Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Bersama
Beberapa Bulan Kemudian..
Ujian Semester Akan Segera Tiba.
Demi menyelamatkan nilai anggota gengnya yang berada di ambang jurang kematian akademik, Zayden memutuskan untuk menjadikan apartemennya sebagai markas belajar bersama.
Tentu saja, alasan utamanya adalah agar ia bisa belajar bareng Amy dalam pengawasan yang (menurutnya) aman dari mata-mata Ayah Amy.
Apartemen Zayden yang biasanya hanya berisi tumpukan suku cadang motor dan baju kotor, mendadak berubah menjadi perpustakaan dadakan. Meja makan penuh dengan buku tebal, kalkulator, dan camilan yang menggunung.
"Oke, semuanya fokus!" Zayden berdiri di depan papan tulis kecil sambil memegang penggaris besi, bergaya seperti guru paling galak.
"Hari ini Amy adalah tutor kita. Siapa pun yang nggak merhatiin atau bikin Amy pusing, gue jamin bakal pulang dengan ban motor kempes!"
"Siap, Bos!" seru Dio, Hendi, Bima, dan Gara serempak.
Amy duduk di tengah mereka, mencoba tetap tenang meski sebenarnya ia ingin tertawa melihat tingkah sahabat Zayden yang sangat tidak cocok dengan buku pelajaran.
"Kita mulai dari Matematika, bab peluang," ucap Amy lembut. "Zayden, kalau kamu punya tiga buah dadu..."
"Gue nggak main dadu, Amy. Gue mainnya perasaan," potong Zayden sambil mengedipkan mata puitis.
"Zayden! Fokus!" Amy memukul pelan tangan Zayden dengan pulpen.
Baru lima belas menit belajar, kekonyolan mulai terjadi.
Bima bukannya mencatat rumus, malah sibuk menghitung berapa banyak keripik yang bisa masuk ke mulutnya dalam satu kali suapan.
"Amy, gue punya pertanyaan," ujar Bima serius. "Kalau kecepatan gue makan gorengan adalah 5 buah per menit, sedangkan stok gorengan di meja cuma 10, berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai gue nangis karena laper lagi?"
Amy hanya bisa memijat keningnya.
Disisi Lain, Hendi menatap buku Fisika-nya dengan tatapan kosong. "Bos, gue bingung sama hukum Newton. Katanya benda yang diam akan tetap diam kalau nggak dikasih gaya. Terus kalau hati gue diem-diem suka sama cewek, tapi ceweknya nggak ngasih gaya, apa hati gue bakal diem selamanya?"
"Hendi, itu Fisika, bukan curhatan galau!" sahut Gara sambil melempar penghapus.
Sementara Dio bukannya belajar, malah asyik menggambar tato naga di lengan bajunya. "Amy, jujur deh. Rumus Logaritma ini sebenarnya kode rahasia buat manggil alien kan? Gue ngerasa pusing tiap liat angkanya, kayak lagi kena radiasi luar angkasa."
Di tengah kebisingan itu, Zayden sebenarnya adalah yang paling stres. Ia ingin terlihat pintar di depan Amy, tapi otaknya terasa seperti kabel yang korsleting.
"Amy, gue beneran nggak ngerti ini," bisik Zayden saat teman-temannya sedang sibuk berebut martabak di dapur.
"Otak gue kayaknya cuma didesain buat hafal rima puisi sama jalur tikus buat tawuran."
Amy menatap Zayden. Ia melihat sisi Anak tunggal yang rapuh itu lagi. Ia mendekat, aroma parfumnya yang tenang membuat Zayden sedikit rileks. Amy membimbing tangan Zayden di atas kertas.
"Pelan-pelan, Zay. Kamu itu pintar, cuma terlalu berisik di dalam kepala," bisik Amy.
Zayden menatap profil wajah Amy dari samping. "Lo tahu nggak? Belajar sama lo itu tantangan berat. Konsentrasi gue pecah antara mau ngertiin rumus atau mau ngagumin ciptaan Tuhan yang lagi duduk di sebelah gue."
"Zayden Abbey, berhenti puitis atau saya pulang sekarang juga," ancam Amy, meski pipinya merona merah.
Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari dapur, diikuti kepulan asap putih.
"WOI! KOMPORNYA MELEDAK?!" teriak Zayden panik sambil melompat berdiri.
Ternyata, Hendi mencoba memanaskan mi instan tapi lupa melepas bungkus plastiknya. Bima mencoba mematikan api dengan cara meniupnya seperti meniup lilin ulang tahun, sedangkan Dio malah sibuk merekam kejadian itu buat konten TikTok.
"Goblok kalian semua!" Zayden segera menyambar kain basah dan mengatasi masalah itu dengan sigap, kembali ke mode panglima yang sigap.
Amy berdiri di ambang pintu dapur, tertawa terbahak-bahak melihat Zayden yang sedang menjewer kuping Dio dan Hendi sekaligus.
Ini adalah pertama kalinya Amy tertawa lepas di tempat yang bukan rumahnya. Ia merasa... bebas. Di apartemen yang berantakan ini, ia menemukan kehangatan yang tidak pernah ada di mansion mewahnya.
Zayden menoleh ke arah Amy, masih memegang kuping Hendi. "Maafin anak buah gue ya, Amy. Mereka emang cuma lulusan sekolah sirkus."
"Nggak apa-apa, Zayden," Amy menghapus air mata tawanya. "Ini belajar paling seru yang pernah saya alami."
Zayden tersenyum. Di tengah kekacauan itu, ia menyadari satu hal, ia tidak butuh nilai 100 di kertas ujian, selama ia bisa mendapatkan nilai 100 di hati Amy.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading 😍😍