Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 10 - MIMPI PURBA
Kesadaran Ash tidak padam. Itu tenggelam.
Dia terjun ke dalam lautan ingatan yang bukan miliknya. Bukan gambar-gambar yang jelas, tapi sensasi. Emosi. Fragmen-fragmen realitas yang sudah usang.
Dinginnya kekosongan sebelum penciptaan.
Hangatnya sentuhan pertama Sang Pencipta.
Kesepian menjadi makhluk pertama di alam semesta yang sunyi.
Lalu, datang yang lain. Cahaya-cahaya terang (Malaikat). Gemuruh api dan amarah (Zargoth). Bentuk-bentuk megah yang mengamati dari kejauhan (Naga). Mereka semua… memandangnya. Bukan dengan kagum. Tapi dengan rasa iri. Takut. Dan akhirnya, kebencian.
Mereka bersekutu.
Mereka menyerang.
Perang yang mengoyak kain realitas itu sendiri.
Ash—Uroboros—bertarung. Tidak untuk menang. Tapi karena tidak punya pilihan. Setiap serangan dilayani dengan balasan yang menghancurkan. Darah dewa muncrat. Sisik naga rontok. Tapi jumlah mereka terlalu banyak.
Rasa sakit dari segel-segel yang dikenakan, mengurung kekuatannya, memecah jiwanya.
Kemarahan.
Kesedihan yang lebih dalam daripada lautan.
Dan akhirnya, kegelapan. Tidur paksa.
Tapi sebelum tidur itu, sebuah suara. Suara Sang Pencipta, penuh dengan duka.
“Tidurlah, anak pertamaku. Suatu hari nanti, akan datang seorang yang akan membebaskanmu. Bukan dengan kekuatan, tapi dengan pilihan.”
Lalu, ada terang lain. Bukan dari perang. Sebuah dunia biru-hijau. Kota-kota kaca dan logam. Tertawa. Tangis. Hidup yang biasa-biasa saja. Sebuah jiwa manusia yang sedang sekarat tertabrak truk… dan menarik perhatiannya. Sebuah peluang. Sebuah jalan keluar.
Jiwa itu diselubungi, dibawa, ditanamkan ke dalam vessel yang terkunci.
Dan Ash terbangun di hutan, dengan ingatan seorang manusia, tanpa tahu bahwa dia menumpang di dalam tubuh dewa yang terluka.
---
Ash membuka mata.
Dia terbaring di atas kasur yang lembut, di sebuah ruangan dengan dinding batu halus yang dipenuhi rak buku. Cahaya matahari masuk dari jendela kaca warna-warni, melukai matanya.
Dia duduk. Tidak ada rasa sakit. Tubuhnya terasa… ringan. Lebih kuat. Tapi juga lebih asing. Pikirannya jernih, tapi ada dua arus di dalamnya. Arus yang familiar—memori Bumi, Eveline, Razen, rasa takut dan humor. Dan arus yang lain—sebuah kesadaran purba, dingin, penuh pengetahuan yang tidak seharusnya dia miliki.
Dia melihat tangannya. Tidak ada luka. Tapi dia bisa merasakan perbedaan. Ada dua lapisan kekuatan di dalamnya. Lapisan luar, yang manusia, rapuh. Dan lapisan dalam, yang emas, tak tergoyahkan.
Pintu terbuka. Eveline masuk, membawa sebuah baki dengan makanan. Dia berhenti ketika melihat Ash sudah bangun. Ekspresi datarnya retak, menunjukkan kelegaan.
“Kau bangun,” ucapnya.
Ash menatapnya. Dia mengenali wajah itu. Dia mengenali rasa… sesuatu… yang dia rasakan untuk wanita ini. Tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar berbeda di kepalanya.
“Aku… bangun,” ucap Ash. Suaranya tenang. Terlalu tenang. Dia biasanya selalu bersikap konyol dan cerewet, kini ada sedikit kekosongan di matanya.
Eveline mendekat, meletakkan baki di meja samping kasur. Matanya mengamati Ash dengan tajam. “Kau… siapa sekarang? Ash? Atau… yang lain?”
Ash memejamkan mata, mencoba merasakan dirinya sendiri. “Aku adalah Ash,” ucapnya, pelan. “Tapi aku juga… lebih dari itu. Ingatan itu… mimpi itu… itu nyata.” Dia membuka mata. “Aku adalah Uroboros. Tapi aku juga manusia dari Bumi. Keduanya adalah aku.”
“Kau tidak bicara seperti dirimu.”
“Karena ‘diriku’ yang dulu adalah versi yang dibatasi. Dikurung. Sekarang dua segel sudah terbuka. Batasannya lebih tipis.” Ash melihat ke tangannya lagi. “Aku masih ingat segalanya. Masih peduli. Tapi… rasanya seperti membaca buku tentang kehidupan seseorang. Ada jarak.”
Eveline duduk di tepi kasur. Dia ragu-ragu, lalu mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Ash. Sentuhannya hangat. Nyata.
“Kau masih di sana,” bisiknya. “Kau masih bertarung.”
Ash merasakan sentuhan itu. Dan untuk sesaat, arus kesadarannya yang manusia—yang kocak, cerewet, penuh ketakutan—mendapat kekuatan. Dia memegang tangan Eveline, erat.
“Aku tidak akan pergi,” janjinya, dan kali ini, nadanya lebih dekat dengan Ash yang lama. “Aku janji. Aku akan tetap menjadi Ash.”
Tapi di dalam hatinya, dia tahu itu akan menjadi pertarungan yang lebih berat daripada melawan monster apa pun.
---
Di ruang bawah tanah yang sama, di sebuah ruangan yang berfungsi sebagai perpustakaan pribadi, Violet sedang berdiri di depan sebuah meja besar yang dipenuhi peta. Wajahnya muram.
“Ini terlalu cepat,” gumamnya. “Dua segel dalam hitungan minggu. Jika terus seperti ini, dia akan terbangun sepenuhnya sebelum waktunya.”
“Dan bukan kah itu akan menarik. Ah.. Tapi mungkin tak semenarik itu juga~” suara Morgana terdengar dari sudut ruangan. Dia duduk di ambang jendela, kaki diayun-ayunkan. “Malaikat akan merasakannya. Zargoth mungkin akan terbangun dari tidurnya. Bahkan naga-naga tua yang malas akan membuka mata.”
“Lalu kenapa kau membiarkannya berkeliaran? Kenapa tidak kau ambil dan kau kunci di suatu tempat?”
Morgana memiringkan kepalanya. “Karena itu bukan rencananya.”
“Rencana siapa?”
“Sang Pencipta.”
Violet terdiam. Bahkan sebagai salah satu The Five, nama itu masih membuatnya merinding.
“Sang Pencipta… menghilang.”
“Menghilang, bukan mati. Dan sebelum pergi, Dia meninggalkan petunjuk. Codex. Dan vessel yang hidup ini.” Morgana menunjuk ke arah langit-langit, ke arah di mana Ash terbaring. “Uroboros harus bangun. Tapi dengan cara yang benar. Dengan pilihan. Bukan dengan paksaan. Jika kita mengurungnya, kita hanya akan menciptakan musuh yang lebih berbahaya.”
Violet menghela napas, lalu duduk. Dia terlihat sangat lelah. “Jadi apa yang harus kita lakukan?”
“Kita buat si bocah menguasai kekuatannya. Dan kita lindungi dia dari mereka yang ingin memanfaatkan atau memusnahkannya.” Morgana melompat turun dari jendela. “Untungnya, dia sudah punya pengawal pribadi. Seorang assassin yang belajar berperasaan. seorang kesatria yang mencari penebusan. Dan seorang Ratu yang ada di sini. Kombinasi yang menarik~”
“Kau ingin aku melatihnya?”
“Kau salah satu penyihir terkuat di dunia. Dan kau punya akses ke pengetahuan yang tidak dimiliki orang lain. kau akan melatihnya. Mengajarinya kontrol. Agar ketika segel berikutnya terbuka, dia tidak menghancurkan kota.”
Violet memandangi tangannya sendiri. Dia masih ingat kekuatan yang dia rasakan dari Ash yang tidak sadar—purba, liar, dan sangat-sangat kesepian.
“Baik,” katanya akhirnya. “Aku akan melatihnya. Tapi di Lunaria. Di sini tidak aman.”
“Setuju. Bersiaplah untuk perjalanan. Aku akan memastikan tidak ada yang mengikuti.”
Morgana berbalik untuk pergi.
“Morgana,” panggil Violet. “Satu pertanyaan terakhir. Kenapa? Kenapa kau peduli? Kau biasanya tidak peduli dengan urusan ‘serangga’.”
Morgana berhenti, tapi tidak menoleh. Senyum lebar dan tidak wajar itu kembali.
“Karena Nivraeth bosan~,” jawabnya, nada nyanyiannya kembali. “Dan karena… Nivraeth ingin tau kebenarannya..”
"Kebenaran?"
"Ya~ tentang perang!"
Lalu dia melangkah ke dalam bayangan dan menghilang, meninggalkan Violet sendirian dengan pikirannya yang berat.
---
Beberapa jam kemudian, Ash sudah bisa berdiri dan berjalan. Dia diberi pakaian bersih—jubah sederhana berwarna abu-abu. Dia bergabung dengan yang lain di ruang makan kecil.
Razen sudah duduk, wajahnya serius. Dia mengangguk pada Ash. “Senang kau baik-baik saja.”
“Terima kasih,” balas Ash. “Dan maaf… untuk di gua.”
“Itu bukan kau. Tapi kita harus pastikan itu tidak terjadi lagi.”
Eveline duduk di sebelah Ash, diam.
Violet masuk, dan semua orang—kecuali Ash—berdiri. Ash hanya menatapnya, penuh rasa ingin tahu. Pengetahuan Uroboros di kepalanya memberitahunya bahwa wanita ini kuat, sangat kuat untuk manusia. Tapi dia juga mengenalinya sebagai pemimpin, pelindung, dan seseorang yang menanggung beban berat.
“Duduk,” perintah Violet. Dia duduk di ujung meja. “Kalian semua sekarang terlibat dalam sesuatu yang jauh lebih besar daripada diri kalian. Aku tak tau ini baik atau buruk, namun sudah tak ada titik kembali, Karna jujur saja jika bukan di paksa morgana, aku pun tak ingin terlibat langsung dalam masalah ini. ”
Razen menelan ludah. “Jadi, legenda yang selama ini di ceritakan itu salah?"
“Sebagian besar sejarah adalah ditulis oleh pemenang,” jawab Violet. “Tak ada benar atau salah jika kita membahas eksistensi sekuat dewa, namun sejauh pengetahuan yang aku tahu, Samael memang yang paling aktif menutupi 'Semua fakta' maka dari itu dia memecah Codex dan menyebarnya.”
“Apa itu Codex?” tanya Ash, yang mencoba bangun dari tempat tidurnya.
“Codex adalah catatan resmi sejarah dunia, yang di tulis langsung oleh dewa pencipta, yang menjelaskan awal mula segalanya.” Violet menatap Ash. “Mulai dari bagai mana ia menciptakan mahluk pertama, sampai bagaimana mahluk pertama itu bisa di segel.”
“Jadi kita harus apa?” tanya Eveline.
“Kau akan ikut denganku ke Lunaria. Di ibu kota sihir, Ash bisa belajar mengontrol kekuatannya dengan aman. Razen, kau bebas memilih. Kau bisa pergi, dan kita akan hapus ingatanmu tentang ini. Atau kau bisa ikut, dan menjadi bagian dari… apa pun yang akan terjadi.”
Razen diam lama. Matanya tertuju pada Ash. Dia melihat seorang pemuda yang bingung, bukan monster. Dia melihat Eveline, yang menemukan sesuatu untuk diperjuangkan lagi. Dan dia melihat kesempatan untuk penebusan yang sebenarnya bukan hanya untuk desa yang dia selamatkan, tapi mungkin untuk kesalahan yang lebih besar.
“Aku ikut,” katanya dengan suara tegas. “Aku sudah meninggalkan satu tugas karena prinsip. Aku tidak akan meninggalkan yang ini.”
Violet menganggak, seperti sudah menduga. “Baik. Tapi kita akan berangkat secara terpisah untuk meminimmilalisir jejak, karna akan sangat mencurigakan jika seorang Ratu berpergian bersama orang asing.”
“Baik, Tapi Morgana… siapa dia sebenarnya?” tanya Ash. Pengetahuan Uroboros di kepalanya merasa familiar dengan esensinya, tapi tidak bisa menempatkannya.
Violet bertukar pandang dengan ruangan kosong di sudut, seolah mengharapkan jawaban dari sana. Tapi tidak ada.
“Dia adalah… pengamat,” jawab Violet akhirnya. “Yang memutuskan untuk turun tangan. Itu saja yang perlu kalian tahu untuk sekarang.”
Persiapan dilakukan dengan cepat. Ash, dengan kesadaran barunya, merasa aneh. Dia masih ingat semua lelucon bumi, masih ingin makan mie instan, tapi sekarang dia juga memahami prinsip dasar sihir, merasakan aliran mana di sekelilingnya, dan mengetahui bahwa dirinya tidak bisa mati dengan cara biasa. Itu adalah kombinasi yang membuat pusing.
Sebelum pergi, dia menemukan Eveline di balkon kecil, memandangi bulan yang mulai muncul.
“Eveline,” panggilnya.
Dia menoleh.
“Aku minta maaf. Untuk semua yang terjadi. Untuk menakutimu. Bahkan melukaimu.”
“Kau tidak perlu minta maaf.”
“Aku perlu. Karena aku melihat wajahmu saat itu. Ketakutan. Dan aku tidak mau jadi penyebabnya lagi.”
Eveline diam, lalu menghela napas kecil. “Aku juga takut kehilangan dirimu. Ash yang cerewet dan menjengkelkan itu.”
Ash tersenyum, senyum yang lebih tenang, kurang liar, tapi masih tulus. “Dia masih ada di sini. Dia hanya… dapat teman sekamar yang serius.”
Untuk pertama kalinya sejak di gua, Eveline hampir tersenyum. “Itu bagus. Karena aku tidak ingin belajar mengenal orang baru.”
Mereka berdiri dalam sunyi yang nyaman. Di bawah, kereta kuda disiapkan. Perjalanan ke Lunaria akan panjang dan berbahaya. Tapi untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, Ash merasa punya arah. Punya tujuan.
Bukan sekadar bertahan hidup.
Tapi untuk memahami siapa dirinya, dan memilih akan menjadi apa.
Dua segel terbuka. Delapan lagi tersisa.
Dan di suatu tempat jauh, di sebuah kerajaan teokratis yang megah, seorang raja bermata emas membuka mata dari meditasinya. Darius III merasakan gangguan di alam. Sesuatu yang purba dan terlarang telah bangun.
Senyum kejam merekah di wajahnya.
“Akhirnya,” bisiknya. “Buruan telah muncul.”