Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.
Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.
Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjelang Lulus, Belajar dan Bertahan
🕊
Sinar matahari menembus tirai kamar, menyinari tumpukan buku dan catatan yang berserakan di meja belajar. Aku, Alea Senandika Kaluna, menatap tumpukan itu dengan campuran rasa lelah dan tekad. SMA sebentar lagi berakhir. Rasanya seperti aku berada di ujung jembatan panjang—antara masa remaja yang penuh tantangan dan dunia nyata yang menunggu dengan segala tuntutannya.
Aku menarik napas panjang. Tidak ada waktu untuk bersedih atau mengeluh. Tugas OSIS, latihan Olimpiade Matematika, dan pekerjaan rumahku sendiri menuntut perhatian. Aku harus fokus, atau semua usaha yang kulakukan selama ini akan sia-sia.
“Pagi, Kaka Alea!” suara Chandrika terdengar dari kamar sebelah. Aku tersenyum tipis. Adik bungsuku itu selalu bisa membuat suasana hati sedikit lebih ringan, walau di rumah ini ketegangan sering muncul entah dari siapa.
“Pagi, Ara,” jawabku sambil tersenyum. Aku menepuk kepala kecilnya. “Kenapa belum siap sekolah juga?”
“Ada yang lupa dibawa bukunya, Kaka!” Chandrika berlari kecil sambil tertawa. Aku menahan senyum. Di tengah semua masalah ini, keceriaan kecilnya adalah energi yang aku butuhkan.
Aku menatap kalender di dinding, mencatat jadwal OSIS yang selalu berubah. “Sepertinya hari ini rapat OSIS jam 11. Tapi… mereka mungkin akan pindah lagi ke jam 1,” gumamku pelan. Aku sudah terbiasa menghadapi perubahan mendadak itu. Kadang, kepala terasa berat, tapi aku belajar menyesuaikan diri.
Di meja belajar, aku membuka buku pelajaran dan mulai mengulang rumus matematika. Otakku terus bekerja, menghitung, menulis, dan menyelesaikan soal demi soal. Tangan terasa pegal, tapi aku menahan diri. Aku ingin lulus dengan hasil terbaik, dan mungkin satu-satunya jalan adalah fokus pada apa yang bisa aku kendalikan.
Bel masuk hampir dimulai ketika Deni dan Sara lewat di depanku. Deni membawa tas sekolah besar, matanya terlihat sedikit mengantuk. “Al, kamu nggak mau ikut main basket sebentar sebelum jam pelajaran?” tanyanya sambil tersenyum.
Aku menatapnya, tersenyum tipis. “Nggak, Den. Aku harus selesaikan beberapa soal dulu. Nanti kita bisa main setelah pulang. Sara menepuk punggungku. “Al… jangan lupa juga istirahat, ya. Jangan sampai pusing sendiri karena OSIS dan latihan.”
Aku tersenyum, tapi ada sedikit rasa getir di hati. OSIS yang dulu terasa seperti kegiatan menyenangkan, kini sering menjadi sumber stres. Jadwal rapat yang berubah-ubah, koordinasi yang rumit, semua menambah beban.
Di kelas, aku duduk di bangku pojok, membuka catatan dan menulis ulang materi penting. Setiap angka, setiap rumus, seolah menuntut perhatian penuh. Aku menatap papan tulis dan mencoba menenangkan diri. Pikiran tentang papa dan ibu tiri terus menghantui—setiap hari ada saja perilaku mereka yang membuat aku dan saudara-saudaraku mengelus dada.
“Pa… Bu, tolong jangan ganggu aku hari ini,” batin ku dalam hati, menatap jendela. Aku tahu, sesaat lagi, rumah akan menjadi tempat yang penuh ketegangan, tapi aku ingin memaksakan fokus pada sekolah.
Bel pulang berbunyi, menandai akhir pelajaran pertama. Aku menutup buku catatan, mengumpulkan catatan OSIS, dan berjalan menuju ruang OSIS untuk rapat. Tami sudah menungguku, matanya cerah.
“Kaka Alea, aku kira kamu nggak akan sempat datang hari ini,” kata Tami sambil tersenyum. Aku tersenyum tipis. “Aku harus tetap fokus belajar. OSIS penting, tapi lulus sekolah lebih penting.”
Rapat OSIS berlangsung, dan seperti biasa, beberapa jadwal kegiatan berubah mendadak. Aku menarik napas panjang, mencoba menyesuaikan diri. “Baik, kita catat perubahan ini… lalu kita lanjutkan ke rapat berikutnya,” kataku pelan. Meskipun kepala terasa berat, aku menahan diri agar tetap profesional.
Setelah rapat, aku duduk di pojok ruangan, membuka buku latihan matematika, mencoba menyelesaikan beberapa soal lagi. Tangan pegal, mata lelah, tapi aku tahu, ini adalah harga yang harus dibayar untuk masa depan yang kuinginkan.
Perjalanan pulang dari sekolah terasa panjang seperti biasa. Aku naik dua angkutan umum, duduk di pojok, menatap ke luar jendela. Kota bergerak cepat, tapi aku tetap fokus pada catatan di pangkuanku. Setiap menit terasa berharga.
Sesampainya di rumah, aku merasakan ketegangan sudah menunggu. Papa dan Sita duduk di ruang tengah, wajah mereka serius. Aku menelan ludah, menyiapkan diri untuk menghadapi situasi yang mungkin memanas.
“Selamat sore, Kaka Alea,” kata Sita dengan nada dingin. “Apa kabar hari ini, bagaimana di sekolah?” Aku tersenyum tipis, menunduk. “Semuanya baik, Bu. Aku belajar banyak, dan OSIS berjalan lancar meski jadwal agak berubah.”
Sita menatapku tajam. “Hmph. Jangan sampai kelalaianmu membuat kami repot.” Aku menghela napas panjang, menahan diri. Kata-kata itu tidak asing lagi. Aku belajar menahan emosi sejak lama, terutama di rumah ini.
Papa menambahkan, suaranya sedikit meninggi, “Alea… jangan terlalu fokus di luar sampai melupakan tanggung jawabmu di rumah. Ingat, kita semua di sini perlu saling bantu.” Aku menatap Papa sebentar, lalu menunduk. “Iya, Pa… aku tahu. Aku akan tetap mengatur waktu dengan baik.”
Setelah menaruh tas sekolah, aku segera menuju meja belajarku, membuka catatan latihan matematika. Aku tahu, waktu di rumah ini berharga, tapi tetap ada gangguan yang bisa muncul kapan saja. Aku menulis, menghitung, dan menyelesaikan beberapa soal demi soal.
Dika masuk, menatapku. “Kaka Alea… kamu nggak mau istirahat sebentar?” Aku tersenyum tipis. “Nggak, Dik. Aku harus fokus belajar. Sekolah sebentar lagi selesai, aku harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin.”
Chandrika duduk di pangkuanku, menatap buku yang aku pegang. “Kakak… aku mau lihat soal juga…” Aku tersenyum. “Nanti, Ara… kita belajar bareng setelah Kakak selesai. Sekarang aku harus fokus dulu.”
Ayu lewat, menatapku. “Al… jangan lupa makan juga, ya. Jangan sampai pusing sendiri.” Aku mengangguk tipis, menulis di buku catatan. “Iya, Kakak Ayu… aku akan makan sebentar lagi.”
Hari terus berjalan. Aku belajar, mengatur jadwal OSIS, menyiapkan materi latihan Olimpiade Matematika, dan tetap waspada terhadap kondisi rumah yang kadang tidak menentu. Sita dan Papa semakin hari semakin sering menunjukkan ketidakpuasan mereka, kadang dengan nada tajam atau komentar yang membuat aku dan saudara-saudaraku mengelus dada.
Aku menulis di catatan, sambil menghela napas. “Satu hari lagi… sebentar lagi aku lulus. Aku akan bekerja, menabung, dan mandiri. Aku tahu aku tidak bisa kuliah sekarang, tapi aku bisa membangun masa depan sendiri. Aku harus bertahan. Aku harus fokus.”
Dika menatapku, kemudian Ayu, lalu Chandrika, mereka duduk di sofa sambil memperhatikan aku yang sibuk dengan catatan. “Al… kita bangga sama kamu, lho,” kata Ayu pelan. Aku tersenyum tipis. “Terima kasih, Kakak Ayu. Kita semua harus tetap kuat, meski kadang hidup nggak adil.” Chandrika memelukku. “Aku juga bangga, Kaka… kita bisa bareng-bareng.”
Aku menepuk kepala kecilnya, tersenyum. “Iya, Ara… kita selalu saling menguatkan, ya.”
Malam pun tiba, aku menutup buku catatan, menatap medali Olimpiade dan semua buku latihan matematika yang tersusun rapi. Kepala terasa lelah, tangan pegal, tapi hati terasa tenang. Aku tahu, meski papa dan Sita kadang membuat hari-hari kami menegangkan, aku masih memiliki saudara yang mendukung, teman OSIS yang memahami, dan diri sendiri yang terus bertahan.
Aku menulis di jurnal sebelum tidur: "Hari ini, aku belajar bahwa fokus adalah kunci. Sekolah hampir selesai, OSIS dan tugas lainnya bisa mengganggu, tapi aku harus tetap mengatur waktu. Aku ingin segera lulus, bekerja, dan mandiri. Uang memang menjadi penghalang kuliah, tapi aku akan tetap membangun masa depan sendiri. Papa dan Sita semakin hari semakin menantang kesabaran, tapi aku tetap bertahan. Saudara-saudaraku adalah kekuatan yang selalu ada. Kita akan saling menguatkan, meski konflik kadang muncul. Aku percaya, masa depan yang kubangun dari ketekunan dan fokus akan lebih baik."
Aku menutup buku catatan, menatap empat saudara yang tertidur di ruang tengah. Dika, Ayu, dan Chandrika. Mereka lelah, tapi tetap bersama. Aku tersenyum tipis. Dunia mungkin keras, rumah penuh tekanan, tapi kami tetap memiliki satu sama lain. Dan itu cukup.
Malam itu, aku tidur dengan rasa lega. Besok adalah hari baru untuk belajar, menyelesaikan OSIS, mempersiapkan ujian terakhir, dan terus bertahan. Hidup mungkin tidak mudah, tapi aku sudah belajar satu hal penting: fokus, tekun, dan menjaga hati sendiri adalah senjata terbaik untuk menghadapi dunia yang penuh tantangan.
Dan ketika aku menutup mata, aku tahu—sekarang adalah waktuku membangun masa depan, langkah demi langkah, meski harus menghadapi semua kerasnya dunia nyata dan rumah yang penuh tekanan. Aku siap.
☀️☀️