Di jagat hiburan, nama Leonard Abelano bukan sekadar aktor, dia adalah jaminan rating. Setiap drama yang dibintanginya pasti menyentuh angka dua digit. Leo, begitu publik memanggilnya, punya segalanya: struktur wajah yang dipahat sempurna, status pewaris takhta bisnis Abelano Group, dan sebuah reputasi yang membuatnya dijuluki "Duta Kokop Nasional."
Bagi penonton, cara Leo mencium lawan mainnya adalah seni. Namun bagi Claire Odette Aimo, itu adalah ancaman kesehatan masyarakat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran yang Terungkap
Malam itu, setelah konfrontasi di klub Soho, Claire tidak bisa memejamkan mata. Kamar penthouse-nya di Park Avenue terasa begitu sunyi, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang seolah mengejek rahasia yang ia simpan rapat-rapat.
Ia bangkit dari tempat tidur sutranya, melangkah menuju lemari brankas kecil yang tersembunyi di balik barisan tas Hermès miliknya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, Claire memasukkan kode kombinasi dan mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam kecil—kotak yang seharusnya berisi perhiasan jutaan dolar, namun isinya jauh lebih sederhana.
Di dalam kotak itu, tergeletak sebuah pulpen fountain merk Montblanc berwarna hitam dengan aksen emas. Di bagian batangnya, terukir inisial nama yang sudah sedikit memudar namun masih terbaca jelas: L.A.—Leonard Abelano.
Claire menyentuh permukaan pulpen itu perlahan. Memorinya melayang ke perpustakaan sekolah di Inggris sepuluh tahun lalu. Saat itu, Leo yang masih berusia 14 tahun terburu-buru pergi setelah ketahuan memperhatikannya belajar, meninggalkan pulpen mahal itu di atas meja.
Claire mengambilnya, berniat mengembalikannya keesokan harinya, namun ia tidak pernah memiliki keberanian untuk menyapa bocah populer yang selalu dikerumuni gadis-gadis itu.
Hingga akhirnya, pulpen itu berpindah dari London ke New York, menemani Claire tumbuh dewasa.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan di pintu kaca balkonnya mengejutkan Claire. Ia segera menyembunyikan kotak itu di balik punggungnya, namun terlambat.
Sosok tinggi Leo sudah berdiri di sana. Ia tidak memanjat kali ini, ia punya akses masuk karena unit apartemen di lantai bawah adalah miliknya.
"Belum tidur, Odette?" tanya Leo dengan suara parau. Matanya yang tajam langsung menangkap gerak-gerik mencurigakan Claire.
"Apa yang kamu sembunyikan?"
"Bukan apa-apa. Keluar dari kamarku, Leo!"
Leo melangkah masuk, mengabaikan protes Claire. Dengan kecepatan refleks seorang atlet, ia meraih tangan Claire dan mengambil kotak beludru itu.
Claire mematung, wajahnya memerah padam hingga ke leher.
Leo terdiam saat melihat isi kotak itu. Ia mengambil pulpen miliknya yang hilang satu dekade lalu, menatapnya lama, lalu beralih menatap Claire dengan pandangan yang tak terlukiskan.
"Pulpen ini..." Leo berbisik, suaranya terdengar tidak percaya. "Aku mencarinya ke seluruh penjuru sekolah dulu. Aku pikir aku menghilangkannya di taman."
Claire membuang muka, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya. "Aku hanya... lupa mengembalikannya. Dan setelah itu, rasanya terlalu aneh kalau baru dikembalikan sekarang."
Leo tertawa rendah, sebuah tawa yang penuh dengan kemenangan dan haru. Ia melangkah mendekat, memerangkap Claire di antara tubuhnya dan lemari pakaian.
"Lupa mengembalikannya sampai sepuluh tahun? Sampai dibawa menyeberangi Samudra Atlantik ke New York?" Leo mencondongkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan.
"Ternyata Ratu Es-ku ini punya sisi pencuri yang sangat romantis."
"Jangan percaya diri dulu, Abelano," desis Claire, meski napasnya mulai tidak beraturan.
"Bagaimana aku tidak percaya diri?" Leo menyentuh bibir Claire dengan ibu jarinya, tepat di tempat yang pernah digigitnya di London.
"Aku menyimpan syalmu karena aku terobsesi. Tapi kamu menyimpan pulpenku di dalam brankas perhiasan... itu artinya aku adalah hartamu yang paling berharga, kan?"
Malam yang sunyi itu tiba-tiba berubah menjadi panas. Tidak ada kamera, tidak ada netizen, dan tidak ada naskah. Hanya ada dua anak konglomerat yang baru menyadari bahwa mereka telah saling mencuri hati satu sama lain sejak masih mengenakan seragam sekolah.
"Aku membencimu," bisik Claire tepat sebelum bibir Leo membungkamnya.
"Aku tahu," balas Leo di sela ciumannya yang kini jauh lebih lembut namun penuh kepemilikan.
"Dan aku benci fakta bahwa aku harus menunggu sepuluh tahun hanya untuk mendengar kamu mengakuinya."
Suasana di dalam kamar itu mendadak menjadi sangat panas, jauh lebih intens daripada adegan mana pun yang pernah mereka rekam di bawah arahan Sutradara Han.
Di tengah kesunyian malam Manhattan, hanya terdengar suara napas yang memburu dan detak jantung yang saling berpacu.
Leo melepaskan segala topeng profesionalnya. Ciumannya tidak lagi hanya tentang permainan yang membuat publik geger, tapi tentang kerinduan sepuluh tahun yang akhirnya menemukan muaranya.
Saat tangan Leo yang hangat mulai merayap naik dan hendak masuk ke balik baju sutra yang dikenakan Claire, Claire tersentak pelan.
Dengan sisa kesadaran yang ada, Claire menahan pergelangan tangan Leo. Ia menatap mata pria itu yang sudah gelap oleh gairah.
"Belum... belum siap untuk itu, Leo," bisik Claire dengan suara serak, napasnya tersengal di depan bibir pria itu.
Leo terhenti sejenak. Ia adalah pria yang terobsesi, tapi ia bukan pria yang tidak memiliki rasa hormat. Ia mengangguk pelan, mengecup dahi Claire dengan lembut sebagai tanda ia mengerti.
Namun, ia tidak berhenti memuja wanita itu.
Leo mengalihkan tangannya, mengusap paha dalam Claire yang terekspos di balik belahan. Sentuhan itu membuat Claire mengerang pelan.
Tanpa peringatan, Leo mengangkat tubuh ramping Claire dengan mudah, mendudukkannya di atas meja rias yang penuh dengan botol-botol parfum mahal dan alat rias bermerek.
Beberapa botol kosmetik terjatuh ke lantai, menimbulkan bunyi denting yang tak mereka hiraukan. Leo berdiri di antara kaki Claire, kembali meraup bibir wanita itu dengan ciuman yang mendalam dan menuntut.
Di saat atmosfer kamar berada di puncaknya, pintu kamar tiba-tiba terbuka.
"Claire! Aku lupa bilang kalau besok pagi ada jadwal pemotretan jam tuju..."
Langkah Siska terhenti seketika. Matanya membelalak lebar melihat pemandangan di depannya, Sang Ratu Es dari New York sedang duduk di meja rias dengan kaki melingkari pinggang Duta Kokop nasional, dan mereka sedang berciuman seolah dunia akan berakhir esok hari.
Siska membeku. Ia menyaksikan bagaimana tangan Leo mencengkeram pinggang Claire dengan posesif, dan bagaimana Claire meremas rambut belakang Leo dengan penuh gairah.
Hebatnya, kedua orang itu bahkan tidak menoleh. Mereka begitu tenggelam dalam dunia mereka sendiri hingga suara pintu terbuka dan suara Siska dianggap hanya sebagai angin lalu.
"O-my-god..." Siska bergumam pelan dengan wajah memerah padam.
Sadar bahwa ia baru saja menyaksikan konten dewasa dari dua orang paling berpengaruh di New York, Siska segera mundur perlahan, menarik gagang pintu, dan menutupnya dengan bunyi klik yang halus.
Siska bersandar di dinding koridor, memegang dadanya yang berdegup kencang. "Gila... analisis netizen soal lidah Leo itu ternyata belum ada apa-apanya dibanding aslinya," bisiknya pada diri sendiri.
Sementara itu, di dalam kamar, Claire akhirnya sedikit menjauhkan wajahnya, sudut matanya melirik ke arah pintu yang baru saja tertutup.
"Kurasa... Siska baru saja masuk," gumam Claire dengan senyum nakal di bibirnya yang membengkak.
Leo tidak peduli. Ia kembali menyurukkan kepalanya ke leher Claire, menghirup aroma yang sudah ia rindukan sejak SMA di Inggris dulu. "Biarkan saja. Dia harus terbiasa melihat ini, karena aku tidak berniat meninggalkan meja rias ini dalam waktu dekat."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰😍🥰
keren....