NovelToon NovelToon
MAHAR KEBEBASAN

MAHAR KEBEBASAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. SEBELUM SEMUANYA PECAH

Pintu lift berdenting terbuka, dan untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di tempat ini, Keyla tidak disambut oleh aura dingin dan mencekam yang biasanya dibawa oleh kehadiran Dipta. Apartemen mewah itu sunyi, hanya menyisakan deru halus sistem pendingin udara pusat yang menyapu lantai marmer.

"Nyonya? Sudah pulang?" Mbak Siti, salah satu asisten rumah tangga yang sudah cukup berumur, menghampiri Keyla dengan sopan.

"Mbak... Dipta mana?" tanya Keyla sambil meletakkan tas kuliahnya di sofa.

"Tuan Dipta tadi ada telepon mendadak dari kantor pusat, Nyonya. Katanya ada urusan sangat penting yang tidak bisa ditinggal. Tuan berpesan agar Nyonya makan malam lebih dulu dan jangan menunggu beliau," jelas Mbak Siti dengan kepala sedikit menunduk.

Keyla menghela napas panjang, namun kali ini bukan helaan napas lelah, melainkan napas lega yang luar biasa. "Syukurlah..." bisiknya tanpa sadar.

Keyla merasa seperti seekor burung yang pintunya sangkarnya terbuka untuk sementara. Ia melepaskan sepatu hak tinggi yang dipaksakan Dipta untuk ia pakai, dan membiarkan kaki telanjangnya menyentuh dinginnya lantai. Ia berjalan menuju dapur, mengambil sekotak es krim besar dari freezer, lalu menuju ruang multimedia yang memiliki layar bioskop pribadi.

"Mbak Siti!" panggil Keyla dari ruang tengah.

Mbak Siti datang dengan terburu-buru. "Ya, Nyonya? Ada yang kurang? Perlu saya masakkan sesuatu?"

"Tidak, Mbak. Sini, temani aku menonton film. Aku baru menemukan film komedi bagus di layanan streaming," ujar Keyla sambil menepuk sisi sofa di sebelahnya.

Mbak Siti terbelalak, wajahnya menunjukkan ketakutan yang nyata. "Aduh, Nyonya... jangan. Saya tidak berani. Kalau Tuan Dipta tahu saya duduk di sofa ini bersama Nyonya, bisa-bisa saya langsung dipecat hari ini juga."

Keyla tersenyum tipis, ia berdiri dan menarik tangan Mbak Siti dengan lembut namun memaksa. "Dipta sedang tidak ada, Mbak. Lagipula, aku yang memerintahkannya. Di sini aku juga nyonya rumah, kan? Aku kesepian, Mbak. Tolong, temani aku sebagai teman, bukan sebagai pembantu."

Mbak Siti menatap mata Keyla yang tulus. Ia melihat kesepian yang mendalam di balik binar mata mahasiswi muda itu. Akhirnya, dengan ragu-ragu, ia duduk di ujung sofa, menjaga jarak yang sangat sopan.

***

Film mulai diputar, tawa sesekali pecah di antara mereka. Keyla yang hangat dan tidak sombong perlahan membuat Mbak Siti merasa nyaman. Sejenak, Keyla melupakan statusnya sebagai "tawanan" dan Mbak Siti melupakan statusnya sebagai pekerja.

"Mbak Siti sudah lama ya kerja dengan Dipta?" tanya Keyla di sela-sela suapan es krimnya.

"Sudah lama sekali, Nyonya. Sejak Tuan Dipta masih memakai seragam SMA," Mbak Siti tersenyum mengenang. "Bahkan saya sudah ikut keluarga Mahendra sejak Tuan Besar masih tinggal di mansion lama, sebelum semuanya... pecah."

Keyla menoleh, rasa keingintahuannya terusik. "Mansion lama? Dulu mereka tidak tinggal di apartemen ini?"

Mbak Siti mengangguk pelan, suaranya merendah seolah takut dinding-dinding mewah itu mendengarkan. "Dulu keluarga Mahendra itu sangat bahagia, Nyonya. Tuan Dipta itu anak yang sangat ceria dulu. Ibunya, Nyonya Besar, adalah wanita paling lembut yang pernah saya kenal. Mansion itu selalu penuh dengan bunga dan suara tawa."

"Lalu... apa yang terjadi?" tanya Keyla hati-hati.

"Badai itu datang saat Tuan Besar—ayah Tuan Dipta—ketahuan memiliki hubungan gelap dengan sekretarisnya. Tidak hanya itu, wanita itu hamil. Nyonya Besar yang sangat mencintai suaminya langsung hancur seketika. Beliau depresi berat, sering mengurung diri di kamar gelap sambil memeluk baju-baju Tuan Dipta kecil," Mbak Siti menyeka sudut matanya dengan ujung celemeknya.

Keyla terdiam, dadanya terasa sesak. Ia membayangkan Dipta remaja harus melihat ibunya hancur dan ayahnya berkhianat.

"Setelah itu, Tuan Dipta berubah menjadi sangat dingin. Beliau mengambil alih semua urusan saat usianya masih sangat muda. Ayahnya pergi, dan ibunya... entah dibawa ke mana. Tuan Dipta membangun tembok tinggi di sekeliling hatinya. Beliau tidak pernah lagi percaya pada yang namanya kesetiaan, kecuali lewat kekuasaan dan kontrol," lanjut Mbak Siti.

Keyla tertunduk. Kini ia mulai memahami mengapa Dipta begitu terobsesi untuk mengontrol segala hal. Dipta adalah produk dari sebuah pengkhianatan yang menghancurkan dunianya.

"Nyonya tahu?" Mbak Siti menatap Keyla dengan tatapan kagum. "Selama puluhan tahun saya bekerja, baru kali ini Tuan Dipta membawa wanita ke rumah dan menikahinya. Meskipun cara Tuan mungkin kasar dan salah, saya bisa melihat bagaimana cara beliau menatap Nyonya saat Nyonya tertidur."

"Bagaimana dia menatapku?" tanya Keyla lirih.

"Seperti orang yang takut kehilangan satu-satunya harta berharga yang tersisa di dunia ini. Nyonya itu orang baik, sangat menghargai orang kecil seperti saya. Tidak heran Tuan Dipta begitu terobsesi. Nyonya adalah cahaya yang dia butuhkan, meskipun dia sendiri tidak tahu cara menjaganya tanpa menyakiti."

Percakapan itu berlanjut dengan candaan ringan. Keyla menceritakan kejadian lucu di kampus, dan Mbak Siti menceritakan tingkah konyol Dipta saat masih muda. Untuk pertama kalinya, Keyla merasa apartemen ini seperti sebuah "rumah", bukan sekadar penjara.

Kelelahan setelah gempuran tugas kampus dan beban mental akhirnya membuat mata Keyla memberat. Di tengah film yang masih berjalan, kepalanya terkulai ke sandaran sofa. Ia tertidur pulas dengan sisa senyum di bibirnya.

Mbak Siti hanya tersenyum haru. Ia mengambil selimut bulu yang ada di dekat sana dan menyelimuti tubuh Keyla dengan sangat hati-hati.

Gadis sekecil dan selembut ini harus memikul beban berat menghadapi Tuan Dipta, pikir Mbak Siti. Ia kagum karena meskipun Keyla diperlakukan semena-mena oleh Dipta, ia tidak membalasnya dengan bersikap sombong pada para pelayan. Justru sebaliknya, Keyla memperlakukan mereka dengan martabat yang setara.

***

Pukul satu dini hari, lift berdenting. Dipta melangkah masuk dengan wajah yang sangat lelah dan dasi yang sudah dilonggarkan. Ia mengharapkan keheningan, namun ia justru melihat cahaya remang-remang dari ruang multimedia.

Ia berjalan mendekat dan terpaku. Di sana, di atas sofa, istrinya tertidur pulas. Mbak Siti yang menyadari kehadiran Dipta langsung berdiri dengan panik dan membungkuk dalam.

"Tuan... maafkan saya... Nyonya tadi memaksa saya menemani—"

Dipta mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Mbak Siti diam. Ia tidak marah. Ia menatap wajah tidur Keyla yang tampak begitu tenang—kedamaian yang tidak pernah ia lihat saat Keyla sedang terjaga bersamanya.

"Pergilah istirahat. Biar aku yang mengurusnya," ujar Dipta pelan, suaranya serak karena lelah namun terdengar lembut.

Mbak Siti mengangguk dan segera pergi. Dipta duduk di tepi sofa, memandangi Keyla cukup lama. Ia mengusap pipi Keyla dengan punggung tangannya, sangat perlahan agar tidak membangunkan gadis itu.

"Kenapa kau bisa tertidur senyaman ini saat aku tidak ada, Key?"

***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!