NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Rebirth For Love / Obsesi / Time Travel / Romansa / Tamat
Popularitas:16.1k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 - Pecah dari Dalam

Ruang rehabilitasi tidak berbau antiseptik. Tapi berbau keringat, plastik tua, dan sesuatu yang lebih jujur... kelelahan manusia.

Nadira berdiri di antara dua palang besi sejajar. Tangannya mencengkeram dingin logam. Kakinya gemetar bukan karena dingin, tapi karena ototnya menolak perintah.

"Angkat kaki kanan." Kata fisioterapis itu. Laki-laki berusia empat puluhan, suaranya netral. Tidak mengasihani. Tidak menantang.

Nadira mengangkat.

Dua detik.

Kakinya jatuh.

"Lagi."

Rahang Nadira mengeras. "Aku bisa."

"Belum." Jawabnya tenang. "Lagi."

Ia menarik napas. Rasa nyeri naik dari betis ke paha seperti api yang diseret perlahan. Kepalanya berdenyut. Ada suara halus di telinga lalu berhenti, seperti dengungan tawon. Dia benci suara itu.

Nadira mengangkat kaki kanannya lagi.

Tiga detik.

Tubuhnya miring. Tangannya mencengkeram lebih keras.

"Berhenti." Kata fisioterapis itu.

"Aku belum jatuh." Bentak Nadira.

"Kita berhenti sebelum kamu memaksakan yang rusak."

"Tubuhku bukan rapuh."

"Tubuhmu sedang jujur."

Kalimat itu menghantam lebih keras dari nyeri.

Nadira tertawa pendek, kasar. "Jujur berarti lemah?"

"Jujur berarti memberi data." Jawabnya. "Ego yang menolak."

Darah Nadira mendidih. "Ego itu yang membuatku hidup."

"Ego itu yang membuatmu di sini."

Hening menutup ruang.

Nadira melepaskan pegangan. Kakinya langsung goyah. Refleks, ia meraih udara. Lututnya nyaris menyentuh lantai sebelum fisioterapis itu menahan sabuk pengaman di pinggangnya.

"Cukup." Katanya. "Sesi selesai."

Nadira berdiri terengah. Keringat dingin di punggungnya. Dadanya sesak, bukan sesak fisik, tapi sesuatu yang lebih kotor... rasa kalah. Dan Nadira benci kata itu.

Di bangku istirahat, ia menunduk. Tangannya gemetar halus. Ada amarah, ada malu, ada ketakutan yang ia dorong ke pojok kepala.

Ponselnya bergetar. Nama Arvin muncul. Ia menatap layar lama. Tidak diangkat. Dibiarkan mati.

***

Arvin duduk di halte kecil, map pasien di pangkuan, hujan rintik menodai sepatu murahnya. Tempat barunya tidak megah. Tapi hari-harinya padat, terlalu padat untuk menyelamatkan dunia.

Dia menatap ponsel. Tidak ada balasan. Ia sudah belajar membaca sunyi Nadira. Sunyi yang memilih.

Beberapa saat kemudian, Arvin tiba di Klinik. Bersamaan dengan seorang pasien yang berteriak karena nyeri kronis. Arvin berjongkok, menatap mata lelaki itu.

"Aku tidak bisa menghilangkan semua rasa sakit." Kata Arvin jujur. "Tapi aku bisa menemanimu mengelolanya." Ucapnya ingin menenangkan.

"Jadi aku harus terbiasa?" Bentak lelaki itu.

"Bukan menyerah." Arvin menjawab pelan. "Mengubah cara bertahan."

Kalimat itu memantul balik ke dirinya sendiri. Mengubah cara bertahan.

Sore itu, Arvin menelpon lagi. Tidak diangkat. Dia mengetik pesan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi.

[Aku di sini. Tapi aku tidak akan memaksakan kamu membukakan pintu untukku.]

Ia kirim.

Teleponnya bergetar hampir seketika.

Balasan Nadira singkat.

[Jangan datang. Hidup ini milikku sendiri.]

Arvin menutup mata.

Batas.

Dia merasakan sesuatu patah, bukan hubungan, tapi ilusi bahwa cinta selalu berarti hadir fisik. Bahwa jarak adalah kegagalan.

Ia berdiri, melangkah ke hujan tanpa payung. Hari ini, ia memilih bertahan tanpa mendekat. Dan itu menyakitkan dengan cara yang sunyi.

***

Raka berdiri di depan ruko setengah tutup. Spanduk diskon terkelupas. Bau minyak goreng lama menyengat.

Pemiliknya seorang pria berperut buncit menatapnya dari balik pintu.

"Kamu telat tiga hari." Katanya.

"Aku bayar besok." Jawab Raka. "Aku janji."

"Kamu selalu janji."

Raka mengangguk. Tidak membantah.

"Kalau besok belum ada, kamu keluar."

Pintu ditutup.

Raka berdiri lama. Perutnya melilit. Kepalanya berat. Ia membuka ponsel saldo hampir nol. Pekerjaan harian tidak cukup. Tabungan tidak ada. Jaringan lama menggoda dari bayangan.

Dia berjalan tanpa tujuan, sampai berhenti di sebuah kafe kecil. Di sana, seseorang memanggil namanya.

"Raka?"

Ia menoleh.

Wajah lama. Senyum licin.

"Kamu kelihatan... kurus."

Raka tertawa hambar. "Hidup sederhana."

"Kebetulan." Orang itu mencondongkan badan. "Ada proyek. Cepat. Bersih di kertas."

Raka tahu kata "bersih" itu palsu.

"Aku tidak kembali ke sana." Katanya.

"Ini bukan kembali. Ini transisi."

Raka menatap meja. Menghitung napas.

"Transisi selalu punya korban." Katanya. "Dan biasanya aku."

Orang itu mengangkat bahu. "Pilihanmu."

Saat orang itu pergi, Raka merasakan getaran di dadanya. Bukan lega, melainkan rasa takut dan juga bangga.

Dia berjalan pulang. Di kamar, ia duduk di lantai, punggung ke dinding. Kepalanya tertunduk.

"Bertahan itu ternyata mahal." Gumamnya.

***

Aluna duduk di ruang tunggu pengadilan yang terlalu terang. Tidak ada pendamping. Tidak ada pengacara yang membisikkan strategi. Tidak ada staf yang menahan wartawan.

Ia sendirian.

Seorang perempuan mendekat. Wajahnya tegang. Tangannya mengepal.

"Kamu Aluna." Bukan tanya.

"Ya."

"Aku korbanmu."

Kata itu telanjang. Tidak dibungkus hukum. Tidak difilter etika.

Aluna menelan ludah. "Aku..."

"Jangan minta maaf dulu." Potong perempuan itu. "Dengar."

Ia duduk. Matanya merah. Suaranya gemetar tapi stabil.

"Kami percaya sistem yang kamu bangun. Kamu bilang aman. Kamu bilang ada perlindungan."

Aluna menunduk.

"Kami disuruh diam. Disuruh tunggu. Dan saat semuanya pecah... kamu pergi."

"Aku tidak pergi." Bisik Aluna.

"Tapi kamu tidak bereaksi."

Kalimat itu menampar. Aluna mengangkat kepala. "Aku salah."

Perempuan itu tertawa pahit. "Itu tidak mengembalikan apa pun."

"Aku tahu." Napas Aluna tersendat. "Aku tidak minta dimaafkan."

"Lalu kamu mau apa?"

Aluna terdiam. Tidak ada struktur untuk berlindung. Tidak ada jargon.

"Aku mau bertanggung jawab." Katanya akhirnya. "Tanpa perlindungan."

Perempuan itu berdiri. "Kita lihat seberapa lama." Ia pergi.

Aluna duduk gemetar. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar sendirian dengan akibat. Dan tidak bisa lari.

***

Malam di rehabilitasi terasa panjang. Nadira berbaring, otot-ototnya berdenyut. Kepalanya penuh suara. Setiap inci tubuhnya berteriak.

Dia bangkit setengah, mual. Napasnya pendek. Dinding terasa terlalu dekat. Ia menekan bel pemanggil.

Perawat datang. "Ada apa?"

"Aku ingin keluar."

"Sekarang?"

"Iya."

Perawat menatapnya. "Kamu bisa jatuh."

"Aku sudah jatuh." Balas Nadira dingin.

Perawat menarik kursi. Duduk. "Kalau kamu keluar sekarang, kamu akan memulai dari nol lagi."

Nadira tertawa getir. "Aku selalu mulai dari nol."

"Kenapa kamu marah pada tubuhmu?"

Pertanyaan itu membuatnya diam. Karena tubuh ini menyimpan semua yang ingin ia lupakan.

Karena tubuh ini mengingat malam-malam panjang, tuntutan, kehilangan, rasa bersalah yang tidak sempat diproses.

"Aku tidak marah." Katanya lirih. "Aku takut."

Perawat itu mengangguk. "Takut bukan kelemahan."

"Bagiku iya."

Keheningan.

Ponselnya bergetar di meja. Nama Arvin. Kali ini, ia mengangkat.

"Jangan datang." Katanya cepat.

"Aku tidak datang." Jawab Arvin. Suaranya jauh. "Aku hanya mau dengar suaramu."

Nadira menutup mata. Dadanya sesak.

"Aku hancur hari ini." Katanya. "Dan aku benci itu."

"Aku tahu."

"Sebenarnya aku ingin kamu di sini. Tapi, aku juga tidak ingin kamu ada di sini saat ini."

Arvin menarik napas. "Aku mengerti."

"Kamu tidak marah?"

"Aku sedih. Tapi aku memilih tidak menyelamatkanmu dengan caraku."

Air mata Nadira jatuh. Sunyi. "Terima kasih." Bisiknya. "Untuk tidak mengurungku."

"Aku di jarak yang aman." Jawab Arvin. "Untukmu dan untukku."

Telepon ditutup.

Nadira berbaring kembali. Tubuhnya sakit. Egonya koyak. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak sendirian dalam memilih batas.

***

Pagi datang tanpa janji.

Raka membayar setengah sewa dengan uang terakhir. Pemilik ruko menggerutu, tapi mengangguk.

"Besok sisanya."

"Iya."

Raka keluar, napasnya panjang. Hidupnya sempit, tapi masih miliknya.

***

Aluna melangkah ke ruang sidang tanpa pelindung. Kamera menyala. Wajahnya pucat.

***

Nadira berdiri lagi di palang besi. Kakinya gemetar.

"Angkat." Kata fisioterapis.

Ia angkat.

Satu detik.

Dua.

Tiga.

Ia jatuh, tapi tidak keras. Ia tertawa terengah. Ada nyeri. Ada marah. Dan ada tekad yang berbeda.

Pecah-batas bukan kehancuran. Kadang, itu adalah awal dari bentuk bertahan yang baru.

1
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
Ridwan01
Terima kasih kak author, ceritanya menarik dan banyak pembelajaran juga dari cerita para tokoh di novel ini 👍🙏☺️
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
ini udah end emang?
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ibu juga ah
total 2 replies
Nada She Embun
makasih Thor... terbaikk.. 😭
Erchapram: Terima kasih, mampir baca yg on going lainnya Kak. 🙏
total 1 replies
Nada She Embun
nadira sudah mulai hidup... 😍... bagi org yg mungkin sedang kalut... tak perlu banyak bicara.. cukup diam dan selalu di sisi nya... itu lebih menenangkan dari sebuah saran... 💜
Nada She Embun
penuh makna novel author nihh. 👍
Kostum Unik
Aku bosan bacanya kk othor.. Maaf ya. Awalnya sangat menarik tapi ini kok kyk baca sajak. Karakter2 nya terlalu kaku.. Tp balik lg ke selera pembaca yaa. /Smile/
Ridwan01
hidup kamu memang milik kamu Nadira, tapi kalau kamu keras kepala, hidup kedua kamu akan sia sia.
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
Winer Win: sama loo..aku juga greget..egois banget..keras kepala..sok kuat sok bisa sendiri..🤭🤭
total 2 replies
Dwi Setyaningrum
Nadira diberi kesempatan utk hdp lg tp malah rasanya hidupnya beban berat dan dlm otaknya ga mau mati lg tp langkahnya justru sukses menyiksa diri sndr berujung kematian kalau ego nya ttp dipertahankan..critanya ini saking beratnya smpe komenku juga berat thor🤭🤭
Erchapram: Trauma mati 🤣🤣
total 1 replies
Nada She Embun
trauma nadira😔...
Nada She Embun
terkadang jujur akan d anggap munafik.. 😔
Nada She Embun
cara penulisan novel yg berbeda.. alur cerita yg sulit d tebak... kamu bisa merasakan isi hati tokoh.. dialog yg sedikit tapi bermakna.. terbaik Thor.. 😍
Nada She Embun
novel author yg satu ini.. 👍... benar2 berani mengambil alur yg berbeda dari kebanyakan novel... novel yg sulit d tebak alur nya...

lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...

kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
Erchapram: Terima kasih.
total 1 replies
Winda Widiastuti
maaf Thor ni cerita soal apa ya ko muter2 Mulu
Erchapram: Soal di kampus
total 1 replies
Ita rahmawati
ini cerita apa sih jujur aku tuh gk mudeng yg begini² tuh 😂
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Dew666
🌹🌹💎
Faziana
Jujur sebagai seorang introvert menghadapi intrik2 semacam kisah Othor dalam kehidupan real benar2 menguras energi, itu yg pernah saya rasakan🤭
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍
Erchapram: Terima kasih jika cerita ini menginspirasi untuk tetap kuat. 🙏💪👍
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
Soraya
salut dgn bahasanya lanjut thor
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!