Adrina, 27 tahun, adalah gadis mandiri yang hidup dalam senyap. Setelah ibunya meninggal dan ayahnya memilih membangun keluarga baru, Adrina memutuskan tinggal sendiri di sebuah kosan sempit—tempat ia belajar berdamai dengan kesendirian dan masa lalu yang tak lagi ia bagi pada siapa pun. Lulus kuliah tanpa arah pekerjaan yang jelas, ia sempat menganggur cukup lama hingga sebuah tawaran tak terduga datang: menjadi asisten seorang artis papan atas yang sedang berada di puncak popularitas.
Nama itu adalah Elvario Mahendra—aktor sekaligus penyanyi terkenal, digilai publik karena wajahnya yang nyaris sempurna dan bakatnya yang luar biasa. Namun di balik sorot lampu, Elvario dikenal arogan, temperamental, dan sulit ditangani. Dalam satu bulan terakhir, ia telah mengganti enam asisten. Tidak ada yang bertahan. Semua menyerah oleh tuntutan, amarah, dan standar tinggi yang tampak mustahil dipenuhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KOSONG YANG BERNAMA BERTAHAN
Hujan turun sejak sore tanpa aba-aba, menyerbu bumi seperti nasib yang kerap datang tanpa mengetuk pintu. Butirannya memukul atap seng kosan dengan irama monoton—cukup keras untuk menenggelamkan riuh pikiran, namun tak pernah benar-benar menawarkan ketenangan.
Adrina duduk di tepi ranjang sempitnya, memeluk lutut erat-erat. Lampu kamar berkedip sekali, seolah sedang sekarat, sebelum akhirnya menyala stabil dan menciptakan bayangan kuning pucat di dinding yang catnya mulai mengelupas. Kamar itu adalah sebuah kotak sunyi yang nyaris tak berubah sejak dua tahun lalu—sejak ia memutuskan untuk memahat jalannya sendiri.
Kipas angin tua di sudut langit-langit berderit pelan, seirama dengan bau lembap bercampur deterjen murah yang menguar dari jemuran asal-asalan di sudut ruangan. Di dinding, sebuah ijazah sarjana tergantung rapi dalam bingkai kayu murahan. Gelar yang dulu ia perjuangkan dengan air mata itu kini terasa seperti pajangan bisu—ada, namun kehilangan arti di tengah realita yang mencekik.
Adrina menatapnya lama. Dua puluh tujuh tahun. Usia yang menurut standar sosial seharusnya sudah "menjadi sesuatu". Ia tersenyum getir, sudut bibirnya terangkat dengan pedih.
"Jadi beban juga termasuk 'jadi', kan?" gumamnya lirih pada kegelapan.
Layar ponsel di sampingnya menyala. Notifikasi masuk beruntun—iklan pinjaman, tagihan listrik, hingga pesan grup keluarga yang selalu ia arsipkan tanpa berani dibuka. Malam ini, ia terlalu lelah untuk sekadar berpura-pura peduli.
Pandangannya beralih ke jendela kecil berteralis. Di luar, jalanan basah tampak sepi. Lampu warung kelontong di seberang jalan berpendar sendu, satu-satunya tanda kehidupan di tengah guyuran hujan. Ia teringat ibunya. Ibunya selalu menyukai hujan.
"Karena hujan mengajarkan kita," bisik suara ibunya dalam ingatan, "bahwa jatuh bukan berarti hancur."
Adrina menarik napas dalam. Sejak ibunya meninggal tiga tahun lalu, "pulang" menjadi kata yang asing. Ayahnya menikah lagi setahun setelah pemakaman. Tidak salah memang, hanya mencari teman hidup, dalihnya. Adrina tidak membantah, ia hanya memilih pergi. Kosan sempit ini adalah bentuk komprominya dengan dunia: ia tak meminta banyak, asal tak perlu menjelaskan apa-apa pada siapa pun.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi. Sebuah nama muncul: Ratna.
Jari Adrina ragu. Sudah lama temannya itu tidak muncul. Dengan hati yang dibalut kecemasan, ia membuka pesan itu.
Drin, kamu masih cari kerja?
Dada Adrina menghangat sekaligus terasa sesak. Masih cari? Ia ingin tertawa kencang. Ingin membalas dengan kalimat panjang tentang betapa tipisnya sisa tabungannya. Namun, ia hanya mengetik satu kata singkat.
Iya.
Balasan datang hampir seketika.
Aku dapet info. Ada posisi asisten pribadi artis. Gajinya lumayan. Tapi…
Jantung Adrina berdegup lebih cepat. Ia sudah terlalu akrab dengan kata "tapi". Tapi kenapa?
Artisnya lagi naik banget. Aktor sekaligus penyanyi. Reputasinya… agak susah. Namanya Elvario Mahendra.
Adrina menyandarkan punggung ke dinding yang dingin. Nama itu. Ia pernah melihat wajahnya di layar televisi milik tetangga kosan. Sorot mata yang dingin, rahang tegas, dan karisma yang terasa mencekam bahkan melalui layar kaca.
"Kenapa harus dunia yang berisik?" gumamnya. Kenapa aku, Na?
Karena mereka butuh orang cepat. Dan karena… kamu satu-satunya yang kukenal masih bisa dipercaya.
Kalimat itu menghantamnya lebih keras dari dentum hujan di atas seng. Masih bisa dipercaya. Adrina terdiam. Ia membayangkan lamaran-lamaran kerjanya yang menumpuk tanpa balasan, dan ia membayangkan ibunya yang selalu ingin ia berani mengambil langkah.
Kalau aku ambil… mulai kapan?
Besok pagi. Jam tujuh. Lokasi bakal aku kirim.
Di Balik Layar yang Retak
Suara pintu dibanting bergema di lorong studio, membuat para kru menahan napas serentak.
"MASUK AKAL NGGAK SIH KALAU GUE BILANG CAPEK?!"
Elvario Mahendra berdiri di tengah ruang make-up. Jas hitamnya tergeletak kusut di sofa, kontras dengan citra "Pangeran Sempurna" yang baru saja ia perankan di depan kamera. Di depannya, Rizal, sang manajer, hanya menghela napas panjang.
"Gue ngerti lo capek, El," sahut Rizal tenang. "Tapi marah-marah nggak bakal nyelesain masalah asisten lo."
Elvario tertawa sinis. Matanya memerah, bukan karena air mata, melainkan kelelahan yang akut. "Enam orang, Zal. Enam asisten dalam satu bulan. Menurut lo itu normal?"
"Tiap orang punya alasan. Ada yang nggak kuat tekanan, ada yang—"
"Ada yang datang cuma buat cari muka!" potong Elvario tajam. Ia melangkah mendekat. "Gue nggak butuh orang yang cuma datang, kerja, terus pulang tanpa mikir. Gue butuh orang yang bisa diem pas gue butuh sepi, dan ngomel pas gue udah kelewatan."
Rizal terkekeh pasrah. "El, ini asisten. Bukan istri."
"Gue mau urusan kerja gue rapi!" El memijat pelipisnya. Di luar, fans berteriak memanggil namanya. Di dalam sini, ia nyaris tak bisa bernapas.
Rizal menatap tabletnya. "Gue udah dapet satu kandidat lagi. Perempuan, 27 tahun. Dia bukan dari dunia entertainment. Bahkan dia sempet nolak pas denger reputasi buruk lo."
Elvario berhenti memijat kepalanya. "Nolak?"
"Iya. Dia akhirnya setuju cuma karena… butuh kerja."
Sesuatu yang asing menyelip di hati Elvario: rasa penasaran. "Kapan dia datang?"
"Sekarang."