Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 - Pecah dari Dalam
Ruang rehabilitasi tidak berbau antiseptik. Tapi berbau keringat, plastik tua, dan sesuatu yang lebih jujur... kelelahan manusia.
Nadira berdiri di antara dua palang besi sejajar. Tangannya mencengkeram dingin logam. Kakinya gemetar bukan karena dingin, tapi karena ototnya menolak perintah.
"Angkat kaki kanan." Kata fisioterapis itu. Laki-laki berusia empat puluhan, suaranya netral. Tidak mengasihani. Tidak menantang.
Nadira mengangkat.
Dua detik.
Kakinya jatuh.
"Lagi."
Rahang Nadira mengeras. "Aku bisa."
"Belum." Jawabnya tenang. "Lagi."
Ia menarik napas. Rasa nyeri naik dari betis ke paha seperti api yang diseret perlahan. Kepalanya berdenyut. Ada suara halus di telinga lalu berhenti, seperti dengungan tawon. Dia benci suara itu.
Nadira mengangkat kaki kanannya lagi.
Tiga detik.
Tubuhnya miring. Tangannya mencengkeram lebih keras.
"Berhenti." Kata fisioterapis itu.
"Aku belum jatuh." Bentak Nadira.
"Kita berhenti sebelum kamu memaksakan yang rusak."
"Tubuhku bukan rapuh."
"Tubuhmu sedang jujur."
Kalimat itu menghantam lebih keras dari nyeri.
Nadira tertawa pendek, kasar. "Jujur berarti lemah?"
"Jujur berarti memberi data." Jawabnya. "Ego yang menolak."
Darah Nadira mendidih. "Ego itu yang membuatku hidup."
"Ego itu yang membuatmu di sini."
Hening menutup ruang.
Nadira melepaskan pegangan. Kakinya langsung goyah. Refleks, ia meraih udara. Lututnya nyaris menyentuh lantai sebelum fisioterapis itu menahan sabuk pengaman di pinggangnya.
"Cukup." Katanya. "Sesi selesai."
Nadira berdiri terengah. Keringat dingin di punggungnya. Dadanya sesak, bukan sesak fisik, tapi sesuatu yang lebih kotor... rasa kalah. Dan Nadira benci kata itu.
Di bangku istirahat, ia menunduk. Tangannya gemetar halus. Ada amarah, ada malu, ada ketakutan yang ia dorong ke pojok kepala.
Ponselnya bergetar. Nama Arvin muncul. Ia menatap layar lama. Tidak diangkat. Dibiarkan mati.
***
Arvin duduk di halte kecil, map pasien di pangkuan, hujan rintik menodai sepatu murahnya. Tempat barunya tidak megah. Tapi hari-harinya padat, terlalu padat untuk menyelamatkan dunia.
Dia menatap ponsel. Tidak ada balasan. Ia sudah belajar membaca sunyi Nadira. Sunyi yang memilih.
Beberapa saat kemudian, Arvin tiba di Klinik. Bersamaan dengan seorang pasien yang berteriak karena nyeri kronis. Arvin berjongkok, menatap mata lelaki itu.
"Aku tidak bisa menghilangkan semua rasa sakit." Kata Arvin jujur. "Tapi aku bisa menemanimu mengelolanya." Ucapnya ingin menenangkan.
"Jadi aku harus terbiasa?" Bentak lelaki itu.
"Bukan menyerah." Arvin menjawab pelan. "Mengubah cara bertahan."
Kalimat itu memantul balik ke dirinya sendiri. Mengubah cara bertahan.
Sore itu, Arvin menelpon lagi. Tidak diangkat. Dia mengetik pesan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi.
[Aku di sini. Tapi aku tidak akan memaksakan kamu membukakan pintu untukku.]
Ia kirim.
Teleponnya bergetar hampir seketika.
Balasan Nadira singkat.
[Jangan datang. Hidup ini milikku sendiri.]
Arvin menutup mata.
Batas.
Dia merasakan sesuatu patah, bukan hubungan, tapi ilusi bahwa cinta selalu berarti hadir fisik. Bahwa jarak adalah kegagalan.
Ia berdiri, melangkah ke hujan tanpa payung. Hari ini, ia memilih bertahan tanpa mendekat. Dan itu menyakitkan dengan cara yang sunyi.
***
Raka berdiri di depan ruko setengah tutup. Spanduk diskon terkelupas. Bau minyak goreng lama menyengat.
Pemiliknya seorang pria berperut buncit menatapnya dari balik pintu.
"Kamu telat tiga hari." Katanya.
"Aku bayar besok." Jawab Raka. "Aku janji."
"Kamu selalu janji."
Raka mengangguk. Tidak membantah.
"Kalau besok belum ada, kamu keluar."
Pintu ditutup.
Raka berdiri lama. Perutnya melilit. Kepalanya berat. Ia membuka ponsel saldo hampir nol. Pekerjaan harian tidak cukup. Tabungan tidak ada. Jaringan lama menggoda dari bayangan.
Dia berjalan tanpa tujuan, sampai berhenti di sebuah kafe kecil. Di sana, seseorang memanggil namanya.
"Raka?"
Ia menoleh.
Wajah lama. Senyum licin.
"Kamu kelihatan... kurus."
Raka tertawa hambar. "Hidup sederhana."
"Kebetulan." Orang itu mencondongkan badan. "Ada proyek. Cepat. Bersih di kertas."
Raka tahu kata "bersih" itu palsu.
"Aku tidak kembali ke sana." Katanya.
"Ini bukan kembali. Ini transisi."
Raka menatap meja. Menghitung napas.
"Transisi selalu punya korban." Katanya. "Dan biasanya aku."
Orang itu mengangkat bahu. "Pilihanmu."
Saat orang itu pergi, Raka merasakan getaran di dadanya. Bukan lega, melainkan rasa takut dan juga bangga.
Dia berjalan pulang. Di kamar, ia duduk di lantai, punggung ke dinding. Kepalanya tertunduk.
"Bertahan itu ternyata mahal." Gumamnya.
***
Aluna duduk di ruang tunggu pengadilan yang terlalu terang. Tidak ada pendamping. Tidak ada pengacara yang membisikkan strategi. Tidak ada staf yang menahan wartawan.
Ia sendirian.
Seorang perempuan mendekat. Wajahnya tegang. Tangannya mengepal.
"Kamu Aluna." Bukan tanya.
"Ya."
"Aku korbanmu."
Kata itu telanjang. Tidak dibungkus hukum. Tidak difilter etika.
Aluna menelan ludah. "Aku..."
"Jangan minta maaf dulu." Potong perempuan itu. "Dengar."
Ia duduk. Matanya merah. Suaranya gemetar tapi stabil.
"Kami percaya sistem yang kamu bangun. Kamu bilang aman. Kamu bilang ada perlindungan."
Aluna menunduk.
"Kami disuruh diam. Disuruh tunggu. Dan saat semuanya pecah... kamu pergi."
"Aku tidak pergi." Bisik Aluna.
"Tapi kamu tidak bereaksi."
Kalimat itu menampar. Aluna mengangkat kepala. "Aku salah."
Perempuan itu tertawa pahit. "Itu tidak mengembalikan apa pun."
"Aku tahu." Napas Aluna tersendat. "Aku tidak minta dimaafkan."
"Lalu kamu mau apa?"
Aluna terdiam. Tidak ada struktur untuk berlindung. Tidak ada jargon.
"Aku mau bertanggung jawab." Katanya akhirnya. "Tanpa perlindungan."
Perempuan itu berdiri. "Kita lihat seberapa lama." Ia pergi.
Aluna duduk gemetar. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar sendirian dengan akibat. Dan tidak bisa lari.
***
Malam di rehabilitasi terasa panjang. Nadira berbaring, otot-ototnya berdenyut. Kepalanya penuh suara. Setiap inci tubuhnya berteriak.
Dia bangkit setengah, mual. Napasnya pendek. Dinding terasa terlalu dekat. Ia menekan bel pemanggil.
Perawat datang. "Ada apa?"
"Aku ingin keluar."
"Sekarang?"
"Iya."
Perawat menatapnya. "Kamu bisa jatuh."
"Aku sudah jatuh." Balas Nadira dingin.
Perawat menarik kursi. Duduk. "Kalau kamu keluar sekarang, kamu akan memulai dari nol lagi."
Nadira tertawa getir. "Aku selalu mulai dari nol."
"Kenapa kamu marah pada tubuhmu?"
Pertanyaan itu membuatnya diam. Karena tubuh ini menyimpan semua yang ingin ia lupakan.
Karena tubuh ini mengingat malam-malam panjang, tuntutan, kehilangan, rasa bersalah yang tidak sempat diproses.
"Aku tidak marah." Katanya lirih. "Aku takut."
Perawat itu mengangguk. "Takut bukan kelemahan."
"Bagiku iya."
Keheningan.
Ponselnya bergetar di meja. Nama Arvin. Kali ini, ia mengangkat.
"Jangan datang." Katanya cepat.
"Aku tidak datang." Jawab Arvin. Suaranya jauh. "Aku hanya mau dengar suaramu."
Nadira menutup mata. Dadanya sesak.
"Aku hancur hari ini." Katanya. "Dan aku benci itu."
"Aku tahu."
"Sebenarnya aku ingin kamu di sini. Tapi, aku juga tidak ingin kamu ada di sini saat ini."
Arvin menarik napas. "Aku mengerti."
"Kamu tidak marah?"
"Aku sedih. Tapi aku memilih tidak menyelamatkanmu dengan caraku."
Air mata Nadira jatuh. Sunyi. "Terima kasih." Bisiknya. "Untuk tidak mengurungku."
"Aku di jarak yang aman." Jawab Arvin. "Untukmu dan untukku."
Telepon ditutup.
Nadira berbaring kembali. Tubuhnya sakit. Egonya koyak. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak sendirian dalam memilih batas.
***
Pagi datang tanpa janji.
Raka membayar setengah sewa dengan uang terakhir. Pemilik ruko menggerutu, tapi mengangguk.
"Besok sisanya."
"Iya."
Raka keluar, napasnya panjang. Hidupnya sempit, tapi masih miliknya.
***
Aluna melangkah ke ruang sidang tanpa pelindung. Kamera menyala. Wajahnya pucat.
***
Nadira berdiri lagi di palang besi. Kakinya gemetar.
"Angkat." Kata fisioterapis.
Ia angkat.
Satu detik.
Dua.
Tiga.
Ia jatuh, tapi tidak keras. Ia tertawa terengah. Ada nyeri. Ada marah. Dan ada tekad yang berbeda.
Pecah-batas bukan kehancuran. Kadang, itu adalah awal dari bentuk bertahan yang baru.
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...
kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍