NovelToon NovelToon
Dari Ribut Jadi Jodoh

Dari Ribut Jadi Jodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta setelah menikah / Kisah cinta masa kecil / Romansa / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Cerita ini adalah season dua dari karya "Cinta Masa Kecil Ustadz Athar"
***

"Abid... Kamu gak perlu merasa bertanggung jawab karna kemarin kita udah dalam posisi yang tak pantas, kita gak perlu menikah. Kita bisa menolak dan mengatakan itu pada kakek kamu dan semua orang. Kita gak harr-"
"Harus." Athar memotong ucapan Azzura cepat. "Kamu harus tanggung jawab."
"Loh kok aku? Dimana-mana yang dimintai pertanggungjawaban itu laki-laki, masa perempuan!" Azzura makin sewot.
"Ya udah ayo kita nikah kalau gitu. Aku mau tanggung jawab kok, meski kamu yang kemarin cium aku duluan."
"Ya itu karna gak sengaja, Abid. Kamu yang narik aku."
"Maka dari itu aku tanggung jawab."

Itu semua berawal dari Azzura yang berniat untuk mengagetkan Ayza tapi ia tidak tau bahwa itu Abidzar terjadilah mereka jatuh bersamaan dengan posisi tak pantas.

***

"aku kaya orang udah gak waras mau setuju aja nikah sama kamu!"
***
"Jadi kamu sudah tau apa tugas istri yang sesungguhnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebulan Tidak Makan Coklat

“Abid!” Azzura terkejut. “Ngapain sih kamu?!”

Abidzar memeluknya dari belakang. Dagu laki-laki itu bertumpu ringan di bahunya. Napasnya menyentuh helai rambut Azzura.

“Aku meluk kamu,” bisiknya santai. “Memangnya kenapa?”

Belum sempat Azzura membalas, Abidzar menurunkan kecupan kecil ke lehernya—sekilas, tapi cukup membuat Azzura merinding.

“Abidzar!” Azzura meronta. “Lepas! Aku gerah dipeluk kayak gini.”

“Kalau gerah…” Abidzar menjawab enteng, “…ya lepasin aja bajunya, Zuyaaa.”

Azzura berbalik dan mendongak menatap tajam Abidzar.

Plak!

Seketika pipi Abidzar mendapat hadiah berupa bekas telapak tangan Azzura.

"Aduh, sakit Zuyaaa." Abidzar meringis, mengusap bekas tamparan dari istrinya.

"Rasain," Azzura mendengus. "Kalau masih kurang sakit biar aku tambahin semakin biar mulut kamu gak asal ngomong."

"Memangnya ada yang salah dengan ucapan aku?"

"Pake nanya lagi? Kamu gak malu ngomong kaya gitu sama aku? Gak sopan banget tau ngomong gitu ke seorang perempuan."

Abidzar membalikkan tubuh Azzura untuk menatapnya, Azzura terke siap kaget saat pandangannya bertemu dengan dada bidang milik Abidzar.

Jantungnya kembali berdebar tak karuan.

"Ucapan aku yang mana yang gak sopan, hm?"

Azzura perlahan mundur, memberi jarak antara dirinya dengan Abidzar.

"Ya itu kamu ngomongnya gak disaring banget. Inga, aku ini-"

"Kamu istri aku, Zuyaaa." Potong Abidzar sebelum Azzura sempat menyelesaikan ucapannya. "Jadi bagian mananya yang gak sopan?"

"Yaaa bicaranya di kontrol dong. Kamu gak malu apa ngomong kaya gitu sama aku."

Abidzar menghela napas kecil. “Masalahnya di mana? Kamu istriku. Hal-hal kayak gitu normal dibicarakan. Yang nggak normal itu kalau aku ngomong begitu ke perempuan lain.”

Azzura memberengut, kehabisan bantahan.

"Ya harusnya kamu tau, hal kaya gitu tuh bukan hal yang biasa untuk aku."

"Ya makanya dibiasain. Kamu harus mulai terbiasa dengan sentuhan-sentuhan aku. Ingat, aku suami kamu, Zuyaaa."

"Enak aja. Kamu gak boleh grepe-grepe aku lagi tanpa persetujuan aku ya!"

Abidzar tergelak. "Bahasa kamu kaya aku berdosa banget sentuh kamu, tau gak."

"Ya emang!" Sahut Azzura cepat.

"Mana ada kayak gitu. Yang ada itu istri yang menolak suami itu hukumnya dosa, Zuya. Kamu pasti kan sudah belajar Qurratul 'Uyun kan? Seharusnya kamu sudah tau kan bagaimana hukum seorang istri yang menolak suami."

Ya iya sih, Azzura sudah belajar hal itu bahkan sudah tamat. Ia diajarkan oleh Ummanya. Meski Azzura sekolahnya lanjut di sekolah umum. Tapi Abi dan Ummanya tetap mengajarkan kitab dan lain-lain pada Azzam dan juga Azzura.

Lagi-lagi Azzura hanya bisa mengalah sambil mengerucutkan bibirnya karena semua yang Abidzar ucapan memang benar.

"Oh iya dari tadi aku sebenarnya mau nanya ini. Kamu gak kesakitan kan? Aku gak nyakitin kamu kan semalam? Aku tau pasti ketika pertama kali seorang wanita melakukan hubungan pasti akan terasa sakit, berbeda dengan laki-laki. Kebanyakan wanita akan mengalami trauma, apa semalam aku melakukan hal-hal yang menyakiti kamu?"

"Abidzar ini kenapa sih, kenapa harus nanya kaya gitu, coba?" Batin Azzura.

Azzura hanya bisa menunduk, agar Abidzar tidak melihat pipinya yang memerah.

"Kenapa diam, Zuya? Apa sakit banget? Aku minta maaf ya kalau tindakan aku semalam buat kamu sakit."

"Aku tau kita sama-sama pemula untuk urusan ini tapi aku rasa ini harus dibahas. Aku gak mau menyakiti kamu ke depannya, Zuya. Hubungan suami istri bukan hanya tentang seorang istri yang melayani suami. Ini hubungan dia arah, salah satu cara untuk saling mengasihi antara suami dan istri, kalau cuma aku yang merasa bahagia dengan hubungan ini sementara kamu tidak, aku akan merasa menjadi suami paling berdosa. Jadi tolong, kalau kamu tidak nyaman tolong beri tau aku. Oke, Zuya?"

Azzura mengangguk pelan dan menjawab seadanya. "Iya."

"Jadi gimana? Apa aku menyakiti kamu semalam?"

Azzura meringis pelan. Lalu menjawab sedatar mungkin. "Ah iya aku gapapa kok."

Abidzar terkekeh pelan. "Apa ada tindakan aku yang buat kamu merasa gak nyaman?"

Azzura berdecak. "Emangnya harus banget aku jawab ya?"

"Harus dong, Kita. Biar aku tau apa yang kamu rasain."

Azzura mendengus kesal. "Gak tau, aku tiba-tiba lupa."

"Ya udah kalau gitu nanti kita reka ulang aja adegan semalam biar kamu ingat lagi. Gimana?"

"ABIDZAAAARRR!!" Pekik Azzura tepat di telinga Abidzar.

"Iyaa iyaaa gak usah teriak-teriak kaya gitu. Ini masih subuh tau. Lagian ngomong sama siami itu harus lembut, jangan teriak begitu." Ucap Abidzar kemudian mencuri satu ciuman di bibir Azzura yang sejak tadi mengerucut karena cemberut.

Baru saja Azzura mau protes tapi Abidzar sudah lebih dulu melakukan pembelaan.

“Siapa suruh kamu manyun begitu,” katanya santai. “Kayak minta dicium.”

Azzura menatapnya tajam—bingung, kesal, sekaligus heran.

Sejak kapan Abidzar berubah seperti ini?

Sejak kapan teman ributnya yang dingin dan irit bicara berubah jadi laki-laki yang begitu berani, begitu… percaya diri?

Azzura menghela napas panjang.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, ia sadar—yang berubah bukan hanya status mereka, tapi juga cara Abidzar memandangnya.

***

Pagi itu, setelah sarapan sederhana di ndalem pesantren, Azzura menghampiri Abidzar yang sedang merapikan tasnya.

“Abid…” panggilnya pelan.

“Hm?”

“Aku mau ke rumah Abi sama Umma.”

Abidzar menoleh. Tidak langsung menjawab.

“Boleh,” katanya akhirnya. “Tapi sama aku.”

Azzura mendongak cepat. “Kenapa harus—”

“Karena sekarang kamu tanggung jawab aku,” potong Abidzar lembut, bukan mengekang. “Aku nemenin.”

Azzura mendengus kecil, tapi tidak membantah. “Yaudah.”

Azzura berjalan dengan pelan, karena ia masih merasakan kurang nyaman di pangkal pahanya.

"Kenapa kamu jalannya kaya gitu?"

"Pake nanya lagi. Ini ulah kamu."

Abidzar menatap lekat Azzura. "Kamu kesakitan? Kenapa gak ngomong pas aku tanya tadi, Zuyaaa?"

"Udah deh gak usah lebay. Aku gapapa kok."

"Yaudah tapi aku bakalan tetep di samping kamu."

"Terserah."

Begitu sampai di rumah orang tuanya, Azzura bahkan tidak menunggu pintu tertutup sempurna. Ia langsung menghampiri Arsyila dan Athar.

“Abi... Umma! Assalamu'alaikum."

Ia memeluk keduanya erat, seperti anak kecil yang lama tak pulang. Abidzar yang datang menyusul lebih dulu menyalami mertuanya dengan sopan.

“Assalamu’alaikum, Bi. Umma.”

“Wa’alaikumussalam, Nak,” jawab Athar sambil menepuk bahu Abidzar.

“Masya Allah,” Arsyila tersenyum hangat. “Pengantin baru."

Azzura masih memeluk Umma-nya. “Aku kangen…”

Athar tertawa kecil. “Baru juga semalaman.”

“Emang Abi sama Umma gak kangen aku?” Azzura mendongak manja.

“Kangen,” jawab Athar.

“Umma juga,” sambung Arsyila.

Azzura menoleh ke arah Azzam yang berdiri dengan tangan terlipat.

“Abang gak kangen?”

“Hem,” jawab Azzam singkat.

“Ih,” Azzura mencibir. “Gengsi amat sih, Bang.”

Azzam menghela napas, tapi sudut bibirnya terangkat tipis.

Arsyila menoleh ke Abidzar. “Kalian sudah makan?”

“Sudah, Umma,” jawab Abidzar cepat.

Azzura ikut menimpali, mendekat ke Umma dengan suara dibuat selembut mungkin.

“Ummaaa…”

Arsyila menyipitkan mata, curiga. “Ada apa ini? Kok lembut sekali ngomongnya?”

Ia menoleh sebentar ke Abidzar. “Pasti ada hubungannya sama cokelat, ya?”

“Ah!” Azzura tertawa kaku. “Kita kan emang sehati, Umma.”

Azzam langsung menyahut, datar tapi menusuk. “Ingat, Zura. Janji kamu di mobil dua hari yang lalu.”

Abidzar mengernyit. “Janji apa?”

Athar dan Arsyila saling pandang—lalu sama-sama mengangguk pelan.

“Ah iya, Nak,” kata Athar. “Kamu ingat sendiri janjimu, kan?”

Azzura menepuk keningnya.

Astaghfirullah… ia benar-benar lupa.

“Nah,” Azzam melanjutkan. “Sekarang ingat, kan?”

“Tapi Bang—”

“Maaf,” Abidzar menyela sopan, menoleh ke mertuanya. “Sebenarnya janji apa, Bi? Umma?”

“Umma jangan dikasih tahu!” Azzura langsung panik.

Arsyila terkekeh. “Ih, nggak apa-apa. Kalau Abidzar gak tau, nanti kamu malah keenakan. Bisa-bisa dia beliin kamu cokelat lagi.”

Azzam lalu menceritakan semuanya—bagaimana Azzura dengan santainya berkata bahwa ia tidak akan makan cokelat selama sebulan kalau ia jatuh cinta atau menikah dengan Abidzar. Dan sekarang ia sudah menikah dengan Abidzar, meski belum ada cinta.

Selesai cerita, ruangan mendadak hening.

Azzura mengerucutkan bibir, wajahnya memerah. “Kalian nyebelin!”

Abidzar menoleh pelan ke arah istrinya. Tatapannya sulit ditebak. “Jadi… sebulan tanpa cokelat?” tanyanya tenang.

Azzura melipat tangan di dada. “Itu cuma omongan.”

“Omongan kamu sendiri,” Azzam mengingatkan.

Abidzar tersenyum kecil—bukan mengejek.

“Ya sudah,” katanya ringan. “Janji tetap janji.”

Azzura membelalak. “Kok kamu malah setuju sih?!”

Abidzar mendekat sedikit. “Tenang. Aku nggak kejam.”

“Terus?”

“Kalau kamu kangen cokelat,” katanya pelan, “bilang ke aku. Kita cari gantinya.”

Azzura menatapnya curiga. “Gantinya apaan?”

Abidzar tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum, tipis dan penuh arti.

Azzam menggeleng pelan. “Baru juga nikah,” gumamnya, “udah kompak bikin adik gue emosi.”

Azzura mendengus. “Abang pilih kasih.”

Dan pagi itu, di rumah yang sama, Azzura kembali merasa—meski hidupnya berubah arah, ia tidak kehilangan siapa pun.

****

Abidzar duduk berhadapan dengan Athar dan Arsyila di ruang tengah. Sikapnya tenang, bahunya tegap, sorot matanya mantap—bukan lagi sekadar menantu, melainkan seorang laki-laki yang sedang menyampaikan tanggung jawab.

“Ada satu hal yang ingin Abid sampaikan, Abi, Umma,” ucapnya sopan. “Tentang kuliah Azzura.”

Azzura yang duduk di samping Ummanya refleks menoleh.

“Abid ingin Azzura tetap melanjutkan kuliahnya,” lanjut Abidzar. “Tapi kalau bisa, dilanjutkan di kampus yang dekat sini. Dekat pesantren. Kampus tempat Umma dulu kuliah juga.”

Azzura langsung menyela, nada suaranya spontan. “Tapi, Abid… aku di Jakarta dapat beasiswa.”

Abidzar menoleh padanya, tatapannya lembut tapi penuh pertimbangan. “Aku tau, Zuya. Dan itu luar biasa. Tapi sekarang posisi kamu sudah berbeda.”

Athar mengangguk pelan. “Apa yang Abid katakan benar, Zura. Kalian sudah menikah. Tidak baik kalau harus tinggal berjauhan.”

Azzura menghela napas, lalu melirik Abidzar. “Terus nanti biaya kuliahku gimana?” tanyanya setengah bercanda, setengah khawatir. “Sayang Abiii beasiswa aku… siapa yang bayarin aku?”

Abidzar menjawab tanpa ragu. “Aku.”

Satu kata. Tegas.

Ruangan seketika hening.

Athar menatap Abidzar lebih dalam. “Maaf, Nak,” ucapnya hati-hati. “Bukan Abi meragukanmu. Tapi kamu sendiri masih kuliah. Ini tanggung jawab besar.”

Abidzar mengangguk hormat. “Abid paham, Abi. Tapi sejak akad kemarin, Zura sudah menjadi tanggung jawab Abid sepenuhnya. Insya Allah, semua kebutuhannya akan Abid penuhi.”

“Termasuk biaya kuliah?” tanya Arsyila pelan.

“Termasuk itu, Umma.”

Abidzar tersenyum tipis. “Abid masih punya tabungan. Dan Abid sudah hitung semuanya.”

Azzura membelalakkan mata. “Tapi… kita juga mau resepsi, kan?”

“Tenang,” jawab Abidzar tenang. “Itu juga sudah aku pikirkan.”

Athar menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil. “Baiklah. Kalau begitu Abi percaya.”

Ia menepuk bahu menantunya. “Kalau nanti butuh bantuan, jangan sungkan bilang ke Abi.”

“Iya, Abi,” jawab Abidzar mantap.

Percakapan berakhir. Namun Azzura justru semakin bingung.

Ia menatap Abidzar lama—heran, campur cemas.

Dari mana semua itu?

Tabungan? Mahar? Resepsi? Pindah kampus? Biaya kuliah?

Semua itu bukan angka kecil. Padahal Abidzar sendiri masih kuliah.

Azzura menggigit bibirnya pelan. Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia merasa… kecil.

Dan untuk pertama kalinya pula, ia menyadari satu hal yang membuat dadanya menghangat sekaligus sesak—Abidzar tidak sedang bermain peran sebagai suami.

Ia benar-benar sedang memikul tanggung jawab itu.

1
Nifatul Masruro Hikari Masaru
yang nurut bidz. pawangnya galak
Siti Java
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Anak manis
azzura di lawan 🤣
anakkeren
cepet sembuh abid😍
Nifatul Masruro Hikari Masaru
nah gitu dong baikan
syora
lah ank umma mau kamu ajak debat abidz
ckckck mau cari gr"🤭
Alana kalista
lanjutkan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
makanya bid pamit kalo pulang telat
Siti Java
up ge dong kk... gw seru ni🥰🥰
syora
wahhh ujian ya abidz,,,,kdng org tipe ceria klau dah marah DIEM itu yg bth ksbran nghadapinya
apa lgi nggak ksh kabar,,,,
maaf kmungkinan coklat kamu nggak mempan ya abidz
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh yang mulai cemburu
darsih
adyh bikin azura salah paham abidzar
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh pasangan ini bikin iri aja
Anak manis
cie cie😍
syora
nggak la zuya
awas kamu abidz bilang telat🤭
Nifatul Masruro Hikari Masaru
enggak telat kok malah seneng
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ea yang sudah mulai membuka diri
Fegajon: zuya luluh juga🤭
total 1 replies
syora
berasa berdampingan dg athar versi abidzar❤❤❤❤❤
mereka yg cerita,aku yang masyallah dag dig dug
Fegajon: iya ya🤭 seperti mengulang kisah mereka
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
abid jangan bikin jantung zuya copot
Siti Java
up ge dong kk🥰🥰🥰
Fegajon: nanti malam ya😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!