NovelToon NovelToon
Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: asep sigma

Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KONSPIRASI

Di rumah keluarga Baskara, Julian duduk sendirian di ruang kerja pribadinya yang gelap.

Hanya lampu meja kecil yang menyala, menerangi wajahnya yang terlihat lebih tua dari biasanya. Kantung mata menghitam, kerutan di dahi semakin dalam, rambutnya yang biasanya rapi sekarang sedikit berantakan.

Di mejanya, tergeletak dokumen-dokumen dari pengacara. Surat dari pengadilan. Laporan investigasi pribadi tentang Rajendra.

Dan foto.

Foto Rajendra keluar dari kantor kecil di Tebet bersama tiga orang muda lainnya. Foto Rajendra bertemu dengan orang yang Julian kenal, Anton Wijaya. Foto Rajendra masuk ke gedung Menara Imperium.

Julian menatap foto-foto itu dengan rahang mengeras.

Anaknya sekarang punya startup. Punya investor. Punya tim.

Tanpa bantuan keluarga. Tanpa uang keluarga. Tanpa nama Baskara.

Seharusnya Julian bangga.

Tapi yang dia rasakan cuma marah.

Marah karena Rajendra membuktikan dia bisa hidup tanpa Julian. Marah karena Rajendra tidak butuh dia lagi. Marah karena kontrol yang Julian pegang selama dua puluh tahun sekarang hilang sepenuhnya.

Pintu ruang kerja terbuka pelan.

Dera masuk, membawa dua gelas whiskey. Dia meletakkan satu gelas di depan Julian, lalu duduk di sofa di sudut ruangan.

"Ayah belum tidur?" tanya Dera pelan.

Julian tidak menjawab, hanya meraih gelas whiskey dan meneguknya habis dalam satu kali.

Dera menatapnya dengan ekspresi khawatir yang terlatih. Ekspresi yang sudah dia latih bertahun-tahun untuk terlihat seperti anak yang peduli.

"Rajendra semakin jauh," kata Dera akhirnya, memecah keheningan. "Dia tidak balas telepon ayah. Tidak balas pesan Mamah. Bahkan kemarin dia blokir nomor ayah lagi."

Julian menaruh gelas kosong di meja dengan sedikit keras.

"Dia pikir dia bisa lepas dari keluarga ini begitu saja. Dia pikir dia bisa hidup tanpa nama Baskara. Bodoh."

"Tapi dia sedang membuktikan dia bisa, yah."

Julian menatap Dera dengan tatapan tajam.

"Apa maksudmu?"

Dera berdiri, berjalan ke meja Julian, mengambil salah satu foto.

"Investigator Ayah bilang Rajendra baru dapat funding lima ratus juta dari Richard Tanuwijaya. Itu bukan angka kecil. Berarti Rajendra punya sesuatu yang convincing. Berarti dia bukan main-main."

Julian diam, rahangnya mengatup erat.

Dera melanjutkan dengan nada hati-hati.

"Dan kalau sidang pengadilan nanti Rajendra menang, dia akan pegang penuh warisan Kakek. Enam puluh persen saham Grup Baskara. Dia bisa kontrol perusahaan sepenuhnya. Ayah cuma pegang dua puluh persen. Saya sepuluh persen. Mama sepuluh persen. Kita tidak bisa berbuat apa-apa."

"Dia tidak akan menang," kata Julian keras. "Daniel sudah siapkan strategi. Kita punya saksi. Kita punya dokumen medis."

"Dokumen medis yang Rajendra sedang investigasi," potong Dera. "Investigator Ayah bilang Rajendra datang ke Klinik Keluarga Sehat minggu lalu. Dia mungkin sudah tahu dokumen itu palsu."

Julian terdiam, wajahnya berubah pucat.

Dera duduk di kursi di depan meja Julian, menatapnya dengan tatapan serius.

"Ayah, kita harus realistis. Rajendra bukan anak bodoh yang dulu bisa kita atur. Entah kenapa, dia berubah total. Dia tahu hal-hal yang seharusnya dia tidak tahu. Dia bergerak seperti orang yang sudah pernah jalani semua ini sebelumnya."

"Apa maksudmu?"

Dera menggeleng pelan.

"Saya juga tidak tahu pasti. Tapi yang jelas, kita harus siap kalau dia menang di pengadilan. Kita harus punya plan B."

Julian menatapnya lama.

"Plan B seperti apa?"

Dera diam sebentar, memilih kata-kata dengan hati-hati.

"Kalau Rajendra pegang enam puluh persen saham, dia bisa pecat Ayah dari posisi direktur. Dia bisa ganti semua manajemen. Dia bisa hancurkan semua yang Ayah bangun. Kecuali..."

"Kecuali apa?"

"Kecuali kita buat dia tidak bisa pakai saham itu."

Julian mengerutkan dahi.

"Maksudmu?"

Dera mendekat, bicara dengan suara lebih pelan, seperti berbisik.

"Ada cara legal untuk freeze aset seseorang. Kalau kita bisa buat Rajendra terlibat masalah hukum lain, masalah pidana misalnya, asetnya bisa dibekukan sementara waktu proses hukum berjalan. Dan proses hukum pidana di Indonesia bisa bertahun-tahun."

Julian menatapnya dengan mata melebar.

"Kamu mau jebak Rajendra dengan kasus pidana?"

"Bukan jebak. Cuma buat situasi di mana dia terlihat bersalah. Investigasi berjalan. Aset dibekukan. Dan selama itu, Ayah tetap kontrol perusahaan."

Julian diam lama, pikiran berputar cepat.

Ini kotor. Ini jahat. Ini bisa merusak Rajendra selamanya.

Tapi di sisi lain, ini juga satu-satunya cara untuk tetap punya kontrol.

"Kasus apa yang bisa kita buat?" tanya Julian akhirnya, suaranya pelan, ragu.

Dera tersenyum tipis.

"Penggelapan dana investor. Rajendra baru dapat funding lima ratus juta. Kalau kita buat seolah-olah dia pakai uang itu untuk kepentingan pribadi, bukan untuk perusahaan, investor bisa lapor polisi. Kasus penggelapan. Pidana."

"Tapi dia belum pakai uang itu. Uang baru masuk bulan depan."

"Tapi kita bisa buat jejak palsu. Transfer bank. Invoice palsu. Dokumen palsu. Seperti dokumen medis Kakek yang kita buat."

Julian menatap Dera dengan tatapan tidak percaya.

"Kamu serius?"

Dera menatap balik dengan tatapan dingin.

"Ayah mau kehilangan semua yang Ayah punya, atau mau fight dengan cara apapun?"

Julian diam lama.

Lalu dia berdiri, berjalan ke jendela, menatap taman gelap di luar.

Hatinya berperang.

Ini anaknya. Darah dagingnya. Meski mereka sudah tidak bicara lagi, meski mereka sudah saling musuhan, Rajendra tetap anaknya.

Tapi Dera benar.

Kalau Rajendra menang, Julian kehilangan segalanya.

Kehilangan perusahaan. Kehilangan posisi. Kehilangan harga diri.

Dan Julian tidak bisa hidup tanpa itu semua.

"Lakukan," kata Julian akhirnya, suaranya pelan tapi tegas. "Tapi jangan sampai ketahuan. Kalau ini bocor, kita semua habis."

Dera berdiri, tersenyum puas.

"Saya akan atur semuanya. Ayah tinggal tunggu."

Dia berjalan keluar ruangan, menutup pintu pelan.

Julian tetap berdiri di depan jendela, menatap pantulannya sendiri di kaca.

Wajahnya terlihat asing. Seperti orang lain. Seperti monster.

Tapi dia sudah terlalu jauh untuk mundur sekarang.

Di ruangan lain, kamar Dera di lantai dua, Dera duduk di tepi kasur dengan ponsel di tangan.

Dia membuka kontak, mencari nama tertentu.

Jessica Agustina.

Dia menekan tombol panggil.

Nada sambung berbunyi tiga kali, lalu suara Jessica menjawab, pelan, hati-hati.

"Halo?"

"Ini aku. Kita harus ketemu. Sekarang. Ada yang harus kita bicarakan."

"Sekarang? Jam segini?"

"Iya. Ini penting. Tentang Rajendra."

Hening sebentar di seberang.

Lalu Jessica bicara, suaranya gemetar sedikit.

"Dia tahu tentang kita, Dera. Entah bagaimana, tapi dia tahu. Dia bilang ke aku waktu telepon terakhir."

"Aku tahu. Makanya kita harus move cepat sebelum dia expose kita."

"Move gimana?"

"Nanti aku jelasin. Kita ketemu di kafe biasa. Setengah jam lagi."

"Dera, aku takut. Aku takut dia—"

"Jangan takut. Selama kita tetap jalan bareng, dia gak bisa ngapa-ngapain. Trust me."

Sambungan terputus.

Dera menatap layar ponselnya, lalu tersenyum kecil.

Rajendra memang berubah. Rajendra memang jadi lebih pintar, lebih waspada, lebih sulit ditaklukkan.

Tapi Rajendra punya satu kelemahan.

Dia terlalu percaya pada sistem. Terlalu percaya bahwa selama dia main dengan aturan, dia akan aman.

Dan Dera akan buktikan bahwa aturan bisa dibengkokkan.

Di tempat lain, di apartemen kecil di kawasan Cawang, Dina duduk di sofa lusuh sambil menatap laptop.

Layar menampilkan dashboard analytics LokalMart. Traffic website masih kecil, cuma puluhan visitor per hari. Conversion rate nol karena belum ada yang checkout.

Wajar, karena mereka belum marketing secara besar-besaran.

Tapi Dina tidak menatap angka-angka itu.

Dia menatap tab lain. Tab browser yang terbuka ke artikel berita lama tentang Grup Baskara.

Artikel tentang Dimas Baskara yang meninggal tahun lalu. Artikel tentang suksesi perusahaan. Artikel tentang konflik internal keluarga Baskara.

Dan di salah satu artikel, ada foto keluarga.

Dimas Baskara di tengah. Julian Baskara di kanannya. Ririn Baskara di kirinya. Dan seorang anak muda di samping Julian.

Rajendra Baskara.

Foto diambil tahun 2008, waktu Rajendra masih SMA.

Dina menatap foto itu lama, lalu menutup laptop.

Dia sudah tahu sejak awal siapa Rajendra sebenarnya.

Anak dari keluarga konglomerat yang keluar dari keluarganya sendiri. Cucu dari pendiri Grup Baskara yang sedang bertarung di pengadilan untuk warisan.

Dia tahu semua itu bahkan sebelum interview pertama.

Karena Dina bukan orang sembarangan.

Dina pernah bekerja di agensi yang salah satu kliennya adalah kompetitor Grup Baskara. Dia tahu politik bisnis keluarga besar. Dia tahu betapa kotornya dunia itu.

Dan waktu Rajendra nawarin dia kerja, dia research dulu. Deep research.

Dia tahu Rajendra keluar dari keluarga. Dia tahu Rajendra digugat ayahnya sendiri. Dia tahu Rajendra mulai dari nol tanpa bantuan keluarga.

Dan justru itu yang bikin dia tertarik.

Bukan karena Rajendra punya background kaya.

Tapi karena Rajendra punya keberanian untuk ninggalin semua itu dan mulai dari nol.

Itu rare.

Sangat rare.

Kebanyakan orang yang lahir di keluarga kaya akan tetap di sana, meski tidak bahagia, meski dibully, meski diperlakukan seperti boneka.

Karena nyaman. Karena aman. Karena takut kehilangan privilege.

Tapi Rajendra beda.

Dia pilih freedom over comfort.

Dan Dina respect itu.

Ponselnya bergetar, pesan dari Rajendra.

"Din, besok kita meeting sama Bambang. Finalisasi sistem logistik sebelum launch. Lu bisa datang jam sepuluh pagi?"

Dina tersenyum kecil, mengetik balasan.

"Bisa. Gue dateng."

Dia menaruh ponselnya di meja, lalu berdiri, berjalan ke jendela kecil apartemennya yang menghadap ke jalan raya ramai.

Jakarta malam hari dengan lampu-lampu kendaraan yang tidak pernah berhenti.

Dina pernah berpikir untuk pindah dari Jakarta. Kota ini terlalu keras, terlalu kotor, terlalu penuh dengan orang-orang yang siap sikut satu sama lain demi naik.

Tapi sekarang dia rasa dia ada di tempat yang tepat.

Kerja di startup kecil dengan tim yang solid, dengan leader yang punya visi jelas, dengan produk yang dia percaya bisa jadi besar.

Ini bukan cuma soal gaji dua kali lipat.

Ini soal purpose.

Soal membangun sesuatu dari nol dan lihat itu tumbuh.

Dan Dina akan pastikan LokalMart tumbuh.

Apapun yang terjadi.

Di gudang Setiawan Logistics di Cakung, Bambang duduk di meja kerja kecilnya yang penuh dengan invoice dan dokumen pengiriman.

Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip, butuh diganti tapi belum sempat.

Bambang menatap laptop tua di mejanya, membuka email dari Rajendra yang masuk sore tadi.

Pak Bambang,

Besok kita meeting untuk finalisasi sistem logistik. Ada beberapa hal yang perlu kita align sebelum launch publik bulan depan. Mohon Bapak bisa datang ke kantor kami jam sepuluh pagi.

Terima kasih.

Salam,

Rajendra Baskara

Bambang tersenyum kecil membaca email itu.

Rajendra Baskara.

Anak dari Julian Baskara yang memecatnya dua tahun lalu tanpa alasan jelas.

Waktu pertama kali Rajendra datang ke gudangnya, Bambang hampir tolak.

Hampir bilang, "Maaf, saya tidak mau ada urusan lagi dengan keluarga Baskara."

Tapi ada sesuatu di mata Rajendra waktu itu.

Sesuatu yang berbeda dari Julian.

Keseriusan. Kejujuran. Dan sedikit keputusasaan orang yang benar-benar butuh bantuan.

Jadi Bambang kasih kesempatan.

Dan sejauh ini, dia tidak menyesal.

Rajendra bayar tepat waktu. Rajendra transparan soal budget. Rajendra tidak pernah minta dia manipulasi data atau berbuat curang.

Exactly kebalikan dari Julian.

Bambang menutup laptop, lalu menatap dua truk tuanya yang terparkir di dalam gudang.

Truk-truk tua yang sudah dia rawat bertahun-tahun. Truk yang dulu mengangkut barang untuk Grup Baskara, sekarang akan mengangkut barang untuk LokalMart.

Ironi.

Tapi ironi yang terasa tepat.

Ponselnya berdering, panggilan dari istrinya di rumah.

Bambang mengangkat.

"Halo, Sayang?"

"Mas, sudah malam. Kapan pulang? Makan malam udah siap dari tadi."

Bambang melirik jam dinding, sudah hampir jam sepuluh malam.

"Sebentar lagi. Ada yang harus diselesaikan dulu."

"Kerjaannya tambah banyak ya sejak kerja sama sama startup itu?"

"Iya. Tapi ini good busy. Bukan stressed busy."

Istrinya tertawa kecil di seberang.

"Oke. Hati-hati di jalan. Jangan kebut-kebutan."

"Siap."

Sambungan terputus.

Bambang berdiri, mematikan lampu gudang satu per satu, lalu keluar, mengunci pintu besi besar dengan gembok tebal.

Malam ini dia tidur dengan tenang.

Karena untuk pertama kalinya sejak dipecat, dia merasa kerjanya punya arti lagi.

Bukan cuma angkut barang dari A ke B.

Tapi membantu orang-orang kecil, UMKM yang tidak punya akses, untuk sampai ke customer mereka.

Dan itu worth it.

[ END OF BAB 17 ]

1
aidios
ror
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!