“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI 3
Miranda memandang dua benda itu dengan heran.
“Lusi memakai tespek untuk apa?” gumamnya pelan.
Miranda terus melihat obat penunda kehamilan itu dengan penuh curiga.
“Ini untuk siapa, apa jangan-jangan untuk aku.”
“Sepuluh tahun aku berumah tangga tapi tak kunjung punya anak. Apa mereka meracuniku dengan ini,” pikir Miranda dalam hati dengan dada berdebar.
“Tapi ini ada di kamar Lusi. Mas Raka juga jarang menyentuhku, apalagi enam bulan terakhir aku tak pernah disentuh,” lanjut Miranda dalam pikirannya.
“Mirandaaaa,” suara Rina menggelegar dari luar kamar.
Miranda buru-buru keluar dari kamar Lusi sambil membawa tespek dan obat penunda kehamilan itu di sakunya. Ia berniat menanyakannya pada Lusi nanti.
“Ada apa, Bu?” tanya Miranda setelah sampai di hadapan ibu mertuanya.
“Kamu itu budek ya, dari tadi aku panggil tidak menyahut,” hardik Ibu Rina dengan mata melotot.
Dengan badan gemetar Miranda menjawab, “Tadi aku habis beresin kamar Lusi, Bu.”
“Banyak alasan, dasar menantu tak berguna,” ucap Rina dengan nada ketus lalu melemparkan selembar kertas pada Miranda.
Kertas itu jatuh ke lantai, lalu Miranda mengambilnya dengan cepat dan hati-hati.
“Kamu belanja sekarang, nanti malam akan ada tamu. Barang-barang yang harus dibeli sudah aku catat, jangan sampai salah,” ucap Rina tegas.
Miranda mengambil catatan itu dan melihat daftar panjang yang harus dibeli. Hampir satu halaman penuh tulisan tangan Rina.
“Ada acara apa, Bu, kok banyak sekali belanjaannya?” tanya Miranda memberanikan diri.
“Jangan banyak bertanya, tugas kamu hanya belanja saja,” jawab Rina memotong kalimat Miranda.
Miranda diam, menelan pertanyaan yang masih menggantung di kepalanya.
Miranda melangkah ke meja makan lalu menata piring dan sendok yang habis digunakan. Sisa makanan ia masukkan ke plastik agar tidak mengotori dapur.
Piring dan gelas ditata lalu dibawa ke wastafel. Tangannya bergerak cepat seperti sudah diatur oleh kebiasaan bertahun-tahun.
Miranda mengambil nasi, lalu lauk yang tersedia hanya sepotong tempe dan sambal. Dengan lahap Miranda memakannya tanpa mengeluh.
Hari ini sedikit beruntung, nasi masih banyak tersisa. Sepertinya mereka sedang dalam kondisi hati yang baik.
Biasanya kalau sedang kesal, sebutir nasi pun tak tersisa untuk Miranda. Ia sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu.
Miranda makan dengan cepat, karena kalau berlama-lama ia akan kembali dimarahi tanpa alasan jelas.
“Miranda,” kembali Rina berteriak dari ruang depan.
Miranda segera menghentikan makannya lalu minum dengan tergesa. Ia mencuci tangan lalu kembali menghadap Ibu Rina.
“Lama sekali kamu,” hardik Ibu Rina dengan mata melotot tajam.
“Tadi lagi makan, Bu,” jawab Miranda pelan.
Tampak Ibu Rina mendecih kesal.
“Apa-apa lama, kamu ini benar-benar tak berguna.”
“Cepat buruan belanja, bukankah hari ini hari pasar sayur. Sayuran lagi murah,” lanjut Rina dengan nada memerintah.
Miranda hanya menganggukkan kepala lalu melangkah ke kamarnya. Ia memakai sweter tipis untuk menahan dingin.
Miranda mengambil kunci motor dan melangkah ke samping rumah tempat motor terparkir.
Miranda melajukan motor dengan perlahan. Selama di jalan Miranda terus merenung tanpa henti.
“Siapa Lina,” bisik hatinya.
“Tespek itu milik Lusi bukan,” pikirnya lagi.
“Dan obat penunda kehamilan itu untuk siapa,” batinnya terus bertanya.
“Dan kenapa aku belum hamil juga,” pertanyaan itu seperti duri yang menusuk pikirannya.
Pikirannya terus berputar hingga tak terasa sudah sampai di pasar tradisional langganannya.
Miranda sering ke pasar itu. Ia sudah hafal di mana saja tempat yang harus ia kunjungi.
Namun karena Miranda pemalu, orang-orang di pasar tidak ada yang benar-benar akrab dengannya.
Dalam waktu cepat Miranda sudah membeli barang sesuai yang ditulis oleh ibu mertuanya.
Barang belanjaannya sampai menumpuk di motor. Tukang parkir sampai menggelengkan kepala melihat banyaknya bawaan.
Miranda melajukan motor dengan perlahan agar barang-barang tidak jatuh di jalan.
Akhirnya Miranda sampai di rumahnya. Tangannya mulai terasa pegal menahan beban belanja.
Baru saja sampai rumah, Ibu Rina sudah menunggu di depan pintu dengan muka masam.
“Lama, lama, lama,” gerutunya kesal sambil menghentakkan kaki.
“Kamu ini lelet sekali bekerja,” lanjutnya dengan nada meremehkan.
Miranda hanya bisa menahan napas. Padahal menurutnya ia sudah bekerja sangat cepat.
Ia melajukan motor perlahan juga karena banyaknya barang yang ia bawa sendirian.
Miranda hendak menjawab, namun Ibu Rina lebih dulu memerintah.
Rina melemparkan secarik kertas lagi ke arah Miranda.
“Ini daftar masakan yang harus kamu buat.”
Miranda membacanya, deretan panjang menu makanan tertulis rapi di sana.
Dalam hati Miranda bertanya, “Siapa sebenarnya tamu istimewa yang akan datang sehingga aku harus memasak sebanyak ini.”
Miranda melangkah ke ruang cucian lalu membilas baju dan memasukkannya ke pengering.
Miranda seolah tak diberi napas sedikit pun, bahkan sekadar untuk minum seteguk air.
“Kenapa belum juga mulai masaknya,” hardik Ibu Rina dari dapur.
“Ini saya mau masak, Bu,” jawab Miranda tergesa.
Tiga jam Miranda berkutat di dapur. Bolak-balik dapur, ruang cuci, dan tempat jemuran.
Kakinya terasa pegal, punggungnya nyeri. Ia hanya berhenti saat salat zuhur dan asar.
Kalau mengenai salat Miranda tidak akan mengalah. Ia mengabaikan perintah apa pun saat waktu salat tiba.
Keluarga suaminya sudah paham kebiasaan itu dan terpaksa membiarkannya.
Akhirnya semua masakan sudah selesai, tinggal disajikan di meja makan.
Miranda mengambil jemuran lalu melipatnya dengan rapi satu per satu.
Jam enam belas tiga puluh mobil Raka datang. Miranda merasa lega, malam ini ia bisa tidur lebih cepat.
Tanpa harus menunggu Raka pulang terlalu larut seperti malam-malam sebelumnya.
Miranda membukakan pintu gerbang. Mobil Raka masuk, lalu Miranda menutup kembali pintu gerbang.
Raka keluar dari mobil, dari pintu penumpang keluar Lusi.
Selanjutnya seorang wanita datang dengan dandanan khas pekerja kantoran, rapi dan anggun.
Miranda bertanya dalam hati, “Apakah ini Lina.”
Lamunannya buyar saat melihat Ibu Rina dan Lela datang menyambut wanita itu dengan senyum lebar.
Mereka langsung membawa wanita itu masuk ke dalam rumah dengan penuh kehangatan.
Miranda melangkah hendak membantu Raka membuka sepatu seperti biasa.
“Kamu ke dapur saja, aku buka sendiri,” ucap Raka tanpa menoleh.
Miranda diam kemudian masuk ke dapur dari pintu samping dengan hati terasa aneh.
Miranda menggosok baju di dapur, sedangkan di meja makan sudah terdengar dentingan sendok beradu.
Tanda mereka sedang makan bersama dengan suasana hangat.
Terdengar tawa canda penuh keakraban. Miranda hanya bisa mendengarkan saja tanpa diajak bergabung.
Setelah magrib makan itu selesai. Meja makan sudah kosong dan mereka berkumpul di ruang tamu.
Miranda membersihkan meja makan lalu membawa piring dan gelas bekas makan ke dapur.
Saat Miranda akan mencuci piring, suara Lusi terdengar memanggil.
“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri
gemes bgt baca ceeitanya