"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Wajah yang Terlukis dalam Cahaya
BAB 35: Wajah yang Terlukis dalam Cahaya
Jakarta menyambut Rangga Adiguna dengan hiruk-pikuk yang luar biasa. Begitu helikopter pribadinya mendarat di atas helipad gedung pusat Adiguna Tower, puluhan kamera wartawan sudah membidik dari kejauhan. Rangga melangkah keluar dengan setelan jas hitam yang memancarkan aura otoritas mutlak. Tidak ada lagi keraguan di wajahnya. Pria yang berdiri di sana adalah seorang penyintas—pria yang telah melewati neraka dan membawa kembali apinya untuk menerangi jalannya sendiri.
"Pak Rangga, semua direksi sudah berkumpul di Ballroom utama. Mereka sangat tegang," bisik Maya yang berjalan cepat di sampingnya.
Rangga tidak menjawab. Ia hanya terus melangkah. Pikirannya tidak berada di ruangan penuh orang-orang haus uang itu. Pikirannya tertinggal di kamar rumah sakit di perbukitan, pada Arini yang pagi tadi mencium tangannya dan membisikkan kata "berjuanglah".
Di dalam Ballroom, suasana sangat panas. Pak Hendrawan mungkin sudah jatuh, namun kaki-tangannya masih mencoba mempertahankan pengaruh. Mereka menuntut penjelasan mengapa saham perusahaan sempat anjlok dan mengapa Rangga lebih banyak menghabiskan waktu dengan "wanita yang tidak memberikan keuntungan bagi citra perusahaan."
Begitu Rangga melangkah ke atas podium, ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap. Rangga tidak langsung bicara. Ia menatap satu per satu wajah para investor besar di hadapannya.
"Saya dengar, ada yang mengatakan bahwa cinta telah membuat saya lemah," suara Rangga menggema melalui sound system yang jernih. "Ada yang mengatakan bahwa fokus saya pada istri saya yang sedang sakit adalah kerugian bagi perusahaan ini."
Rangga tersenyum sinis, senyum yang membuat para direksi itu menahan napas.
"Kalian salah besar. Justru karena istri sayalah, saya tahu apa artinya 'pantang menyerah'. Jika seorang wanita bisa melawan kanker stadium lanjut, pendarahan otak, kebutaan, hingga kelumpuhan tanpa pernah kehilangan senyumnya... maka memimpin perusahaan ini hanyalah tugas kecil bagi saya."
Rangga kemudian memaparkan rencana restrukturisasi besarnya. Ia tidak hanya bicara soal profit, tapi soal inovasi medis dan tanggung jawab sosial yang akan menaikkan nilai moral perusahaan di mata dunia. Di akhir pidatonya, ia memberikan pengumuman yang mengejutkan.
"Mulai hari ini, saya mendirikan Arini Foundation. Sepuluh persen dari dividen pribadi saya akan dialokasikan ke sana untuk memastikan tidak ada lagi orang-orang seperti kalian yang bisa merendahkan martabat orang sakit hanya karena angka-angka di atas kertas. Jika kalian tidak setuju, silakan tarik modal kalian hari ini juga. Saya tidak butuh mitra yang tidak punya hati."
Tepuk tangan mulai terdengar, awalnya ragu-ragu, lalu berubah menjadi riuh rendah yang membahana. Rangga telah memenangkan hati pasar bukan dengan kelicikan, tapi dengan integritas yang tak tergoyahkan.
Namun, kemenangan di Jakarta hanya setengah dari tujuan hidupnya. Begitu acara selesai, Rangga tidak menghadiri pesta perjamuan. Ia langsung kembali ke rumah sakit. Hari ini adalah hari besar. Hari di mana Dokter Bram akan membuka perban terakhir pada mata Arini setelah prosedur laser perbaikan saraf optik yang dilakukan dua hari lalu.
Perjalanan kembali terasa seperti selamanya. Rangga terus menggenggam kotak beludru di sakunya—sebuah cincin berlian baru untuk memperbaharui janji pernikahan mereka.
Sesampainya di kamar rumah sakit, suasana sangat tenang. Ibu Sarahwati duduk di kursi sudut, tangannya bertaut dalam doa yang tiada putus. Arini duduk di tepi ranjang, mengenakan gaun sutra berwarna soft pink yang dipilihkan Rangga sebelumnya. Matanya masih tertutup perban putih bersih.
"Rangga? Itu kamu?" suara Arini terdengar sangat lembut, penuh dengan antisipasi yang mendebarkan.
"Iya, Rin. Ini aku. Aku pulang untukmu," Rangga mendekat dan duduk di depan Arini. Ia memegang tangan istrinya yang kini sudah bisa meremas balik tangannya dengan cukup kuat.
Dokter Bram masuk dengan membawa gunting medis kecil. "Semua sudah siap, Rangga? Arini?"
Arini mengangguk mantap. "Aku siap, Dok. Apapun hasilnya... aku sudah siap."
Dokter Bram mulai memotong perban itu dengan sangat hati-hati. Lapisan demi lapisan kain putih itu jatuh ke lantai. Ruangan itu sengaja dibuat agak gelap, hanya ada cahaya temaram dari lampu sudut agar mata Arini tidak kaget.
"Perlahan-lahan, Arini. Jangan langsung dipaksa," bisik Dokter Bram.
Rangga menahan napas. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia takut Arini bisa mendengarnya. Ia melihat kelopak mata Arini bergetar. Bulu matanya yang lentik mulai terangkat.
Arini membuka matanya. Awalnya ia mengerjap berkali-kali. Dunianya yang selama berbulan-bulan hanya berisi kegelapan pekat, kini mulai dimasuki oleh gumpalan cahaya dan bayangan warna.
"Buram... semuanya buram," bisik Arini.
Rangga merasa hatinya mencelos. Apakah operasinya gagal?
"Tunggu, jangan panik," ujar Dokter Bram. "Coba fokus pada benda yang paling dekat denganmu."
Arini menatap ke arah Rangga. Ia memfokuskan pandangannya. Sedikit demi sedikit, gumpalan warna itu mulai membentuk garis. Ia melihat sebuah siluet tajam. Ia melihat dahi yang tinggi, hidung yang mancung, dan mata hitam yang berkaca-kaca.
Garis-garis itu semakin jelas. Arini melihat sepasang alis yang tebal dan sedikit jambang tipis yang baru saja dicukur rapi. Dan yang paling penting, ia melihat sebuah tatapan cinta yang begitu dalam—tatapan yang dulu hanya bisa ia rasakan melalui suara dan sentuhan.
"Ga..." suara Arini bergetar. "Rangga..."
"Rin? Kamu bisa lihat aku?" tanya Rangga, air mata mulai jatuh di pipinya.
Arini mengulurkan tangannya, meraba pipi Rangga. Namun kali ini, jarinya mengikuti apa yang dilihat matanya. "Kamu... kamu lebih tampan dari yang aku bayangkan dalam mimpiku. Matamu... aku tidak pernah tahu matamu seindah ini, Ga."
Tangisan haru pecah di ruangan itu. Ibu Sarahwati jatuh berlutut sambil mengucap syukur berkali-kali. Dokter Bram tersenyum lebar dan menepuk bahu Rangga sebelum keluar memberikan privasi bagi pasangan tersebut.
Arini mencoba berdiri. Dengan dukungan tangan Rangga, ia melangkah tanpa kruk. Kakinya kini sudah cukup kuat untuk menopang berat tubuhnya sendiri. Ia berjalan menuju jendela dan menarik gordennya sedikit.
Cahaya matahari sore yang berwarna keemasan menyapu wajahnya. Arini terpaku. Ia melihat taman rumah sakit di bawah sana, pepohonan hijau, dan langit biru yang luas.
"Warna itu... indah sekali, Ga," isak Arini. "Dunia ini ternyata sangat indah."
Rangga memeluknya dari belakang. "Dunia ini indah karena ada kamu di dalamnya, Rin. Jika kamu tidak ada, semua warna ini tidak akan berarti apa-apa bagiku."
Rangga kemudian mengeluarkan kotak beludru dari sakunya. Ia berlutut di depan Arini, menatap langsung ke mata istrinya yang kini berbinar jernih—mata yang kini bisa memantulkan bayangan dirinya.
"Arini, dulu kita menikah di ambang maut. Kita menikah saat kamu tidak bisa melihatku, saat kamu tidak bisa berjalan. Sekarang, di hadapan cahaya ini, aku ingin bertanya lagi padamu."
Rangga membuka kotak itu, memperlihatkan sebuah cincin dengan berlian biru yang sangat cantik.
"Maukah kamu menghabiskan sisa hidupmu bersamaku? Menjadi ratu di rumah yang akan kita bangun, menjadi ibu dari anak-anak kita nanti, dan tetap menjadi cahaya dalam hidupku sampai aku menutup mata?"
Arini menutup mulutnya dengan tangan, air mata kebahagiaan tak berhenti mengalir. "Iya, Ga. Sejuta kali iya. Aku akan selalu bersamamu, dalam gelap maupun terang."
Rangga menyematkan cincin itu di jari manis Arini. Ia berdiri dan mencium Arini dengan penuh perasaan. Itu bukan sekadar ciuman, tapi sebuah pernyataan kemenangan atas segala penderitaan, penghinaan, dan maut yang selama ini mengejar mereka.
Malam harinya, Rangga membawa Arini ke balkon lantai atas rumah sakit. Ia telah menyiapkan sebuah makan malam romantis sederhana. Namun, yang paling spesial adalah apa yang ada di depan mereka.
Rangga telah memasang ribuan lampu LED kecil di taman rumah sakit yang jika dilihat dari atas membentuk tulisan: "WELCOME BACK, MY LIGHT."
"Ga... ini terlalu banyak," ujar Arini sambil tertawa di tengah tangisnya.
"Ini belum ada apa-apanya dibanding apa yang kamu berikan padaku, Rin. Kamu memberikan aku sebuah jiwa. Sebelumnya, aku hanya sebuah mesin yang mencari uang," Rangga menyesap tehnya sambil menatap Arini.
Tiba-tiba, Arini terdiam. Ia menatap ke arah kejauhan, ke arah lampu-lampu kota Jakarta yang gemerlap. "Ga, aku memikirkan Ibu Sarah."
Rangga tertegun. "Kenapa, Rin?"
"Aku ingin menjenguknya. Sekali lagi. Sebelum kita pindah ke rumah baru kita. Aku ingin dia melihat bahwa aku sudah sembuh. Bukan untuk pamer, tapi untuk menunjukkan padanya bahwa kebencian tidak akan pernah menang melawan cinta. Aku ingin dia pergi dengan kedamaian, bukan dengan penyesalan."
Rangga menatap istrinya dengan rasa kagum yang tak terhingga. Kedewasaan dan kebaikan hati Arini benar-benar melampaui batas manusia biasa. "Baiklah, Sayang. Besok kita akan ke sana. Aku akan menemanimu."
Di akhir bab ini, suasana beralih ke penjara rumah sakit tempat Ibu Sarah berada. Malam itu, Sarah sedang menatap langit-langit dengan mata yang sulit digerakkan. Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, ia merasakan sesuatu yang aneh. Sebuah getaran hangat yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia teringat saat Rangga masih kecil, saat ia sering membacakan dongeng sebelum tidur—sebelum ambisinya merusak segalanya. Ia mendengar kabar dari sipir bahwa Arini telah sembuh dan Rangga berhasil menyelamatkan perusahaan.
Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Sarah Adiguna tidak merasa marah. Ia merasa... lega. Ia menyadari bahwa putranya telah menjadi pria yang jauh lebih hebat daripada mendiang suaminya, dan itu semua karena wanita yang selama ini ia coba singkirkan.
Sarah memejamkan matanya, setitik air mata mengalir untuk terakhir kalinya. Di dalam hatinya, ia membisikkan kata maaf yang tidak akan pernah sampai secara lisan, namun ia tahu, Rangga dan Arini sudah memaafkannya.
Keesokan paginya, Rangga dan Arini berjalan keluar dari rumah sakit. Kali ini, Arini tidak menggunakan kursi roda. Ia berjalan tegak di samping Rangga, tangannya bertautan erat.
Begitu mereka sampai di lobi, Maya sudah menunggu dengan mobil baru yang jauh lebih nyaman. "Mau ke mana kita hari ini, Pak?"
Rangga menoleh ke arah Arini dan tersenyum. "Kita akan ke toko buku dulu. Arini bilang dia ingin membeli buku cerita yang banyak. Dia ingin membaca semua cerita yang dulu sempat aku bacakan untuknya."
Arini tertawa, wajahnya bersinar terkena cahaya matahari pagi. "Dan setelah itu, kita akan pulang, kan Ga?"
"Iya, Rin. Kita pulang ke rumah kita yang sebenarnya."
Mereka masuk ke dalam mobil, meninggalkan gedung rumah sakit yang penuh kenangan pahit itu. Di depan mereka membentang jalanan panjang yang kini terlihat sangat jelas dan penuh warna. Kerapuhan Arini telah berganti menjadi kekuatan, dan cinta Rangga yang dulu "pincang" kini telah berdiri tegak di atas pondasi kesetiaan.
Badai telah berlalu, dan pelangi yang mereka tunggu-tunggu akhirnya muncul dengan warna yang paling indah yang pernah mereka lihat.