(NOVEL INI LANJUTAN DARI LEGENDA SEMESTA XUANLONG)
Tiga belas tahun telah berlalu sejak Dewa Bintang Tian Feng mendirikan Kekaisaran Langit, menciptakan era kedamaian di dua alam semesta. Namun, di Puncak Menara Bintang, Ye Xing, putra dari Ye Chen dan Long Yin, serta Cucu kesayangan Tian Feng merasa terpenjara dalam sangkar emas.
Terlahir dengan bakat yang menentang surga, Ye Xing tumbuh menjadi remaja jenius namun arogan yang belum pernah merasakan darah dan keputusasaan yang sesungguhnya.
Menyadari bahaya dari bakat yang tak ditempa, Tian Feng mengambil langkah drastis menyegel kultivasi Ye Xing hingga ke tingkat terendah (Qi Condensation) dan membuangnya ke Alam Bawah, ke sebuah sekte sekarat bernama Sekte Awan Rusak. Tanpa nama besar keluarga, tanpa pengawal bayangan, dan tanpa harta istana, Ye Xing harus bertahan hidup sebagai murid biasa bernama "Xing" yang diremehkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 1
Kekaisaran Langit – Puncak Menara Bintang.
Angin astral menderu liar, membawa serpihan debu bintang yang tajamnya melebihi pedang pusaka tingkat Bumi. Di ketinggian ini, udara begitu tipis dan dipenuhi radiasi kosmik sehingga seorang kultivator tingkat Nascent Soul (Jiwa Baru Lahir) biasa akan hancur menjadi kabut darah hanya dalam hitungan detik jika nekat melangkah keluar tanpa pelindung.
Namun, di tengah kondisi mematikan itu, seorang remaja berusia tiga belas tahun duduk santai di tepi jurang ketiadaan, kaki-kakinya berayun-ayun di atas kehampaan yang tak berujung.
Dia mengenakan jubah sutra putih bersih dengan sulaman naga perak yang hampir tak terlihat. Wajahnya tampan, perpaduan sempurna antara ketegasan Ye Chen dan kelembutan Long Yin. Namun, yang paling mencolok adalah matanya.
Mata kirinya berwarna Biru Safir yang berkedip dengan percikan petir. Mata kanannya berwarna Emas Bertabur Bintang yang berputar pelan seperti galaksi mini.
Ye Xing. Putra Kaisar Naga Iblis, dan Cucu dari Dewa Bintang Tian Feng.
Di tangan kanannya, dia memutar-mutar sebuah meteorit hitam seukuran kepalan tangan. Meteorit itu bergetar hebat, mencoba meledak karena ketidakstabilan intinya, namun tertahan oleh lapisan tipis Hukum Gravitasi yang menyelimuti jari-jari lentik Ye Xing.
"Membosankan," gumam Ye Xing pelan.
Dia menjentikkan jarinya.
BOOM!
Meteorit itu melesat jutaan kilometer dalam sekejap mata, menembus lapisan atmosfer tipis dan menabrak sebuah asteroid mati di kejauhan. Ledakan sunyi terjadi, menghancurkan asteroid itu menjadi debu kosmik yang berkilauan.
Ye Xing menghela napas panjang. Dia adalah jenius yang mencapai ranah Soul Formation (Pembentukan Roh) di usia tiga belas tahun sebuah prestasi yang akan membuat para jenius di Alam Bawah muntah darah karena iri. Tapi di sini? Di Istana Langit ini? Dia hanyalah anak kecil yang dijaga ketat.
"Tuan Muda," sebuah suara serak muncul dari bayang-bayang di belakangnya.
Seorang pria berbaju zirah hitam muncul dari ketiadaan. Auranya ditekan seminimal mungkin, tetapi tekanan Ascendant (Kenaikan) tetap terasa. Itu adalah Jenderal Bayangan, pengawal pribadi Ye Xing.
"Kaisar Naga meminta Anda kembali ke Aula Utama," lapor Jenderal Bayangan sambil menunduk hormat. "Utusan dari Sekte Matahari Suci di Alam Dewa Sejati telah tiba. Mereka membawa hadiah Buah Bodhi Sembilan Warna dan ingin memberikan penghormatan kepada Anda."
Ye Xing mendengus sinis. Dia bahkan tidak menoleh.
"Penghormatan? Jangan bercanda, Bayangan," kata Ye Xing tajam. "Mereka tidak menghormatiku. Mereka menghormati Kakek ku. Mereka takut pada Ayahku. Bagi mereka, aku hanyalah pajangan emas yang beruntung lahir di keluarga ini."
"Tuan Muda adalah pewaris tunggal. Bakat Anda melampaui surga..."
"Bakat yang dikurung!" potong Ye Xing.
Tiba-tiba, Ye Xing berdiri. Matanya yang berbeda warna bersinar terang.
ZING!
Aura Soul Formation meledak dari tubuh remaja itu. Namun, itu bukan aura biasa. Itu adalah campuran liar antara Petir Qilin, Api Phoenix, dan Gravitasi Bintang.
Seluruh Puncak Menara bergetar. Tekanan gravitasi di sekitar mereka mendadak meningkat seratus kali lipat. Lantai giok surgawi retak. Jenderal Bayangan, seorang ahli ranah Ascendant, terpaksa menekuk lututnya, menahan beban yang seolah-olah sebuah planet baru saja diletakkan di pundaknya.
"Lihat?" desis Ye Xing, matanya menyala dengan arogansi remaja yang terkekang. "Aku bisa meratakan utusan-utusan itu dengan satu jari. Tapi Ayah bahkan tidak mengizinkanku mengikuti Ujian Alam Rahasia Musiman. Katanya terlalu berbahaya. Bahaya apanya?!"
"Xing'er, kendalikan emosimu."
Suara itu tidak keras. Tidak ada ledakan aura. Tidak ada tekanan yang menghancurkan. Suara itu terdengar tenang, setenang permukaan danau di pagi hari.
Namun, begitu suara itu terdengar, badai energi Ye Xing lenyap seketika. Gravitasi kembali normal. Petir di tubuhnya padam.
Dari celah dimensi yang terbuka perlahan seperti tirai air, sosok Tian Feng melangkah keluar. Dia mengenakan jubah putih sederhana tanpa hiasan, rambut hitam panjangnya terurai bebas. Dia tampak seperti pemuda berusia dua puluhan, namun matanya menyimpan kedalaman usia alam semesta.
Jenderal Bayangan segera bersujud, keringat dingin membasahi punggungnya. "Hamba memberi hormat pada Leluhur Dewa Bintang!"
Tian Feng mengibaskan tangannya pelan, memberi isyarat agar Jenderal Bayangan pergi. Pengawal itu menghilang dalam sekejap, tahu bahwa ini adalah urusan keluarga yang tidak boleh ia dengar.
Ye Xing menundukkan kepalanya, menggigit bibir bawahnya. Arogansinya menguap tak berbekas di hadapan sosok ini. "Kakek."
Tian Feng berjalan pelan ke tepi menara, berdiri di samping cucunya, menatap hamparan bintang di bawah kaki mereka.
"Kau merasa seperti elang yang dipaksa hidup di sangkar kenari, bukan?" tanya Tian Feng lembut.
Ye Xing mengangguk kaku. "Semua orang memujiku jenius. Tapi aku tidak pernah merasakan pertarungan hidup dan mati. Aku tidak pernah merasakan lapar. Aku tidak pernah merasakan keputusasaan. Bagaimana aku bisa melampaui Kakek jika aku bahkan tidak tahu rasanya berdarah?"
Tian Feng tersenyum tipis. "Pemikiran yang bagus. Ayahmu terlalu protektif karena dia kehilangan banyak hal di masa mudanya. Dia tidak ingin kau merasakan sakit yang sama. Tapi..."
Tian Feng menoleh, menatap Ye Xing lurus-lurus.
"...pedang yang tidak ditempa api dan dipukul palu hanyalah sepotong besi rongsokan."
Tian Feng mengangkat tangan kanannya. Cahaya redup berkumpul di telapak tangannya, membentuk sebuah benda kecil yang kusam.
Itu adalah sebuah token kayu hitam yang sudah retak dan berjamur. Tidak ada aura dewa, tidak ada energi spiritual tingkat tinggi. Hanya hawa kuno yang menyedihkan. Di atasnya terukir samar tulisan: Awan Rusak.
"Ini adalah Token Murid Luar dari Sekte Awan Rusak," kata Tian Feng. "Lokasinya ada di Benua Azure, salah satu dunia fana yang paling terpencil di Alam Bawah. Sekte ini sekarat. Wilayahnya direbut, tekniknya hilang, dan murid-muridnya sering dirundung."
Mata Ye Xing membelalak. Dia menatap token butut itu seolah itu adalah harta karun tertinggi. "Alam Bawah? Sekte lemah?"
"Sangat lemah," tegas Tian Feng. "Dan jika kau mengambil token ini, ada harganya."
Tian Feng meletakkan jari telunjuknya di dahi Ye Xing.
"Aku akan menyegel kultivasi Soul Formation mu. Aku akan menidurkan Fisik Phoenix Emas mu. Aku akan menyamarkan warna matamu menjadi hitam biasa. Kau akan turun ke sana dengan kekuatan Qi Condensation (Pemadatan Qi) tingkat 3."
Mata Ye Xing berbinar liar. Jantungnya berdegup kencang. Bukan karena takut kehilangan kekuatan, tapi karena kegembiraan akan tantangan.
"Tanpa bantuan Jenderal Bayangan?" tanya Ye Xing.
"Tanpa pengawal. Tanpa uang istana. Tanpa nama 'Ye'. Hanya kau, token butut ini, dan takdirmu," jawab Tian Feng dingin. "Di sana, kau bisa mati. Kau bisa dihina. Kau bisa kelaparan. Jika kau mati di sana... yah, berarti bakatmu hanyalah omong kosong belaka."
Ye Xing menyeringai lebar, menyambar token itu dari tangan Tian Feng.
"Siapa takut? Aku akan mengubah sekte butut itu menjadi legenda!" seru Ye Xing. "Terima kasih, Kakek!"
Tanpa menunggu sedetik pun, Ye Xing melompat dari Puncak Menara Bintang.
Tubuhnya menembus lapisan awan dimensi, jatuh bebas menuju Alam Bawah yang jauh di bawah sana, meninggalkan kenyamanan Istana Langit menuju dunia yang keras dan kejam.
Tian Feng berdiri diam, mengamati cucunya berubah menjadi titik cahaya yang semakin mengecil. Senyum di wajah sang Dewa Bintang perlahan menghilang, digantikan oleh tatapan tajam dan serius yang mengarah ke kegelapan terjauh di ujung alam semesta.
Angin berhembus, membawa bisikan Tian Feng yang tak terdengar oleh siapapun.
"Tumbuhlah dengan cepat, Bintang Kecil. Hukum Langit mulai berubah... dan musuh yang bersembunyi di dalam Kehampaan (Void) sudah mulai lepas."
...TINGKATAN KULTIVASI (SEASON 4)...
...1.Qi Condensation (Pemadatan Qi)...
...2.Foundation Establishment (Pembangun Pondasi)...
...3.Core Formation (Pembentukan Inti)...
...4.Nascent Soul (Jiwa Baru Lahir)...
...5.Soul Formation (Pembentukan Roh)...
...6.Soul Transformation (Transformasi Roh)...
...7.Ascendant (Kenaikan)...
...8.Kaisar Surgawi (Heavenly Emperor)...
...9.Dewa Sejati (True God)...
...10.Kaisar Dewa (God Emperor)...