Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
My Barrbie
...୨ৎ──── F A R R I S ────જ⁀➴...
Saat aku keluar dari Starbucks, aku lihat ke jalan dan melihat Eva jalan lurus melewati perusahaan balet.
Aku memperhatikan dia sebentar sebelum suara nyaring menarik perhatianku ke kanan. Aku melihat seekor anjing dengan tali yang diikat ke hidran, aku langsung samperin.
Aku jongkok di depan anjing itu dan mengelus kepalanya pelan. "Aku bakal nganggep kamu betina," bisikku waktu telapak tanganku menyentuh bulunya yang lembut. "Ngapain kamu di sini, kedinginan?"
Dia lompat ke arahku dengan dua kaki depannya, membuatku tertawa.
Aku lihat sekitar sambil berdiri, tapi saat aku ambil langkah ke arah mobil, ada yang terasa aneh di perutku dan aku lihat anjing itu lagi.
Dia menatapku dengan mata cokelat paling besar yang pernah aku lihat, membuat hatiku langsung meleleh.
"Terus aja lihatin aku kayak gitu dan aku bakal nyulik kamu!" Aku ancam anjing itu.
Aku lihat ke dalam Starbucks dan mikir anjing ini punya pelanggan yang mana.
Aku akan mengelus dia sampai pemiliknya muncul, aku jongkok lagi dan membiarkan anjing itu cium tanganku sebelum aku garuk bagian belakang telinganya.
"Aku harusnya beli anjing," kataku ke dia. Aku lihat telinganya yang panjang dan lembut serta bulunya yang putih cokelat. "Ras kamu apa?"
Aku mulai merasa enggak nyaman jongkok kelamaan, dan berdiri lagi.
Setelah lima belas menit enggak ada tanda pemiliknya, aku mulai kesal.
Siapa yang ninggalin anjing sampai kedinginan begini?
Dan tanpa air.
Keningku berkerut waktu aku lihat anjing itu.
"Aku serius kepikiran buat nyulik kamu."
Dibandingkan sama omong kosong yang dilakukan bos-bos Marunda lainnya, menculik anjing termasuk hal paling keji yang bisa aku lakukan.
Aku lihat sekitar area dan ke dalam Starbucks, saat kelihatannya enggak ada yang buru-buru balik ke hewan berbulu itu, aku lepas talinya dan aku angkat dia ke pelukanku.
"Udah. Sekarang kamu milik aku," gumamku sambil jalan ke tempat mobilku parkir.
Enggak ada yang mencoba menghentikanku, membuatku makin kesal.
Aku pencet remote, saat pintunya terbuka, aku buka sisi pengemudi dan masuk ke R8. Aku taruh anjing itu di kursi penumpang sebelum tutup pintu dan menyalakan mesin.
Aku terus memperhatikan korban penculikan aku, tapi dia kelihatan senang melihat ke luar jendela sambil mengibaskan ekornya.
Remy memaksa Rainn buat nikah sama dia dan Braun menculik Quinn.
Aku?
Aku nyolong anjing.
Aku gelengkan kepala ke diri aku sendiri sambil tertawa kecil.
Pikiranku balik ke Eva, yang bikin senyum aku makin lebar.
Aku punya kencan sama balerina aku yang susah berhasil aku tangkap.
Sial, aku kira aku lagi halusinasi waktu melihat cewek itu jalan di pinggir jalan tadi. Aku sampai menoleh secepat itu sampai leher aku hampir kejedot.
Aku enggak mampir di perusahaan balet seperti yang aku rencanakan dan langsung menyetir ke arah apartemenku.
"Aku mungkin harus berhenti buat cari makananmu sebelum kita pulang," gumamku ke si anjing.
Tarik HP dari saku, aku cari toko hewan terdekat.
"Ketemu satu di Robbinson!" kataku sambil lihat anjing itu, yang lagi menatapku dengan mulut terbuka sambil terengah-engah.
Dia kelihatan kayak lagi senyum ke aku, dan sekali lagi hatiku langsung meleleh.
Saat aku berhenti di deretan toko, aku gendong anjing itu. Setelah keluar dari mobil, aku cek cepat peliharaan baru aku ini jantan atau betina.
"Aku benar!" Aku senyum ke dia. "Kamu cewek."
Dia menjilat daguku, dan aku langsung kewalahan sama gemesnya, hampir saja aku remas bulu ini.
Masuk ke toko, aku jalan ke kasir dan senyum ke pegawainya. "Aku baru aja beli anjing betina dan butuh yang terbaik dari semuanya."
Pegawainya langsung berkerja, dan setelah sepuluh menit, aku mulai khawatir bagaimana aku bakal bawa semua barang ini pulang.
R8 enggak punya bagasi besar dan cuma ada dua kursi.
Aku ambil HP dan menelepon Braun.
...📞...
^^^"Hei."^^^
Dia mengangkat.
"Aku butuh kamu ke pet shop pakai SUV kamu!"
^^^"Hah, pet shop? Ngapain?"^^^
"Aku habis nyulik anjing dan butuh bantuan buat bawa semua barangnya ke apartemen aku."
^^^"Kamu nyulik anjing."^^^
^^^"Kamu bercanda atau serius?"^^^
"Aku serius."
^^^"Oh, oke."^^^
Teleponnya ditutup dan aku langsung kirim alamatnya sebelum senyum ke bola bulu aku.
Aku harus manggil dia apa?
Aku lihat matanya. "Gimana kalau aku panggil kamu Barbbie?
Dia memasukkan kepalanya ke bahuku sementara badannya gerak-gerak di pelukanku.
"Kamu suka, kan?" Sekali lagi dia gerak, dan aku peluk dia ke dadaku. "Sial, aku bakal hancurin kamu kalau kamu terus segemes ini."
"Kamu mau baju buat anjing kamu?" tanya pegawai toko.
"Iya." Aku ikut dia ke tempat yang isinya berbagai macam baju dan barang lucu. "Aku mau pita pink buat dipasang di kepalanya."
Saat pegawai itu mengambil berbagai pita, aku balik ke kasir dan ambil salah satu mangkuk baru. "Di mana aku bisa dapat air?"
"Aku bakal isi mangkuknya," katanya.
Waktu dia ambil air, aku buka sekotak biskuit bentuk tulang dan kasih satu ke Barbbie.
Aku lihat Braun parkir di samping R8 aku, dan saat dia masuk ke toko, dia kelihatan super duper terkejoet.
"Aku enggak nyangka kamu serius!" gumamnya sambil lihat anjing aku.
Pegawai itu bawa mangkuknya dan aku taruh Barbbie di lantai biar dia minum air.
Sambil tetap memegang talinya, aku ambil dompet dan kasih kartu kredit hitam aku ke pegawai itu.
Braun kasih isyarat ke Marius buat bantu, sementara Chooper tetap di SUV. Dia enggak pernah ke mana pun tanpa dua pria kekar itu.
Empat bos Marunda lainnya bilang aku butuh pengawal, tapi aku enggak pernah punya waktu buat itu.
Jujur, aku bukan ancaman terbesar di antara kami berlima, dan cuma orang bego yang berani mengincar aku, apalagi kalau tahu Kartel Marunda bakal membalasnya.
Waktu pembayaran selesai, kasir kasih kartu aku. Aku berjongkok buat mengambil Barbbie dan mangkuknya. Keluar dari toko, aku buang sisa air di trotoar lalu jalan ke mobil aku.
"Aku bakal tagih biaya delivery nya!" teriak Braun sambil jalan balik ke SUV.
"Kamu mau nagih aku cuma karena bantu bawa barang-barang anak baptis kamu ke apartemen?"
"Sekarang aku jadi bapak baptis anjing? Kamu kebanyakan minum hari ini?"
Aku naik ke R8 dan taruh Barbbie di kursi penumpang. Menyalakan mesin, aku harus tunggu SUV jalan dulu sebelum bisa keluar dari pinggir jalan.
Begitu ada celah di lalu lintasnya, aku injak gas dan R8 langsung menyalip SUV, meninggalkan mereka di belakang.
Barbbie menggonggong saat dia tergeser di kursi dan aku langsung mengurangin kecepatan.
"Maaf, papa enggak mau bikin kamu kehilangan keseimbangan!" Aku minta maaf ke dia.
Lima belas menit kemudian, aku parkir di tempat aku. Saat aku ambil Barbbie dan keluar dari mobil, SUV Braun berhenti di sampingku.
Aku angkat dagu ke arah Chooper dan mengambil tas berisi baju Barbbie. Para pria itu bawa tas lainnya dan tempat tidur anjing, lalu kami semua masuk lift.
Begitu masuk apartemenku, aku bilang, "Taruh aja semuanya di ruang tamu."
Aku taruh Barbbie di sofa dan bilang, "Ini rumah baru kamu."
Rozalla, pengurus rumah aku, keluar dari dapur. Begitu dia lihat anjing itu di sofa kulit, dahinya langsung berkerut.
"Hewan enggak boleh ada di sofa!" keluhnya. "Dia bakal nyakar kulitnya."
"Kalau gitu aku beli sofa baru."
Aku senyum ke bola bulu aku, lalu aku membungkuk dan mengelus dia. Dia berguling telentang dan aku bisa lihat betapa dia suka perutnya digaruk.
"Barbbie tinggal di sini sekarang!" Aku kasih tahu Rozalla. Aku berdiri tegak dan lihat dia. "Aku punya makanan kering, tapi aku juga mau kamu masakin makanan fresh buat dia."
Aku bisa lihat Rozalla enggak suka masak buat anjing, tapi dia enggak berani debat sama aku soal itu.
Braun melihat dari aku ke Barbbie. "Kenapa kamu nyulik anjing itu?"
"Seseorang ninggalin dia kedinginan diikat ke hidran."
"Ya ampun." Rozalla menghela napas. "Orang-orang bisa kejam banget. Aku bakal masakin ayam buat dia."
Pengurus rumah aku balik ke dapur, dan aku tahu, ini cuma soal waktu, sampai dia jatuh cinta sama Barbbie.
"Jadi gitu aja, sekarang aku punya anak baptis?" tanyanya.
"Iya."
"Kamu mau manggil dia apa?"
Aku tahu panggilan itu bikin dia kesal banget, jadi senyum aku makin lebar saat aku jawab, "Maunya sih ... Tikus Kecil!"
Dia kasih aku tatapan enggak senang. "Kamu terlalu suka kata itu." Braun mendekati anjingku dan mengelus belakang telinga kirinya. "Dan itu nama yang aneh buat anjing. Dia anjing bukan tikus! Udah panggil Barrbie aja."
"Aku suka itu."
Braun angkat anjing aku dan membuatku langsung bilang, "Jangan pernah kepikiran buat apa-apain dia. Dia punya aku!"
"Aku cuma lagi gendong dia!" gumamnya. "Sial, kalau kamu seposesif ini sama anjing yang baru aja kamu dapetin, aku enggak mau lihat kamu pas kamu jatuh cinta sama cewek."
JD penasaran Endingnya