NovelToon NovelToon
Bahu Yang Memikul Langit Prau

Bahu Yang Memikul Langit Prau

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Mengubah Takdir / Keluarga
Popularitas:880
Nilai: 5
Nama Author: Nonaniiss

Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beratnya Kasih, Beratnya Alu

Setelah melepas lelah sejenak, Ibu tidak lantas berdiam diri. Beliau segera bangkit dan menuju sudut dapur tempat lesung besar berada. Di sana, tumpukan jagung kering sudah menanti untuk diolah menjadi beras jagung. Dengan gerakan yang sudah sangat hafal di luar kepala, Ibu mulai mengangkat alu, sebatang kayu jati panjang yang tebal dan berat.

Dug! Dug! Dug!

Bunyi alu yang beradu dengan lesung mulai berirama, mengguncang lantai dapur yang sederhana. Aku duduk di kursi kecil tak jauh dari sana, masih mendekap botol arbei pemberiannya. Satu per satu buah itu kumasukkan ke mulut. Rasanya manis, namun setiap kali melihat ke arah Ibu, tenggorokanku terasa tercekat.

Keringat kembali bercucuran di pelipis Ibu, lebih deras dari saat ia pulang tadi. Bajunya yang belum sempat diganti kini tampak semakin basah. Namun, tangan yang penuh luka goresan tadi seolah punya kekuatan ajaib. Ia mengangkat dan menghujamkan alu itu dengan penuh semangat, seolah kayu berat itu seringan kapas.

"Ibu, biar aku saja yang bantu," kataku tiba-tiba, tak tega melihat napasnya yang mulai memburu.

Ibu menoleh sebentar, lalu tersenyum sambil terus menumbuk. "Jangan, Sayang. Ini berat sekali. Kamu makan saja arbeinya sampai habis."

"Tapi tangan Ibu luka, pasti perih kalau memegang kayu itu terus," desakku. Aku bangkit, menaruh botol arbei itu, dan berdiri di samping lesung. Rasa hormat dan iba bercampur menjadi tekad yang bulat. "Aku sudah besar, Bu. Aku ingin membantu."

Ibu akhirnya berhenti dan tertawa kecil, diletakkannya alu itu bersandar pada dinding lesung. "Ya sudah, kalau memaksa. Coba saja, tapi hati-hati ya."

Dengan penuh percaya diri, kedua tangan kecilku meraih bagian tengah alu. Aku menarik napas dalam-dalam, bersiap mengerahkan seluruh tenaga yang kupunya. Namun, saat aku mencoba mengangkatnya...

Deg.

Alu itu seolah tertanam ke bumi. Kayu itu tidak bergeming sedikit pun. Aku mencoba lagi, kali ini dengan kaki yang bertumpu kuat pada lantai dan wajah yang memerah karena mengejan. Alu itu hanya terangkat beberapa sentimeter sebelum akhirnya meluncur kembali ke dalam lesung dengan suara gedubrak yang canggung. Tanganku langsung terasa gemetar dan pegal.

Ternyata, apa yang tampak mudah di tangan Ibu adalah beban yang sangat berat bagi tanganku. Ada rasa kecewa yang seketika menghinggap di hatiku, kecewa karena ternyata aku belum cukup kuat untuk meringankan beban orang yang kucintai.

Ibu tertawa renyah melihat ekspresiku yang bersungguh-sungguh namun gagal total. Ia mengusap kepalaku dengan tangannya yang kasar dan hangat. "Sudah, tidak apa-apa. Nanti kalau sudah makan banyak arbei dan nasi jagung, kamu pasti jadi kuat."

"Suatu saat nanti," janjiku dalam hati sambil menatap punggung Ibu yang tegap, "aku yang akan memegang alu itu. Aku akan tumbuh menjadi kuat, sekuat Ibu dan Ayah, agar tangan Ibu tidak perlu lagi tergores duri dan bahunya tidak lagi harus menahan beban seberat ini." Aku berkata dalam hati dengan tekad dan ambisi yang kuat.

Suara dug-dug itu kembali terdengar, memenuhi setiap sudut dapur yang mulai remang tertutup bayang-bayang senja. Kali ini, setiap dentumannya tidak lagi terdengar seperti sekadar bunyi kayu, melainkan seperti detak jantung ibu yang terus berdenyut demi keberlangsungan hidup kami.

Aku kembali duduk di kursi kecil itu, memandangi botol arbei yang kini tinggal menyisakan sisa warna merah di dasarnya. Aku menyadari satu hal yang pedih, beban yang dipikul Ibu bukan hanya berat kayu jati itu, melainkan beratnya kasih sayang yang dipaksakan untuk selalu tampak ringan di mataku. Luka di tangannya, peluh di bajunya, dan napas yang memburu itu adalah harga yang ia bayar dengan ikhlas agar aku tetap bisa mengecap manisnya arbei tanpa harus tahu pahitnya letih.

Matahari mulai tenggelam, menyisakan semburat jingga yang masuk melalui celah dinding bambu, menyinari punggung Ibu yang masih bergerak naik turun dengan ritme yang terjaga. Di bawah cahaya temaram itu, sosoknya tampak seperti raksasa yang lembut. Seseorang yang menopang seluruh dunia di atas bahunya namun tetap punya waktu untuk memberikan senyum yang paling menenangkan.

"Ibu," panggilku pelan, hampir tertelan suara lesung.

"Ya, Sayang?" sahutnya tanpa menghentikan ayunan tangannya.

"Nasi jagungnya pasti enak sekali."

Ibu menoleh, matanya berbinar meski wajahnya letih. "Tentu saja. Karena bumbunya adalah doa, dan lauknya adalah rasa syukur."

Aku tersenyum kecil, merasakan kehangatan yang menjalar dari dada hingga ke ujung jari. Hari ini aku belajar bahwa menjadi dewasa bukan hanya soal berapa sentimeter aku bisa mengangkat alu, melainkan soal seberapa besar aku sanggup memahami pengorbanan yang tak pernah ia keluhkan.

Malam itu, di bawah temaram lampu kuning redup, aku bersumpah pada sunyi. Kelak, tanganku takkan lagi hanya memegang sisa arbei, melainkan akan menggenggam erat beban-beban itu agar Ibu bisa beristirahat dalam damai di masa tuanya. Sebab hari ini aku mengerti, bahwa kasih yang paling berat adalah kasih yang tak pernah membiarkan orang yang dicintai merasakan beratnya beban itu sendiri.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Zanahhan226: terima kasih, Kak..
🥰🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!