NovelToon NovelToon
Ternyata, Bukan Figuran

Ternyata, Bukan Figuran

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Diam-Diam Cinta / Percintaan Konglomerat / Kencan Online / Cintapertama / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penolakan Julius dan Kartu As yang Mematikan

Pagi itu, kampus berubah menjadi medan tempur tanpa suara.

Julius turun dari mobilnya dengan langkah yang sangat tenang, namun atmosfer di sekitarnya mendadak mencekam. Ia tidak mengenakan kemeja tinggi atau syal seperti biasanya. Ia sengaja membuka dua kancing teratas kemeja putihnya, memamerkan tanda merah keunguan yang ditinggalkan Jane semalam dengan sangat jelas di lehernya yang putih.

Grace, yang sudah menunggu di lobi gedung utama dengan senyum penuh kemenangan karena merasa "kartu kehamilannya" akan berhasil, mendadak mematung. Matanya melotot menatap tanda di leher Julius.

"Julius! Apa-apaan lehermu itu?!" teriak Grace histeris hingga semua mahasiswa menoleh.

Julius hanya menatapnya dengan pandangan paling dingin yang pernah ada. "Ini? Ini adalah tanda kejujuran, Grace. Sesuatu yang tidak pernah kau miliki."

Tepat saat itu, ponsel Jane bergetar di saku almamaternya.

Jane, yang sedang berdiri di kejauhan sambil gemetar melihat keributan itu, membuka pesan yang masuk.

Mr. A: Maaf aku sempat kaku semalam. Aku hanya panik membayangkan keselamatanmu jika kau tetap di sana. Tidurlah dengan tenang mulai sekarang, Ms. J. Matahari sudah terbit dengan warna pemberontakan. Dan ingat... tanda yang kau berikan semalam jauh lebih berharga daripada semua permata di dunia ini bagi dia.

Jane menutup mulutnya. Mr A benar-benar Julians.

Namun, drama tidak berhenti di sana. Kabar kehamilan Grace ternyata bukan sekadar rumor. Hasil tes medis yang sah keluar, dan Grace benar-benar mengandung. Di rumah besar keluarga Liberty, Grace bersimpuh di kaki orang tuanya, menangis histeris.

"Ayah, Ibu... tolong aku! Julius harus bertanggung jawab! Jika dia tidak menikahiku, martabat keluarga kita hancur!" Grace berbohong dengan licik, membiarkan orang tuanya percaya bahwa itu adalah anak Julius.

Keluarga Liberty langsung menghubungi Ayah Julius, menuntut pertanggungjawaban segera. Pertemuan darurat pun diadakan sore itu di kantor pusat Randle Group.

Di ruang rapat yang mewah, Ayah Julius mengebrak meja. "Julius! Menikahlah dengan Grace bulan depan! Dia mengandung anakmu!"

Julius berdiri, wajahnya tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Ia melemparkan sebuah amplop cokelat besar ke tengah meja. Di dalamnya terdapat foto-foto Liam (kekasih rahasia Grace) yang sedang keluar masuk apartemen Grace, catatan waktu kunjungan hotel, hingga bukti percakapan Grace yang membahas tentang "rencana menjebak Julius dengan janin Liam".

"Aku tidak akan pernah menikahi wanita yang membawa benih pria lain ke dalam rumahku," ucap Julius dengan suara yang menggelegar. "Grace benar-benar hamil, tapi itu anak Liam. Dan jika kalian memaksaku, foto-foto ini akan ada di meja redaksi semua media nasional dalam lima menit."

Ayah Julius dan orang tua Grace terdiam seribu bahasa. Wajah Grace yang ikut dalam pertemuan itu mendadak pucat pasi.

Julius kemudian berbalik, menatap ayahnya untuk terakhir kali sebagai anak buah. "Dan satu lagi... mulai hari ini, aku keluar dari naskah kalian. Aku sudah memiliki wanitaku sendiri."

Julius berjalan keluar ruangan, mengabaikan teriakan ayahnya. Ia langsung merogoh ponselnya dan menelpon seseorang.

"Jane? Tunggu aku di depan gedung Apartemen."

Apartemen pribadi Julius terasa begitu sunyi namun penuh dengan ketegangan yang manis. Tidak ada lagi Clark yang mengganggu, tidak ada lagi bayang-bayang ayahnya yang mengawasi. Julius mengunci pintu, melempar kunci itu ke meja, dan langsung membawa Jane ke dalam dekapannya.

Jane, yang kepalanya masih berputar dengan semua drama di kampus, akhirnya memberanikan diri menatap mata tajam itu.

"Julius... jawab jujur. Apakah kau adalah Mr. A?"

Julius tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Ia justru membenamkan wajahnya di ceruk leher Jane, menghirup aroma vanila dari rambut gadis itu yang selalu membuatnya tenang selama berbulan-bulan ini.

"Iya," bisik Julius serak. "Aku menjadi Mr. A lima bulan yang lalu karena itu satu-satunya cara aku bisa bicara padamu tanpa harus memakai topeng Randle yang kaku ini. Aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu berargumen dengan dosen di kelas tekstil, Jane. Sejak saat itu, aku terobsesi."

Julius seolah ingin menebus satu bulan kedinginannya dalam satu malam. Ia menarik Jane masuk ke kamar utamanya yang mewah, lalu membawanya ke depan cermin besar di kamar mandi yang berdinding marmer.

Sebelum Jane sempat protes, Julius kembali menciumnya. Kali ini jauh lebih intens, lebih dalam, hingga bibir Jane terasa bengkak dan wajahnya merona hebat. Julius kemudian mengeluarkan ponselnya.

"Berpose denganku, Jane," perintah Julius. Suaranya terdengar seperti perintah, tapi matanya memohon.

Jane yang merasa ini mungkin kesurupan terakhir sebelum Julius kembali dingin besok, akhirnya hanya menurut. Mungkin untuk koleksinya saja, pikir Jane polos. Ia pun berpose sebaik mungkin. Julius memeluknya dari belakang, tangannya melingkar di pinggang Jane yang ramping, kepalanya bersandar di bahu Jane. Ada empat foto yang sangat mesra dan tergolong seksi memperlihatkan kedekatan fisik yang sangat intim.

"Sudah ya, aku mau mandi. Kau keluar dulu," ucap Jane malu-malu sambil mendorong dada Julius.

Julius tersenyum, senyum paling nakal yang pernah Jane lihat lalu melangkah keluar kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, Jane sengaja berlama-lama di bawah pancuran air hangat. Ia merasa seperti sedang berada di dalam mimpi indah yang sebentar lagi akan berakhir. Namun, di luar sana, dunia baru saja kiamat.

Julius, pria yang selama ini hanya mengunggah grafik ekonomi atau foto gedung perusahaan, baru saja mengunggah keempat foto mesra mereka di akun Instagram utamanya. Tanpa sensor, tanpa menyembunyikan wajah Jane.

Caption-nya singkat namun mematikan:

"The only truth in a world full of lies. My Sun, My Moon, and My Reality. @Jane_Textile"

Publik meledak seketika.

"APA-APAAN INI?! JADI SELAMA INI BUKAN GRACE?!"

"Liat tanda di leher Julius di foto kedua! Itu jelas banget!"

"RIP Grace Liberty. Julius Randle baru saja menyatakan perang terbuka."

"Gadis tekstil itu benar-benar pemenangnya!"

Setelah hampir satu jam, Jane akhirnya keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan jubah mandi putih milik Julius yang kebesaran. Ia menemukan Julius sedang duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya yang bergetar tanpa henti karena ribuan notifikasi.

Jane berjalan mendekat, wajahnya bingung. "Julius, kenapa ponselmu berisik sekali?"

Julius mendongak, matanya berkilat puas. Ia menarik Jane untuk duduk di pangkuannya. "Aku baru saja memberitahu dunia siapa pemilikku yang sebenarnya, Jane. Tidak akan ada lagi kedinginan besok pagi. Hanya ada kita."

Jane merampas ponsel Julius dan hampir jatuh pingsan melihat foto mereka sudah disukai oleh jutaan orang. "Julius! Apa yang kau lakukan?! Bagaimana dengan ayahmu? Bagaimana dengan Grace?!"

"Biarkan mereka terbakar dalam api yang mereka buat sendiri," ucap Julius tenang. Ia lalu mematikan ponselnya dan melemparnya ke lantai. "Malam ini, hanya kau dan aku. Tanpa Mr. A, tanpa Randle. Hanya Julius dan Jane."

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 😍😍😍

1
Endang Sulistia
bagus...
Endang Sulistia
🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Endang Sulistia
clark...🤪🤦🤦
Endang Sulistia
mantap hery
Endang Sulistia
sukurin kau jules
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Endang Sulistia
🤭🤣🤣
Lismawati Salam
bagus
Endang Sulistia
😊😊
Endang Sulistia
suka
Endang Sulistia
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!