NovelToon NovelToon
Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / Tumbal / Hantu / Mata Batin
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.

Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Jantung Kegelapan

Lorong ventilasi itu terasa seperti kerongkongan binatang purba yang siap menelan mangsanya bulat-bulat. Elara merayap dengan siku dan lutut yang mulai lecet, mengabaikan rasa perih yang menyengat setiap kali kulitnya bergesekan dengan logam dingin yang berkarat. Aroma di sini bukan lagi sekadar bau apek gedung tua, melainkan campuran anyir darah kering dan bau ozon yang tajam, sebuah sinyal bahwa ia semakin dekat dengan pusat kekacauan di RSU Cakra Buana.

Suara berisik dari mesin turbin di bawah sana terdengar seperti dengkuran raksasa yang sedang tidur gelisah. Getarannya merambat melalui dinding seng, membuat gigi Elara beradu pelan tanpa bisa dikendalikan. Namun, di antara deru mesin yang monoton itu, telinganya menangkap suara lain—suara manusia yang sedang beradu argumen dengan nada tinggi.

Elara menahan napasnya, berusaha meminimalisir suara gesekan tubuhnya saat ia mendekati kisi-kisi besi di ujung terowongan. Cahaya kuning temaram menerobos masuk dari celah-celah jeruji, menciptakan pola garis-garis panjang di wajahnya yang kotor oleh debu dan keringat dingin. Ia mengintip ke bawah, dan pemandangan yang tersaji di sana membuat darahnya berdesir hebat.

Ruang Generator Utama itu jauh lebih luas daripada yang tertera di denah evakuasi rumah sakit. Langit-langitnya tinggi melengkung dengan arsitektur kolonial yang masih asli, namun dinding-dindingnya telah dipenuhi coretan simbol aneh menggunakan cat merah gelap yang menyerupai darah. Di tengah ruangan, sebuah generator raksasa peninggalan era 1950-an berputar pelan, namun kabel-kabel yang terhubung padanya tidak wajar; beberapa tampak tertanam langsung ke lantai tanah yang retak.

"Kau sudah gila, Arisandi! Ini bukan bagian dari kesepakatan kita!" teriak Pak Darto, suaranya memantul di dinding batu yang lembap.

Pria tua itu berdiri gemetar di dekat panel kontrol, wajahnya pucat pasi seolah seluruh darah telah ditarik keluar dari tubuhnya. Di hadapannya, Dr. Arisandi berdiri dengan tenang, jas putihnya tampak kontras dengan kegelapan ruangan itu. Dokter itu memegang sebuah tabung kaca kecil berisi cairan hitam pekat yang bergejolak seolah hidup.

"Kesepakatan? Kau pikir kita sedang bernegosiasi bisnis properti, Darto?" balas Dr. Arisandi dengan nada dingin yang menusuk.

Arisandi melangkah maju perlahan, langkah kakinya menggema ngeri di lantai beton. Ia menatap Darto dengan tatapan merendahkan, seolah pria tua itu hanyalah serangga yang mengganggu eksperimen agungnya. Senyum tipis yang tersungging di bibir sang dokter lebih menakutkan daripada kemarahan yang meledak-ledak.

"Rumah sakit ini tidak berdiri di atas tanah kosong, Darto. Ia berdiri di atas 'mereka'. Dan generator ini..." Arisandi menepuk badan mesin besi itu dengan penuh kasih sayang, "...bukan hanya memompa listrik. Ini adalah jantung yang memompa esensi mereka agar kita tetap muda, agar Cakra Buana tetap menjadi yang terdepan dalam medis, meski harus mengorbankan beberapa pasien yang 'tidak beruntung'."

Elara menutup mulutnya dengan tangan, menahan pekikan yang hampir lolos. Jadi selama ini rumor itu benar; rumah sakit ini memakan nyawa bukan karena malapraktik, melainkan karena sebuah sistem yang dirancang untuk memanen energi kehidupan. Ia melihat bayangan-bayangan hitam yang menggeliat di sudut ruangan, seakan menunggu perintah dari tuannya.

"Aku ingin keluar! Aku tidak mau lagi terlibat dengan tumbal-tumbalmu!" Darto mundur selangkah, tangannya meraba-raba saku celananya, mungkin mencari senjata atau ponsel.

"Kau tidak bisa keluar, Darto. Kau sudah terikat sejak kau menandatangani kontrak renovasi basement ini sepuluh tahun lalu," ujar Arisandi sambil membuka tutup tabung di tangannya.

Cairan hitam di dalam tabung itu menguap menjadi asap yang membentuk wajah-wajah menderita, berputar mengelilingi tangan Arisandi sebelum merayap turun ke lantai. Suhu di dalam ventilasi tempat Elara bersembunyi mendadak turun drastis, membuat uap napasnya terlihat jelas di udara. Hawa dingin yang tidak wajar ini bukan berasal dari pendingin ruangan, melainkan dari kematian yang hadir secara fisik.

"Energi ini butuh wadah baru, Darto. Pasien di bangsal isolasi sudah habis. Dan kau... kau tahu terlalu banyak," lanjut Arisandi pelan.

Pak Darto terbelalak, menyadari bahwa hidupnya kini berada di ujung tanduk. Ia berbalik dan mencoba berlari menuju pintu besi tebal di seberang ruangan, namun bayangan hitam di lantai bergerak lebih cepat daripada kakinya. Bayangan itu menjerat pergelangan kaki Darto, membuatnya jatuh terjerembap dengan suara hantaman keras.

"Tolong! Siapapun!" jerit Darto histeris, kakinya diseret paksa mendekati mesin generator yang bergemuruh makin kencang.

Elara tahu ia tidak bisa diam saja. Jika Darto mati, ia akan kehilangan saksi kunci, dan mungkin ia akan menjadi giliran berikutnya. Gadis itu meraba saku celana kargonya, jemarinya menyentuh dinginnya kunci inggris yang sempat ia ambil di ruang janitor lantai atas. Itu bukan senjata yang ideal, tapi itu satu-satunya yang ia punya.

Dengan sekuat tenaga, Elara menendang kisi-kisi besi di bawahnya. Baut-baut yang sudah dimakan karat tidak mampu menahan hentakan kakinya, dan jeruji itu terlepas, jatuh menghantam lantai di bawah dengan suara dentingan logam yang memekakkan telinga. Arisandi tersentak kaget, menoleh ke atas tepat saat Elara melompat turun.

Elara mendarat dengan posisi berjongkok, rasa nyeri menjalar dari tumit hingga ke tulang punggungnya, namun adrenalin memaksanya untuk segera bangkit. Ia berdiri di antara Arisandi dan Darto yang masih meronta di lantai, mengacungkan kunci inggrisnya dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Cukup, Dokter. Permainan tuhan-tuhanan ini berakhir sekarang," ucap Elara, suaranya terdengar lebih tegas daripada yang ia rasakan.

Dr. Arisandi menatap Elara, bukan dengan rasa takut, melainkan dengan rasa ingin tahu yang menjijikkan. Ia memiringkan kepalanya sedikit, seolah sedang mengamati spesimen langka di bawah mikroskop. Asap hitam yang tadi mengejar Darto kini berhenti, berputar-putar ragu di udara.

"Ah, Nona Elara Senja. Wartawan investigasi yang keras kepala. Aku sudah menduga kau akan sampai di sini, meski tidak secepat ini," kata Arisandi sambil tersenyum ramah, sebuah keramahan palsu yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Lepaskan dia. Polisi sudah dalam perjalanan," gertak Elara, meski ia tahu itu bohong. Sinyal ponsel mati total sejak ia memasuki lantai dasar.

"Polisi tidak berkuasa di sini, Elara. Di Kota Arcapura, hukum fisika dan hukum negara tunduk pada hukum yang lebih tua," jawab Arisandi santai.

Dokter itu menjentikkan jarinya. Mesin generator di belakangnya menderu kencang, lampu-lampu indikatornya berubah dari hijau menjadi merah menyala. Suara jeritan halus mulai terdengar dari dalam mesin, seperti ribuan jiwa yang tersiksa meminta dilepaskan. Lantai di bawah kaki Elara mulai bergetar hebat, retakan-retakan kecil mulai muncul dan memancarkan cahaya ungu pucat.

"Lari, Nak! Dia bukan manusia!" teriak Darto yang masih terkapar, wajahnya basah oleh air mata dan keringat.

"Diam kau, tua bangka!" bentak Arisandi, tangannya terangkat ke udara.

Seketika, sebuah gaya tak kasat mata menghantam dada Elara, melemparnya mundur beberapa meter hingga punggungnya menabrak panel kontrol. Rasa sakit yang luar biasa menghantam tulang rusuknya, membuatnya terbatuk-batuk mencari udara. Kunci inggris di tangannya terlepas, tergelincir jauh ke kolong meja.

Elara berusaha bangkit, matanya nanar menatap Arisandi yang kini tampak dikelilingi aura gelap. Pria itu tidak lagi terlihat seperti dokter yang berwibawa; wajahnya mulai berubah, bayangan tengkorak tumpang tindih dengan wajah aslinya setiap kali lampu berkedip. Ini bukan lagi sekadar kejahatan medis, ini adalah konfrontasi dengan sesuatu yang jauh di luar nalar manusia.

"Kau punya semangat yang bagus, Elara. Jauh lebih murni daripada si pengecut Darto," ujar Arisandi sambil berjalan mendekat, langkahnya tidak lagi menyentuh lantai, melainkan melayang beberapa sentimeter di atasnya.

"Mungkin..." Arisandi berhenti tepat di depan Elara yang masih terduduk lemas, "...kau yang seharusnya menjadi bahan bakar utama untuk membangkitkan 'Penjaga' sesungguhnya."

Elara meraba lantai di belakang punggungnya, mencari apapun yang bisa digunakan untuk bertahan. Tangannya menyentuh sebuah tuas darurat berwarna merah yang tertutup debu di sisi panel kontrol. Tuas itu bertuliskan 'EMERGENCY PURGE - DO NOT TOUCH'.

Dalam keputusasaan, Elara menatap mata hitam Arisandi yang kosong tanpa jiwa. Pilihan yang ia miliki hanyalah mati sebagai korban, atau mati sambil menghancurkan segalanya bersama monster ini.

"Kau salah tentang satu hal, Dok," bisik Elara sambil mencengkeram tuas itu erat-erat.

"Oh? Dan apa itu?" tanya Arisandi meremehkan.

"Aku bukan baterai. Aku adalah bomnya," geram Elara.

Dengan sisa tenaga terakhirnya, Elara menarik tuas merah itu ke bawah. Sirine tanda bahaya meraung keras, memecah keheningan basement, diikuti oleh suara desis uap panas yang menyembur dari segala penjuru pipa. Kekacauan baru saja dimulai.

1
mentari
seru banget ceritanya
chika
seru banget kak
chika
cerita nya bagus
deepey
seruu
deepey
pak Darto jangan jd plot twist y Thor
S. Sage: adalah pokok nya🤭
total 1 replies
deepey
saling support kk 😄
deepey
makin penasaran
deepey
semangat berkarya kaka 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!