NovelToon NovelToon
Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Ahli Bela Diri Kuno / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.

"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"

[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Fondasi & Keputusan Besar

Jalan setapak yang berlapiskan sisa-sisa salju terbentang di hadapan Ji Zhen, membelah hutan hijau yang masih tertutup kabut pagi, mengarahkannya pada kota tujuan. Di belakangnya, Yang Huiqing berjalan dengan langkah yang disesuaikan sempurna, menjaga jarak lima langkah sesuai instruksi. Wanita itu mengenakan pakaian perjalanan sederhana, namun wajahnya tetap menyimpan sisa-sia kecantikan yang kini nampak memudar oleh ketakutan dan kepasrahan.

Matahari di sana mulai naik, menghangatkan tanah yang mereka pijak. Ji Zhen segera mengangkat tangannya, memberi isyarat berhenti tepat di depan sebuah warung sederhana di persimpangan jalan kaki gunung.

“Berhenti. Kita makan dulu,” perintah Ji Zhen tanpa menoleh.

Mereka pun duduk di bangku dari bambu panjang. Di sana Ji Zhen memesan dua porsi besar daging panggang dan nasi hangat, beruntung sekte memberinya uang yang cukup. Saat makanan datang, Yang Huiqing hanya diam, menatap piringnya dengan tangan yang diletakkan di atas pangkuan. Matanya melirik ragu ke arah Ji Zhen untuk menunggu izin.

“Makanlah,” ucap Ji Zhen.

Yang Huiqing segera menyambar sumpitnya. Ia makan dengan lahap, hampir tidak memedulikan bumbu yang sedikit berantakan di sudut bibirnya. Rasa lapar dan tekanan mental selama beberapa hari terakhir membuatnya kehilangan tata krama bangsawan yang dulu ia banggakan. Sedangkan Ji Zhen sibuk memperhatikan pemandangan itu, sebuah tawa puas keluar dari tenggorokannya. Melihat mantan kekasihnya makan seperti anjing kelaparan memberikan sensasi kemenangan yang luar biasa.

Namun, saat ia tertawa terlalu lebar sambil menyuap daging, Ji Zhen mendadak tersedak. Ia terbatuk-batuk hebat hingga wajahnya memerah.

“Kualat kau, Bocah,” ejek Zulong di dalam kepalanya, tawanya terdengar seperti gesekan logam yang tajam. “Kepuasan jangan sampai membuat dirimu menjadi tolol.”

Ji Zhen pun segera meminum airnya dengan terburu-buru, mencoba menenangkan dadanya. Ia mengusap mulutnya, merasa sedikit malu meski tidak ada orang lain yang memperhatikan selain Yang Huiqing yang kini menatapnya cemas.

“Kenapa kau lihat-lihat? Daging ini terlalu banyak lada!” ketus Ji Zhen, menutupi rasa malu dengan alasan yang dibuat-buat. Ia melirik piring Yang Huiqing yang hampir kosong, lalu menggeser sepotong paha ayam besar milik pribadinya ke piring wanita itu.

Sebenarnya, ada sedikit rasa bersalah yang terbersit di sudut hati Ji Zhen melihat kondisi wanita itu, namun ia segera menepisnya dengan logika dingin. Ini adalah harga dari sebuah pengkhianatan, pikirnya. Meski begitu, ia tetap memastikan Yang Huiqing tidak kelaparan.

“Makanlah sampai kenyang. Perjalanan kita ke Nancheng masih jauh dan aku tidak mau kau pingsan di tengah jalan sehingga merepotkanku,” lanjut Ji Zhen, mengalihkan topik dengan nada kasar yang dipaksakan.

“Kau terlalu lunak untuk ukuran seorang majikan,” suara Zulong kembali bergema. “Tapi lupakan soal wanita itu. Mari bicara soal masalah utama yang kau sembunyikan sejak tadi malam.”

Ji Zhen terdiam, wajahnya berubah serius. Di bawah meja, ia mengepalkan tangannya. Semalam, ia mencoba menggunakan pil pengumpul qi tingkat tinggi pemberian sekte untuk menerobos ke tahap Pembentukan Fondasi. Namun hasilnya gagal total. Bukan hanya gagal, setiap kali ia mencoba memadatkan qi, lima titik meridiannya yang rusak terasa seperti disiram air keras. Jalur energinya terlalu berantakan, tidak stabil, dan terasa sangat menyakitkan.

“Meridianku tidak kuat menahan kepadatan qi dari pil itu,” batin Ji Zhen pada Zulong. “Progresnya macet. Jika begini terus, aku akan tertahan di Lapis Puncak selamanya.”

“Tentu saja, Bodoh,” balas Zulong. “Kau melakukan terobosan paksa berkali-kali. Pil buatan manusia hanya mampu menambal permukaan, tapi tidak bisa menyambung kembali fondasi yang sudah rusak parah. Kau butuh sumber daya alam murni yang mengandung esensi bumi. Gua dengan qi tinggi atau harta kuno yang belum tersentuh tangan manusia. Di luar sekte kerdilmu itu, ada banyak hal yang bisa memperbaiki wadahmu.”

“Itu sebabnya kau menyuruhku ke Kota Nancheng?”

“Rumor tentang turnamen besar dan pasar harta karun di sana bukan sekedar berita angin. Di sana adalah tempat berkumpulnya barang-barang langka. Jika kau beruntung, kita bisa menemukan bahan untuk teknik Pemurnian Tubuh Naga. Tubuh ini butuh lebih banyak darah dan qi untuk jadi wadah sempurna bagiku.”

Ji Zhen pun menarik napas panjang, ambisinya kembali membara. Nancheng adalah kesempatan barunya. Ia berdiri, meletakkan beberapa keping koin di atas meja, lalu memberi isyarat pada Yang Huiqing untuk bangkit.

Mereka kembali berjalan menyusuri hutan yang mulai rapat. Namun, baru beberapa kilometer meninggalkan warung, langkah Ji Zhen terhenti. Indra pendengarannya yang tajam berkat bantuan Zulong menangkap gesekan langkah kaki di semak-semak.

“Siapa di sana? Keluar!” bentak Ji Zhen, tangan kanannya sudah memancarkan uap dingin yang membekukan udara di sekitarnya.

Tanpa permisi, tujuh orang pria berpakaian gelap dengan wajah tertutup kain melompat keluar dari balik pohon besar. Mereka memegang parang panjang yang berkilat tajam. Pemimpin mereka, seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka di mata, menatap Ji Zhen dengan tatapan haus darah.

“Serahkan semua batu roh dan wanita itu jika kau ingin kepalamu tetap berada di tubuhmu!” bentak sang pemimpin bandit.

Ji Zhen tidak takut. Ia justru menyeringai lebar, menatap para pengepungnya seolah-olah mereka adalah mangsa yang datang sendiri ke kandang singa. Kekuatan dao es naganya mulai merambat di ujung jarinya, mengubah suhu hutan kembali menurun drastis.

“Dunia luar ternyata menyambutku dengan cara yang sangat menyenangkan,” gumam Ji Zhen, bersiap melakukan pemanasan pertama dalam perjalanannya menuju puncak dunia.

1
YunArdiYasha
gas poll
MuhFaza
gas lanjutkan
MuhFaza
lanjut bg
Tuan Belalang
😍😍👍👍💪💪
YunArdiYasha
musuh
yuzuuu ✌
bagus ini ceritanya
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
😍👍👍👍
Tuan Belalang
sehat sehat othor
DanaBrekker: semoga semua pembaca karya othor juga sehat selalu
total 1 replies
Tuan Belalang
👍👍👍😍👍
Tuan Belalang
alamak, gukguk? 🤣
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
Tuan Belalang
eyuhh najis 😄
Tuan Belalang
astoge udh gak ketolong nih anak 🤣
Tuan Belalang
pffftt mampus 👍👍🤣
DanaBrekker: /Cleaver//Gosh/
total 1 replies
Tuan Belalang
curang gak sih bangg 🤭🤭🤣
Tuan Belalang
mampus aja luu
Tuan Belalang
ji zhen nih tahan banting 💪
Tuan Belalang
mff bawell thorr abs novelmu bagus 😄😍👍🤭
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
🤭😍👍👍👍
Tuan Belalang
benr tu kt zilong
Tuan Belalang
😍😍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!