NovelToon NovelToon
Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Sistem / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: BUDI TEWAS

#

Mereka nggak langsung kubur Budi. Wahyu masih berharap. Masih percaya Budi bisa diselamatkan.

"GUE BAWA DIA KE DOKTER! PASTI MASIH BISA DITOLONG!" teriaknya sambil gendong tubuh Budi yang udah lemas.

"Wahyu..." Tekong mencoba nahan. "Dia udah..."

"JANGAN BILANG DIA UDAH MATI! DIA BELUM MATI!"

Wahyu masukkin Budi ke van. Naik. Nyetir sendiri.

Bayu ikut naik. "Gue tau dokter. Dokter ilegal. Dia bisa bantu."

"MANA?! KASIH TAU GUE!"

"Daerah utara. Rumah sakit gelap. Bekas rumah sakit yang ditutup pemerintah. Sekarang jadi tempat operasi ilegal."

Wahyu gas van maksimal. Ngebut di jalanan pagi yang mulai rame.

Tekong, Sari, dan Maya ikut di belakang dengan motor.

***

Tiga puluh menit kemudian. Mereka sampai di bangunan tua. Cat dinding mengelupas. Jendela pecah. Tapi di dalam... masih ada aktivitas.

Orang-orang masuk keluar. Penjahat. Preman. Orang-orang yang nggak bisa ke rumah sakit biasa karena luka peluru atau tikaman.

Wahyu gendong Budi masuk. Darah masih keluar dari perutnya. Wajah Budi udah pucat kayak mayat.

"DOKTER! DOKTER MANA?!" teriaknya keras.

Seorang wanita tua muncul dari ruang dalam. Rambut beruban. Kacamata tebal. Jas dokter lusuh penuh noda darah lama.

"Ada apa ribut-ribut..." Dia lihat Budi. Langsung paham. "Bawa masuk! Cepat!"

Wahyu bawa Budi ke ruang operasi. Meja besi dingin. Lampu operasi nyala terang.

Dokter langsung cek nadi Budi. Wajahnya berubah serius.

"Nadinya hampir nggak terdeteksi. Dia kehilangan terlalu banyak darah."

"TOLONG DIA! KUMOHON!" Wahyu nangis. "GUE BAYAR BERAPAPUN!"

Dokter menatapnya sebentar. Lalu ngangguk. "Aku coba. Tapi... jangan terlalu berharap."

Dia panggil asistennya. Seorang pria muda. Mereka mulai kerja.

Gunting baju Budi. Bersihkan luka. Cari peluru.

Bayu, Tekong, Sari, dan Maya menunggu di luar. Duduk di bangku kayu tua. Nggak ada yang ngomong. Cuma suara detik jam dinding yang terdengar.

Tick. Tock. Tick. Tock.

Setiap detik terasa kayak jam.

Wahyu keluar dari ruang operasi. Wajahnya basah air mata. Dia duduk di samping Bayu. Menutup wajah dengan tangan.

"Ini... ini salah gue... gue harusnya lebih cepet..."

"Bukan salah lu," kata Bayu pelan. "Ini... salah Raka. Dia yang pasang jebakan."

"Tapi gue yang bawa Budi kesana..."

"Lu nggak tau ada jebakan. Nggak ada yang tau."

Wahyu terisak. Pundaknya bergetar.

Bayu nggak tau harus ngomong apa. Dia cuma... diam. Nemenin.

***

Dua jam kemudian. Pintu ruang operasi terbuka.

Dokter keluar. Wajahnya... lelah. Sedih.

Semua orang langsung berdiri.

"Bagaimana?!" tanya Wahyu cepat.

Dokter menggeleng pelan. "Maaf... kami sudah coba semaksimal mungkin... tapi luka terlalu parah. Peluru menembus organ vital. Dia... kehilangan terlalu banyak darah."

"Jadi...?"

"Dia meninggal lima menit lalu."

Hening.

Total.

Seperti waktu berhenti.

Wahyu mundur satu langkah. Lututnya lemas. Jatuh berlutut.

"Nggak... nggak mungkin..."

Sari menutup mulut. Air mata mengalir.

Maya memeluk Bayu dari samping. Nangis di bahunya.

Tekong menatap kosong ke lantai. Tangannya mengepal.

Bayu... nggak bergerak. Dia cuma menatap pintu ruang operasi yang masih terbuka.

"Bisa... bisa aku lihat dia?" tanya Bayu pelan.

Dokter mengangguk. "Silakan."

Bayu masuk ke ruang operasi. Yang lain ikut.

Di meja operasi, Budi tergeletak. Tubuhnya ditutupi kain putih sampai dada. Wajahnya... tenang. Seperti tidur.

Tapi dadanya nggak naik turun lagi.

Nggak ada napas.

Nggak ada kehidupan.

Wahyu berjalan pelan ke meja. Berdiri di samping Budi. Menatap wajahnya lama.

Lalu... dia jatuh berlutut. Tangan megang tangan Budi yang udah dingin.

"Maafin gue... maafin gue, Budi... gue nggak bisa jaga lu..."

Dia nangis keras. Suara tangisannya memenuhi ruangan.

Sari ikut nangis. Memeluk Wahyu dari belakang.

Tekong berdiri di sudut. Menatap dengan mata berkaca-kaca. Tapi dia nggak nangis. Dia tahan.

Maya nggak bisa tahan. Dia keluar ruangan. Nangis di luar.

Bayu berdiri di kaki meja operasi. Menatap Budi.

Pria yang baru dia kenal sebulan. Pria yang awalnya cuma ikut karena uang. Tapi perlahan... jadi bagian dari keluarga kecil mereka.

"Budi..." bisik Bayu. Suaranya gemetar. "Lu... lu nggak seharusnya mati kayak gini..."

Air mata mengalir di pipinya. Nggak bisa ditahan lagi.

"Lu bilang... lu punya anak... istri... mereka nunggu lu pulang..."

Bayu menutup matanya. Napas dalam.

"Gue janji... gue akan kasih mereka uang. Cukup buat hidup bertahun-tahun. Anak lu bakal sekolah. Kuliah. Punya masa depan yang lebih baik."

Dia buka matanya. Menatap wajah Budi yang tenang.

"Dan gue janji... Raka akan bayar. Dengan nyawanya."

Bayu condong. Bisik pelan di telinga Budi.

"Istirahat dengan tenang, Budi. Tugas lu udah selesai. Sekarang... giliran gue."

Dia mundur. Berbalik. Keluar ruangan.

Di luar, Maya masih nangis. Bayu peluk dia. Erat.

"Gue nggak mau kehilangan orang lagi..." isak Maya.

"Gue juga nggak mau. Tapi... ini perang. Ada yang akan mati."

"Terus... siapa selanjutnya? Tekong? Wahyu? Sari? Atau... aku?"

Bayu menatap matanya. "Nggak akan ada yang mati lagi. Gue janji."

"Lu nggak bisa janji kayak gitu..."

"Gue bisa. Dan gue akan."

***

Malam itu. Mereka bawa tubuh Budi ke pelabuhan. Kubur di tanah keras dekat laut.

Nggak ada upacara. Nggak ada doa panjang. Cuma... keheningan.

Wahyu yang gali lubang. Sendiri. Nggak mau dibantu.

Setelah kubur selesai, dia tumpuk batu di atas. Jadi penanda.

Lalu dia duduk di depan kuburan. Menatap lama.

"Gue akan lanjutin perjuangan lu, Budi. Gue akan pastiin anak lu hidup layak."

Yang lain berdiri di belakang. Diam. Menghormati.

Bayu menatap kuburan itu. Tangannya mengepal.

"Raka... lu udah ambil terlalu banyak. Lu ambil kebahagiaan Kenzo. Lu ambil nyawa Budi. Dan sekarang..."

Dia berbalik. Menatap kota yang penuh cahaya di kejauhan.

"Gue akan ambil nyawa lu."

***

Keesokan pagi. Apartemen baru mereka. Rumah tua temen Tekong. Jauh dari kota.

Maya buka laptopnya. Mata merah karena nangis semalam. Tapi dia tetep kerja.

"Bayu. Sini."

Bayu mendekat. "Ada apa?"

Maya nunjuk layar. "Gue hack sistem keamanan mansion Samudera. Cari tau di mana Raka sering berada."

Layar menampilkan peta mansion. Ada titik merah bergerak.

"Itu Raka. Dia sering ke satu tempat. Basement mansion. Ruangan yang nggak ada di blueprint resmi."

"Ruangan rahasia?"

"Iya. Gue coba cari tau isinya. Dan gue nemuin... ini."

Maya buka file lain. Foto. Banyak foto. Diambil dari CCTV tersembunyi.

Foto-foto itu menunjukkan ruangan besar. Penuh senjata. Senapan. Pistol. Granat. Bahkan... RPG.

"Raka punya bunker pribadi. Penuh senjata militer. Dia... dia bersiap buat perang."

Bayu menatap foto-foto itu. Rahangnya mengeras.

"Dia tau gue akan datang."

"Iya. Dan dia siap."

"Bagus." Bayu tersenyum dingin. "Gue juga siap."

Dia berbalik ke Tekong dan Wahyu. "Kumpulin semua orang. Kita rapat. Sekarang."

"Buat apa?" tanya Tekong.

"Buat rencana terakhir."

Bayu menatap mereka satu per satu.

"Tujuh hari lagi... gue akan masuk mansion Samudera. Dan gue akan bunuh Raka. Di depan mata Valerie."

Hening.

Lalu Wahyu berdiri. "Gue ikut."

Tekong ikut berdiri. "Gue juga."

Sari berdiri. "Budi temen gue. Gue nggak akan biarin kematiannya sia-sia."

Maya berdiri. "Gue akan bantu dari jauh. Matiin semua sistem keamanan mereka."

Bayu menatap mereka semua. Orang-orang yang udah jadi keluarganya.

"Ini... misi bunuh diri. Kemungkinan kita semua mati... besar."

"Gue nggak peduli," kata Wahyu. "Gue udah nggak punya apa-apa lagi."

"Gue juga," kata Tekong. "Hidup gue udah rusak. Minimal... gue mati sambil lawan orang yang layak dibunuh."

Bayu tersenyum tipis. "Oke. Tujuh hari. Kita siapin semua. Senjata. Rencana. Rute kabur."

"Dan kalau nggak bisa kabur?" tanya Sari.

"Mati sambil bawa Raka ikut."

Mereka semua mengangguk.

Dan tujuh hari...

Dimulai.

1
REY ASMODEUS
mantap
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!