NovelToon NovelToon
Greta Hildegard

Greta Hildegard

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Bullying dan Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: spill.gils

Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eleanor Vanderbilt

Satu Minggu yang Lalu

Suasana pagi di kediaman keluarga Vanderbilt tampak begitu tenang dan megah. Rumah itu berdiri kokoh di kawasan Upper East Side, sebuah area prestisius yang hanya berjarak sepuluh menit berkendara dari sekolah elit mereka. Arsitektur bergaya neoklasik dengan pilar-pilar marmer putih tinggi menjulang, dikelilingi taman labirin yang dipangkas sempurna, seolah menegaskan bahwa siapa pun yang tinggal di dalamnya berada di kasta tertinggi sosial.

​Di ruang makan yang luas dengan langit-langit berhiaskan lampu gantung kristal, terdengar suara dentingan garpu perak yang beradu lembut dengan piring porselen halus. Di atas meja panjang berbahan kayu ek itu, tersaji sarapan mewah: Smoked Salmon Benedict dengan hiasan kaviar kecil di atasnya, potongan buah-buahan eksotis yang masih segar, serta aroma kopi Blue Mountain yang pekat.

​"Ibu hari ini akan menghadiri perilisan koleksi perhiasan terbaru di galeri pusat bersama Ayah. Mungkin kami akan pulang sampai larut malam," ucap seorang wanita paruh baya dengan nada suara yang sangat teratur dan anggun.

​Wanita itu adalah Eleanor Vanderbilt. Ia tidak duduk tegak menghadap makanan, melainkan duduk menyamping di meja makan dengan sebuah cermin rias kecil berlapis emas di depannya. Tangannya yang lentur dengan kuku-kuku yang dipulas merah darah bergerak lincah menyapukan kuas blush-on ke tulang pipinya yang tirus. Ia mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang berkilau setiap kali ia bergerak.

​"Kalau begitu, sepulang sekolah aku mau mengajak Revelyn untuk menginap ya, Bu!" sahut Norah dengan mulut yang masih mengunyah potongan salmon. Ia tampak jauh lebih santai, meski tetap memancarkan aura keangkuhan yang diturunkan dari ibunya.

​"Tentu, pastikan saja kalian tidak membuat kekacauan di sayap barat rumah ini," jawab Eleanor dingin. Ia berhenti merias sejenak, menatap bayangan dirinya di cermin sebelum teringat sesuatu. "Oh iya, Ibu jadi teringat... sepertinya sekolahmu akan kedatangan murid baru."

​Norah menghentikan gerakannya. Ia meletakkan garpu peraknya dengan bunyi denting yang sedikit lebih keras. "Murid baru? Bagaimana Ibu bisa tahu?"

​Eleanor berhenti merias. Ia melirik ke arah putrinya melalui sudut mata, memberikan sebuah senyum tipis yang penuh makna.

​"Tentu saja Ibu tahu, Norah. Ayahmu adalah pemegang saham terbesar di sekolahmu. Jadi, jika ada berita sekecil apa pun entah itu soal anggaran atau apa pun itu, Ibu akan langsung diberitahu sebelum kepala sekolahmu sempat mengumumkannya."

​Ia kembali fokus pada riasan matanya, mengoleskan eyeliner dengan presisi yang mematikan.

Apakah aku boleh melihatnya, Bu?" tanya Norah, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu.

​Eleanor tidak menjawab dengan kata-kata; ia hanya menggerakkan jemarinya yang lentur, menunjuk ke arah ponsel pintarnya yang tergeletak di atas meja makan marmer itu. Norah segera menyambarnya dan membuka pesan dari bagian administrasi sekolah.

​Di layar, terpampang foto dan biodata seorang gadis. Wajahnya tampak polos dengan rambut hitam yang tertata sederhana. "Beasiswa?" Norah mengerutkan kening. "Dari keterangan di sini tidak jelas jenis beasiswanya... apakah dia anak dari orang berkuasa?"

​"Ibu juga kurang tahu detailnya, karena data itu dikirim langsung oleh pusat, bukan dari sekolahmu," jawab Eleanor angkuh sambil meratakan bedak di wajahnya. "Tapi yang bisa Ibu pastikan, dia bukan dari keluarga seperti kita. Jadi, kamu tidak usah terlalu dekat dengannya."

​Norah tidak melepaskan pandangannya dari foto Greta. Ada sesuatu pada tatapan gadis di foto itu yang membuatnya merasa ingin segera "menguji" ketahanannya. "Kapan dia mulai masuk, Bu?"

​"Mungkin di minggu ini. Kenapa?" tanya Eleanor, melirik putrinya yang tampak jauh lebih antusias daripada saat membahas koleksi perhiasan tadi.

​"Buatkan dia berada di kelas yang sama denganku ya, Bu!" ucap Norah. Sorot matanya sulit diartikan antara kegembiraan yang aneh dan rencana yang gelap.

​Eleanor menghentikan gerakan kuasnya. Ia menoleh sepenuhnya ke arah Norah, wajahnya menunjukkan ekspresi bingung sekaligus heran. Alisnya bertaut rapat. "Satu kelas denganmu? Untuk apa? Biasanya kamu selalu minta Ibu menyingkirkan orang-orang yang menurutmu mengganggu."

​"Ibu kan tahu sendiri," Norah bersandar di kursi dengan senyum licik yang mulai terkembang. "Sudah tiga anak yang keluar dari kelasku beberapa bulan yang lalu karena 'tidak betah'. Aku mulai merasa sedikit kesepian dan kelas jadi membosankan belakangan ini. Aku butuh suasana baru."

​Eleanor terdiam sejenak, menatap putrinya yang kini tampak seperti pemangsa yang sedang menunggu kiriman mainan baru. Alih-alih melarang, Eleanor justru menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman dingin yang serupa dengan milik Norah.

​"Begitu ya?" Eleanor kembali menghadap cerminnya, melanjutkan riasannya dengan tenang. "Baiklah, Ibu akan bicara pada kepala sekolah nanti. Tapi ingat, Norah... jangan terlalu keras dengannya. kalau dia sampai menjadi orang keempat yang 'keluar' dalam waktu singkat nanti Akan cepat bosan."

​Norah hanya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat manis namun mengandung racun.

Hari ini

Bel panjang berdering nyaring, memecah keheningan kelas Ms. Sterling yang tegang. Seketika, suasana berubah riuh; suara gesekan kursi, ritsleting tas yang ditarik, dan gumaman murid-murid yang tidak sabar untuk meninggalkan penjara intelektual itu memenuhi ruangan.

​Di pojok belakang, Luca hanya menggeliat sedikit saat suara bel menusuk telinganya. Bukannya bangkit, ia justru membenarkan posisi kepalanya dan kembali terhanyut dalam tidur pulasnya, seolah suara bising itu adalah lagu pengantar tidur. Greta yang sedang merapikan buku-bukunya ke dalam tas, sempat tertegun sejenak. Ia menatap Luca dengan senyum bingung; sulit dipercaya ada seseorang yang begitu tidak peduli pada otoritas guru seperti Ms. Sterling.

​"Greta! Ayo kita pulang bareng!"

​Sebuah tepukan hangat di pundak membuat Greta tersentak. Ia menoleh dan mendapati Clara sudah berdiri di sana dengan tas ranselnya dan senyum lebar yang tulus. Greta dengan sigap mengangguk, merasa lega karena tidak harus keluar kelas sendirian melewati Norah. "Iya, ayo," sahutnya pelan.

​Keduanya berjalan keluar menuju lorong sekolah yang luas dan megah. Lantai marmer yang mengilap memantulkan cahaya dari lampu gantung di langit-langit, sementara dindingnya dihiasi oleh foto-foto alumni sukses dan piala-piala perak. Suasana lorong penuh dengan murid-murid yang berlarian dan mengobrol.

​"Kamu hebat banget tadi bisa jawab pertanyaan Ms. Sterling! Benar-benar jenius. Ternyata murid beasiswa memang pintar-pintar, ya!" ucap Clara bangga sambil menggandeng erat lengan Greta, seolah ia sedang berjalan bersama seorang pahlawan.

​Greta merona, ia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rasa malunya. "Aku hanya beruntung, Clara... aku yakin kamu juga pasti bisa kalau memperhatikan tadi."

​Mata mereka beradu, dan tawa kecil pecah di antara keduanya. Untuk sesaat, beban di pundak Greta terasa ringan. Namun, saat mereka tepat berada di bibir tangga utama yang curam, suasana damai itu hancur seketika.

​Dari arah belakang, terdengar derap langkah kaki yang berlari kencang secara sengaja. Bruk!

​Zev menghantam punggung Greta dengan bahunya sekuat tenaga. Tubuh Greta yang mungil tersentak hebat. Menyadari dirinya kehilangan keseimbangan, insting pertama Greta adalah melepaskan genggaman tangannya dari lengan Clara agar temannya itu tidak ikut terseret jatuh.

​"Aaaaa!"

​Jeritan Greta tertelan oleh gravitasi. Tubuhnya terhempas, melayang sejenak sebelum jatuh terguling ke bawah anak tangga yang keras dan dingin. Suara benturan tubuhnya dengan tiap anak tangga kayu jati itu terdengar mengerikan di lorong yang tiba-tiba menjadi sunyi.

​Greta terus terguling, tak berdaya bagai boneka kain yang rusak, hingga akhirnya tubuhnya berhenti di lantai dasar tangga dengan posisi yang menyakitkan. Clara mematung di atas, wajahnya pucat pasi karena syok, sementara dari kejauhan, terdengar suara tawa sinis yang tertahan dari arah lorong.

1
watno antonio
ayo lanjut thor
spill.gils: terimakasih atas dukungannya, mohon di tunggu 🙏
total 1 replies
claire
ayo Leon ungkapkan identitasmu yang sebenarnya
claire
hahaha situasi yang bisa dibayangkan
claire
sejauh ini Ravelyn masih memegang karakter paling menyebalkan no 1
claire: atur se-ngeselin mungkin thor
total 2 replies
Mbu'y Fahmi
apa itu suruhannya ibu norah, tapi gak mungkin sih.. aah penasaran banget..
Mbu'y Fahmi
apa itu obat yang selalu diminum greta... ah masih banyak teka teki... lanjut thor
spill.gils: terimakasih sudah meluangkan membaca, saya harap Kamu suka dengan ceritanya.
total 1 replies
claire
bab yang sangat baguss
claire
hoooo akhirnya
claire
Ceritanya bagus, membuat penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Setiap bagian disajikan dengan sangat baik, dan tentu saja tata bahasanya sangat nyaman untuk dibaca.
spill.gils: terimakasih 🙏
total 1 replies
claire
oh my weak heart
claire
kompor banget kocag
Mbu'y Fahmi
greta ... masih menjadi misteri..
oke lanjut thor.. seru ceita nya
spill.gils: terimakasih🙏 semoga suka ya
total 1 replies
ninoy
wahh gaya penulisannya apik, seperti baca novel luar.. keren thor, semangat sampai selesai yaa. Saya baru mampir, sudah mau kebut aja bacanya.
spill.gils: terimakasih sudah mau coba Baca, kebetulan memang bikin nya di luar,.. rumah. hehe
total 1 replies
claire
hey Luca, teman mana yang seperti itu
claire
wkwk sesingkat itu
claire
sependapat dengan Eleanor, semakin menarik
claire
inilah saatnya
claire
yaelah keduluan leon😌
claire
wkwkwk kannn batu sih
claire
alamak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!