Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Kecanduan Sang Predator
Suasana di dalam kamar yang remang-remang itu terasa sangat sunyi, hanya menyisakan suara detak jam dinding dan embusan napas yang saling bersahutan. Esme berbaring miring menghadap AL, sementara pria raksasa itu masih menatap langit-langit dengan tubuh kaku. Genggaman tangan mereka sangat erat, menyalurkan kehangatan yang perlahan-lahan mengikis rasa takut yang tersisa dari kejadian di hutan semalam.
"Moa," panggil AL pelan. Suaranya terdengar sangat rendah di keheningan malam.
"Iya, Aleksander?"
"Bang Togar pernah bilang, kalau suami istri tidur satu ranjang tapi tidak ada sentuhan selain tangan, itu namanya tidur bersama teman, bukan bersama belahan jiwa. Dia bilang... ada satu hal yang bisa membuat jantung berhenti berdetak sesaat tapi rasanya sangat enak," AL menoleh, menatap mata Esme dengan rasa ingin tahu yang sangat murni.
Esme menelan ludah. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. "Maksudmu... ciuman?"
"Iya. Ciuman bibir. Aku sering melihatmu mencium dahiku, tapi bibir... kenapa harus bibir, Moa? Apakah ada rasa manis di sana?" tanya AL sambil menatap bibir Esme yang sedikit terbuka.
Esme merasa jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Ia melihat wajah AL yang sangat tampan di bawah cahaya bulan yang masuk dari celah jendela. Rasa sayangnya yang meluap-luap membuat keberaniannya kembali naik. "Bukan soal rasa manis, Aleksander. Ini soal... perasaan. Mau mencobanya?"
Mata kuning AL membelalak. "Boleh?"
Esme mengangguk pelan. Ia menarik tangan AL agar pria itu mendekatkan wajahnya. AL menurut, ia merayap mendekat hingga hidung mereka bersentuhan. Bau maskulin AL bercampur aroma sabun mawar Esme menciptakan atmosfer yang sangat memabukkan. Esme memejamkan mata, lalu perlahan menempelkan bibirnya pada bibir AL.
Hanya kecupan singkat. Lembut dan sangat hati-hati.
AL mematung. Matanya terbuka lebar, pupilnya bergetar. Ia merasa seperti ada aliran listrik ribuan volt yang menjalar dari bibirnya menuju seluruh saraf di tubuhnya. Itu bukan rasa sakit, melainkan sebuah ledakan sensasi yang belum pernah ia rasakan, bahkan tidak ada dalam teori Bang Togar sekalipun.
"Moa..." bisik AL saat Esme menarik diri. Wajahnya menunjukkan ekspresi takjub yang luar biasa, seolah ia baru saja menemukan benua baru. "Itu... apa itu tadi? Kenapa perutku rasanya seperti dipenuhi kembang api?"
"Itu ciuman, Aleksander," jawab Esme dengan wajah merona merah.
AL terdiam sejenak, memproses sensasi yang baru saja ia alami. Lalu, tiba-tiba ia bangkit sedikit, menumpu tubuhnya dengan satu tangan dan menatap Esme dengan tatapan yang lebih intens. "Aku mau lagi. Yang tadi terlalu sebentar, aku belum sempat merekam rasanya di kepalaku."
Sebelum Esme sempat menjawab, AL sudah menunduk dan menyatukan kembali bibir mereka. Kali ini tidak singkat. AL yang memiliki kemampuan belajar sangat cepat mulai mencoba menggerakkan bibirnya, meniru apa yang dirasakannya tadi. Ia menemukan bahwa semakin ia menekan lembut, semakin hebat getaran di dadanya.
"Hmm..." Esme mengeluarkan suara gumaman kecil karena terkejut dengan inisiatif AL yang sangat cepat berkembang.
AL melepaskan ciumannya sejenak, napasnya mulai memburu. "Moa, ini lebih enak daripada biskuit ikan paling mahal sekalipun! Kenapa kita baru melakukannya sekarang? Aku merasa... aku merasa sangat hidup!"
"Sudah, Aleksander... sekarang tidur," ucap Esme mencoba mengatur napasnya yang mulai berantakan.
Tapi AL tidak bisa berhenti. Insting predatornya yang haus akan "hal-hal menyenangkan" kini beralih menjadi kecanduan pada bibir Esme. "Lagi, Moa. Satu kali lagi. Aku berjanji kali ini aku akan melakukannya dengan sangat pelan."
AL kembali mencium Esme. Namun kali ini, tangannya yang besar mulai merangkul pinggang Esme, menarik tubuh kecil wanita itu agar lebih menempel pada tubuhnya yang keras dan hangat. Ciuman itu menjadi lebih dalam, lebih menuntut, dan penuh dengan gairah alami seorang Enigma. AL seolah menemukan mainan paling berharga di dunia yang tidak ingin ia lepaskan.
"Lagi..." bisik AL di sela-sela ciumannya.
"Aleksander, cukup... ini sudah yang kelima kali..." Esme mencoba mendorong bahu AL, namun kekuatannya tidak sebanding. AL justru semakin bersemangat. Setiap kali Esme mencoba bicara, AL menutupnya kembali dengan ciuman yang lebih hangat.
"Aku tidak bisa berhenti, Moa. Bibirmu... ini membuatku lupa pada hutan, bahkan lupa pada namaku sendiri," ucap AL dengan tatapan sayu yang dipenuhi keinginan untuk terus menempel pada Esme. "Bang Togar benar, ini jauh lebih baik daripada sekadar bensin. Ini adalah api!"
Esme kewalahan. Pria yang biasanya lugu dan penurut ini kini berubah menjadi sangat gigih dan "rakus" dalam meminta ciuman. Esme merasa bibirnya mulai sedikit bengkak dan wajahnya sudah sangat panas karena malu sekaligus senang.
"Besok lagi, Aleksander! Ini sudah tengah malam!" Esme akhirnya berhasil menjauhkan wajah AL dengan kedua tangannya.
AL merengut, terlihat sangat kecewa seperti anak kecil yang diminta berhenti bermain saat sedang asyik-asyiknya. "Tapi aku masih mau lagi. Bagaimana jika besok rasanya berubah? Aku harus memastikannya sekarang."
"Tidak akan berubah! Rasanya akan tetap sama! Sekarang tidur atau aku akan tidur di sofa!" ancam Esme.
Mendengar kata "sofa", AL langsung menyerah. Ia tidak ingin kehilangan wilayah barunya yang sangat nyaman ini. "Baiklah... tapi besok saat aku bangun, aku mau ciuman yang lebih lama dari ini, ya?"
Esme menghela napas pasrah, menyembunyikan wajahnya di dada AL agar pria itu tidak melihat betapa senangnya dia sebenarnya. "Iya, iya... sekarang diam dan tidur."
AL memeluk Esme dengan sangat erat, meletakkan dagunya di atas kepala Esme. Di dalam kegelapan, ia tersenyum lebar. Ia merasa telah mencapai puncak kejayaan sebagai seorang pria. Pikirannya sudah menyusun rencana untuk bertanya pada Bang Togar besok pagi tentang bagaimana cara meningkatkan "level" ciuman agar Moa tidak bisa melarikan diri lagi.
Ocan yang melihat semua itu dari atas kursi hanya bisa menutup telinganya dengan kaki depan. "Manusia-manusia ini benar-benar berisik. Satu orang gila cinta, yang satu lagi predator kecanduan bibir. Dasar dunia aneh," batin si kucing oranye sebelum akhirnya ikut tertidur.
Malam itu, di bawah perlindungan dinding pondok yang kini kokoh, AL tidur dengan senyum di wajahnya, memimpikan ribuan ciuman lainnya yang akan ia dapatkan esok hari.
Apakah keesokan harinya AL akan benar-benar menagih janjinya pada Esme, ataukah ada warga desa yang datang mengganggu momen mesra mereka di pagi hari?