Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.
Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Perjanjian Darah
Bau amis darah yang bercampur dengan aroma lumut basah menyengat indra penciuman Elara, membuatnya harus menahan napas setiap kali melangkah. Air keruh setinggi lutut di lorong Basement Level 4 RSU Cakra Buana ini terasa sedingin es, seolah menyerap seluruh kehangatan tubuhnya secara perlahan. Lampu neon di langit-langit yang sudah berkarat itu berkedip-kedip tak beraturan, menciptakan bayangan panjang yang seakan menari mengikuti gerak-gerik ketakutannya.
Elara merapatkan punggungnya ke dinding beton yang lembap, merasakan tekstur kasar dan berlendir yang menempel di balik jaketnya. Ia tahu ia tidak sendirian di labirin bawah tanah ini, karena suara kecipak air yang bukan berasal dari langkah kakinya terdengar semakin jelas dari arah persimpangan lorong. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya dengan ritme yang menyakitkan, seirama dengan tetesan air yang jatuh dari pipa bocor di atas kepalanya.
"Aku tahu kau ada di sini, Elara..." sebuah suara parau menggema, memantul di antara dinding-dinding sempit itu.
Suara itu bukan milik manusia biasa; ada getaran ganjil yang membuat bulu kuduk Elara meremang seketika. Ia membekap mulutnya sendiri dengan tangan yang gemetar hebat, berusaha menahan isak tangis yang mendesak ingin keluar. Matanya liar menyapu sekeliling, mencari celah atau pintu yang bisa menyembunyikan tubuh mungilnya dari sosok yang kini memburu nyawanya.
Di ujung lorong sebelah kanan, sebuah pintu besi tua dengan cat hijau yang mengelupas tampak sedikit terbuka. Tanpa berpikir panjang, Elara menyeret kakinya secepat mungkin menembus genangan air, berusaha meminimalisir suara riak yang timbul. Setiap detik terasa seperti pertaruhan nyawa, dan rasa sakit di kakinya akibat dinginnya air seolah tak lagi dipedulikan oleh otak yang dikuasai adrenalin.
Ia menyelinap masuk ke dalam ruangan itu dan dengan hati-hati mendorong pintu besi berat itu agar tertutup, meski engselnya yang berkarat mengeluarkan decitan protes yang nyaring. Elara mematung, menahan napas selama beberapa detik, berdoa agar suara itu tidak terdengar oleh si pemburu di luar sana. Keheningan kembali menyelimuti, hanya dipecahkan oleh suara napasnya sendiri yang terdengar kasar dan putus-putus.
Elara menyalakan senter kecil yang sejak tadi ia genggam erat, dan berkas cahayanya menyapu ruangan tempat ia bersembunyi. Ini bukan sekadar gudang penyimpanan barang bekas seperti yang ia duga sebelumnya, melainkan sebuah ruang bedah kuno peninggalan era kolonial yang tampaknya sengaja dibiarkan terbengkalai. Meja operasi dari besi tua berdiri kokoh di tengah ruangan, dikelilingi oleh lemari kaca yang pecah dan peralatan medis yang berserakan di lantai.
Namun, bukan peralatan medis itu yang membuat darah Elara berdesir ngeri, melainkan apa yang ada di atas meja operasi tersebut. Kain putih yang menutupi meja itu telah berubah warna menjadi merah kecokelatan yang pekat, dengan pola-pola geometris aneh yang digambar menggunakan cairan kental. Lilin-lilin hitam yang sudah meleleh habis berjejer di sekeliling meja, menandakan bahwa tempat ini sering digunakan untuk aktivitas yang jauh dari kata medis.
"Astaga, apa sebenarnya tempat ini?" bisik Elara lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.
Ia melangkah mendekat, rasa ingin tahunya perlahan mengalahkan rasa takut yang sejak tadi mencengkeram. Di sudut ruangan, terdapat sebuah meja kerja kayu yang penuh dengan tumpukan kertas dan botol-botol kaca berisi cairan keruh. Elara mengarahkan senternya ke tumpukan kertas itu, matanya membelalak ketika mengenali kop surat resmi RSU Cakra Buana pada dokumen-dokumen tersebut.
Tangannya yang gemetar meraih salah satu dokumen yang paling atas, sebuah catatan harian medis yang ditulis dengan tulisan tangan tegak bersambung yang rapi namun terkesan kaku. Elara membaca baris demi baris tulisan itu, dan semakin ia membaca, semakin ia merasa mual. Catatan itu berisi detail tentang 'donor' yang tidak tercatat dalam sistem administrasi rumah sakit, serta jadwal ritual yang bertepatan dengan tanggal-tanggal kematian pasien misterius.
"Pasien 304, kegagalan organ multipel, disiapkan untuk persembahan bulan purnama," gumam Elara membaca salah satu baris, matanya berkaca-kaca karena ngeri.
Di samping dokumen itu, tergeletak sebuah foto lama yang warnanya sudah memudar menjadi sepia. Foto itu memperlihatkan sekelompok dokter dan perawat berdiri di depan gedung lama rumah sakit, namun ada satu wajah yang sangat familiar bagi Elara. Wajah itu terlihat jauh lebih muda, namun sorot mata dingin dan senyum tipis yang penuh rahasia itu tidak mungkin salah dikenali.
"Dr. Arisandi..." desis Elara, rasa dingin yang baru merambat naik dari ujung kakinya hingga ke ubun-ubun.
Ternyata kecurigaannya selama ini benar; dokter senior yang dihormati itu bukan sekadar saksi bisu, melainkan dalang utama di balik teror yang menghantui rumah sakit ini. Elara meremas foto itu dengan geram, kemarahan perlahan menggantikan rasa takutnya. Ia harus membawa bukti ini keluar, Pak Darto harus tahu bahwa musuh mereka bukan hanya hantu penunggu, tetapi juga manusia yang berhati iblis.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar berhenti tepat di depan pintu besi tempat Elara bersembunyi. Pegangan pintu perlahan bergerak turun, ditekan oleh seseorang dari luar dengan gerakan yang lambat dan menyiksa. Elara mundur teratur, matanya terpaku pada pintu itu, sementara tangannya meraba-raba saku celananya mencari ponsel untuk menghubungi siapa pun yang bisa menolongnya.
"Aku bisa mencium ketakutanmu, Elara... baunya manis sekali," suara Dr. Arisandi terdengar dari balik pintu, kali ini tanpa nada ramah yang biasa ia tunjukkan di bangsal.
Pintu besi itu terbuka dengan sentakan kasar, memperlihatkan sosok tinggi tegap yang berdiri di ambang pintu dengan jas dokter yang tampak putih menyilaukan di tengah kegelapan basement. Namun, wajah Dr. Arisandi tidak terlihat seperti biasanya; kulitnya pucat pasi dengan urat-urat hitam yang menonjol di sekitar leher dan pelipisnya. Matanya sepenuhnya hitam, tanpa bagian putih sedikit pun, menatap Elara dengan lapar.
Elara tidak membuang waktu untuk berteriak atau memohon belas kasihan. Ia menyambar sebuah toples kaca berisi organ awetan dari meja di dekatnya dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah Dr. Arisandi. Toples itu pecah menghantam bahu sang dokter, menyebarkan bau formalin yang menyengat dan pecahan kaca ke segala arah.
"Lari, Elara! Lari!" teriak batinnya, memacu kakinya menuju pintu lain di sisi berlawanan ruangan yang baru saja ia sadari keberadaannya.
Dr. Arisandi menggeram marah, suaranya terdengar seperti gabungan antara teriakan manusia dan auman binatang buas. Ia menerjang maju, mengabaikan pecahan kaca yang menancap di bahunya, namun Elara sudah lebih dulu menerobos pintu belakang. Ia kembali disambut oleh lorong gelap yang lebih sempit, namun kali ini tidak ada genangan air, melainkan lantai tanah yang becek dan berbau tanah kuburan.
Elara berlari sekuat tenaga, napasnya memburu dan paru-parunya terasa terbakar. Ia tidak tahu ke mana lorong ini akan berujung, yang ia tahu hanyalah ia harus menjauh dari ruang bedah terkutuk itu. Di kejauhan, ia melihat secercah cahaya redup yang berasal dari celah di langit-langit lorong, memberikan sedikit harapan di tengah keputusasaan.
Namun, langkahnya terhenti mendadak ketika ia melihat sosok lain berdiri di bawah berkas cahaya itu. Sosok tua dengan pakaian petugas kebersihan yang lusuh, memegang sebuah sapu lidi dengan sikap siaga. Itu adalah Pak Darto, namun ada sesuatu yang berbeda dari sorot matanya kali ini.
"Pak Darto! Tolong! Dr. Arisandi... dia gila!" seru Elara sambil berlari mendekat, merasa lega melihat wajah yang dikenalnya.
Pak Darto tidak menjawab, ia hanya menatap Elara dengan pandangan sedih yang mendalam. Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Elara berhenti. Di belakang Elara, suara langkah kaki Dr. Arisandi semakin mendekat, disertai tawa mengerikan yang menggema di lorong sempit itu.
"Kau seharusnya tidak turun ke sini, Nak Elara," ucap Pak Darto pelan, suaranya bergetar menahan emosi.
Elara terpaku di tempatnya, kebingungan melihat reaksi Pak Darto yang tidak seperti biasanya. Apakah Pak Darto juga bagian dari ini semua? Ataukah ada bahaya lain yang lebih besar yang sedang menanti mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya, sementara bayangan Dr. Arisandi mulai terlihat memanjang di dinding lorong di belakangnya, siap untuk menelan mereka berdua ke dalam kegelapan abadi.