Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelajaran Tiga Puluh Ribu dan Uang Lecek Nenek
Di keluarga kami, uang bukan sekadar alat tukar, melainkan simbol dari tetesan keringat yang harus dihormati. Sejak aku duduk di kelas dua SD, Ibu mulai memperkenalkan satu tanggung jawab yang membuat kepalaku berdenyut lebih kencang daripada rumus pembagian: manajemen keuangan.
Suatu sore, Ibu memanggilku ke dapur. Ia meletakkan selembar uang dua puluh ribu dan selembar sepuluh ribu yang masih kaku di atas meja kayu.
"Nok, dengar Ibu baik-baik," ujar Ibu dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Ini uang 30 ribu. Ibu berikan untuk uang sakumu selama 15 hari ke depan. Bagaimana cara kamu membaginya, itu terserah kamu. Tapi ingat, kalau habis sebelum waktunya, Ibu atau Ayah tidak akan kasih sepeser pun lagi sampai hari ke-15 lewat. Ibu tidak mau tahu alasan apa pun."
Aku mengangguk mantap, meski di dalam hati aku bersorak kegirangan. Tiga puluh ribu! Di mataku saat itu, jumlah itu terasa seperti harta karun yang tidak akan habis tujuh turunan. Aku membayangkan jajan bakso, membeli permen karet yang banyak, atau es lilin setiap siang. Aku menganggap ancaman Ibu hanyalah "gertakan sayang" orang tua. Mana mungkin Ibu tega melihat anaknya kelaparan di sekolah? pikirku meremehkan.
Ternyata, sifat khilaf anak kecil adalah musuh terbesarku. Di hari-hari pertama, aku merasa seperti orang kaya. Aku membeli jajanan apa pun yang lewat di depan mata. Baru hari kesepuluh, aku merogoh saku tas hitamku dan mendapati isinya hanya tersisa remah-remah roti tanpa ada satu pun koin tersisa.
Pagi di hari kesebelas, dengan wajah polos yang dibuat seolah-olah lupa, aku menghampiri Ibu yang sedang menyiapkan tas bekal Ayah.
"Bu, mana uang saku buatku hari ini?" tanyaku santai.
Ibu berhenti beraktivitas. Ia menatapku dengan sorot mata yang dingin dan tegas. "Habis? Bukannya Ibu sudah bilang uang kemarin itu untuk 15 hari? Ini baru hari ke-10, Nok."
"Iya, Bu... tapi sudah habis. Tadi aku cari di tas sudah tidak ada," jawabku mulai merasa tidak enak.
"Kalau sudah habis ya terserah kamu. Kamu tidak bisa jajan hari ini, sampai hari ke-15 nanti," sahut Ibu ketus. Ia kembali melipat baju seolah pembicaraan sudah selesai. "Ibu sama Ayah cari uang itu susah. Ibu ingin kamu belajar mengelola apa yang kamu punya. Tapi kamu malah menghabiskannya sebelum waktunya. Ya sudah, rasakan sendiri jangan jajan kalau begitu."
Duniaku serasa runtuh. "Tapi Bu... masa aku tidak jajan sih? Nanti teman-temanku jajan semua, aku cuma melihat saja?" rengekku, berharap Ibu luluh.
"Itu kan maumu sendiri. Keputusanmu yang bikin uang itu habis. Ibu sudah bilang 15 hari ya berarti 15 hari," tegas Ibu tanpa menoleh sedikit pun.
Aku terdiam seribu bahasa. Ada rasa sesak yang masuk ke relung hatiku. Ternyata Ibu sungguh-sungguh. Tidak ada kompromi. Tidak ada belas kasihan ekstra jika menyangkut prinsip tanggung jawab. Aku berdiri di depan pintu dengan lemas, membayangkan teman-temanku mengunyah ciki sementara aku hanya bisa menelan ludah.
Namun, di tengah keputusasaan itu, seorang "malaikat" muncul dari arah pintu samping. Nenek dari pihak Ayah, yang sejak tadi rupanya menguping pembicaraan kami, menghampiriku diam-diam saat Ibu masuk ke dapur.
Beliau memegang tanganku, lalu dengan gerakan cepat, ia menyelipkan sesuatu ke telapak tanganku yang mungil. Itu adalah uang seribu perak yang sudah sangat lecek dan kusam, mungkin hasil kembalian dari pasar kemarin.
"Sstt... jangan bilang Ibumu. Ini buat jajan hari ini saja. Besok-besok didengarkan kata Ibumu, ya," bisik Nenek sambil mengedipkan mata ke arahku.
Aku menatap uang lecek itu dengan rasa syukur yang membuncah. Uang seribu perak itu terasa jauh lebih berharga daripada tiga puluh ribu yang kuhabiskan dengan sia-sia sebelumnya.
Hari itu, aku berangkat sekolah dengan sebuah pelajaran besar yang terukir di kepala. Aku belajar bahwa ketegasan Ibu bukan karena ia pelit, tapi karena ia ingin aku punya "punggung yang kuat" di masa depan agar tidak diperbudak oleh keinginan sesaat. Dan aku juga belajar bahwa di dunia ini, selalu ada tangan lembut seperti Nenek yang akan menolongku, tapi aku tidak boleh terus-menerus mengandalkan belas kasihan orang lain jika aku sendiri tidak bisa memimpin diriku sendiri.
Pelajaran dari uang seribu perak yang lecek itu menetap jauh lebih lama di ingatanku daripada rasa lapar yang sempat menghantuiku. Sejak saat itu, aku memandang setiap koin yang singgah di tanganku bukan sebagai tiket untuk bersenang-senang, melainkan sebagai bentuk kepercayaan dari keringat Ibu dan Ayah yang harus aku jaga baik-baik.
Aku mulai belajar menghitung. Bukan lagi sekadar hitungan angka di atas kertas ujian, tapi hitungan tentang prioritas. Aku belajar menahan diri saat tukang es krim lewat, dan memilih untuk menyimpan sisa uang sakuku di dalam kaleng bekas biskuit di bawah kolong tempat tidur. Ada kepuasan aneh yang tumbuh setiap kali aku mendengar bunyi "klenteng" saat koin masuk ke sana, sebuah bunyi kemenangan kecil atas egoku sendiri.
Ibu tetap menjadi sosok yang dingin jika menyangkut prinsip, namun diam-diam aku melihatnya tersenyum tipis saat melihatku membawa botol minum sendiri ke sekolah agar uang jajanku tetap utuh. Ia tidak memujiku dengan kata-kata manis, tapi tindakannya membiarkanku merasa "susah" adalah bentuk cinta yang paling jujur. Ia sedang menempa mentalku agar tidak mudah goyah oleh gemerlap dunia yang seringkali menipu.
Kini, setiap kali aku dihadapkan pada pilihan sulit tentang hidup dan keinginan, aku selalu teringat pada meja kayu di dapur itu. Aku teringat pada sorot mata Ibu yang tanpa kompromi dan tangan Nenek yang hangat. Aku menyadari bahwa hidup memang seperti uang tiga puluh ribu itu, ia terbatas, dan bagaimana cara kita menghabiskannya akan menentukan apakah kita akan berdiri dengan kepala tegak atau harus menunggu belas kasihan di hari kesebelas.
Terima kasih, Bu, karena tidak memberiku uang tambahan hari itu. Tanpa ketegasanmu, aku mungkin hanya akan menjadi seseorang yang tahu cara menghabiskan, tanpa pernah mengerti cara menghargai. Di lereng bukit ini, aku tidak hanya belajar membaca buku, tapi aku belajar membaca diri sendiri.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰