Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Lingkaran yang sama
Pagi itu, jam pelajaran pertama sudah berjalan saat Dio mendorong pintu kelas dan melangkah masuk.
Suara spidol di papan tulis terhenti.
Bu Renata menoleh ke arahnya, tatapannya tenang tapi cukup membuat suasana kelas mendadak hening.
“Dio, kenapa baru datang?kamu telat lagi?” ucap Bu Renata.
“Hehe Bu. Maaf” jawab Dio cepat.
Bu Renata menghela napas pelan. “Cepat duduk!Pelajaran sudah hampir setengah jalan, nanti kamu banyak yang tertinggal.”
“Siap, Bu,” jawab Dio singkat.
Dio berjalan ke bangkunya dan duduk di deretan tengah, bersebelahan dengan Rahmalia, Siva, dan Gina.
“Lama banget,” bisik Siva sambil melirik Dio.
“Hah?gue kan lama gara-gara lo” balas Dio pelan.
Rahmalia menahan tawa.
Dio membuka tasnya perlahan lalu menoleh ke arah Rahmalia.
“Ca, aku punya sesuatu.”
Ia menyodorkan satu permen marshmallow kecil.
Rahmalia tersenyum lalu menggeleng pelan.
“Makasih, Yo. Tapi ini masih jam pelajaran.Belum waktunya untuk makan.”
“Oh iya,” jawab Dio cepat.
Ia langsung menyimpan kembali permen itu ke dalam tas tanpa protes.
“Wih, permen,” Gina ikut melirik.
“Aku mau dong satu.”
“Buat istirahat,” jawab Dio santai.
“Hemm,” kata Gina sambil kembali ke bukunya.
“Kalian berdua berisik banget,fokus.”ucap Siva
Gina kembali menunduk menulis. Dio pun membuka bukunya dan mulai mencatat ulang materi yang tertinggal.
“Eh, Yo pulang sekolah ada waktu nggak?” bisik Gina pelan.
Dio menoleh, satu alisnya terangkat.
“Nggak. Emangnya kenapa?”
“Anterin aku belanja. Ada tas edisi terbatas, launching sore ini.”
Dio mendekat sedikit, lalu berbisik ke telinga Gina, suaranya malas.
“Nggak. Males.”
Gina mendengus kecil.
“Aku traktir.”
Ia mengeluarkan kartu ATM andalannya sebentar, sekadar pamer, lalu memasukkannya lagi ke dompet.
Dio menatap kartu itu sesaat.
“Bentar,” katanya serius.
Ia membungkuk sedikit, pura-pura mengikat tali sepatunya.
“Gas gue siap!.”
Gina menahan tawa.
“Dasar.”
...----------------...
Istirahat pun tiba seperti biasa. Suara kursi ditarik, tawa kecil, dan obrolan bercampur menjadi satu.
Di salah satu sudut kantin, Dio, Rahmalia, Siva, dan Gina duduk bersama di meja yang sama.
Sejak lama, mereka memang sering terlihat berempat—baik di kelas, di ruang latihan, maupun di kantin sekolah.
Karena itu meja mereka selalu terasa berbeda dari yang lain.
Bukan karena isinya, tapi karena orang-orang di sekitarnya. Beberapa siswa hanya melirik dari jauh, berbisik pelan, lalu berpura-pura sibuk agar tak perlu mendekat.
“Eh… itu kan Three Golden Voice.”
“Iya. Gila sih, pingin banget temenan sama mereka.”
“Sadar diri lah. Mereka nggak selevel sama penampilan lo.”
“Iya lagi. Orang tua mereka aja berpengaruh banget. Belum lagi bakatnya.”
“Serius, suara mereka bagus-bagus semua.”
“Gue paling suka Siva sih. Suaranya bisa naik oktaf tinggi, melengking tapi tetap bersih.”
“Ah, kalau gue tim Gina. Cantik, kaya, suaranya juga nggak kalah jauh sama Siva.”
“Rahmalia juga nggak kalah. Cantik, baik, dan suaranya punya ciri khas sendiri.”
Di meja sudut kantin itu, keempat nama yang dibicarakan hanya fokus pada makanan mereka masing-masing.
“Eh, tapi itu Dio apaan sih. Cuma anak kampung. Kerjanya berantem sama bercanda. Nilainya juga biasa-biasa aja. Kok bisa deket sama mereka?”
“Iya. Mukanya juga pas-pasan. Standar knalpot. Tapi bisa dikelilingi tiga cewek cantik.”
“Hah?”
Dio mengernyit sambil mengusap telinganya.
“Kok kuping gue tiba-tiba gatel, ya?”
“Makanya,” sahut Siva santai.
“Bersihin kuping. Biar nggak congean.”
“Woi,” balas Dio cepat.
“Gue congean pasti gara-gara denger suara TOA lo tiap hari.”
“Apa lu bilang?”
Siva langsung berdiri dan menjambak rambut Dio.
“Aww! Sakit, berengsek!”
“Mulai lagi Tom and Jerry,” kata Gina sambil menggeleng pelan.
Rahmalia tertawa, menutup mulutnya dengan tangan.
Tak lama kemudian, kantin mulai semakin ramai. Di sisi perempuan terdengar tawa kecil dan bisik-bisik tertahan. Di sisi laki-laki, beberapa pasang mata menoleh dengan ekspresi iri yang tidak diucapkan.
Seorang laki-laki melangkah masuk ke area kantin.
Azmi.
Sosoknya langsung menarik perhatian. Tinggi, berkulit sawo matang, wajahnya dingin tapi rapi.
Cara jalannya tenang, seolah sudah terbiasa diperhatikan. Di Stella Musica Academy, hampir semua orang tahu siapa dia.
“Apaan sih, berisik banget,” gumam Dio sambil menoleh ke belakang.
“Biasa,” jawab Siva santai.
“Pangeran datang.”
“Yaelah,” Dio mendengus.
“Tampan dari mana? Masih tetep tampanan gue.”
Gina meliriknya sekilas.
“Emm… mungkin kamu perlu ngaca sedikit.”
Dio menoleh.
“Kenapa?”
“Dia itu tampan,” kata Gina. Jleb.
“Tinggi,” lanjutnya. Jleb lagi.
“Pinter.” Jleb.
“Punya suara bagus.” Jleb.
“Kaya.” Jleb.
“Cukup, cukup,” potong Dio sambil memegangi dadanya.
“Dada gue sakit.”
Siva tertawa terbahak. Rahmalia ikut tertawa kecil, matanya tanpa sadar ikut menoleh ke arah sosok yang baru datang itu.
Tiba-tiba Azmi menoleh ke arah meja mereka, lalu melangkah mendekat.
“Maaf,” ucapnya sopan.
“Kalian Three Golden Voice, ya?”
“Norak banget nggak sih pakai julukan Three Golden segala,” celetuk Siva.
“Hahaha,” sambung Dio.
“Emang norak sih.”
“Udah, udah,” Rahmalia menahan tawa.
“Dari tadi bercanda terus.”
Azmi tersenyum kecil.
“Salam kenal.aku..”
“Kamu Azmi, kan?” Gina berdiri sedikit.
“Aku Gina.”
Azmi menjabat tangan Gina singkat.
“Azmi.”
Gina tersenyum malu.
“Aku Siva,” kata Siva.
“Namaku Rahmalia,” lanjut Rahmalia.
“Dio,” ucap Dio santai.
“Ngomong-ngomong,” kata Siva,
“ada keperluan apa kamu ke sini?”
“Oh, iya,” jawab Azmi.
“Maaf ganggu. Ini ada undangan ulang tahunku. Tolong datang, ya. Aku cuma ngadain pesta kecil-kecilan.”
“Eh,” potong Dio cepat.
“Mereka bertiga doang? Gue mana?”
Azmi menoleh ke arah Dio, sedikit ragu.
“Maaf… ini ayahku yang ngatur. Katanya cuma undang tiga anak dari perusahaan besar. Sekalian mau bahas bisnis.”
Suasana di meja itu mendadak berubah.
“Kalau mau bahas bisnis,” ucap Siva santai,
“Harusnya ayah kamu aja yang ulang tahun.Terus undang orang tua kita.”
Gina tersenyum kecil. “Kalau aku sih, pasti datang.”
Dio langsung melirik Gina, sedikit kaget.
“Udah cukup,” Rahmalia menyela pelan.
Ia menoleh ke Azmi.
“Maaf, Azmi. Benar kata Siva. Kalau undangannya memang untuk urusan bisnis saja, kami nggak perlu ikut. Lagian aku takut murid-murid lain jadi iri dan salah paham sama kita.”
Ia mengembalikan undangan itu ke tangan Azmi dengan sopan.
Azmi menatap Rahmalia beberapa detik, lalu tersenyum.
“Iya benar juga katamu.”
Rahmalia tersenyum malu.
Azmi lalu berbalik menghadap kantin dan mengangkat suaranya.
“Oke! Aku ubah. Semua siswa di sini aku undang datang ke pesta ulang tahunku. Jangan sampai telat. Nggak perlu bawa hadiah. Yang penting hadir.”
Kantin langsung riuh.
“Serius? Aku diundang ke ulang tahun Azmi?”
“Mimpi apa gue hari ini?”
Beberapa murid perempuan tertawa, sebagian lain bertepuk tangan.
Azmi kembali menatap rahmalia.
"Gimana?kalian datang kan?"
Rahmalia hanya tersenyum kecil, sedikit kikuk.
Di tengah keramaian itu, Rahmalia dan Azmi saling menatap sebentar.
Azmi pun meninggalkan mereka dan berjalan keluar dari kantin.
“Huh,” dengus Dio.
“Apaan sih dia. Sok keren banget, njir.”
“Ahh,” Gina menyengir.
“Iri bilang iri.”
“Apaan sih,” balas Dio cepat.
“Udah, udah,” Rahmalia menengahi.
“Jangan ganggu Dio.”
“Hemm,” Dio tersenyum.
“Emang kamu yang terbaik, Ca. Aku janji bakal kasih kamu permen tiap hari.”
“Ga usah,” kata Rahmalia sambil menggeleng.
“Tapi ini permen kesukaan kamu loh,” sahut Dio pelan.
Siva mendecak.
“Cih. Aneh banget sih dia. Kayaknya punya niat nggak baik sama kita.”
“Menurutku nggak,” jawab Gina tenang.
“Kayaknya ayahnya aja yang maksa dia buat deketin orang tua kita lewat kita.”
“Iya,” tambah Rahmalia.
“Dia datang baik-baik. Lagian dia undang yang lain dan nggak nurut sepenuhnya sama ucapan ayahnya.”
“Hemm,” kata Dio sambil melirik Siva.
“Dengerin kata Ica. Jangan buruk sangka mulu.”
“Hah?” Siva melotot.
“Kamu? Aku belain kamu, malah kamu nyerang balik?”
Dio terkekeh kecil.
...----------------...
Bel masuk kembali berbunyi, menandakan waktu istirahat telah selesai.
Mereka beranjak dari meja kantin dan berjalan kembali ke kelas bersama-sama, masih dengan candaan kecil dan obrolan ringan.
Tidak ada yang terlihat berbeda hari itu.
Dan tidak satu pun dari mereka tahu, ke mana hari-hari setelah ini akan membawa mereka.
kadang anak pertama itu memang didik lebih keras dari kecil, karena tanggung jawab anak pertama itu besar .
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat
cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔