Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)
Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.
Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.
Full of love,
Author ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Babe...?
Seperti biasanya, begitu bangun maka aku akan mengecek ponselku, 6.58 am, kak Erick pasti sudah di pesawat. Tidak ada pesan masuk dari kak Erick, mungkin dia bangun kesiangan tadi. Saat aku hendak membuka pintu, kulihat selembar kertas dibawah pintuku.
"Selamat pagi babe..."
Babe, dia panggil aku babe sekarang? Tanyaku dalam hati, lalu aku melanjutkan kembali membaca suratnya.
"... tadinya aku mau WA, tapi takut nanti bangunin kamu, lagian surat kaya gini lebih romantis kan babe. Kangenin aku ya, I love you babe."
Aku tersenyum membacanya. Jika aku ingat-ingat kembali sepertinya baru sebulan yang lalu Belva bertanya apa bisa aku membayangkan berciuman dengan kak Erick? Saat itu aku yakin ga bisa melakukannya. Tapi belum jadian aja aku udah ciuman sama makhluk penakluk satu itu, sekarang udah panggil babe, aku takut membayangkan secepat apa kemajuan hubungan kami.
Tidak ada perubahan yang berarti selama kak Erick di Jakarta, masih sama seperti saat ia melakukan pendekatan dulu. Bedanya sekarang ia akan melakukan panggilan video.
"Babe maaf aku baru sampai apartemen jam segini, kamu udah mau tidur ya, udah matiin lampu kamar gitu?"
"Aku lagi mau nonton sambil tiduran aja kak"
"Kak? Aku kan bukan kak Erick lagi, aku Erick calon suami kamu, panggil babe donk. Atau kamu punya panggilan istimewa lainnya?"
"Aku terbiasa panggil kakak, lagian nanti keceplosan panggil babe depan om sama tante gimana?"
"Biarin, biar dinikahin sekalian."
"Kak ahh... aku matiin aja nih."
"Jangannn..."
Kemudian kami sama-sama terdiam sejenak.
"Kamu lagi nonton apa?"
"Dracin di Youtube."
"Biasanya kamu kalau cari film Youtube itu entah lagi bosen atau setengah mau tidur."
"Ya aku agak cape hari ini, jadi pengen nonton yang ringan-ringan."
"Ya udah istirahat sana, I love you babe."
Dengan perbedaan status ini juga, aku melarang kak Erick untuk mengirimkan makanan lagi untukku, dengan alasan ia bisa membelikanku makanan sepuasnya saat kami berkencan nanti.
Mendekati akhir semester, himpunan berencana mengadakan perpisahan dengan acara makan malam dan karaoke.
"Kak aku besok pulang malam ya, mungkin sekitar jam 11 malam."
"Ada acara apa babe?"
"Pembubaran himpunan, kita mau sewa restoran yang bisa karaokean juga."
"Senior kamu itu juga ikut acara itu?"
"Iya kak."
"Apa aku harus khawatir? Aku bisa percaya kamu kan babe?"
"Aku tanya balik ke kakak, bukankah selama ini aku ga pernah menutupi sesuatu dan selalu jujur pada kakak? Menurut kakak apa kakak perlu khawatir aku berbuat hal yang tidak kakak sukai?"
"Akhhh... baiklah aku menyerah. Apa kamu pernah mendengar ungkapan kalau kamu akan kalah saat berada di pihak yang lebih mencintai? Aku sungguh mencintaimu Cecilia Jeny Prayoga, jangan pernah lupakan itu."
"Ya kak, aku tau itu."
"Sudah malam, kamu istirahat ya, besok malam minta supir tungguin kamu selama acara, jangan buat aku khawatir, bolehkan aku minta itu."
"Ya, percayalah aku akan menjaga sikapku."
"I love you babe."
"Ya, selamat tidur kak."
POV Erick.
Jeny belum bisa mengucapkan kata cinta padaku, aku tau aku agak memaksakan kehendakku, itulah yang membuatku takut. Takut ia akan direbut pria lain, takut ia berpikir kalau aku bukan pasangan yang tepat untuknya, takut akhirnya ia akan memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini. Meski aku yang mengusulkan kata percobaan, dan sepertinya ia mengetahui ini hanya akal-akalanku saja, sampai sejauh mana ia akan menerima tingkah lakuku ini. Andai aku sering berada di dekatnya secara fisik, akankah situasinya akan berbeda?