NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Gerobak Soto

Cinta Di Balik Gerobak Soto

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Berondong
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
​Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Luna menyuap nasi uduk hangat itu dengan lahap.

Perpaduan gurihnya santan, sambal kacang, dan sate usus favoritnya terasa meledak di lida

"Enak sekali Mas ya, aku jarang makan ini," ucap Luna spontan.

Ia benar-benar lupa akan perannya sebagai guru TK sederhana.

Pratama yang sedang mengunyah tempe goreng mendadak berhenti.

Ia menatap Luna sambil mengernyitkan keningnya.

"Maksud Adik apa? Masa guru TK sepertimu jarang makan nasi uduk? Ini kan makanan rakyat paling umum, Dek."

Deg!

Jantung Luna serasa berhenti berdetak. Ia merutuki mulutnya yang terlalu jujur.

Di dunianya yang asli, sarapannya adalah croissant atau smoothie bowl di restoran hotel berbintang, bukan nasi uduk bungkus kertas minyak.

"Maksudku, di tempat tinggalku yang dulu, penjual nasi uduknya tidak ada yang bumbunya seberani ini. Jadi rasanya beda saja."

Pratama mengangguk-angguk percaya, meski matanya masih menyiratkan sedikit rasa ganjil.

"Oh, kirain kamu tidak pernah makan nasi uduk sama sekali. Mas sampai kaget tadi."

"Ya, nggak mungkinlah, Mas. Aku kan cuma guru TK, bukan anak konglomerat," sahut Luna sambil tertawa canggung, berusaha menormalkan suasana.

Pratama tersenyum tipis. "Ya sudah, habiskan makannya. Setelah ini kita bersiap-siap. Mas sudah cek jamnya, kita jangan sampai terlambat menemui Bapakmu di KUA. Mas tidak enak kalau membuat orang tuamu menunggu."

"Iya, Mas," jawab Luna pelan.

Ia segera menundukkan kepalanya dan kembali fokus pada piringnya agar tidak lagi keceplosan.

Luna menarik napas lega dan harus lebih berhati-hati lagi, karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan Arini dan Papanya.

Satu kesalahan kecil saja, maka sandiwara hidup sederhananya akan terbongkar di depan Pratama.

Selesai makan, Pratama masuk ke dalam kamar dan keluar membawa sebuah bungkusan kain yang rapi.

Ia menyodorkannya pada Luna dengan tatapan ragu namun penuh harap.

"Dik, ini ada kebaya milik mendiang Ibu. Sudah Mas cuci dan Mas simpan baik-baik. Semoga ukurannya cukup di badan kamu, ya," ucap Pratama lembut.

Luna menerima kebaya itu. Meskipun modelnya sederhana dan kainnya bukan sutra mahal yang biasa ia pakai, Luna merasa kebaya ini jauh lebih berharga.

"Terima kasih, Mas. Aku pakai sekarang ya."

Beberapa menit kemudian, Luna keluar kamar dan sudah memakai kebaya yang pas di tubuhnya, memberikan kesan anggun yang bersahaja.

Di ruang tamu, ia mendapati Pratama sudah rapi mengenakan kemeja putih bersih yang dipadukan dengan jas hitam yang tampak sudah lama namun masih sangat terawat.

Luna sempat terpaku sejenak. Rambut Pratama yang biasanya acak-acakan kini tersisir rapi.

Postur tubuhnya yang tegap tertutup jas itu membuatnya terlihat sangat berbeda, jauh lebih berwibawa dari sekadar penjual soto.

"Mas, kamu tampan sekali," batin Luna dalam hati, pipinya merona tanpa ia sadari.

"Ayo kita berangkat sekarang, Dek. Mas khawatir Bapak sudah menunggu di sana," ajak Pratama sambil merapikan kerah jasnya.

Saat mereka melangkah keluar ke halaman rumah, Pratama hendak menuju motor bebek tuanya yang sudah mengeluarkan asap. Namun, Luna segera mencegahnya.

"Mas, naik motorku saja ya," ucap Luna sambil menunjuk motor matic milik Arini yang kemarin ia kendarai.

Pratama menatap motor itu. Motornya jauh lebih baru, bersih, dan tampak lebih bertenaga daripada motor bebeknya yang hampir "pingsan".

"Iya, Dik. Lebih bagus naik ini supaya kamu juga nyaman, Dek," jawab Pratama setuju.

Pratama mengambil alih kemudi, sementara Luna duduk manis di boncengan.

Mereka mulai membelah jalanan menuju KUA. Di sepanjang jalan, tangan Luna memegang erat ujung jas Pratama, ada rasa bangga yang aneh yang ia rasakan.

Tanpa mereka sadari, di depan KUA nanti, sandiwara besar sudah menanti.

Papa Jati yang sudah bersiap dengan akting "tukang bangunannya" dan Arini yang sudah berdandan "rakyat biasa" namun masih membawa aura kantor yang kaku.

Sesampainya di halaman KUA, Luna segera turun dari boncengan motor.

Dari kejauhan, ia sudah melihat Papa Jati yang duduk di bangku panjang dengan jaket kainnya, ditemani seorang wanita yang tampak gelisah.

Arini, sang sekretaris, membelalakkan matanya hingga hampir keluar saat melihat CEO Jati Grup yang biasanya turun dari mobil mewah, kini turun dari motor matic dengan balutan kebaya sederhana. Namun, yang lebih mengejutkannya lagi adalah sosok pria yang membonceng bosnya.

Pratama terlihat begitu tampan, bersih, dan memancarkan aura kejujuran yang menenangkan meski penampilannya sangat sederhana.

Arini nyaris saja berdiri dan membungkuk memberi hormat, namun Luna memberikan tatapan tajam yang seolah berkata, "Jangan berani-berani memanggilku Ibu!"

"Assalamualaikum, Pa," sapa Luna sambil menyalami tangan ayahnya.

"Waalaikumsalam," jawab Papa Jati dengan senyum kebapakan yang dipaksakan agar terlihat seperti rakyat biasa.

Pratama melangkah maju dengan sopan, ia membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda hormat.

"Assalamualaikum, Bapak," ucap Pratama lembut namun tegas.

"Waalaikumsalam. Mari duduk, Nak Pratama," sahut Papa Jati.

Pratama kemudian melirik ke arah Arini yang sejak tadi menatapnya tanpa kedip.

Ia merasa asing dengan kehadiran wanita itu yang penampilannya sangat rapi meski hanya memakai pakaian sederhana dan flat shoes.

"Ini siapa, Dek?" tanya Pratama berbisik kepada Luna.

Luna segera merangkul pundak Arini yang mendadak kaku seperti patung.

"Oh, ini sahabat aku, Mas. Namanya Arini. Dia dulu teman seperjuangan aku waktu mulai mengajar," ucap Luna berbohong dengan lancar.

Arini tersentak, lalu tersenyum kaku. "I-iya, Mas... saya Arini. Sahabat karibnya Luna. Selamat ya, Mas, atas pernikahannya," ucap Arini dengan suara yang sedikit bergetar karena gugup harus berakting di depan bosnya sendiri.

"Terima kasih, Mbak Arini. Terima kasih sudah mau datang." ucap Pratama sambil tersenyum tipis.

Di balik senyumnya, Arini menjerit dalam hati. Ia tidak menyangka harus terlibat dalam drama "menjadi orang biasa" ini.

Sementara itu, Papa Jati melirik jam tangannya, mengisyaratkan bahwa petugas KUA sudah menunggu mereka di dalam untuk meresmikan status mereka secara negara.

Mereka berempat melangkah masuk ke dalam ruang pendaftaran yang tenang. Ternyata, Papa Jati sudah bergerak cepat.

Sebelum Luna dan Pratama tiba, ia sudah menjelaskan situasi "darurat" keluarga mereka kepada petugas KUA agar prosesnya bisa langsung dilaksanakan tanpa banyak birokrasi.

Petugas penghulu yang mengenakan peci hitam itu merapikan berkas di meja.

"Baiklah, karena semua wali dan saksi sudah lengkap, kita mulai sekarang ya."

Tiba-tiba, wajah Pratama berubah pucat dan menoleh ke arah Luna dengan gelisah, tangannya meraba saku jasnya yang kosong.

"Dik, Mas baru sadar. Tadi kita terburu-buru, Mas tidak punya uang tunai lagi untuk mahar kamu di sini. Uang yang semalam sudah Mas pakai beli sarapan dan simpan untuk modal."

Suara Pratama mengecil, penuh rasa malu. "Bagaimana ini, Dek? Apa Mas harus lari ke pasar depan sebentar untuk jual ponsel Mas dulu saja ya? Yang penting ada uang mahar untukmu."

Papa Jati dan Arini saling pandang saat mendengar perkataan dari Pratama.

Arini sudah gatal ingin mengeluarkan tumpukan uang dari tasnya, namun tatapan peringatan Luna membuatnya membeku.

Luna segera beraksi. Ia berpura-pura meraba saku kecil di dalam kebaya kuno yang ia kenakan. Wajahnya dibuat seolah terkejut saat jarinya menyentuh sesuatu.

"Eh? Mas, tunggu dulu! Di dalam lipatan kebaya mendiang Ibu, aku menemukan uang," ucap Luna sambil menarik dua lembar uang seratus ribuan yang sudah ia siapkan diam-diam sebelumnya.

"Ini mungkin milik mendiang Ibu Mas yang terselip. Nggak apa-apa ya Mas cuma dua ratus ribu? Yang penting ikhlas," lanjut Luna dengan senyum manis.

Pratama tertegun melihat uang itu. "Tapi, Dek? Itu uang mahar darimu untuk dirimu sendiri? Rasanya tidak pantas. Mas sungkan dengan Bapak," ucap Pratama sambil melirik takut-takut ke arah Papa Jati.

Sebagai laki-laki, harga dirinya merasa tercubit harus menggunakan uang yang "ditemukan" istrinya di depan mertua.

Papa Jati berdehem, mencoba menenangkan menantunya.

Sebagai pemilik perusahaan besar, ia sebenarnya gemas melihat angka dua ratus ribu, namun ia harus tetap pada perannya sebagai tukang bangunan.

"Sudah, tidak apa-apa Pratama. Ibu kamu pasti senang bajunya membawa berkah hari ini," ucap Papa Jati dengan suara berat dan tenang.

"Mahar itu tidak harus mewah, yang penting sah di mata agama dan negara. Jangan buat petugas nunggu terlalu lama."

Pratama menarik napas panjang, mencoba membuang rasa malunya.

Ia menggenggam uang itu dengan tangan gemetar, menatap Luna dengan rasa syukur yang tak terhingga.

"Baik, Pak. Terima kasih atas pengertiannya," jawab Pratama mantap.

Petugas penghulu kemudian meminta Pratama menjabat tangan Papa Jati.

Arini segera mengeluarkan ponselnya, untuk merekam momen bersejarah di mana bos besarnya sedang berpura-pura menjadi rakyat jelata di sebuah kantor KUA sederhana.

1
tiara
itu pingsan kaget apa karena hamil ya🤭🤭🤭
awesome moment
pratama tu org dgn banyak potensi tp tersembunyi dalam kekisminan
Nabila Nabil
itu pingsan karna papa jati mau dipanggil opa dan arini dipanggil oma.... 🤣🤣
awesome moment
kpm tertangkap tu mokondo 2 ekor
awesome moment
lambe turah g punya obyek julid lg n
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
semoga Dirga dan Noah lekas tertangkap ya,agar papa Jati cepat menikah
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
pa Wandi ga bisa lagi gangguin Pratama tuh, hilang juga pemasukan ya kasian deh tukang nyinyir
my name is pho: 🤭🤭 hehe
total 1 replies
awesome moment
smg luna g kaget klo arini dan papa jati jujur.
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Setiawan
kog aneh yah ?? bukannya td pratama lg di jln pulang br bs nolongin luna ?? itu kesian amat mtr bebek tua nya di tggl di jln 🤭🤭🤭
awesome moment
whoah...sama2 virgin ternyata
awesome moment
smg pratam slain kejujuran punya kecerdasan bisnis yg keyen. biar g njomplang bgts sm luna
awesome moment
udh terhura dluan
awesome moment
dih...juwita tu perempuan model p c
awesome moment
👍👍👍luna panggil arini, mama dunk😄😄😄
tiara
wah ternyata Arini menjalin hubungan dengan papa Jati toh, seru nih nantinya
Nabila Nabil
ini nanti ceritanya Luna yg gantian manggil bu ke arini🤣🤣🤣🤣🤣 kocak sih... 🤣🤣🤣
deepey
saling support ya kk. 💪💪
deepey
paginya gulingnya sdh pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!