Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.
Dialog Intens Liam kepada Olive
"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 BELATI BERACUN DAN TOPENG YANG TERLEPAS
Rabu, 14 Mei 2025, Musim Semi
Pasca badai besar yang nyaris menghancurkan pondasi kepercayaan mereka, hubungan antara Olivia Elenora Aurevyn dan Liam Maximilian Valerius justru bertumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih kokoh dan intens. Liam, yang biasanya hanya peduli pada strategi militer dan pertahanan global, kini seolah mengalihkan seluruh radar fokusnya hanya kepada Olive. Sang Iron Monarch itu tidak lagi membiarkan celah sekecil apa pun untuk kesalahpahaman.
Kesungguhan Liam dibuktikan dengan persiapannya yang luar biasa. Ia bahkan sudah memesan gaun pernikahan khusus dari desainer papan atas di Paris untuk calon istrinya. Tidak hanya itu, setiap detail lokasi gedung pernikahan dipilih secara personal sesuai dengan impian Olive yang mendambakan nuansa romantis klasik namun megah. Beberapa hari terakhir, Liam tampak lebih sering berada di sisi Olive daripada di ruang kerjanya yang dingin, hingga akhirnya sebuah rapat mendesak memaksanya untuk absen sementara dari agenda menemui desainer kain.
"Aku tidak ingin ada gangguan lagi, Olive," ucap Liam pagi itu seraya menyerahkan ponsel pribadinya kepada Olive. "Pegang ini. Aku memakai ponsel baru yang hanya berisi nomor pribadimu. Jika ada panggilan penting masuk ke ponsel lamaku, angkat saja. Katakan bahwa aku sedang tidak bisa diganggu dan suruh mereka menghubungi Marcus."
Olive sempat merasa ragu. "Tapi, Liam, bagaimana jika itu urusan negara atau bisnis besar?"
"Kau adalah urusan terbesarku sekarang," jawab Liam tegas dengan tatapan hangat yang sanggup meluluhkan hati Olive. Akhirnya, Olive setuju.
Karena Zee dan Vera sedang dalam masa krusial mengerjakan skripsi akhir mereka, Olive mengajak Luna Calista untuk menemaninya ke butik tekstil eksklusif. Menariknya, penampilan Luna hari itu tampak berbeda. Ia mengenakan setelan pakaian baru yang sangat modis pemberian Marcus beberapa hari lalu dengan alasan bahwa pakaian lama Luna sudah terlalu 'usang' untuk mendampingi seorang Aurevyn.
Saat mereka sedang asyik memilah gulungan kain sutra premium dan brokat prada, ponsel Liam yang dibawa Olive berdering nyaring. Olive tidak melihat nama di layar karena nomor itu tidak terdaftar, ia langsung menggeser tombol hijau.
"Halo?" suara Olive terdengar tenang.
Namun, yang terdengar di seberang sana bukanlah suara rekan bisnis, melainkan suara desahan kecil yang dibuat-buat agar terdengar seksi dan menggoda. "Liam... honey... aku sedang di hotel... kepalaku pusing sekali, sepertinya aku terlalu mabuk. Bisakah kau datang menjemputku sekarang?"
Olive segera mengenali nada bicara itu. Itu Thalia. Bukannya panik atau sedih seperti beberapa hari lalu, Olive justru menarik napas panjang dengan rasa percaya diri yang meluap. Ia tersenyum miring ke arah Luna yang mulai memperhatikan.
"Maaf sekali, Nona Thalia," suara Olive terdengar sangat elegan namun tajam. "Calon suamiku sedang sangat sibuk mempersiapkan pernikahan kami. Dan ponselnya? Oh, tentu saja ada di genggamanku sekarang."
Hening sesaat di seberang telepon sebelum suara Thalia berubah menjadi teriakan murka. "Kau?! Di mana kau sekarang, Olivia?! Jangan harap kau bisa memiliki Liam begitu saja!"
"Aku sedang di toko kain terbaik di kota ini, memilih bahan untuk gaun pengantinku yang sangat mahal," jawab Olive santai sebelum mematikan sambungan telepon. Luna yang mendengar itu terkekeh pelan, merasa sangat bangga pada ketegasan majikannya.
Kurang dari tiga puluh menit, suasana tenang di toko kain itu pecah. Thalia muncul dengan wajah penuh amarah, dan yang lebih menjijikkan, ia membawa serombongan wartawan gosip di belakangnya. Thalia ingin membuat skenario bahwa ia adalah korban yang tertindas.
"Tunjukkan padaku! Mana sketsa gaun itu?!" teriak Thalia saat melihat desainer ternama yang sedang berdiskusi dengan Olive. Mata Thalia tertuju pada sebuah kertas sketsa eksklusif di tangan desainer tersebut. Ia mencoba merampasnya dengan kasar untuk merobeknya.
Namun, Luna yang biasanya terlihat lugu dan penurut, bergerak dengan kecepatan yang tak terduga. Ia menghalangi tubuh sang desainer dan dengan satu gerakan tegas, tangannya melayang mendarat di pipi Thalia.
PLAK!!!
Suasana menjadi hening seketika. Wartawan dengan cepat mengarahkan kamera mereka ke arah Thalia yang memegangi pipinya.
"Beraninya kau menyentuh barang berharga milik calon Nyonya Valerius!" bentak Luna dengan tatapan berapi-api.
Thalia mencoba membela diri di depan kamera. "Lihat! Lihat bagaimana calon istri Liam membiarkan karyawannya berlaku kasar pada seorang model internasional sepertiku! Dia hanya wanita yang memanfaatkan harta keluarga Aurevyn untuk mengikat Liam!"
Mendengar sindiran itu, Olive melangkah maju. Ia melepaskan kacamata hitamnya, menatap Thalia dengan pandangan meremehkan. Inilah saatnya The Golden Butterfly mengeluarkan "belati beracun"-nya yang sudah lama tidak ia gunakan.
"Manis sekali caramu berakting, Thalia," ujar Olive dengan nada tenang yang justru lebih menakutkan daripada teriakan. "Kalian ingin berita?" Olive menatap ke arah wartawan. "Silakan dengar ini."
Olive memutar rekaman panggilan telepon beberapa saat lalu yang sempat ia rekam. Suara desahan menjijikkan Thalia menggema di seluruh toko, membuktikan bahwa dialah yang mencoba menggoda calon suami orang. Wartawan mulai berbisik riuh, suasana berbalik seratus delapan puluh derajat.
Tak berhenti di situ, Luna ikut maju dengan suara lugunya yang kini terdengar sangat pedas. "Lucu sekali melihatmu berteriak tentang martabat. Thalia, kau itu hanya wanita yang tidak percaya diri dengan wajah aslimu. Bukankah seluruh dunia tahu wajahmu itu hasil operasi plastik berkali-kali di Korea tahun lalu? Aku memang miskin, tapi setidaknya aku tahu diri dan tahu malu."
Luna menjeda, menatap Thalia dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kau hanya beruntung karena dulu pernah menolong mediang kakek Tuan Liam secara tidak sengaja, lalu kau berpikir bisa menjadi konglomerat dengan cara menjual diri? Maaf, tapi melihatmu saja sudah membuatku muak."
Olive nyaris menelan ludah kasar. Ia tidak menyangka Luna yang terlihat sangat polos bisa melontarkan kalimat sekejam itu. Namun, ia tidak bisa menahan senyum puasnya. Thalia berdiri mematung, wajahnya yang penuh riasan kini memerah karena malu yang luar biasa. Ia dikelilingi oleh jepretan kamera wartawan yang kini memotret wajah 'marah' dan 'malu'-nya yang tidak estetis sama sekali.
Thalia akhirnya lari meninggalkan butik dengan menutup wajahnya, sementara Olive dan Luna tetap berdiri di sana dengan keanggunan yang tak tertandingi. Hari itu, Monako menyaksikan bagaimana seorang ratu dan pengawal setianya menghancurkan topeng kepalsuan seorang model yang mencoba bermain api.
Kita pada pngen type cwo gini, Ade ❤️🤗😘
Mg Liam selamat & segera sehat kembali y ❤️🤗😘