Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
KUKIS DAN CERITA BARU
Lampu di dapur rumah Khatulistiwa menerangi sudut-sudut ruangan yang penuh dengan aroma harum mentega, gula, dan vanili. Jam menunjukkan pukul 19.30 – setelah pulang dari sekolah dan menyelesaikan pekerjaan rumahnya, dia langsung membantu ibunya, Senja Diranjani, menyiapkan pesanan kukis untuk kedatangan tamu penting besok pagi. Meja kerja di tengah dapur tertutupi adonan yang sudah siap dibentuk, cetakan kukis berbagai bentuk unik, dan beberapa baskom berisi taburan gula bubuk serta topping coklat leleh.
"Khatulistiwa, tolong ambilkan cetakan berbentuk bunga kenanga dari lemari bawah ya, sayang," ucap Senja sambil menggulung adonan dengan hati-hati menggunakan rol penggulung kayu yang sudah digunakan selama bertahun-tahun.
Rambut ibunya yang sebagian beruban dihias dengan jepit rambut kayu sederhana, dan wajahnya yang penuh kedermawanan menunjukkan fokus pada pekerjaannya.
"Baik, Bu," jawab Khatulistiwa sambil membuka lemari penyimpanan. "Pesanan kali ini cukup banyak ya? Siapa saja yang akan memesan kukis sebanyak itu?"
"Ada sebuah perusahaan besar yang akan mengadakan acara perayaan ulang tahun kantor mereka," jelas Ayah Arif Budiman yang baru saja masuk ke dapur membawa ember penuh air bersih.
"Kita sudah bekerja sama dengan mereka selama dua tahun terakhir, jadi mereka percaya dengan kualitas kukis kita. Kamu tahu kan, bisnis kukis 'Rumah Kukis Senja' ini sudah kita jalankan sejak kamu masih kecil lho."
Khatulistiwa mengangguk sambil mulai membentuk adonan menjadi berbagai bentuk menggunakan cetakan yang dia bawa. Ia ingat betul bagaimana usaha ini dimulai dari hobi ibunya membuat kue untuk keluarga dan tetangga, hingga akhirnya berkembang menjadi bisnis kecil yang cukup dikenal di lingkungan Makassar. Ketika kakaknya yang bernama Sagara menikah dan pindah ke Kalimantan bersama istrinya yang bekerja sebagai insinyur pertambangan, Khatulistiwa secara otomatis menjadi tangan kanan ibunya dalam mengelola usaha ini.
"Kamu sudah bisa membuat adonan kukis kacang hijau dengan sempurna sekarang, sayang," puji Senja sambil melihat hasil karya anak perempuannya yang masih berusia 17 tahun.
"Nanti kalau kamu sudah kuliah dan punya waktu luang, bisa saja kita kembangkan usaha ini menjadi lebih besar. Kakakmu juga sering bilang ingin membuka cabang di Kalimantan lho."
"Betul Bu, Kakak selalu menelepon setiap minggunya untuk menanyakan perkembangan usaha dan kabarmu serta Ayah," tambah Khatulistiwa sambil menaruh kukis yang sudah dibentuk ke dalam loyang. "
Kemarin dia bilang sudah menemukan tempat yang cocok untuk cabang, hanya menunggu waktu yang tepat saja."
Setelah beberapa loyang kukis dimasukkan ke dalam oven, mereka beristirahat sebentar di ruang makan yang berdekatan dengan dapur. Arif menyajikan teh hangat yang sudah disiapkannya sebelumnya, sementara Senja mengambil beberapa buah pisang matang sebagai camilan. Suasana menjadi hangat dengan cahaya lampu yang lembut dan suara gemericik air dari keran dapur yang belum tertutup rapat.
"Bu, Ayah, ada sesuatu yang ingin aku ceritakan," ucap Khatulistiwa dengan suara sedikit ragu. Wajahnya yang biasanya ceria sedikit memerah ketika dia memikirkan apa yang akan dikatakannya.
"Apa sayang? Kamu sepertinya punya cerita yang menarik," kata Arif dengan senyum ramah. Ia selalu memperhatikan setiap perubahan ekspresi wajah anak perempuannya yang bungsunya.
Khatulistiwa kemudian mulai menceritakan tentang pertemuannya dengan Tenggara di toko buku Gramedia beberapa hari yang lalu. Dia menjelaskan bagaimana mereka sama-sama mencari buku tentang sejarah kerajaan Gowa-Tallo, bagaimana Tenggara menawarkan bantuan untuk membacanya bersama, dan bagaimana pria itu membantu dia memahami materi yang sulit. Ia tidak lupa juga menyebutkan bahwa mereka telah sepakat untuk bertemu lagi minggu depan untuk berbagi buku dan catatan belajar.
Setelah cerita itu selesai, dapur terdiam sebentar. Senja melihat ke arah Arif dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak, sementara Khatulistiwa mulai merasa khawatir apakah orang tuanya akan menyetujuinya bertemu dengan orang asing.
"Jadi, kamu sudah bertukar nomor dengan dia ya?" tanya Senja dengan nada yang tenang.
Khatulistiwa mengangguk perlahan. "Iya Bu, tapi kami hanya berbicara tentang tugas sekolah dan sejarah daerah saja. Dia juga sangat baik hati dan sopan sekali."
Arif tersenyum dan menepuk bahu anak perempuannya. "Kita tidak keberatan kok, sayang. Yang penting kamu tetap berhati-hati dan tidak melakukan hal yang tidak pantas. Kalau kamu mau mengajaknya datang ke rumah atau bertemu di tempat yang ramai, itu tidak masalah. Bahkan mungkin kita bisa memberinya beberapa kukis hasil buatan kita sebagai ucapan terima kasih karena telah membantumu."
"Betul sekali," tambah Senja dengan senyum hangat. "Kalau dia benar-benar membantu kamu dalam belajar dan memiliki niat baik, maka tidak apa-apa kamu menjalin pertemanan dengannya. Selain itu, jika dia benar-benar menyukai sejarah daerah, mungkin dia bisa memberikan ide-ide baru untuk mengembangkan usaha kita juga, seperti membuat kukis dengan motif khas Sulawesi Selatan."
Khatulistiwa merasa lega mendengar kata-kata orang tuanya. Dia memang khawatir akan dilarang bertemu dengan Tenggara lagi, namun ternyata orang tuanya sangat memahami dan mendukungnya.
"Nanti kalau bertemu lagi, aku akan memberitahunya bahwa Ibu dan Ayah ingin mengucapkan terima kasih padanya," ucap Khatulistiwa dengan wajah yang kembali bersinar.
"Baiklah, sekarang mari kita kembali bekerja saja ya," ucap Arif sambil berdiri dari kursinya. "Oven sudah mulai mengeluarkan aroma yang menggugah selera, dan kita masih punya banyak pekerjaan untuk menyelesaikan pesanan besok."
Kembali ke dapur, mereka bekerja dengan lebih bahagia dari sebelumnya. Khatulistiwa merasa sangat bersyukur memiliki orang tua yang penuh pengertian dan mendukungnya dalam segala hal.
Saat oven dibuka dan kukis yang berwarna keemasan keluar dengan aroma yang semakin harum, Khatulistiwa membayangkan bagaimana rasanya jika suatu hari nanti Tenggara bisa datang dan menikmati kukis ini bersama mereka. Mungkin kakaknya juga akan datang dari Kalimantan dan mereka bisa berkumpul bersama – sebuah keluarga yang penuh cinta dan dukungan, dengan tambahan teman baru yang membawa warna baru ke dalam hidup mereka.