah itu, apalagi pada pria yang duduk di sana. Ia melangkah melewati Valerius seolah-olah pria itu hanyalah debu yang mengganggu pemandangannya.

Wajahnya datar, tanpa ekspresi, seakan semua kemewahan dan intimidasi yang ditunjukkan Valerius tidak lebih dari sekadar lelucon yang membosankan.

Langkah kakinya terdengar mantap di atas tangga kayu menuju loteng. Begitu sampai di depan kamarnya, ia masuk dan BRAK!

Ia membanting pintu kayu itu sekuat tenaga hingga debu-debu dari langit-langit berjatuhan. Suara dentuman itu bergema di seluruh penjuru perpustakaan yang sunyi, menjadi jawaban paling tegas atas segala upaya Valerius untuk menarik perhatiannya.

Di dalam kamar, Genevieve segera memutar kunci. Ia tidak menyalakan lampu. Dalam kegelapan, ia bersandar di balik pintu, napasnya sedikit memburu. Bukan karena takut, tapi karena ia masih sangat marah.

"Pikirnya dia siapa bisa mengatur jam pulangku?" desisnya pelan.

Ia melepas sepatunya dengan kasar dan melemparkannya ke sudut ruangan. Ia menolak untuk merasa terkesan dengan jamuan makan malam itu. Baginya, semua itu hanyalah upaya manipulasi lain. Ia lebih memilih perutnya lapar daripada harus duduk satu meja dengan monster yang telah menghapus sejarah keluarganya.

Sementara itu, di bawah sana, Valerius masih berdiri mematung. Ia menatap ke arah tangga dengan gelas kristal yang masih berada di tangannya. Keheningan yang ditinggalkan Genevieve terasa lebih menyakitkan daripada tamparan di pipinya tempo hari.

Gelas di tangan Valerius tiba-tiba retak. Cairan merah di dalamnya merembes keluar, membasahi jemari pucatnya. Ia tidak menyangka bahwa pengabaian Genevieve akan sedingin ini.

Gadis itu benar-benar memperlakukannya seolah-olah ia tidak eksis—sebuah hukuman yang jauh lebih kejam bagi makhluk abadi seperti dirinya.

1
May Maya
baru kali ini aku baca novel ada kata2 kiasan sekuat batu nisan biasanya kan sekeras n sekuat baja atau beton 🤭
May Maya
kacian velerius 😄
Afri
alur cerita nya bagus. . tidak buru buru .. mengalir dgn perlahan
keren
Afri
aku suka karya mu thor ..
cerita nya manis
May Maya
suka dgn genre ini
May Maya
vieve di dekati vampir tampan tp namanya makhluk gaib pasti takut jg ya vie🤭
May Maya
mulai baca Thor
treezz: semoga suka kakak🤭
total 1 replies
Afri
bagus
Afri
cerita nya bagus thor
fe
mantapp
anggita
👍👆 sip.,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!