Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.
Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:
"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."
Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Diagnosis Mematikan
"Halah, main ngadu. Telepon saja kalau berani!"
Sinta tertawa, tawa yang terdengar sumbang dan dipaksakan. Dia melipat tangan di dada, mencoba menutupi kegugupannya dengan postur tubuh yang angkuh. "Percuma Ibu telepon. Komandan Kalandra itu lagi memimpin rapat strategi tingkat tinggi. Ponselnya pasti dimatikan. Ibu pikir Komandan punya waktu buat meladeni rengekan istri manja yang minta dijemput di lobi?"
Zoya tidak langsung menjawab. Dia menurunkan ponselnya perlahan, lalu menatap dinding di belakang meja resepsionis. Di sana, terdapat panel indikator lift VIP yang lampunya menyala statis.
"Bohong," ucap Zoya datar.
Sinta mendengus. "Apanya yang bohong? Saya ini asisten pribadinya, saya yang atur jadwalnya!"
"Lampu indikator lift VIP berhenti di lantai empat. Itu lantai ruangan pribadi Kalan," tunjuk Zoya dengan dagunya. "Ruang rapat strategis ada di lantai dua. Kalau dia sedang rapat, lift itu harusnya ada di lantai dua."
Wajah Sinta menegang sedikit, tapi dia masih mencoba mengelak. "Ya... mungkin beliau balik sebentar ambil berkas!"
"Dan itu," potong Zoya lagi, matanya beralih ke pintu kaca di ujung lorong. "Raka, tangan kanan suami saya, baru saja lewat sambil membawa dua gelas kopi dan sebungkus rokok dengan santai. Sejak kapan rapat strategi tingkat tinggi memperbolehkan merokok dan ngopi santai di jam genting?"
Sinta terdiam, mulutnya terbuka sedikit tapi tidak ada suara yang keluar. Kebohongannya runtuh dalam hitungan detik hanya karena observasi sederhana.
Beberapa polisi jaga dan tamu yang ada di lobi mulai berbisik-bisik, menatap Sinta dengan pandangan curiga.
Zoya melangkah maju satu langkah. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Sinta refleks mundur sampai punggungnya menabrak meja resepsionis.
"Berhentilah bersikap agresif, Sinta. Itu bukan bentuk dedikasi. Itu efek samping," ucap Zoya. Suaranya tidak keras, tapi ketajamannya mampu mengiris nyali siapapun yang mendengarnya.
"M-maksud Ibu apa?" Sinta tergagap, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.
Zoya menatap Sinta dari atas ke bawah dengan tatapan medis—tatapan seorang dokter yang sedang membedah pasien di meja operasi.
"Lihat tanganmu," perintah Zoya, menunjuk tangan Sinta yang gemetar hebat saat memegang ujung meja. "Tremor halus yang tidak terkendali. Lalu keringat berlebih padahal AC lobi ini disetel di suhu delapan belas derajat. Dan matamu..."
Zoya mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap lurus ke bola mata Sinta. "Pupilmu melebar tidak wajar, dilatasi sempurna. Refleksmu jadi hiperaktif dan emosimu meledak-ledak tanpa sebab."
Suasana lobi menjadi hening. Semua orang menahan napas, menunggu vonis apa yang akan dijatuhkan istri Komandan ini.
"Kamu mengonsumsi obat diet ilegal, kan?" tembak Zoya tanpa ampun. "Obat murahan yang mengandung sibutramine dosis tinggi. Zat yang menekan nafsu makan dengan cara memacu jantung dan merusak sistem saraf pusat."
Wajah Sinta berubah pucat pasi, seputih kertas.
Rahasianya. Bagaimana Zoya bisa tahu?
"K-kamu nuduh sembarangan!" bantah Sinta, suaranya melengking panik.
"Aku tidak menuduh. Tubuhmu yang bicara," lanjut Zoya dingin. "Kamu rela merusak saraf dan jantungmu cuma demi terlihat kurus di depan Kalan? Sayang sekali, suamiku itu lebih suka wanita yang sehat akalnya daripada wanita kurus yang emosional dan penyakitan."
Bisik-bisik di sekitar mereka makin kencang.
"Eh, pantesan Si Sinta kurus mendadak dalam seminggu."
"Serem banget, pantesan marah-marah mulu kerjanya."
"Malu banget itu dikuliti sama Bu Zoya."
Sinta merasa dunianya runtuh. Dia dipermalukan di depan rekan kerjanya, di "kandang"-nya sendiri.
Rasa malu itu dengan cepat berubah menjadi kemarahan, lalu air mata buaya mulai menggenang di pelupuk matanya.
"ADA KERIBUTAN APA INI?!"
Suara bariton yang berat dan berwibawa menggelegar dari arah gerbang keamanan.
Semua orang sontak berdiri tegak dan memberi hormat. Kalandra muncul dengan langkah lebar, wajahnya garang seperti biasa. Lengan kemejanya digulung sebatas siku, memperlihatkan aura dominan yang membuat nyali ciut.
Melihat Kalandra datang, Sinta langsung memanfaatkan momen. Dia memasang wajah paling menyedihkan, air matanya langsung tumpah.
"Komandan!" Sinta berlari kecil menghampiri Kalandra, tangannya menunjuk-nunjuk Zoya dengan dramatis. "Ndan, tolong saya! Bu Zoya datang-datang langsung bikin onar. Dia maksa masuk melanggar SOP, terus dia menghina fisik saya! Dia... hiks... dia nuduh saya pakai narkoba di depan umum! Nama baik saya hancur, Ndan!"
Sinta menangis sesenggukan, berharap Kalandra akan membela anak buahnya seperti biasa. Dia yakin Kalandra akan marah karena istrinya membuat keributan di kantor polisi.
Kalandra berhenti tepat di depan mereka. Matanya menatap Sinta yang sedang play victim, lalu beralih ke Zoya yang berdiri tenang dengan wajah datar, sama sekali tidak terlihat merasa bersalah.
Zoya masih memegang rantang susun itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memasukkan stopwatch kembali ke saku.
"Benar begitu, Zoya?" tanya Kalandra, suaranya rendah.
Zoya mengangkat bahu. "Tanya saja sama SOP palsu anak buahmu."
Sinta tersenyum dalam hati. Kalandra pasti akan menegur Zoya. "Ndan, usir saja dia! Dia mengganggu ketertiban—"
Kalandra mengabaikan Sinta sepenuhnya. Dia melangkah melewati polwan yang sedang menangis itu seolah Sinta hanyalah butiran debu tak kasat mata.
Tangan besar Kalandra terulur, tapi bukan untuk menunjuk atau memarahi. Dia mengambil alih rantang berat dari tangan Zoya dengan satu gerakan mudah.
"Berat. Kenapa nggak bilang kalau sudah sampai?" gumam Kalandra pelan, nada suaranya berubah 180 derajat—dari komandan garang menjadi suami yang perhatian.
"Dihalangi satpam cantikmu," jawab Zoya santai.
Tanpa mempedulikan tatapan melongo puluhan pasang mata di lobi, tangan kiri Kalandra bergerak melingkar di pinggang ramping Zoya. Dia menarik istrinya mendekat, merangkulnya dengan posesif. Sangat erat, seolah mendeklarasikan kepemilikan.
Sinta ternganga, tangisnya berhenti mendadak saking kagetnya. "T-tapi Ndan... SOP-nya... area steril..."
Kalandra menoleh sedikit ke arah Sinta, tatapannya dingin menusuk tulang.
"Dia bukan tamu, Sinta," ucap Kalandra tegas, suaranya bergema di lobi yang sunyi. "Dia istri saya. Pemilik akses prioritas tertinggi di gedung ini. SOP tidak berlaku untuk dia."
Kalandra mengeluarkan kartu akses utamanya dari saku, menempelkannya ke sensor gerbang.
Beep. Akses Diterima: Komandan.
Pintu kaca otomatis terbuka lebar.
"Ayo masuk. Aku lapar," ajak Kalandra pada Zoya, lalu membimbing istrinya masuk ke area dalam markas.
Mereka berjalan beriringan, meninggalkan Sinta yang berdiri kaku di tengah lobi dengan wajah pucat, malu, dan hancur lebur.
Tidak ada yang membela Sinta. Bahkan rekan-rekannya kini menatapnya dengan pandangan mencemooh.
Hari itu, Sinta sadar dia baru saja menabrak tembok beton bernama Zoya Ravendra.