NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Status: tamat
Genre:Hari Kiamat / Ruang Ajaib / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:390.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.

Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibanting

Yura masih memeluk lengannya sendiri ketika suasana kembali hening.

“Salju?” gumamnya pelan. “Ini negara Chinda, Naomi.”

Naomi menggeleng pelan. “Bukan cuma negara Chinda. Seluruh dunia.”

Timmy menelan ludah. “Seperti musim dingin ekstrem begitu?”

“Lebih buruk,” jawab Naomi tenang. “Suhu turun drastis. Infrastruktur runtuh. Listrik mati. Distribusi makanan berhenti. Orang-orang yang tidak punya persiapan mati kedinginan,” jelas Naomi semakin membuat keduanya merinding.

Yura merinding. “Itu film apa berita kiamat?”

“Itu kenyataan,” kata Naomi datar. “Aku sudah mengalaminya.”

Timmy tertawa canggung. “Oke, kalau ini prank, aku akui kualitasnya bagus.”

Naomi menatapnya tanpa ekspresi. “Timmy. Motor sport-mu mogok tadi pagi. Di depan kuburan. Karena sistem kelistrikannya tiba-tiba mati.”

Timmy langsung terdiam.

Yura menatap Naomi. “Dan ibuku ...”

“Tidak sakit,” potong Naomi lembut. “Hanya salah paham. Sama seperti di kehidupan pertamaku.”

Yura merinding hebat. “Itu … itu terlalu spesifik buat jadi kebetulan …”

Naomi menatap mereka satu per satu.

“Aku tidak bercanda. Dunia akan membeku. Orang-orang panik. Penjarahan terjadi di mana-mana. Pemerintah terlambat bertindak. Yang bertahan hidup hanyalah mereka yang punya persediaan, perlindungan, dan rencana.”

Timmy berbisik, “Berapa lama badai itu?”

“Bulan pertama paling parah. Tapi efeknya bertahun-tahun.”

Yura menggigit bibirnya. “Jadi kita semua …”

Naomi memotong pelan, “Di kehidupanku yang pertama kalian tidak selamat.”

Suasana berubah hening.

Timmy akhirnya bertanya dengan suara kecil, “Bagaimana kami mati?”

Naomi menggeleng. “Aku tidak akan menceritakan detailnya.” Suaranya melembut. “Yang penting, kali ini aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”

Yura menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Jadi kita masih punya waktu setahun?”

“Kurang lebih.”

Timmy mengusap wajahnya. “Oke anggap saja aku percaya. Apa yang harus kita lakukan?”

Naomi bersandar di kursi. “Kita siapkan tempat perlindungan. Stok makanan tahan lama. Sistem pemanas mandiri. Sumber listrik alternatif. Aztir bersih. Obat-obatan. Dan—”

“Dan?” Yura menelan ludah.

“Kita mulai sekarang. Diam-diam. Jangan sampai orang menganggap kita gila.”

Timmy menyeringai kecil. “Jadi balas dendammu?”

Naomi menatap lurus ke depan. “Dua-duanya. Aku akan membalas keluarga Elios dan menolong orang-orang yang perlu ditolong.”

Yura menghela napas panjang. “Astaga aku tadi masih mikir soal nikah sama konglomerat.”

Timmy menepuk bahunya. “Tenang. Kalau kita selamat, kau masih bisa cari konglomerat.”

Naomi tersenyum tipis. “Tapi ingat. Mulai hari ini, setiap keputusan kecil bisa mengubah masa depan. Dan efek kupu-kupu itu tidak selalu baik.”

Keduanya saling pandang, wajah mereka makin serius.

Beberapa detik kemudian, Timmy bertanya pelan, “Naomi … apa kau juga mati?”

Naomi terdiam sejenak. Lalu ia mengangguk.

Yura menegang. “Bagaimana kau mati?”

Naomi menarik napas pelan. Tatapannya kosong, tapi suaranya tetap stabil. “Keluarga Elios mengorbankanku.”

Timmy dan Yura membeku.

“Saat persediaan mereka mulai menipis,” lanjut Naomi, “dan hanya seratus orang boleh tinggal di dalam bunker mereka memilih mengeluarkanku.”

“Apa?!” bisik Timmy tak percaya.

“Padahal akulah pemilik bunker itu,” kata Naomi lirih. “Itu hadiah dari Kak Max untukku. Untuk berjaga-jaga jika terjadi perang nuklir.”

Yura menutup mulutnya. “Mereka mengusirmu dari bunkermu sendiri?”

Naomi tersenyum tipis, pahit. “Karena menurut mereka, Viviane lebih pantas diselamatkan.”

Timmy mengepalkan tangan. “Kurang ajar!”

Yura ikut gemetar. “Kuharap mereka menerima balasan yang setimpal. Kau tidak keberatan kan, Naomi?”

Naomi menggeleng pelan. “Tidak. Aku sudah memutuskan hubungan keluarga dengan mereka.”

Ia tertawa kecil tanpa humor. “Ternyata orang yang bilang darah lebih kental daripada air itu omong kosong. Mereka lebih menyayangi orang lain daripada anak kandungnya sendiri. Dengan alasan mereka sudah merawat Viviane sejak bayi.”

Yura langsung memeluk Naomi erat. “Kau tidak sendirian.”

Timmy ikut mendekat, meski canggung. “Kalau mereka tidak menginginkanmu masih ada kami.”

Naomi terdiam sesaat, senyumnya tulus. “Terima kasih.”

Timmy tiba-tiba mengendus keras.

“Srottt!”

Yura langsung menjauh dengan ekspresi jijik. “Ih! Jangan bilang kau mau nangis!”

“Aku tidak nangis!” bantah Timmy cepat. “Ini cuma alergi bawang.”

“Kantin tidak menjual bawang mentah, bodoh!” Yura memukul lengannya.

Timmy mengeluarkan ingusnya dengan suara cukup keras.

“Timmy!” Yura setengah berteriak pelan. “Dasar jorok!”

Naomi akhirnya benar-benar tertawa kecil.

*

Sore itu, halaman kampus mulai lengang. Naomi berdiri di bawah pohon bunga plum, dekat gerbang, menunggu mobil jemputan.

Ia sedang mengecek ponselnya ketika tiba-tiba seseorang menarik tangannya cukup keras.

“Sini kau.”

Naomi refleks menyentakkan lengannya. “Apa yang kau lakukan?!”

Di depannya berdiri Erick. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras.

“Kau sudah cukup bersikap semena-mena, Naomi,” katanya tajam. “Apa yang kau lakukan pada Viola? Pipinya sampai memar.”

Naomi menatapnya datar. “Lalu?”

“Lalu?” ulang Erick tak percaya. “Kau harus ikut denganku sekarang. Datang ke rumah. Bersujud dan minta maaf pada adikku.”

Beberapa mahasiswa yang lewat mulai melirik.

Kalau ini dulu, Naomi pasti sudah panik. Sekarang tentuu tidak.

“Kalau aku tidak mau?” jawab Naomi tenang.

Erick tertegun sesaat. “Apa?”

“Aku tidak salah,” lanjut Naomi dingin. “Salahkan adikmu yang bodoh itu. Dia yang menyuruhku mengerjakan tugasnya. Dan ketika kutolak, dia yang mulai duluan.”

Mata Erick melotot. Ia menunjuk wajah Naomi. “Kau berani menyebut adikku bodoh?”

Naomi menepis tangan yang menunjuknya. “Turunkan tanganmu. Aku tidak suka ditunjuk.”

Wajah Erick memerah karena marah. “Naomi, jangan uji kesabaranku.”

Naomi tertawa kecil, sinis. “Kesabaranmu? Lucu sekali.”

Erick mendekat satu langkah. Suaranya tajam, penuh ancaman. “Aku akan membatalkan acara pertunangan kita kalau kau tidak mau minta maaf.”

Hening sesaat. Biasanya, kalimat itu seperti senjata pamungkas.

“Silakan,” jawab Naomi ringan.

Erick membeku. “Apa?”

“Aku tidak peduli,” ulang Naomi. “Batalkan saja. Aku justru berterima kasih.”

Wajah Erick berubah. “Naomi, berhenti bercanda.”

“Aku tidak bercanda.” Naomi menatapnya lurus. “Aku tidak pernah setuju dengan pertunangan itu sejak awal.”

Erick mengerutkan kening. “Kau berubah.”

Naomi tersenyum tipis. “Akhirnya kau sadar juga.”

Erick menggertakkan gigi. “Apa salahnya membantu mengerjakan tugas Viola? Dia adikku. Kau calon kakak iparnya.”

“Bantu?” Naomi mendengus. “Bantu itu menjelaskan materi. Bukan mengerjakan semuanya lalu namanya dia yang tercantum.”

“Itu cuma tugas kecil!”

“Itu namanya curang,” potong Naomi tegas. “Dan aku bukan pembantu keluarga kalian. Lagipula kau bukannya menyukai Viviane. Jadi lebih baik kau menyuruh Vviane mengerjakannya.”

Erick terdiam beberapa detik. Harga dirinya terasa diinjak.

Naomi berbalik. “Aku sudah selesai bicara.”

Ia melangkah pergi dengan tenang.

“Naomi!” Erick memanggil, lalu mengejarnya. Ia meraih tangan Naomi lagi, kali ini lebih keras. “Aku belum selesai!”

Dalam sepersekian detik Naomi berbalik cepat. Tangannya menangkap pergelangan Erick, memutar tubuh pria itu mengikuti momentum, lalu.

Brak!

Erick terhempas ke tanah dengan suara cukup keras.

Beberapa mahasiswa yang melihat langsung terdiam.

Erick meringis. “Agh!”

Naomi berdiri tegak, masih memegang pergelangan tangannya beberapa detik sebelum melepaskannya.

“Jangan sentuh aku tanpa izin sialan,” katanya dingin.

1
Si Topik
Good Ending.. semua sudah menemukan kebahagiaan 😊
beberapa pergi dg penyesalan dan maaf, dan ada yg berakhir dg ending yg buruk 🙂
Si Topik
aku ngebayangin nya peradaban semi-futuristik
dunia yg baru, kehidupan baru, dan tantangan yg juga baru ☺️
Si Topik
alam mempunyai cara nya sendiri tuk pulih ☺️
Nining Chili
👍
Si Topik
asli, butterfly effect itu Fenomena mengerikan 🥲
kita tidak bisa menebak hal kecil yg keliatan nya sepele, bisa menjadi efek besar dimasa mendatang 🥲🥲
Si Topik
astaga, aku sampai lupa soal kiamat es nya euyy :"-V

ternyata ini gejala awalnya, ku kira lah serangan musuh 😭
Si Topik
Maxim : Tuhan, kalau dia jodoh orang, buatlah orang itu aku ya Tuhan 😭
Husna
heiii... ini bisa kita siapkan dr sekarang....
denger-denger world war 3 bentar lagi walaupun Indonesia katanya tdk masuk sasaran tp pasti kena dampaknya jg...

5 poin ini bisa kita aplikasikan di dunia nyata loh, bisa mulai dr sekarang
Si Topik
yang kata nya sejak Piyik di didik bisnis? nyata nya kosong, sama kek isi kepala nya, kosong 😂😂
tau nya menghamburkan uang, selamat menumpuk hutang Viviane wkwkwk 😂
Si Topik
semoga Naomi tidak luluh dan tidak kembali dg keluarga durjana ini 😐

memaafkan mungkin, tapi untuk kembali, Big No ☺️
Si Topik
penyesalan mah emang selalu belakangan, klo diawal nama nya pendaftaran :-v
Si Topik
wkwkwk kau tidak bisa mengalahkan orang tua sepuh yg kenyang dg berbagai asam garam pengalaman biawak 😂
Si Topik
Yeeeyyy Mamah Arumi mulai memancing awkwkwk 😂😂
Si Topik
biasa nya orang kek gini mesti dipancing dulu biar ketar ketir 🙂
Si Topik
awokwokwok koplak emang 😂😂
Si Topik
nangkep elu lah Tim, apalagi wkwk 😂
Si Topik
apa yg terjadi yaa kalo Volkov tau keterlambatan nya karena ulah Timmy dan bestie2 nya wkwkwk 😂
Si Topik
owalahhh.. maka nya kata si asisten di awal " tuan ingin penyelidikan tidak diketahui Nona Cecilia? "

ternyata oh ternyata ada udang dibalik bakwan ☺️
Si Topik
nama nya penyelidikan ya kali di umbar2 bjirr, tentu dilakukan dgn senyap tanpa terendus :"-v
yakali mau menyelidiki suatu individu, diberi info dulu
Si A : " heeii si B, aku mau menyelidiki kamu.. hati hati yaa "

si B : hohoo baiklah ☺️
Si Topik
terkadang penghianat justru berasal dari orang terdekat yg sudah kenal lama.. 🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!