Shen Yu, seorang pemuda yang memikul takdir terlarang sebagai pewaris Raja Iblis Purba (Tangan Asura, Mata Iblis, dan Jantung Ketiadaan), memimpin sekelompok jenius buangan untuk melawan takdir mereka: Ye Qing sang Dewa Pedang Bintang, Su Ling pemilik Mata Iblis Surgawi, Feng Jiu sang Ratu Phoenix, dan Long Tu sang Jenderal Setengah Naga.
Setelah menghancurkan ambisi Sekte Mayat dan menolak menjadi wadah pengorbanan bagi Istana Langit Utara, Shen Yu melakukan langkah gila: ia meledakkan Jantung Iblis untuk merobek dinding realitas, membawa timnya melarikan diri ke dalam celah dimensi yang mematikan.
Tiga tahun berlalu dalam kehampaan. Kini, mereka muncul kembali di Benua Roh Abadi, sebuah dunia tingkat tinggi yang jauh lebih buas dan kuno. Dengan kekuatan yang telah berevolusi mencapai ranah Nascent Soul, Shen Yu tidak lagi berniat lari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 34
Langit di Atas Lembah Penyegel Jiwa.
Kapal Perang Tulang Naga melayang rendah, menderu pelan seperti binatang buas yang ketakutan. Di haluan kapal, Ye Qing dan Feng Jiu berdiri kaku. Wajah mereka pucat pasi.
Mereka baru saja menyaksikan kehancuran total di bawah sana.
Cahaya ungu yang meledak... lalu kesunyian yang mematikan. Dan sekarang, sosok itu naik kembali ke kapal.
Shen Yu mendarat di geladak.
Langkah kakinya tidak bersuara. Jubah hitamnya yang compang-camping berkibar pelan.
Tapi yang membuat Ye Qing menahan napas adalah rambutnya. Rambut hitam panjang yang dulu menjadi ciri khasnya kini telah berubah menjadi Putih Salju. Putih yang mati, tanpa kilau kehidupan.
Dan matanya... Mata itu seperti dua lubang sumur tua yang kering. Tidak ada amarah. Tidak ada kesedihan. Hanya kehampaan.
"Bos..." panggil Ye Qing hati-hati. "Di mana... Nona Su Ling?"
Shen Yu tidak berhenti berjalan. Dia melewati mereka seolah mereka tidak ada.
"Dia sedang tidur," jawab Shen Yu datar.
"Tidur?" Feng Jiu bingung. "Tapi ledakan tadi..."
Shen Yu berhenti. Dia menoleh sedikit. Tatapan matanya membuat Feng Jiu merasa jantungnya diremas oleh tangan dingin.
"Aku bilang dia tidur," ulang Shen Yu. Nada suaranya tidak naik, tapi tekanan Dao Ketiadaan nya membuat kayu kapal retak.
"Jangan berisik. Nanti dia bangun."
Ye Qing dan Feng Jiu langsung bungkam. Mereka menyadari satu hal mengerikan: Patriark mereka tidak menerima kenyataan. Atau lebih buruk, dia telah menetapkan "Kenyataan Baru" di kepalanya sendiri.
Shen Yu berjalan ke tepi kapal, menatap ke arah cakrawala Timur Laut. Di sana, terdapat area terlarang yang dikenal sebagai Celah Dimensi Besar (The Great Dimensional Rift) bekas luka perang dewa kuno di mana dinding antar-alam sangat tipis.
"Kalian kembali ke Sekte," perintah Shen Yu.
"Bawa pasukan. Pulihkan diri. Tunggu perintahku."
"Kau mau kemana, Bos?" tanya Ye Qing panik. "Keadaanmu tidak stabil! Kau butuh istirahat!"
"Istirahat?" Shen Yu mendongak menatap langit yang kosong.
"Aku tidak punya waktu untuk istirahat. Dia menunggu di tempat yang dingin. Aku harus menjemputnya."
Sebelum Ye Qing bisa mencegahnya, Shen Yu melompat dari kapal.
WOOSH!
Dia tidak terbang biasa. Dia merobek ruang, teleportasi ribuan mil dalam sekejap mata, meninggalkan Kapal Perang dan pasukannya yang bingung dan ketakutan.
Celah Dimensi Besar - Perbatasan Langit.
Tempat ini adalah mimpi buruk bagi kultivator biasa. Langit di sini seperti kaca pecah. Angin void (hampa udara) bertiup kencang, mampu mengiris daging dan tulang. Petir hitam menyambar tanpa henti dari celah-celah dimensi.
Shen Yu muncul di tengah badai itu.
Tubuh Dewa Iblis Nirwana nya mengabaikan sayatan angin void. Dia berdiri di depan retakan terbesar sebuah celah di udara yang memancarkan aura kematian pekat.
Ini adalah pintu belakang menuju Dunia Bawah (Underworld). Atau setidaknya, salah satu jalannya.
"Su Ling..." gumam Shen Yu, tangannya menyentuh retakan itu.
"Kau ada di sana, kan?"
"Tunggu aku. Aku datang."
Shen Yu mencengkeram tepi retakan itu dengan kedua tangannya. Otot-ototnya menegang. Urat-urat biru menonjol di leher dan dahinya.
"BUKA!!!!"
Shen Yu mengerahkan seluruh kekuatan fisik dan Dao Ketiadaan nya untuk melebarkan celah itu secara paksa.
GRRRRRRRRRR!
Suara gesekan dimensi terdengar seperti jeritan besi berkarat. Celah itu mulai melebar sedikit.
Dari dalam celah, aura Yin Ekstrem (kematian murni) menyembur keluar.
Bagi makhluk hidup, aura ini adalah racun mematikan. Tapi Shen Yu menghirupnya dalam-dalam.
"Lebih lebar... LEBIH LEBAR!"
Shen Yu memasukkan satu kakinya ke dalam celah. Dia ingin masuk fisik. Dia ingin terjun ke Sungai Arwah (River of Souls) dan mencari serpihan jiwa Su Ling satu per satu, lalu menyatukannya kembali.
Namun, Alam Semesta memiliki aturan.
KRAAAAAAAK!
Langit marah. Di atas Celah Dimensi, sebuah Mata Raksasa terbentuk dari awan merah.
Mata Penjaga Hukum Alam (The Eye of Natural Law).
Sebuah suara kuno dan tanpa emosi bergema di kepala Shen Yu.
"TABU. YANG HIDUP DILARANG MASUK KE TANAH YANG MATI."
"KEMBALI. ATAU MUSNAH."
Shen Yu mendongak, menatap Mata Raksasa itu dengan tatapan menantang.
"Peraturan?" Shen Yu tertawa gila.
"Kau mengambil wanitaku dengan aturanmu, dan sekarang kau melarangku menjemputnya dengan aturanmu?"
"Persetan dengan aturanmu!"
Shen Yu tidak mundur. Dia justru mendorong tubuhnya lebih dalam ke celah.
BLAAAAAARRRR!
Mata Penjaga Hukum itu menembakkan Petir Hukuman Samsara. Petir berwarna abu-abu yang menargetkan jiwa.
Petir itu menghantam Shen Yu tepat di punggung.
"Ukh!"
Shen Yu muntah darah. Tulang punggungnya retak. Kulitnya hangus. Jiwanya bergetar hebat seolah mau lepas dari tubuhnya.
Tapi dia tidak melepaskan pegangannya pada celah dimensi.
"Aku... tidak akan... berhenti..."
Shen Yu merangkak masuk. Tangannya yang hancur terus menggapai kegelapan di dalam sana.
Di ujung pandangannya, di dalam kegelapan abadi itu, dia melihat Sungai Arwah yang mengalir tenang. Jutaan titik cahaya (jiwa) hanyut di sana.
"Su Ling... mana Su Ling..." matanya liar mencari titik cahaya ungu.
Namun, sebelum dia bisa melihat lebih jelas, kekuatan penolak dari Dunia Bawah meledak.
BANG!
Shen Yu terpental keluar. Tubuhnya terlempar ratusan mil, menabrak gunung batu di kejauhan hingga gunung itu runtuh menimbunnya.
Di Bawah Reruntuhan Gunung.
Hening.
Lalu, tumpukan batu itu bergerak.
Sebuah tangan berdarah muncul. Shen Yu merangkak keluar dari reruntuhan. Tubuhnya hancur parah, tapi Jantung Iblis nya memulihkannya dengan cepat.
Dia duduk bersandar pada batu besar, napasnya tersengal-sengal. Dia menatap tangannya yang kosong.
Gagal.
Dia terlalu lemah.
Meskipun dia sudah mencapai Transformasi Dewa, dia masih terlalu lemah untuk melawan Hukum Alam Semesta. Dia tidak bisa masuk ke Dunia Bawah dengan kekuatan kasar saja.
"Aku butuh kunci..." bisik Shen Yu.
"Atau aku butuh sesuatu yang lebih besar."
Matanya menatap Celah Dimensi di kejauhan yang kini menutup kembali.
Kewarasannya perlahan kembali, tapi bukan kewarasan manusia. Ini adalah logika dingin seorang iblis yang penuh perhitungan.
"Hukum Alam melarangku masuk karena aku tidak punya cukup otoritas."
"Kalau begitu..."
Shen Yu berdiri. Luka-lukanya menutup, meninggalkan bekas parut putih di kulitnya.
"...Aku harus menjadi otoritas itu sendiri."
"Aku butuh energi dari seluruh benua ini. Aku butuh darah dari jutaan kultivator untuk membuat jembatan yang tidak bisa dihancurkan oleh Langit."
Shen Yu memegang Liontin Giok di lehernya (berisi abu Su Ling).
"Tunggu sebentar lagi, Sayang. Aku hanya perlu menghancurkan dunia ini sedikit untuk membuat jalan bagimu."
Shen Yu memejamkan mata, merasakan koneksi dengan Sekte Asura.
Saat dia membuka matanya lagi, pupil merah dan hitamnya bersinar dengan ambisi tiran yang mutlak.
Obsesinya telah berubah menjadi rencana.
Dia tidak akan lagi menjadi kultivator yang mencari keabadian. Dia akan menjadi Kaisar Penakluk.
"Ye Qing. Feng Jiu. Cang Wu."
Shen Yu mengirim pesan telepati jarak jauh yang menggema di seluruh Benua Selatan.
"Siapkan pasukan."
"Mulai besok... Kita tidak berhenti sampai seluruh Benua Roh Abadi berlutut di bawah bendera Asura."
"Aku butuh sumber daya mereka. Aku butuh nyawa mereka. Aku butuh dunia ini sebagai bahan bakar."
Di kejauhan, angin badai mulai bertiup kencang, membawa aroma perang yang akan menenggelamkan sejarah dalam darah.
10 bab sehari kek pelit bener