NovelToon NovelToon
One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / One Piece / Fantasi Isekai
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.

Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)

untuk mengubah sejarah Grand Line.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 TIGA SAUDARA

Usiaku menginjak tiga tahun ketika Garp datang lagi.

"DADAN! AKU DATANG!"

Suara keras itu sudah jadi alarm dadakan. Semua anak buah bandit langsung berlarian panik—menyembunyikan hasil rampokan, minuman ilegal, dan segala sesuatu yang bisa membuat mereka ditangkap.

"GARP SIALAN! SETIDAKNYA KASIH KABAR DULU!" Dadan berteriak sambil merapikan gubuk dengan tergesa-gesa.

Aku dan Sabo duduk tenang di luar. Kami sudah terbiasa dengan kedatangan mendadak kakek.

Garp muncul dari balik pepohonan dengan senyum lebar khasnya. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Dia menggendong bayi.

Bayi dengan rambut hitam berantakan dan mata bulat penuh rasa ingin tahu.

Jantungku berdegup kencang.

Monkey D. Luffy.

Akhirnya.

"ACE! KAKEK DATANG!" Garp berlari ke arahku dan langsung meremas pipiku dengan tangan bebas. "Sudah besar ya! Tiga tahun! Waktunya mulai latihan jadi Marine!"

"Tidak mau jadi Marine," aku mendorong tangannya menjauh. "Mau jadi bajak laut."

"HAH?! APA YANG KAU BILANG?! BAJAK LAUT?!" Garp berubah mengerikan. "INI PASTI GARA-GARA DADAN! DADAN! KELUAR SEKARANG!"

"AKU TIDAK NGAJARIN APA-APA!" Dadan keluar dengan wajah kesal. "Bocah itu kepalanya keras kayak batu! Ngomongin bajak laut mulu!"

"Grrr... anak nakal harus dididik keras!" Garp mengangkat tinjunya.

"TUNGGU! Siapa bayi itu?!" aku menunjuk bayi di gendongan Garp—sengaja mengalihkan perhatian sebelum dia benar-benar meninju.

Garp berhenti. Melihat bayi di tangannya seperti baru ingat.

"Oh ya! Ini cucuku yang lain! Namanya Luffy! Monkey D. Luffy!" dia mengangkat Luffy tinggi-tinggi. "Mulai sekarang dia tinggal disini! Kalian berdua saudara!"

Luffy menatapku dengan mata besar. Lalu tersenyum lebar—senyum bodoh khas Luffy yang akan terkenal di seluruh dunia nanti.

"Aaa... uuu..." dia menggerakkan tangan kecilnya ke arahku.

Sesuatu di dadaku mencelos. Ini Luffy. Adikku. Orang yang di timeline asli akan menangis sejadi-jadinya saat aku mati.

Tidak akan terjadi lagi.

"Boleh aku gendong?" aku mengulurkan tangan.

Garp terlihat terkejut. "Oh? Kau mau gendong adikmu? Bagus! Ini sikap kakak yang baik!"

Dia menyerahkan Luffy dengan hati-hati. Bayi itu ringan. Sangat ringan. Tapi berat tanggung jawab yang kubawa saat memeluknya sangat besar.

"Halo Luffy," aku berbisik pelan. "Aku kakakmu. Ace. Aku akan selalu melindungimu. Janji."

Luffy tertawa—tawa riang anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang dunia kejam di luar sana.

"Wah! Dia suka sama kamu!" Garp tertawa keras. "Kalian pasti akan jadi saudara yang akrab!"

"Garp-san, kenapa Luffy dititipkan disini? Dimana orang tuanya?" Dadan bertanya dengan nada curiga.

Wajah Garp mengeras sejenak. "Orang tuanya... sibuk. Sangat sibuk. Jadi aku yang urus. Tapi karena tugas Marine, aku tidak bisa jaga dia terus. Makanya kutitipkan disini!"

Sibuk. Itu cara halus bilang Dragon—ayah Luffy—sedang membangun Armada Revolusioner untuk melawan Pemerintah Dunia.

"Dan ini!" Garp mengeluarkan kantong uang besar. "Uang untuk biaya makan dan kebutuhan! Dua juta belly!"

"DUA JUTA?!" mata Dadan berbinar. "Oke! Aku terima bocah ini!"

"Bagus! Jaga mereka baik-baik! Terutama jangan sampai jadi bajak laut! Mengerti?!"

"Iya iya!"

Garp tersenyum puas. Lalu menatapku dan Luffy bergantian.

"Ace. Luffy. Kalian berdua saudara sekarang. Saling jaga ya. Dunia ini keras. Tapi kalau kalian berdua bersama, tidak ada yang tidak bisa dihadapi."

Kata-kata itu berat. Penuh makna yang bahkan Garp sendiri mungkin tidak sepenuhnya sadari.

"Aku akan jaga dia," aku berjanji. "Sampai kapanpun."

"Gwahahaha! Bagus! Itu kakak yang baik!"

Garp tinggal sebentar—hanya makan siang dengan porsi mengerikan (tiga panci nasi habis sendiri) lalu pergi lagi dengan alasan tugas Marine.

Dan seperti itu, Luffy resmi menjadi bagian dari keluarga kami.

Minggu pertama dengan Luffy adalah... berisik.

Sangat berisik.

"UWEEEKKK! UWEEEEKKK!"

"ACE! ADIKMU NANGIS LAGI!" Dadan berteriak dari dapur.

Aku berlari ke ruangan dimana Luffy ditaruh. Dia menangis keras sambil menendang-nendang udara.

"Kenapa sih? Lapar? Ngompol?" aku mengecek popoknya. Basah. "Ya ampun..."

Mengganti popok bayi dengan tubuh anak tiga tahun adalah tantangan tersendiri. Tapi entah kenapa aku bisa—mungkin ingatan dari kehidupan lama saat harus bantu sepupu yang masih bayi.

"Nah sudah. Bersih," aku membungkus Luffy dengan kain baru.

Tangisannya berhenti. Dia menatapku dengan mata besar, lalu tersenyum.

"Shishishi..."

Tawa khas Luffy. Bahkan dari bayi sudah khas.

"Dasar bocah merepotkan," aku menggumam tapi tidak bisa menahan senyum.

"Ace pintar ya urus adik," Sabo muncul dengan dua mangkuk bubur. "Ini. Dadan bilang kau belum makan."

"Terima kasih."

Kami duduk sambil makan. Luffy tertidur lagi di kasurnya—bayi memang kebanyakan tidur.

"Luffy lucu ya," Sabo berkomentar. "Tapi kok bisa Garp-san punya dua cucu yang beda ibu?"

Aku tersedak bubur. "Ehuk! Ehuk!"

"Kau baik-baik saja?!"

"Iya... iya..." aku minum air. Pertanyaan itu memang wajar. Ace dan Luffy bukan saudara kandung. Bahkan bukan saudara tiri. Cuma sesama cucu dari Garp.

"Mungkin karena Garp jii-chan suka mengangkat anak?" aku menjawab asal. "Dia kan baik hati."

"Oh... masuk akal."

Tidak masuk akal sama sekali tapi untungnya Sabo tidak terlalu mikirin.

Malam harinya, aku terbangun karena Luffy menangis lagi.

"Iya iya aku datang..." aku setengah tidur mengambil botol susu yang sudah disiapkan Dadan.

Tapi saat mengangkat Luffy, aku melihat sesuatu yang aneh.

Tangannya... melar?

Seperti karet?

Tidak mungkin.

Luffy belum makan Gomu Gomu no Mi. Itu terjadi saat dia umur tujuh tahun setelah bertemu Shanks.

Tapi tangannya tadi benar-benar melar sebentar sebelum kembali normal.

Aku mengedipkan mata beberapa kali. Mungkin cuma ilusi karena ngantuk?

"Ace? Kenapa diam?" Sabo muncul dengan mata setengah terbuka.

"Tidak... tidak apa-apa. Cuma ngasih susu."

Tapi keraguan mulai muncul. Apakah timeline sudah berubah sejauh ini? Apakah kehadiranku mengubah sesuatu yang sangat fundamental?

Aku harus lebih waspada.

Enam bulan berlalu sejak Luffy datang.

Kehidupan kami jatuh ke rutinitas yang nyaman. Pagi: latihan fisik. Siang: bantu pekerjaan Dadan. Sore: latihan bertarung. Malam: jaga Luffy bergantian.

Luffy tumbuh cepat—sekarang sudah bisa merangkak dan mulai belajar berjalan. Dia sangat aktif. Terlalu aktif. Selalu ingin kesana kemari, memasukkan apapun ke mulut, dan membuat kekacauan.

"LUFFY! JANGAN MAKAN ITU! ITU BUKAN MAKANAN!" Dadan berteriak saat Luffy hampir makan sepatu.

"Shishishi!" Luffy tertawa seperti ini semua permainan.

"Dasar bocah..." Dadan menghela napas lelah.

Aku dan Sabo tidak bisa menahan tawa.

"Dia menggemaskan," Sabo berkomentar sambil mengambil sepatu dari tangan Luffy.

"Menggemaskan sekaligus merepotkan," aku menambahkan.

"Aaa! Aaa!" Luffy merangkak ke arahku dengan cepat—sangat cepat untuk bayi—dan memeluk kakiku.

"Cie Ace disayang adiknya," Sabo menggoda.

"Diamlah."

Tapi aku tidak bisa menyangkal—Luffy sangat dekat denganku. Setiap kali menangis, hanya aku yang bisa menenangkan. Setiap kali takut, dia lari ke pelukkanku.

Ini ikatan saudara yang sesungguhnya.

"Ace! Sabo! Ayo latihan!" salah satu anak buah Dadan memanggil dari luar.

"Sebentar! Luffy belum dimandikan!" aku mengangkat Luffy yang langsung protes.

"Iya iya cepetan! Kita mau ajarin teknik baru hari ini!"

Teknik baru?

Aku penasaran. Selama ini yang diajarkan cuma dasar-dasar—cara pukul, cara hindari, cara gunakan senjata sederhana.

Setelah memandikan Luffy (yang protes sepanjang waktu) dan menyerahkannya ke Dadan, aku dan Sabo berlari ke area latihan.

Disana, semua anak buah Dadan berkumpul. Dan ada orang asing—pria paruh baya dengan bekas luka di wajah dan mata yang tajam.

"Ini siapa?" Sabo berbisik.

"Entah. Baru pertama lihat."

"Ace! Sabo! Kemari!" Dadan memanggil dengan nada serius.

Kami mendekat dengan hati-hati.

"Ini Yamamoto. Mantan Marine. Sekarang bandit seperti kami. Dia akan ajari kalian teknik bertarung yang benar—bukan cuma main-main seperti selama ini."

Yamamoto menatap kami dengan tatapan menilai. Matanya berhenti di aku lebih lama.

"Kau yang punya Devil Fruit?"

Aku membeku. "Siapa yang bilang—"

"Dadan cerita. Tenang. Aku tidak akan bocorkan. Tapi kalau kau mau kuasai kekuatan itu, butuh lebih dari sekedar kontrol api."

"Maksudnya?"

Dia tersenyum—senyum tipis yang penuh pengalaman.

"Kau tahu apa itu Haki?"

Jantungku berdegup kencang.

Haki. Kekuatan paling fundamental di dunia One Piece. Observation Haki untuk prediksi gerakan musuh. Armament Haki untuk pertahanan dan offense. Conqueror's Haki untuk intimidasi dan dominasi kehendak.

Aku butuh itu. Sangat butuh.

"Aku... pernah dengar," aku menjawab hati-hati.

"Bagus. Karena aku akan ajari kalian dasar-dasarnya. Tidak mudah. Butuh waktu bertahun-tahun untuk benar-benar kuasai. Tapi kalau mulai dari sekarang—kalian masih muda—mungkin bisa jadi monster saat dewasa."

Sabo menatapku dengan mata berbinar. "Ace! Ini kesempatan bagus!"

Ya. Ini kesempatan yang tidak boleh dilewatkan.

"Kami siap," aku menjawab tegas.

Yamamoto mengangguk. "Baik. Mulai besok pagi. Latihan dimulai sebelum matahari terbit. Kalau terlambat, tidak ada sarapan. Mengerti?"

"MENGERTI!"

Malam itu aku tidak bisa tidur karena excited. Akhirnya—akhirnya aku bisa mulai latihan yang sebenarnya.

Devil Fruit saja tidak cukup. Butuh Haki untuk menghadapi musuh-musuh kuat di masa depan.

Dan sekarang kesempatan itu ada di depan mata.

Api takdir semakin membara.

Dan aku akan membuatnya jadi badai yang tidak bisa dihentikan siapa pun.

BERSAMBUNG

1
I'm Nao
kenapa si ace ama sabo ga belajar rokushiki? kan lumayan teknik nya bisa buat pertarungan di udara
I'm Nao
hmmm bukan nya itu mutlak ya? bagi user devil fruit
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku Ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!