Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 10
Hari berganti hari, dan waktu berjalan tanpa terasa. Seharusnya, Karin sudah pulang ke Indonesia. Ia telah lebih dari satu bulan berada di Korea-tepatnya di Pulau Jeju. Tiket kepulangan itu sebenarnya sudah ada dalam pikirannya sejak awal, seperti rencana yang tak pernah ia ragukan.
Namun, segalanya berubah.
Karin merasa nyaman. Terlalu nyaman.
Bersama James-teman baru yang tak pernah ia duga akan begitu berarti-hari-harinya terasa ringan. Ada tawa yang tulus, percakapan panjang tanpa jeda canggung, dan perjalanan-perjalanan kecil yang selalu meninggalkan kesan hangat. Karena itu, Karin memutuskan untuk tinggal satu bulan lebih lama.
Ia ingin tetap di sana.
Tetap berjalan bersama James.
Tetap tertawa.
Tetap menciptakan kenangan.
Seiring waktu berlalu, rasa nyaman itu tumbuh perlahan, nyaris tak disadari. Karin mulai terbiasa dengan kehadiran James-dengan caranya mendengarkan, dengan sikapnya yang tenang, dengan perhatian kecil yang tak pernah berlebihan. Begitu pula James. Ia mulai membuka dirinya, merasa aman berbagi cerita dengan Karin-tentang hidupnya, keluarganya, dan hal-hal yang sebelumnya tak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang masa lalu, tentang luka, tentang hal-hal kecil yang sering terlewat, namun berarti.
Beberapa kali, James mengajak Karin ke rumah neneknya. Mereka makan bersama di meja sederhana yang hangat oleh cerita dan senyum. Bahkan, James pernah meminta Karin untuk menginap-dan Karin menerimanya tanpa ragu, seolah itu sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
Tanpa disadari, jarak di antara mereka semakin menyempit.
Terlalu dekat.
Sedekat itu, hingga perlahan-tanpa drama, tanpa air mata-Karin mulai melupakan Arka. Bukan karena berusaha, melainkan karena hatinya tak lagi ingin mengingat. Pria yang pernah menyakitinya itu kini hanya tinggal nama, bayangan samar yang tak lagi punya tempat.
Bukan mulai.
Karin benar-benar telah melupakannya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, itu tidak terasa menyakitkan-melainkan melegakan.
Malam itu, Karin duduk di meja makan bersama James dan neneknya. Meja kayu sederhana dipenuhi hidangan rumahan-nasi putih hangat, sup, dan beberapa lauk yang masih mengepul pelan.
Sejak pertama kali bertemu, nenek James terlihat sangat menyukai Karin. Tatapannya lembut, senyumnya hangat, seolah Karin bukan sekadar tamu.
Nenek James mengambil telur gulung dan meletakkannya di piring Karin.
"많이 먹어라, 얘."
(Makan yang banyak ya, Nak.)
Karin sedikit terkejut, lalu tersenyum sopan. "Thank you, Grandma."
(Terima kasih, Nek.)
James langsung menoleh ke neneknya dan berkata dalam bahasa Korea, "카린이 고맙다고 해요."
(Karin bilang terima kasih.)
Nenek James tersenyum lebar. "천만에."
(Sama-sama.)
Karin mulai makan. Masakan nenek James terasa hangat dan cocok di lidahnya. Tanpa sadar, ia menambah nasi lagi. Diet yang sempat ia pikirkan sejak pagi langsung terlupakan.
James memperhatikan piring Karin yang kembali terisi penuh, lalu tersenyum kecil.
Nenek James menatap Karin dan bertanya, "인도네시아에서는 어떤 음식이 제일 맛있니?"
(Di Indonesia, makanan apa yang paling enak?)
Karin menoleh ke James, menunggu penjelasan.
James menerjemahkan kepada Karin dalam bahasa Inggris, "Grandma is asking what food is the most delicious in Indonesia."
(Nenek bertanya, makanan apa yang paling enak di Indonesia.)
Karin berpikir sejenak, lalu tersenyum. "Hmm... actually, most Indonesian food is delicious. But my favorite is fried rice."
(Hmm... sebenarnya hampir semua makanan Indonesia enak. Tapi favoritku adalah nasi goreng.)
James mengangguk, lalu menoleh ke neneknya dan menyampaikan dalam bahasa Korea, "인도네시아 음식은 거의 다 맛있고, 카린은 나시고랭을 제일 좋아한대요."
(Kata Karin, hampir semua makanan Indonesia enak, tapi dia paling suka nasi goreng.)
Nenek James tertawa kecil, wajahnya tampak senang. "아, 그래?"
(Oh, begitu ya?)
Karin ikut tersenyum, meski tidak mengerti kata-kata nenek James. Namun ia bisa merasakan kehangatan itu-dari cara nenek terus menatapnya, dari lauk yang kembali ditambahkan ke piringnya.
Di meja makan sederhana itu, jauh dari negaranya sendiri, Karin merasa diterima.
Bukan karena ia mengerti bahasanya,
melainkan karena ia mengerti perasaannya.
Rumah nenek James terasa hangat dan penuh ketenangan. Bukan hanya karena pencahayaan lampu yang lembut atau aroma masakan yang masih tersisa di udara, melainkan karena suasana yang memancarkan rasa pulang-tenang, akrab, dan penuh kenangan.
Di ruang tamu, perhatian Karin tertuju pada sebuah foto yang dipajang rapi di dinding. Foto itu menampilkan nenek James dan mendiang kakeknya, berdiri berdampingan dengan James kecil di antara mereka. Wajah nenek dan kakeknya tampak bahagia, senyum mereka sederhana namun tulus. Sementara itu, James kecil tersenyum lebar, matanya berbinar, tangannya menggenggam sebuah balon berwarna cerah.
Foto itu terlihat tua, sudutnya sedikit memudar, namun justru di situlah kehangatannya terasa. Karin bisa merasakan betapa rumah ini menyimpan banyak cerita-tentang kebersamaan, tawa masa kecil, dan cinta keluarga yang tetap hidup meski waktu telah berjalan jauh.
Tanpa perlu kata-kata, rumah itu seolah bercerita.
Tentang kehilangan yang diterima dengan lapang.
Tentang kenangan yang dirawat dengan penuh kasih.
Dan Karin, sebagai orang luar, merasakan sesuatu yang jarang ia temui akhir-akhir ini-rasa aman yang sederhana, namun tulus.
Melihat foto-foto itu, dada Karin terasa menghangat sekaligus perih. Senyum James kecil yang terpajang di dinding justru membuat pikirannya melayang jauh-kepada ibunya. Kepada rumah. Kepada tanah kelahirannya, Indonesia, yang kini terasa begitu jauh dari jangkauan.
Ada rindu yang tiba-tiba mengendap pelan di hatinya. Rindu yang tidak berisik, tapi menekan perlahan, seperti angin dingin yang menyelinap di sela pakaian.
Karin melangkah keluar dari ruangan tanpa suara. Ia menuju teras depan rumah James dan duduk di sebuah kursi panjang dari kayu yang menghadap halaman. Di samping teras itu berdiri sebuah pohon sakura-ranting-rantingnya masih polos, hanya dipenuhi tunas kecil yang belum sempat mekar.
Udara sore Pulau Jeju menyentuh kulitnya dengan sejuk. Angin berhembus pelan, menggerakkan dedaunan dan membuat rambut Karin terayun lembut. Ia menatap pohon sakura itu lama, seolah melihat dirinya sendiri di sana-masih berdiri, masih bertahan, meski belum berbunga.
Karin menarik napas panjang.
Untuk sesaat, ia membiarkan rindu itu hadir.
Rindu pada ibunya.
Rindu pada rumah.
Rindu pada Indonesia.
Dan di tengah ketenangan teras itu, Karin menyadari satu hal: sejauh apa pun ia pergi, ada bagian dari dirinya yang selalu ingin pulang.
Karin meraih ponselnya dari dalam saku celananya. Jemarinya sempat berhenti sejenak di layar, tepat di atas nama Mama. Ia menarik napas dalam, lalu menekan nomor itu.
Nada sambung terdengar sekali... dua kali...
"Halo," ucap Karin pelan begitu panggilan tersambung.
"Halo, sayang!" suara ibunya terdengar cerah dari seberang telepon, hangat seperti pelukan yang tak terlihat.
Senyum kecil terbit di wajah Karin.
"Mama apa kabar?"
"Mama baik. Kamu gimana di sana?" tanya sang ibu, suaranya penuh perhatian.
"Aku juga baik, Ma. Mama sudah makan?"
"Sudah. Tadi Mama makan bareng teman-teman Mama di restoran. Kamu sudah makan belum?"
"Sudah, Ma. Tadi makan malam."
Karin menyandarkan punggungnya ke kursi kayu di teras, menatap halaman rumah yang mulai diselimuti senja. Dengan suara pelan tapi antusias, ia mulai bercerita-tentang Pulau Jeju yang indah, tentang udara sejuknya, tentang pemandangan laut dan gunung yang menenangkan.
Ia juga menceritakan tentang orang-orang yang ia temui. Tentang keluarga yang menerimanya dengan ramah. Tentang seorang teman baru yang memperlakukannya dengan tulus, tanpa bertanya terlalu banyak tentang masa lalunya.
Di seberang sana, sang ibu mendengarkan dengan sabar. Dari nada suaranya, Karin tahu-ibunya tersenyum.
"Mama senang dengarnya," ujar sang ibu lembut.
"Yang penting kamu bahagia dan dijaga dengan baik di sana."
Karin mengangguk pelan, meski tahu ibunya tak bisa melihatnya. Dadanya terasa lebih ringan. Tanpa ia sadari, ia sudah lama tidak menyebut nama Arka. Dan kali ini, hatinya tidak terasa sesak karenanya.
"Iya, Ma. Aku baik-baik saja sekarang."
Hening sejenak menyela, hening yang nyaman.
"Aku sayang Mama," ucap Karin tiba-tiba, suaranya sedikit bergetar.
Di seberang telepon, sang ibu tersenyum.
"Mama juga sayang kamu, Nak. Jaga diri baik-baik, ya."
Panggilan pun berakhir.
Karin menurunkan ponselnya perlahan. Ia menatap langit senja Pulau Jeju, lalu menghembuskan napas panjang. Rindu itu masih ada, tapi kini terasa lebih hangat-tidak lagi menyakitkan.